Kembalinya Pria itu

1718 Words
Seperti yang sudah ku janjikan sebelumnya, aku akan bertemu pastor Joseph hari ini, digereja berjarak dua kota dari rumahku saat ini. memakan waktu hingga 3 jam, kuputuskan menaiki kereta kesana, tak ingin repot soal mengendari, macet dan belum lagi lampu merah yang selalu membuatku menunggu, lelah sumpah. Hari ini pertama kalinya lagi setelah satu bulan lamanya aku keluar pintu rumah terkena sinar matahari. Ah aku lupa kedatangan pria hari itupun membuatku harus keluar. Sesungguhnya sejak hari aku mendengar diagnosisku, kanker darah yang kuderita, masih stadium awal namun cepat berkembang katanya. aku menjadi mengurung diri dirumah. Sempat kuajukan pengunduran diriku pada perusahaan, namun tak mendapat persetujuan, mereka hanya memberiku izin cuti panjang, memang tak kuberitahu kondisiku yang bisa saja kugunakan sebagai alasan. Disinilah kini, dirumahku selalu sendiri. Tak ada yang kulakukan. hanya merasa kosong, sedikit bertanya-tanya bagaimana rasanya kematian. Membayangkan tubuhku yang sudah menjadi abu berterbangan, mungkin akan sangat hampa, dingin, maksudku lebih dingin dari apa yang selalu kurasakan. Sedang kukuncikan pintu, masih pukul 9 pagi. Kulitku semakin pucat, tak berdarah disana sudah layaknya mayat saja tubuhku. Bahkan kaus yang kukenakan terasa sangat kebesaran. Secepat inikah. Selain seringnya aku sempoyongan, banyak memar disana hasil menabrak sana sini, lebam dan ruam dikulitku. kepala berat dan sakitnya yang luar biasa, terutama saat disertai darah keluar dari hidungku, sejenak jiwaku selalu terbang entah kemana, terasa seseorang mengangkatnya, bahkan pandangan mataku selalu gelap karenanya. Kelelahan dan kehilangan energy setiap saat, tanganku menjadi sangat kurus dan sering kali kehilangan kemampuannya untuk memegang sesuatu. Kring Nyaring. saat tak sengaja kujatuhkan kunci pintu rumahku. Terjatuh hingga turun tangga teras rumahku. bergaya farm house ada beberapa tangga menuju pintu rumah, diberi pegangan hingga aku bisa berpegangan padanya, mataku mencari-cari dimana kunci itu, ditanah dibawah sana, dekat pot tanaman hijau berbentuk hati, yang satu daunnya mati. piuhh haruskah terjadi dipagi hari, aku harus membungkuk. aku mulai membenci itu. karena saat kutegakkan lagi keposisi bangun berdiri, kepalaku terasa sangat berat, dan penglihatanku selalu kabur. Dan benar saja. aku kehilangan keseimbangan. “ah, kau baik-baik saja” Tiba-tiba suara terdengar, menangkap tubuhku yang bergetar hampir terkapar ditanah jika tak ada dirinya. Tangan seorang pria kutebak itu, terasa sangat kuat untuk menahan pinggangku. sedikit mencengkramnya, yang sudah tahu disana hanya tersisa tulangku saja. masih tak bisa memastikan siapa itu. Tangankupun meraih tangan yang menahan tubuhku. “terimakasih banyak” Ucapku, terdengar seperti gumamku. Berdiri dibelakangku, hingga aku berbalik badan untuk melihatnya, tangankupun masih harus bertopang padanya. “jadi, kemana tujuanmu hari ini dalam kondisi seperti ini?” Tanyanya kemudian. Aku mendongak, mengenakan kemeja baby blue dengan lengan yang tergulung setengahnya tapi masih menutupi sikutnya. Lagi. Wajah tak asing yang minggu lalu sempat berdiri didepan pintu rumahku, menerobos masuk rumahku, dan tangan yang kupegang kini sempat memegang semangkuk mie yang membuat perutku keruyukan kikuk. Sadar itu dirinya, kumundurkan selangkah menjauh dariya. Tak menyangka akan kehadirannya, disaat seperti ini lebih tepatnya ia menangkapku untuk tidak terjatuh setelah memungut kunci rumahku. Mataku mendelik padanya, tanda tak sukaku jelas akan kedatangannya. “kuharap ini menjadi pertemuan terakhir antara saya dengan anda” ** Author pov Berjalan lurus menabrak tubuh pria yang telah menyelamatkannya, seolah begitu tak ingin menganggap kehadirannya, ia melangkah begitu saja, pagar putih rumahnyapun yang senada dengan warna cat rumahnya ia biarkan terbuka. Seperti biasa, dengan wajah datarnya. Lily berjalan sepanjang trotoar menuju kafe tempat ia memesan iced Americano yang sudah lama tak ia minum. Meski ia sempat membuat kopi dirumah dan memesan makanan dengan minuman es kopi tetap saja lidahnya berkata tak sama dengan racikan kafe favoritnya ini. Sedikit langkah ia selalu berhenti, merasa lelah, napasnya menjadi berat. Sadar tubuhnya semakin lemah. merasa bersalah sudah 4 hari lamanya ia tak meminum obatnya, kehabisan dan hanya menerimanya tak bermaksud membelinya lagi. sekarang ia merasakan akibatnya, beridiri bersandar tangan pada pohon. tepatnya beberapa pohon setelah beberapa kali berhenti. Pohonnya berdaun kecil, hijau terang, bergoyang bersama angin. Rambut yang ia biarkan tergerai membuatnya terlambai, menambah kecantikan dirinya, kulit pucatnya yang seperti poselen bahkan sudah satu warna dengan warna putih gedung tempat kafe yang ditujunya berada kini. “akhirnya” Ucap Lily setelah berjalan sekuatnya, bukan masuk. Ia malah masih betah berdiri dibawah pohon terkahir pemberhentiannya, memandang plang toko. Seven coffee terpampang yang dibuat dari kayu berhiaskan gambar secangkir coffee dengan emot icon senyum, yang ia balas juga, Lily tersenyum pada wajah senyum diplang kafe. Tak sadar, seseorang tengah memperhatikannya dari kejauhan, memandanginya, dan sama tersenyum terpancar diwajahnya. Alen mengikuti Lily rupanya. Beberapa kali saat Lilyy kehilangan keseimbangannya, langkahnya reflex maju ingin menopang lagi tubuh lemah Lily, namun selalu terhenti. Tak lama Lily didalam kafe ia keluar membawa take away cup coffeenya. menunggu bus yang akan membawanya menuju stasiun kereta. Matahari cerah membuat dirinya tampak lebih bersinar, manampilkan kulit putihnya, jelas menonjol dari semua yang sedang menunggu. Stasiun Lily melewati petugas yang pas kereta dan kini memasuki gerbong kereta, mencari nomor kursinya. Dilihat nomornya 112 disana. Sedikit kecewa bukan disebelah jendela. Padahal ia selalu berharap menghabiskan perjalanan menatap pemandangan, meski tak jelas karena cepatnya jalan kereta namun tetap impian perjalanan yang selalu inginkan adalah duduk dengan santai menatap keluar jendela jangan lupakan music lembut yang harus jadi latarnya. Tanpa sepengetahuan Lily, rupanya Alen mengikutinya sedari tadi, masih membututinya bahkan dihalte bus Alen berdiri tak jauh darinya, dan kini ia duduk berada 6 kursi dari tempat Lily yang tengah memandang kosong, menunduk, menunggu jalannya kereta. Tujuannya, gereja tempat ia besar bertemu sang pastor, untuk mengeluh. Alen tahu itu. Selama waktu berlalu, Alen memandangi Lily yang entah memandang apa. Bahkan kursi disebelahnya kosong, tak terisi. Tas kecil yang selempangkannya, sedari awal ia duduk masih tetap dipeluk dipangkuannya, sangat terlihat waswas. Seolah merasa seseorang tengah memperhatikannya, tentu jika ya itu Alen orangnya, namun itu lebih kepada seseorang siap menjambret dirinya. Tubuh mungilnya tertekuk kedepan, membungkuk, sweter cream yang menutupi dirinya dengan dress selutut yang ia kenakan, berenda diujungnya, mengenakan sepatu slip. manis sekali dirinya. Begitu pikir Alen selama perjalanan, menjaga pandang tetap padanya. Dan disinilah Lily berkahir, berdiri menunggu ibadah minggu pagi selesai. dipimpin pastor yang ingin ditemuinya. Duduk dikursi taman, menghadap pemandangan yang mengingatkan pada masa ia selalu bermain bersama teman-temannya. “lama tak bertemu, Lily Ashleey” Sapa seseorang. Tak ada respon sama sekali darinya apalagi untuk menjawab. Hanya wajah datar dan dinginnya setelah bertemu wajah pria itu. “kau sungguh tak ingat padaku, padahal dulu aku yang selalu menjagamu dari anak-anak yang menjahilimu” Pria itu, petugas layanan sosial yang beberapa waktu lalu menemuinya. Lily hanya menatapnya tajam, sadar dirinya dibuntuti. sedikit berkerut dahinya, rupanya pria ini telah mengenal dirinya, jauh sebelum kedatangannya minggu lalu. mencari seseorang yang barang kali pernah ditemuinya, dan benar ia begitu mirip pria b******k itu. “Geraldino Abraham” Lily tersentak dibuatnya, benar. Pria tampan itu, tak aneh jika Lily sampai selalu dibuat beku olehnya. “apa maumu, untuk apa kembali menemuiku setelah pergi bahkan tak mengucapkan perpisahan hari itu, bukankah kau sudah tak ingin menemuiku lagi” Tanya Lily sekaligus mengingatkan akan kejadian 10 tahun lalu. Saat itu Gerald yang pergi untuk menikahi seorang putri pengusaha kaya raya diusianya yang baru menginjak 22 tahun. Selama itu Gerald selalu menjaga Lily hingga hari ia tiba-tiba pergi, tak ada kabar lagi. Bahkan kini Lily yang masih menumpuk semua benci. “aku merindukanmu Lily, bukankah itu alasan paling tepat untuk menemuimu lagi” Jawabnya santai. Tak tahu malu pikir Lily setelah melukai hatinya, kini muncul dihadapannya. Alen yang kala itu menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dilindungi, pergi untuk mencari cintanya, menjalani pernikahan tak direstui. pindah kekota yang jauh, dan kini kembali sebagai pegawai yayasan layanan social onkologi. Komedi sekali hidup ini. ** Gerald pov Aku kembali kekota tempat aku pernah besar. saat itu hari pertama kutiba dan disanalah seperti rumahku, dan takdir mungkin Lilypun sedang disana. berbicara mengenai penyakit kanker yang dideritanya. Sedikit sesal dan bersalah atas dirinya kurasa. Dulu aku pernah berjanji akan selalu menjaganya namun aku pergi dan mejadi suami dari wanita lain, hidup dalam pernikahan rumit penuh masalah setiap harinya. Bekerja sebagai pekerja social onkologi dirumah sakit milik keluarga istriku, sudah jadi pekerjaanku menemani, membantu mereka penderita kanker mendapat perawatan dan membuatku terpikir sangat bisa memanfaatkan kesempatan untuk kembali menghabiskan waktu bersamanya, menjaganya seperti saat itu. Aku sangat tahu betapa benci dirinya padaku, karena itu, dengan alasan itu, aku ingin kembali kemasa itu, saat ia masih bersamaku. “Lily kali ini tak bisakah kau lupakan rasa bencimu padaku, jangan merusak dirimu seperti ini” Kugenggam tangannya. sedikit meronta ingin dilepaskannya. Wajah yang ia palingkan dariku. “setelah merubah nama menjadi Alen, lalu kini kau juga berubah menjadi seorang pahlawan kesiangan begitu, sok peduli padaku setelah lama meninggalkanku?” Perkataannya padaku, memojokanku, semua kesalahanku yang pergi tanpa pamit padanya. “Lily, semua masih belum terlambat bagimu untuk sembuh dan sehat kembali, oprasi sumsum tulang belakang masih berpeluang unt-“ Jelasku, langsung pada intinya, masalah kesehatannya yang kutahu ia mengabaikannya, bahkan ceck up dan janji temu dengan dokter pengobatan kankernya kutahu setelah menyelidikinya dan ia menolak semuanya. Menyerah akan penyakit yang dideritanya. “berhenti peduli padaku, lakukan seperti biasa, acuhkan aku dan pergi saja urus istri tercintamu itu” Usirnya padaku, berdiri dan melangkah pergi. Sulit. Salahku memang. Namun ini baru awal, aku akan bisa lagi meluluhkan hatinya, sebenci apapun dirinya padaku ia akan tetap sama, Lily kecil yang kukenal. ** Lily pov “jadi begini cara pastor memperlakukanku setelah tahu aku sekarat dengan penyakitku” Kataku langsung saat kutahu seorang pria tua di usia pertengahan 60 tahun dan sangat kutahu itu, tengah duduk diantara barisan kursi dalam gereja. Pastor Joseph menoleh padaku, wajah khawatirnya tampak setelah melihat diriku berdiri dihadapannya. Matanya memperhatikanku dari bawah hingga atas. Kaki hingga kini wajahku, tangannya meraih tanganku, pucat perbedaan tampak sangat jelas dengan warna kulitnya. “Lily, bagimana kau bisa jadi seperti ini, anakku” Dengan derai air mata, ia menatapku. Seolah menulariku, satu tetes air mata jatuh dari mataku karenanya. Ditariknya diriku untuk duduk. “jangan melibatkan dirinya yang sudah pergi meninggalkanku dan melukaiku” Pintaku, dengan sedikit merengek. “bukan seperti itu, dia hanya ingin berbuat baik padamu tahu bahwa kau tak menjalani pengobatan itu, membuatku sebagai orang tuamu khawatir akan kesehatanmu terlebih lagi maafku tak bisa merawatmu” Aku hanya diam mendengar penjelasannya. “Lily tangan tuhan akan selalu ada untuk mereka yang membutuhkan, kasihnya juga pasti akan menuntunmu” Terangnya lebih lanjut. Aku tersedu mendengarnya, sejujurnya aku sudah menyerah dengan semuanya, hidupku sudah kupasrahkan. semua penghianatan, hati yang selalu patah, kecewa, dikubur dengan penyakit seperti ini tak ubahnya siap membawaku pergi kealam baka tak kepalang menderita. Tangisku pecah dalam peluk pastor Jopeph, tak kuasa lagi menanggung segalanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD