"Nona Vani pergi, Bos." "Ya ikuti lah. Jangan cuma lapor doang." "Oh begitu ya, Bos?" Ia berdesis. Kenapa intel yang ia pekerjakan ini begitu lelet bin agak-agak o'on begitu ya? "Ya gak usah pakek tanya lah. Jalan sana. Kabarin saya ke mana istri saya pergi." Ia mendumel. Ia matikan telepon dan melacak keberadaan istrinya. Ya masih di rumah. Mungkin kah ponselnya tertinggal? Ia tak paham. Karena Vania dan mood-nya yang sering berubah. Kalau ia tak ada, mood-nya baik. Kalau ia ada di sekitarnya, mood Vania pasti emosi tingkat tinggi. Ia menghela nafas. "Apa yang salah ya? Saya bahkan baru sampai di rumah dan ada saja perkara yang datang. Saya jadi bingung. Apa keberadaan" Psikolog yang menjadi teman barunya beberapa bulan belakangan pun tertawa mendengar keluhannya. Kenzie bukan da

