Orion duduk bersandar di sofa, sementara sang calon istri masih belum terlihat karena sibuk mencoba gaun pengantin. Belakangan ini Orion benar-benar merasa lelah karena harus mengurusi berbagai hal; rencana pernikahannya juga apotek yang baru didirikannya. Sekarang saja ia demam, hanya tinggal menunggu Nao sadar, kemudian mengomel panjang lebar. Pemuda itu memejamkan mata, berharap pening di kepalanya hilang dengan segera. "Ori!" Refleks kelopak matanya kembali terbuka. Melihat Nao kini berdiri di hadapannya dalam balutan gaun putih sederhana membuatnya terpaku cukup lama. Orion baru tahu kalau Nao bisa secantik itu. Padahal, gadisnya belum berdandan sama sekali. Bagaimana nanti? "Hei, bagus enggak?" "Sebenarnya kamu pakai daster aja kayaknya cantik. Tapi, ini lebih cantik lagi." "Da

