Selepas Rey mandi. Suasana memang terasa canggung. Beruntung ia bisa mencairkannya dengan cara tersenyum dan bersikap seolah semuanya ‘baik-baik' saja di depan Kanaya yang pastinya merasa bersalah.
Rey menarik Kanaya dalam pelukannya. Setelah mematikan lampu tidur. Mengecup kening Kanaya dengan sayang. Rey bergumam, “Maafkan aku. Aku selalu saja tak bisa menahan diri saat berada di dekatmu. Dan kamu juga nggak usah merasa bersalah. Karena bagaimanapun aku pria normal sayang. Pastinya aku akan bereaksi jika melihat kemolekan tubuhmu yang begitu indah. Tidurlah sayang! Besok kita akan bangun pagi dan segera pulang ke Jakarta. Lalu pergi ke rumahmu.” Ungkapnya panjang lebar. Rey semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Kanaya hanya bisa mengangguk kecil sembari tersenyum tipis.
Merasa lega karena Rey mau mengerti keadaannya. Dan ia semakin bertambah cinta padanya. Jika Rey Seperti ini. Kanaya merasa beruntung bisa menjadi sekretaris sekaligus kekasihnya.
Tak lama kemudian. Kedua insan tersebut telah berlayar ke pulau mimpi. Dengan masih saling memeluk erat. Memberikan kenyamanan serta kehangatan saat cuaca malam yang lumayan dingin ini, sebab hujan deras mengguyur kota Bali sekarang.
***
Pagi harinya. Rey dan Kanaya telah bersiap untuk segera pergi ke Bandara Internasional Ngurah Rai. Perjalanan menuju ke Jakarta memakan waktu kurang lebih satu sampai dua jam. Setelahnya, barulah Rey dan Kanaya segera menuju ke desa tempat dimana Kanaya tinggal bersama Bunda dan adik-adiknya di panti asuhan.
Senyum manisnya selalu tersemat di wajah cantiknya. Membuat Rey pun merasa bahagia. Karena bisa membuat wanitanya juga bahagia bisa bertemu orang-orang yang disayanginya.
Rey yang fokus pada jalanan pun hanya bisa sekali-kali tersenyum tipis. Tatkala bibir mungil Kanaya nampak antusias menceritakan tentang kehidupannya selama ini di panti. Juga bagaimana kenyamanan dan kehangatan sebuah keluarga yang nyatanya mampu membuatnya tak merasa lagi kekurangan kasih sayang. Walaupun tanpa kedua orang tuanya yang sesungguhnya.
Setidaknya, Sang Bunda dan beberapa pengurus panti tempatnya tinggal. Selalu melimpahkan banyak kasih sayang kepada anak-anak yang memang memiliki beragam cerita. Hingga akhirnya bisa berada di sana.
Bundanya juga tak pernah menolak seorang anak yang ingin dititipkan di sana. Meskipun anak seorang kupu-kupu malam sekalipun. Karena bagi Sang bunda. Seorang bayi terlahir dengan kondisi suci bersih tanpa dosa.
Walaupun ada beragam masalah serta dosa yang membuatnya hingga terlahir kedunia. Tapi Kembali lagi. Bayinya tak pernah berdosa. Hanya kedua orangtuanya lah yang akan menanggung dosanya sendiri. Bukanlah Sang bayi tak pernah tahu apa alasan dibalik kelahirannya kedunia yang indah. Namun juga penuh keburukan di dalamnya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam berkendara. Tibalah Kanaya dan Rey di sebuah rumah besar yang nampaknya asri oleh pepohonan di sekitarnya. Memang bukan rumah mewah.
Akan tetapi, Rey bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga di sini. Dan benar saja.
Tak lama ia dan Kanaya turun. Datanglah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Berjalan tergesa-gesa menuju ke arah Kanaya.
Lantas memeluknya erat dan menciumi puncak kepalanya penuh sayang. “Nana! Bunda senang kamu datang, nak! Bunda dan adik-adikmu kangen sekali sama kamu.” Ujar Bunda yang masih tetap memeluk Kanaya.
Sementara Kanaya juga telah sedikit meneteskan air matanya. “Iya, Bunda. Nana juga kangen banget sama Bunda. Nana mau menginap disini Bunda. Pengen makan masakan Bunda dan tidur sambil meluk Bunda. Nana sayang sama Bunda!” balas Kanaya yang juga memeluk Bundanya dengan erat.
Sejenak, kedua perempuan berbeda generasi tersebut lupa akan kehadiran seorang pria yang menatap haru ke arah wanitanya yang kini tengah dipeluk oleh Bundanya.
Hatinya seakan menghangat melihat betapa ia disayangi oleh banyak orang. Terbukti, tak lama kemudian. Datanglah beberapa orang juga yang ikut memeluk Kanaya bergantian. Lalu anak-anak yang Rey duga adalah adik-adik yang sering Kanaya ceritakan padanya.
Sungguh! Ia merasa iri akan kehangatan keluarga yang di dapatkan oleh Kanaya. Dibandingkan dengan dirinya yang masih memiliki kedua orang tua utuh. Namun, hanya kehampaan yang ada.
Bahkan rumah mewah yang ditempati oleh orang tuanya tersebut. Terasa begitu dingin bagai di kutub oleh Reynand. Karena tak pernah bisa memberikan kehangatan yang seharusnya tercipta di rumah tersebut.
Maka dari itu, setelah Neneknya meninggal. Rey memilih untuk tinggal di apartemen seorang diri. Toh, baginya. Percuma juga jika ia tetap tinggal di rumah. Jika arti dari rumah saja. Tak pernah bisa dimengerti oleh orang tuanya yang lebih memilih kesibukannya sendiri. Dibandingkan dengan berkumpul bersama keluarganya.
“Wah, kak. Siapa pangeran tampan ini? Kakak Nemu dimana ini? Ganteng banget kak!” seru seorang gadis berusia sepuluh tahun yang rupanya menyadari keberadaan Reynand di samping mobilnya.
Bunda dan yang lainnya pun menoleh. Karena memang sejak tadi. Fokus mereka berada penuh kepada Kanaya. Sehingga mereka juga tak menyadari keberadaan Reynand yang berdiri di sisi mobilnya. Menatap mereka dengan senyum tipisnya.
“Na, dia siapa? Nggak mungkin supir taksi online kan?” tanya Bi Asih yang menatap kagum akan ketampanan Rey.
“Ish! Bibi mah! Itu bukan supir taksi online. Dia adalah...”
Belum sempat Kanaya meneruskan kalimatnya. Rey telah lebih dulu bersuara. Ia mendekati Kanaya, lalu menjulurkan tangannya ke hadapan Bunda.
“Saya, Reynand Bunda. Pria yang sekarang sedang menjalin hubungan dengan anak Bunda yang cantik ini.” Ucap Rey dengan senyum lembutnya dan mengedipkan sebelah matanya genit ke arah Kanaya yang terbelalak lebar setelah mendengar penuturan Rey barusan.
“Oh, pacarnya kak Nana. Wah, pintar kakak cari pacarnya. Ganteng banget lho! Iya, kan bunda?” ujar Nindi yang sejak tadi nampak heboh saat melihat Reynand tersenyum.
Bunda tersenyum dan membalas uluran tangan Rey. “Oh, maaf ya nak Rey. Maklumlah anak-anak kan terkejut karena Kakak perempuannya datang kerumah sambil membawa cowok. Biasanya kan sama supir taksi online saja. Mari silahkan masuk! Pasti capek banget yah, dari Bali langsung kesini.”
Bunda mempersilahkan Rey dan Kanaya untuk masuk. Setelah sesi perkenalan tersebut. Kanaya berjalan seraya menggandeng lengan Bundanya seraya menceritakan tentang pekerjaannya.
Sementara dibelakangnya, Rey yang diam-diam tersenyum menatap betapa manjanya Kanaya pada Bunda.
Rey dan Kanaya segera saja makan siang bersama di ruang makan. Suasana ramai yang di sebabkan oleh adik-adik Kanaya. Ternyata membuat Rey selalu merasa bahwa inilah keluarga yang sesungguhnya. Keluarga yang kehangatannya ia impikan.
Dan dari sinilah, Rey bisa tahu. Jika wanitanya tersebut adalah wanita yang sangat penyayang dan menjadi idola di depan adik-adiknya yang begitu penurut padanya.
Rey tak henti-hentinya mengamati bagaimana tingkah dan polah Kanaya sejak tadi. Bagaimana cara ia menasehati jika adik-adiknya itu bertengkar karena makanan. Juga bagaimana telatennya ia menyuapi adiknya yang belum bisa makan sendiri.
Bagaimana sabarnya ia dalam menghadapi keusilan adik-adiknya yang memang ada juga yang sangat usil mengganggu temannya yang lainnya.
“Jangan dilihatin terus. Memangnya bisa kenyang hanya dengan melihatnya terus seperti itu?” goda Bunda yang rupanya juga tahu jika Rey mengamati anaknya.
“Iya, Bun. Habisnya anak Bunda itu selalu saja membuat aku takjub dengan hal-hal yang selama ini tak pernah aku tahu. Jika di kantor. Karena ia benar-benar terlihat berbeda jika di kantor dan disini.” Jelas Rey yang mulai menyuap nasinya. Namun matanya masih tetap menatap Kanaya yang kini sibuk mondar-mandir kesana kemari. Entah kenapa.
“Ya, kamu benar. Nana memang selalu seperti itu jika di dalam dan luar rumah. Ia seolah menutupi sifat aslinya jika di luar. Dan akan menjadi dirinya sendiri jika di dalam rumah. Tapi Bunda mau berterima kasih sama kamu. Karena sudah mau membahagiakan anak bunda yang masih saja manja sampai sekarang.” Tutur Bunda tulus.
“Bunda nggak perlu berterima kasih. Seharusnya aku yang terimakasih sama bunda. Karena berkat kasih sayang dan didikan bunda. Aku bisa bertemu dengannya. Dan aku sangat mencintainya, Bun!” ungkap Reynand jujur seraya menoleh ke sampingnya.
“Bunda harap kamu bisa memberikan kebahagiaan padanya. Karena dia adalah anak bunda yang paling baik. Jangan sakiti hatinya. Karena sekali saja kamu menyakitinya. Maka ia akan segera pergi menjauh darimu.” Nasehat Bunda.
Rey mengangguk dan kembali menatap ke depan. Dimana Kanaya kini nampak sedang tertawa bersama adik-adiknya.
“Ya, aku akan berusaha semampuku bunda untuk tidak menyakiti hatinya. Karena dia adalah sosok yang selama ini aku cari. Wanita yang bisa memberiku segala kasih sayang serta cintanya yang tulus. Kasih sayang yang selama ini aku harapkan dari orang tuaku. Namun tak pernah aku dapatkan.” Keluh Rey.
“Rey, tidak ada orang tua di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya. Mungkin memang cara mereka berbeda dalam hal memberikan kasih sayangnya. Bunda yakin mereka pasti sangat menyayangimu dan ingin yang terbaik untukmu.” Saran bunda sambil mengusap lembut bahu Reynand.
“Bun, Rey boleh peluk bunda nggak?” tanya Reynand dengan wajah memelas dan setitik buliran bening itu perlahan menetes di sudut matanya.
Bunda mengangguk dan tak perlu menunggu lama. Reynand pun memeluk Bunda. Sama seperti tadi, saat Kanaya memeluk Bunda.
Air matanya pun luruh seketika. Hatinya seolah teremas sempurna. Merasakan kehangatan pelukan seorang Ibu yang sudah sangat lama sekali tak pernah ia rasakan kembali.
Dan kini, semua mata tertuju pada Reynand yang nampaknya terisak dalam pelukan Bunda. Sedangkan Bunda hanya diam sambil menepuk punggungnya lembut. Seolah-olah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kanaya dan beberapa pengurus panti pun ikut menitikkan air matanya. Mereka memang tak tahu apa yang terjadi pada pria tampan dalam pelukan Bunda.
Namun, jika sampai Seorang pria menangis. Itu berarti ia telah berada di ambang batas kesabarannya. Hingga ia tak sanggup untuk menahannya lebih lama lagi.
Kanaya dan pengurus panti pun segera mengajak anak-anak untuk pergi. Memberikan ruang untuk Reynand yang entah kenapa tiba-tiba saja menjadi melankolis Seperti ini.