"Maaf" Ucapnya

2034 Words
Gerald pov   Menatap wajahku dicermin, mengingat hari itu pertemuanku dengan Lily yang masih terpikir olehku bagaimana ia sampai tak mengingat wajahku. Apa ia benar-benar telah melupakanku. Sebegitu membencinya ia padaku. Tengah sakit seperti itu tak banyak yang bisa kulakukan selain mendorongnya menjalani pengobatan, bahkan aku tak mampu jika harus menanggung biaya pengobatannya. Kondisi keuangan yang selalu macet dengan kredit juga tagihan, selalu membuatku kewalahan. Bekerja siang malam merawat pesakitan, namun dengan bayaran yang tak setimpal. Kesalku.   “kau masih belum membayar tagihan kartuku bukan?” Tanya Demi, Demi Austin Lanney nama istriku yang sudah kunikahi selama 10 tahun ini. semula sikapnya manis, semanis saat dirinya berjanji akan hidup bersamaku saat susah dan senang. Namun Tagihan belanjaan terus berdatangan memenuhi emailku, sepanjang tahun. Bagaimana aku bisa tahan dengan semua itu, jika bukan karena sejumlah saham juga warisan yang masih sabar kunantikan. “berhenti membeli semua tas-tas brandied itu, aku sudah tak mampu membayarnya. Keuanganku stak bahkan kini kartuku dibekukan. Kau tahu itu. atau bukankah kaupun memiliki sejumlah asset pribadi? gunakan itu untuk menghidupimu dulu. aku sudah tak mampu memenuhi gaya hidupmu” bosan, setiap betemu selalu seperti itu. memakai coat dan pergi dengan buru-buru, hujan ditahun baru. Tak menghentikanku. Berlari menerobos dan menghentikan taksi begitu keluar pintu. Brak bunyi dari dalam. Kutahu wanita gila tengah mengamuk, kuabaikan. Pernikahanku jauh dari kata bahagia, harmonis, yang ada hancur berantakan. Melihat derasanya hujan membasahi kota, payung terbuka, dimana-mana. Penyebrangan jalan melambat dan menambah lama lampu merah menyala. Setiap kupandangi siapun wanita yang terlihat mata, selalu mengingatkanku pada Lily yang kini akan kutemui. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ditempatnya. Beberapa rekomendasi pengobatan k****a selama perjalanan, berharap satu saja dapat menyelamatkannya. Sampai. Hatiku berat namun siap untuk semua sikap bisa kubilang jahatnya padaku, itu salahku, jadi terima itu Gerald. Seminggu lamanya aku tak mengunjunginya, rumah ini tampak semakin tak terurus. Hujan dan angin beberapa malam terakhir menerbangkan batang-batang pohon, berserakan kini dihalaman, pot tanaman juga terjatuh dan dibiarkan begitu saja. “Lily, buka pintu” Masih tak ada jawab. “Lily ini aku, cepat buka pintu ada yang ingin kusamp-“ Terputus kataku Saat tahu sesosok sedang terkapar, dilantai, tak sadarkan diri, dari jendela. Reflex kupecahkan kacanya dengan kursi teras disana. Menerobos masuk, takut dengan apa yang terjadi padanya. Panic tak tahu harus berbuat apa. Sampai didalam, kurangkul tubuhnya yang tergeletak dilantai. Darah keluar dari hidungkan, menodai pipinya, tubuhnya dingin, mungkin hampir tak bernyawa. Tanganku sibuk, membuka key lock ponselku. Tanganku bergetar hebat hingga susah sekali untuk menekan tiga tombol itu.  “ambulan, seseorang tak sadarkan diri dilantai. Cepat aku minta bantuan.” “ya, ini komplek perumahan selatan taman kota, nomor 108 rumah Ny. Ashleey. Cepat datang” Jelasku pada petugas ambulan. Butuh 10 menit untuk ambulan datang. Kubuka mantel yang kukenakan, kugunakan untuk menyelimuti tubuhnya yang tak sadar, Mengusap darah diwajahnya, mencari apa yang bisa kulakukan. obat yang berceceran, kuraih botolnya. Sedikit tahu itu salah satu analgesic dan obat nyeri neuropatic, beberapa pil kuambil, dengan segelas air yang ada dimeja kutebak Lily tak sempat meminumnya, kalah cepat dengan rasa sakit yang dirasakannya. Dengan paksa kubuka mulutnya, dijejalkan obat itu padanya, dengan sedikit kesadaranya ia masih bisa menelan dibantu oleh air yang kuberikan padanya. Batuk kemudian dirinya. mencengkram tanganku erat, wajahnya berkeringat. “jangan tinggalkan aku” Ucapnya parau. Namun masih dapat kudengar. Tahu apa yang keluar dari mulutnya, aku memluknya erat. Dan kemudian suara ambulan terdengar. Kuangkat tubuhnya perlahan, menggendongnya dengan penuh kehati-hatian menuju ambang pintu untuk keluar. Beberapa petugas kesehatan turun dengan sigap membaringkan Lily yang tak sadarkan diri. Dibawanya Lily masuk kedalam dan dengan cepat pula semua selang terpasanga ditubuh Lily. Mobil inipun berkendara setelahnya menuju rumah sakit kota terdekat. Semua berlangsung cepat, bahkan kini aku yang masih kaget dengan semua yang baru saja kulalui, membuatku terkulai tak kuat menahan berdiri. Duduk lemas menunggu Lily yang tengah menjalani pemeriksaan di UGD oleh beberapa dokter. ruang tunggu yang sama riuhnya dengan hatiku, tak tentu, takut. Takut apa yang akan kudengar setelah dokter keluar dari ruangan itu.   ** Lily pov   Mataku berat untuk kubuka, aroma mayat, ah bukan itu disinfectan rumah sakit, namun aku memanggilnya demikian, tak asing lagi membuatku terbangun. Langit-langit yang sedikit lebih rendah dari kamarku dan bukan warna kayu. Ini bukan kamarku. Tanganku berat untuk kuangkat, pantas saja seseorang bertempu diatas tanganku, menggenggamnya. Tertidur pulas, duduk, disamping ranjang tidurku. Selang yang terpasang, membuatku kebas, ah sungguh tak nyaman. Berusaha bergerak, jari-jari kurenggangkan, namun hanya mengahasilkan gerkan kecil, menyentuh tangan yang tengah lelap disana, tak sengaja mengusap pelipis wajahnya. Mengerjap. Terbangun sudah. Bergerak gelisah, tangannya beralih menyentuh kepalaku, mendekat, menatap lekat wajahku. “sejak kapan kau berada disitu” Tanyaku, langsung. “kau tak apa? Biar kupanggil dokter” Ucapnya seperti diburu sesuatu, ada segurat senyum, dari wajah baru bangun tidur itu. bangkit dari duduknya bermaksud pergi namun kutahan tangan itu “berhenti bersikap begini kumohon” Pintaku pertama kalinya, dengan nada lemah, sebisa mungkin kupinta padanya dengan keadaanku yang sungguh tak berdaya. Ia hanya menatap tanganku yang berusaha menghentikannya. “pergilah kak, pergilah seperti sebelumnya, aku akan mengurus diriku” Lanjutku, setelah bertahun-tahun lamanya panggilan yang tak pernah lagi terucap dari mulutku, saat itu kuucapkan tulus padanya. “Lily” Ucapnya lirih, melepaskan tangku dan pergi meinggalkan kamar inapku. Air mataku jatuh entah dari mana, mungkin dari kenangan dan memori yang telah lama pergi dan kini kembali bersama dirinya yang kemudian pergi meninggalkan ku sendiri. jika ingin pergi pergilah, maka perlahan aku akan melupakan dan mungkin memaafkan beriringan dengan waktu yang kulewatkan, namun yang tak bisa kumaafkan adalah kau pergi dan kembali saatku telah berhasil melupakanmu Ungkapku dalam hati, sesungguhnya hari dimana ia berdiri didepan pintu, sedikit aku mengaitkan dengan dirinya, mengingat bagaimana rautnya, semurat bibir itu, bagiamana nada bicaranya, namun perasaanku berkata tak mungkin untuk dirinya menemuiku, sangat tak mungkin hingga aku bahkan tak ingin memikirkan itu, beranggapan orang lain, cukup pria asing pengganggu yang tiba-tiba menemuiku. Dokter datang menghampiriku, memeriksa keadaanku, mamastikan aku mendengar perkataannya, berikut dengan infus yang mengalir dirubuhku, sedikit mengintip data ditangan perawat yang datang bersamanya. Tak ada wali yang mendampingiku dalam pengobatan ini. berikutnya beberapa pemeriksaan dan hasilnya juga langkah entah itu radioterapi, kemoretapi akan aku sendiri langsung yang akan menghadapinya. Tak yakin dengan hasil yang akan kudapatkan, hanya saja perkataan pastor bahwa tuhan, kasihnya akan tersampaikan padaku yang kini membutuhkannya. Beberapa kali selama seminggu lebih aku menjalani rawat inap juga rangkaian pengobatan dibangsal kanker, banyak dari pasien yang sama denganku adalah anak-anak yang kini sudah mengalami kebotakan. Mereka sama pucatnya denganku, bertahan dengan pendampingan orang tua mereka. Meski berbeda kamar, aku selalu melewati kamar mereka, berjalan dilorong. Dan sering kudapati seseorang memperhatikanku, mengawasiku, dibalik pintu, saat aku selesai mendapat perawatanku. Bahkan ku ketahui dirinya menemui dokter yang merawatku, menanyakan bagaimana perkembanganku. Untuk apa dirinya kembali kedalam hidupku. ** Gerald pov   Ini sudah berjalan bulan ke 4 Lily dirawat, kutahu dirinya hanya mengandalkan sejumlah obat tanpa mendapatkan penanganan lanjutan, tubuhnya semakin lemah dan ringkih. Aku tak ingin mengganggunya, hari dimana ia memintaku, untuk berhenti menemuinya, aku lakukan itu untuknya, bukan berarti aku berhenti untuk tak peduli, atau benar-benar pergi, aku selalu tetap mengawasi hari demi hari.   “jadi bagaimana perkembangan kondisinya” Tanyaku pada dokter yang merawat Lily, berkata bahwa aku adalah satu-satunya wali yang Lily miliki dan disinalah aku berdiri, berjalan menuju meja dokter Delon namanya, spesialis kanker di RS internasional Medika Hospital tempat Lily mendapat perawatan, dan tempat aku bekerja tentu saja. Duduk lalu berhadapan. Setelah melihatku, mengenali siapa diriku, karena bukan kali pertama bertemu. Tangannya kini sibuk dengan mouse dan layar dihadapannya. “Lily yang kini memasuki stadium 2, sel-sel kankernya mulai aktif namun masih belum menyebar, namun perlahan kondisinya akan semakin melemah. Terlebih Lily seperti sudah menyerah untuk menjalani pengobatan” Jelasnya, aku sudah mengetahui hal itu, “meski begitu, saya mohon lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya dok” Pintaku dengan nada sedikit memelas, “Lily menolak kemoterapinya, karena memang efek yang akan didapatkannyapun akan sangat membuatnya kesulitan, hanya saja anemia yang dideritanya membuatnya tidak bisa menjalankan aktifitasnya, masih belum ada gejala infeksi atau apapun selain pendarahan dari hidungnya, kita tunggu perkembangannya” Jelas dokter mengenai kondisi Lily, meski tak terdengar begitu buruk, namun aku tak tahu pasti apa yang akan terjadi padanya. “bagaimana dengan pengobatan lainnya, Lily kini hanya meminum obat seperti steroid dan lainnya, namun sampai kapan semua itu akan membantu, bisakah Lily mendapatkan transplantasi sumsum tulang belakang” Tanyaku lebih jauh, “untuk itu semua berada ditangan Lily, pengobatan mana yang akan dipilihnya, salah satunya seperti radioterapi dan oprasi transplantasi yang memang sudah saya sarankan, meski saya yakin anda sudah tahu betul bahwa untuk melakukan oprasi transplantasi sumsum tulang belakang membutuhkan waktu tunggu yang panjang terlebih Lilypun sudah tak memiliki keluarga akan sulit menemukan pendonor yang cocok baginya, itu akan memakan banyak waktu dan biaya yang juga ditanggung olehnya nanti” Mendengar perkataanya, terpikir bagiamana jika Lily tak kuat menahan sakitnya kemoterapi, kutahu betapa sulitnya itu. banyak dari mereka penderita leukemia pada akhirnya harus berhenti ditengah pengobatan karena tak sanggup melawan sakitnya penderitaan yang mereka rasakan akibat kemoterapi yang dijalankan. apalagi yang harus dilaluinya, seperti menemui titik buntu. “jika Lily ingin, saya rekomendasikan menjalani tiga metode yang baru diluncurkan, banyak dari pasien kanker yang berhasil melaluinya dengan baik dan beruntung bisa bersih dari kankernya, namun sepertinya Lily tak tertarik dengan itu. anda bisa coba untuk membujuknya” Mataku membulat terbuka, siap loncat. Maksudnya Lily sudah mengabaikan kesempatan untuk kesembuhannya dan membuang-buang waktu hingga kanker menyebar diseluruh tubuhnya begitu. Tuhan menunjukan kasihnya padaku, dan Lily. Bagaimanapun Lily harus menjalani pengobatan itu. sedikit senyum, rasa syukur setelah mendengar itu. aku berjanji akan membuat Lily sembuh dari kankernya. “baiklah dok, jika memang itu harapan yang tersisa untuk Lily, akan aku coba meyakinkannya mendapatkan pengobatan itu, terimakasih” Ucapku, tulus. Membungkuk “iya, selamat sore” Tutupnya. Dan aku sekali lagi membungkuk padanya berbalik meninggalkan ruangannya. Segera berjalan dilorong menuju kamar Lily. Mengintip dibalik jendela ini. Lily sedang terduduk bersandar pada kepala ranjang tempat tidurnya, menatap kosong keluar. Wajahnya yang kecil semakin kecil saja, tak kuasa akhirnya kutemui bagian administrasi bertanya disana bagaimana cara mengikuti pengobatan yang disarankan dokter tadi. Segera. harus sesegera mungkin, kemudian seseorang mengurus berkas pengajuan dan data yang dibutuhkan beserta pernyataan dokter Delon selaku dokter yang bertanggung jawab atas pengobatan Lily nantinya. Tak lupa kubertanya dan mendengarkan seseorang yang bertanggung jawab mengurus pengobatan kanker itu. rupanya tanpa melalui oprasi atau kemoterapi bahkan diketahui sangat efektif terlebih tak memilki efek samping juga rasa sakit. Berjalan hanya 3-5 hari lamanya dengan beberapa sesi, bahagia tak terkira aku mendengarnya. Ingin secepat mungkin aku membuat Lily mendapat pengobatan itu. Menunggu, dan tak selama itu pengurusan berkasnya, kini ada surat yang harus ditandatangani Lily sebagai pasien tanda bersedia mengikuti pengobatan itu. Kubuka pintu, napas yang masih harus kuatur setalah berlari dengan antusias. namun orang yang kutemui kini seperti orang yang mati lemas. Memegang gelas. “Lily, cepat tanda tangani ini, kau harus menjalani pengobatan ini” Kataku, dengan menggebu-gebu, menyodorkan kertas dan pulpen baru yang kubuka tutup bitu itu. mengacuhkanku. Dengan santainya ia meneguk air dalam gelas dan meletakan dimeja samping tempat ia duduk. “maaf” Ucapnya, singkat. Matanya menatap mataku, lekat. Hitam pekat mata itu membuatku melangkah mendekat. “maaf yang biasa orang katakan saat telah melakukan kesalahan, atau kau tak merasa telah melakukan kesalahan padaku, menghianatiku, pergi untuk wanita kaya itu, begitu” Diam terpaku aku mendengar semua perkataan itu. bisakah ia berhenti membicarakan masa lalu dulu, maksudku memang itu tak akan bisa sedikitpun terabaikan, momen saat ia kutinggalkan, namun kini masalah kesehatannya lebih penting dari semua permasalahan, bahkan cerita lalu itu, bukan? “maaf, seribu maaf akan aku ucapkan, meski tak akan pernah cukup untuk semua kesalah yang telah kulakukan. tapi kumohon untuk sekali ini saja, abaikan itu, dengar pintaku aku ingin kau tetap hidup dan ijinkan aku menebus kesalahanku padamu” Ucapku, pintaku, berlutut dihadapannya, meraih tangannya yang dingin, dan kutahu hatinya pasti lebih beku dari pada itu. memalingkan wajah agar tak melihat diriku, aksiku itu. Air mata jatuh dari pelupuh mata yang sudah hitam dan berkantung itu. Lily meneteskan air mata lagi karena diriku, sikapku yang selalu kubenci tak mampu melakukan apapun selain menambah luka jauh dari sikap menjaga seperti janji yang pernah kuucapkan padanya. Kubangkit, berdiri, dan memeluk dirinya, masih dengan derai air mata diwajahnya, aku yang jadi penyebabnya tak tahu malu memeluk tubuh rapuhnya. “tak akan pernah ada maaf untukmu” Bisiknya jelas dalam tangis pada telingaku. Tak kusangka, terkaget saat lengannya perlahan terangkat menyampai dipundakku, membalas pelukku.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD