JOJO SUPERMALL

1042 Words
Sekarang aku sedang ada di luar halaman Jojo Supermall. Aku heran, mengapa Sofi tiba-tiba saja ada di Mall ini?. Apa yang ia kerjakan?. Apakah ia memang mencariku,? entahlah aku pun tak tahu. Aku cukup senang karena kehadirannya, namun pada biasanya, Sofi seringnya bersama dengan pacarnya. Namun pada sore ini ia datang sendiri, tentu aku sedikit bertanya-tanya. "Mengapa aku bertemu dengannya sendiri tadinya,? hmm...dan tidak seperti biasanya." Aku dan ia berteman, namun penghalangku mendekat kepadanya adalah pacarnya, tentu aku tidak bisa mendekatinya. Aku berkata sewajarnya saja dengannya. SOFİ SOFİYA Oh... kenapa ya Jemi kok pengen cepat-cepat banget tadinya?. Padahal aku mau mengobrol lebih lama dengannya. "Ada apa ya?." Hmm... apa mungkin karena ia tahu aku punya pacar,? dan sepertinya begitu. Tapi..., malam Minggu ini aku tidak ada acara. Aku pikir tadinya Jemi bisa ku ajak bersama berdua. "Lalu bagaimana ya?." Mungkin karena aku punya pacar, jadinya ia seperti menjaga jarak denganku, dan bahkan seperti menjauh. Aku suka sama Jemi, tapi aku juga tidak ingin kehilangan pacarku, terutamanya jika aku dekat dengannya. Sebaiknya bagaimana ya?. Aku tadinya tidak ingin ia pergi cepat-cepat, karena ku ingin tahu seperti apa perasaannya kepadaku. Kalau begitu, jadinya akan aku pikirkan dahulu, dan ku mau mengikutinya terlebih dahulu. Kemana ia perginya, Sofi berkata dalam benaknya. JEMİ KİMER Aku sudah cukup lama suka padanya Sofi, tadinya telah ku katakan. Akan tetapi, aku lebih mementingkan hubungan pertemanan. Pada saat ini aku sedang berdiri pas di depan jalanan Jojo Supermall, karena ramai dan tentunya menjadi macet. Beberapa detik setelahnya aku berdiri, ternyata hujan gerimis mulai turun rintik-rintik, namun tidak deras. Beberapa menit kemudian ada orang-orang yang berteriak di depan jalanan Supermall, mereka berkata dengan keras, lalu membunyikan klakson motor dan mobilnya dengan begitu kencang, nyaring sehingga membuatku penasaran. "TET...TET...TET...BRUM...BRUM...BRUM...," Klakson motor dan mobil itu sangat kencang, keras dan nyaring, jalanan jadi macet tiba-tiba. “Ada apa ya Pak,? kenapa orang ramai-ramai disana itu ya Pak,? mobil dan motor itu loh,!?” Tanyaku pada seorang sekuriti Supermall yang menatap ke area tersebut. “Hmm... tidak tahu saya Dek, ayo kita lihat kesana yuk,!” Katanya Pak sekuriti dan tampak cemas. PAK SEKURİTİ JOJO SUPERMALL Waduh ngagetin saja Masnya ini. Saya pikir tadi siapa, rupanya dia malah bertanya kepadaku. Loh disana itu ada yang sedang ribut-ribut, wah aku mesti kesana nih. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Jalanan jadi macet banget, malah tambah sibuk dan pusing kalau begini. Semoga saja tidak terjadi keributan yang besar. Tapi...kok aku melihat dan mendengar, sepertinya ada suara-suara teriakan para wanita, dan mereka berkata dengan kencang. Hmm...ada apa ya,? Pak Sekuritinya berkata dalam benaknya. JEMİ KİMER Pak Sekuritinya dan diriku sedang berjalan, yakni menuju ke tempat orang-orang yang ramai tadinya. Letaknya tak jauh dari tempat aku berdiri pada saat ini. Jaraknya mungkin hanya sekitar 35 langkah saja, dan tepat persis di depan gang masuknya Jojo Supermall. Ternyata disana ada beberapa wanita yang sedang ribut-ribut, mereka mencela dan memaki satu sama lainnya. "TET...TET...TET...," Bunyi klakson motor dan mobil yang tak bisa lewat di jalanan. "Woy apa kamu,! hey... sialan,!" Suara teriakannya para wanita itu. "Wanita-wanita itu sedang ribut di jalanan." "Hey, minggir dikit lah kalian ini,! TET.....," katanya pengendara disana yang mau lewat, tapi jadi terhambat karena para wanita itu. "Apa kamu, itu cowok saya!. Kamu ga punya otak ya,!" Suara makian dan celaan wanita yang sedang ribut-ribut itu terdengar olehku, mereka Jambak -jambakan dan dorong-dorongan. Aku tidak melihat jelas karena begitu ramai. Perkataannya para pengendara jalanan pun tidak di dengarkan oleh mereka. Kemudian ada beberapa laki-laki yang mencoba melerainya, dan termasuk Pak sekuriti tadinya. "Ah.... Sialan kau,! ga mikir kau ya,! ga ada otak,!" suaranya wanita yang sedang berantem di depan jalanan Supermall. Banyak kata-kata yang begitu kasar dan tak enak di dengarkan. Aku kesana dan melihat langsung mereka bertengkar. Mereka pun tampaknya masih seperti para mahasiswi. Suasananya menjadi mencekam dan juga tegang, untung saja ada Pak Sekuriti Supermall yang mengawasi, sehingga keributan itu menjadi sedikit tenang. Aku tidak mengenali siapa para wanita-wanita itu. Mereka di lerai oleh Pak sekuriti dan orang-orang disana. Aku melihatnya dan ku bertanya, karena ramai dan berdesakan, dan jadinya sedikit susah. “Ada apa ya Pak..., kenapa mereka itu ribut-ribut ya,?” Tanyaku pada orang-orang yang sedang berdiri disana dan juga melihat, namun pertanyaanku tak di dengarkan olehnya. “Ada apa ya dek,? kenapa ya cewek-cewek itu ribut ya,?” Tanyaku pada seseorang wanita disana dan sedang memperhatikan juga. “Siapa mereka ya mbak,? kenapa ya,? ada masalah apa ya,?” Tanyaku pada mereka, namun satupun tidak ada yang menjawab. SEORANG WANİTA DİSANA Aduh Masnya ini, orang sedang ribut dan ramai begini, kok dia malah nanya-nanya, gimana sih!. Hmm... aku tau nih, kenapa mereka itu ribut dan berantem, pasti masalah pacar dan perselingkuhan, sepertinya begitu. Akan tetapi, berani sekali mereka Jambak-jambakan di depan jalanan lagi, hmm....lebih baik aku lihat saja deh, Katanya seorang wanita yang melihat disananya. JEMİ KİMER Aku tidak mengetahui mengapa para wanita itu bertengkar, maka dari itu ku bertanya, bahkan saking beringasnya, mereka pun saling mencela dan hampir bertonjok-tonjokan. Tangan-tangan mereka di pisahkan oleh Pak sekuriti dan orang-orang disana, karena mereka mau berantem dan bertonjok-tonjokan. "Di depan jalanan Jojo Supermall sehingga menimbulkan kemacetan selama beberapa menit." Di sela-sela mobil dan motor mereka saling bertengkar sampai ke jalanan besar, bahkan saling kejar-kejaran. Pada malam Minggu tadinya aku berharapnya bagus, tapi tidak ku duga jika ada kejadian yang seperti ini, lalu ku telepon Bobi. “Kring kring kring...,” Bunyi suara telepon genggamku namun tidak diangkat olehnya. Aku berdiri saja setelahnya sambil memandangi keramaian dan keributannya, beberapa menit kemudian Bobi datang, dan dari kejauhan ia melihatku. "Brum brum brum...," Bunyi motor terdengar mantap, “Maaf Bang Jem, aku sedikit terlambat, tadinya di jalanan terkena macet, dan ban motor juga pecah, maaf ya,!” Kata dia menjelaskan kepadaku kendala yang terjadi. “Ya tidak apa-apa, yang penting sekarang kau sudah disini,!” Kataku padanya dan telah sedikit tenang. Kami memutar motor dan beranjak menuju ke Dambanya Kafe. Diceritakan tadinya bahwa malam ini aku akan dikenalkan oleh Risa pada seorang wanita temannya. "Entah siapa lagi wanita yang akan di kenalkannya kepadaku?." Aku sedikit jengkel dengannya Bobi karena diabaikan, namun waktu telah berlalu. Kami tinggalkan saja keramaian itu dan menuju ke kafenya, walau sebenarnya aku masih ingin melihat keributannya. Bobi tampaknya mengerti walau terkadang seringnya berbeda pendapat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD