BAB 13. GODAAN MALAM HARI

1515 Words
Reynand mengantarkan Kanaya ke apartemennya untuk mengambil beberapa keperluannya. Baru setelahnya, Reynand dan Kanaya pergi ke apartemen Reynand untuk mengambil baju dan keperluan pekerjaan mereka. Setelah satu jam lamanya dalam perjalanan menuju ke bandara.    Akhirnya, dua orang tersebut telah siap berangkat ke Bali untuk urusan pekerjaan. Kanaya yang mendapatkan janji dari pria yang dicintainya, sontak saja merasa senang sekaligus takut.    Takut jika seandainya saja, Reynand akan merasa bahwa ia tidak pantas untuk menjadi kekasihnya. Kanaya memang tahu jika Rey adalah pria yang baik. Namun, dengan perbedaan status serta derajat sosial antara keduanya.     Akankah Rey bisa menerima semua itu?     Terlebih lagi, Kanaya tak tahu pasti siapa orang tuanya dan Seperti apa mereka? Hingga membuangnya di panti asuhan yang sejak dulu telah membesarkannya menjadi wanita seperti sekarang.     Dalam hatinya, Kanaya telah memikirkan ini semua. Suka ataupun tidak. Ia haruslah tahu diri. Dia dan Rey sangat berbeda. Ia akan menerima dengan lapang d**a jika memang Reynand memilih untuk mengakhiri saja hubungan antara mereka yang baru saja terjalin.     Kanaya tak ingin terlalu banyak berharap. Ia tahu posisinya saat ini. Dan masih ada banyak hal yang menjadi prioritasnya sekarang. Contohnya saja biaya perbaikan rumah pantinya yang tidak layak lagi. Maka dari itu, Kanaya berusaha keras untuk mencari uang demi bisa memperbaik rumah yang sekarang ini di tinggali oleh banyak orang. Bunda dan adik-adiknya, serta beberapa orang yang membantu di panti.     Kanaya dan Reynand tiba di bandara Internasional Ngurah Rai-Bali. Setibanya di sana, telah ada supir kantor Reynand yang menjemput mereka dan mengantar keduanya menuju ke hotel tempat mereka akan menginap.     Begitu sampai di hotel. Rey dan Kanaya langsung di antar ke kamar yang telah dipesan oleh Reynand. Hanya satu kamar. Dan itu membuat Kanaya bertanya-tanya dalam hatinya.    Kanaya mengerutkan keningnya bingung, “Kenapa pesan kamarnya cuman satu? Terus aku tidur dimana dong?” tanya Kanaya yang bingung dengan apa yang dilihatnya sekarang.     Bagaimana tidak, Reynand saat ini seakan tak peduli akan kekesalan Kanaya. Pria tersebut malah berbaring di ranjang seraya menutup matanya. Kepalanya memang sedikit pusing. Karena kurang tidur. Dan banyaknya pekerjaan yang harus segera ia selesaikan di pesawat untuk meeting dengan klien besok pagi.     “Lebih baik sekarang kamu mandi, bersih-bersih dulu. Terus tidur yah? Karena besok pagi kita akan sangat sibuk sekali. Kamar kamu tentu saja disini sama aku. Gitu aja kok pake nanya lagi sih!” cerocos Reynand yang masih tetap membaringkan tubuhnya yang lelah di ranjang.     Sementara Kanaya yang masih berdiri di depannya. Hanya menghela napasnya dan masuk ke dalam kamar mandi setelah membawa baju ganti. Toh, percuma juga ia membantah.     Kanaya tahu Reynand sangat kelelahan saat ini. Mengingat ia telah berjanji padanya. Bahwa akan segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke Jakarta. Juga mengantarkan Kanaya pulang ke panti asuhannya.     Yah, benar apa kata Reynand. Dengan waktu yang dipangkas karena keinginan Kanaya untuk pulang. Maka mereka harus bekerja lebih keras agar secepatnya bisa pulang. Esok harinya. Reynand dan Kanaya benar-benar dibuat sibuk. Bahkan untuk makan saja, Kanaya harus menyuapi Reynand yang seringkali melupakan makanannya dengan banyaknya kertas berhamburan di mejanya.     Dalam hatinya, Reynand bersyukur karena Kanaya memperhatikan dirinya lebih dari dirinya sendiri. Dan perhatian kecil itu yang membuatnya semakin mencintainya.     Tak ada kriteria khusus bagi Reynand untuk seorang pasangan. Hanya yang bisa membuatnya merasa nyaman, aman dan merasa di kasihi telah cukup baginya yang haus akan kasih sayang.     Maka tak heran, jika terkadang tingkah Reynand manja pada Kanaya. Kanaya pun tak mempermasalahkannya. Ia senang jika Reynand bergantung kepadanya. Itu berarti Reynand mempercayainya dan nyaman saat bersamanya.     Selama empat hari di Bali. Tak ada hal yang lainnya selain pekerjaan. Sekalipun mereka tidur dalam ranjang yang sama. Karena Reynand tak ingin memaksa Kanaya untuk 'itu' .     Ia tak ingin membuat Kanaya marah dan menilainya hanya mencintainya hanya karena nafsu semata. Bukan cinta tulus yang sejak lama di dambakan oleh wanita tersebut.     Malam ini, Reynand berniat ingin mengajak Kanaya makan malam romantis. Lalu Setelahnya mencari oleh-oleh untuk adik-adiknya. Maka dari itu, ia meminta Kanaya memakai gaun yang telah ia sediakan. Sementara ia memilih menunggu wanitanya itu di ruang tamu kamar mereka. Klotak..klotak..klotak...     Bunyi heels yang beradu dengan lantai, mengalihkan atensi Reynand sebelumnya dari laptopnya. Rey menoleh dan terpana sejenak.     Mulutnya sedikit terbuka dengan tatapan terkejutnya. Ia lantas menaruh laptopnya di meja dan bergegas menghampiri Kanaya.     “Na, kamu cantik banget sayang!” puji Reynand yang kini telah berada di depan wanitanya. Sedangkan sang wanita, hanya mampu tersipu malu akan pujian dari kekasihnya sekaligus bosnya ini. Dengan rona merah yang juga menghiasi wajahnya yang telah diberikan sedikit sentuhan make up tipis. Reynand memajukan wajahnya, lalu...     Cup Satu kecupan mendarat sempurna di pipi Kanaya. Ia lantas tersenyum dan menggandeng lengan Kanaya agar melingkar di lengannya. “Ayo, kita berangkat sekarang. Setelahnya kita cari oleh-oleh untuk adik-adik kamu juga bunda yah!” ajak Rey seraya berjalan menuju pintu kamar hotelnya. Kanaya hanya bisa mengangguk pelan. Ia masih terlalu terkejut saat ini. Melihat bahkan berada di sisi Reynand. Yang notabenenya adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Ditambah lagi ketampanannya yang memang telah banyak dikenal oleh semua orang. Membuatnya merasa rendah diri. Ia memang tak pernah membayangkannya. Namun, terkai ia takut. Takut jika seandainya saja, ini semua hanya ilusi semata. Ilusi yang kelak akan mampu membuatnya jatuh dalam jurang kesakitan yang dalam. Akan tetapi, melihat bagaimana cara Reynand yang terus saja meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar mencintainya. Membuat Kanaya mau memberikan satu kesempatan untuk pria itu membuktikannya. *** Suasana rooftop cafe yang romantis nyatanya mampu membuat Kanaya takjub sekaligus bahagia. Bahwasanya masih ada seseorang yang sangat ingin membuatnya tersenyum lebar seperti saat ini. Acara makan malam ini pun berjalan lancar. Selain tempat yang memnag telah di tata dengan indah. Makanan yang juga mendukung. Ditambah pula dengan gemerlap bintang-bintang yang bertaburan di atas mereka. Semakin menambah kesan romantis antar keduanya. Reynand melingkari pinggang Kanaya dari belakang. Menghirup aroma tubuh Kanaya yang selalu dapat membuatnya nyaman dan damai. Hingga mampu menghilangkan segala rasa lelahnya selama beberapa hari ini. Menyandarkan kepalanya dipundak Kanaya. Reynand berujar, “Sayang, besok kalo kita udah sampai panti. Kamu akan mengenalkan aku sebagai siapa di depan keluargamu? Kekasihmu atau hanya bosmu?” tanya Reynand yang mengecupi leher jenjang putih milik Kanaya. Membuat kulit tubuh Kanaya meremang. Dan ia harus berkonsentrasi penuh atas godaan yang Reynand berikan. Jika sekali saja ia mendesah. Maka habislah sudah. Mati-matian Kanaya menahan desahan yang hampir saja lolos dari bibirnya. Tatkala Reynand semakin liar mencumbui lehernya. “Ka..ka..kamu mau aku bilang bagaimana ke bunda?” Akhirnya satu kalimat berhasil lolos dari bibirnya. Kanaya semakin mencengkram kuat gaunnya. Serta menggigit bibirnya kuat-kuat. Dengan keringat dingin mengalir di tubuhnya. Kala ia menahan semua gejolak gairahnya. Saat sang pria malah terlihat asyik mempermainkan dirinya. Kanaya tak dapat menahannya lebih lama lagi. Kala bibir panas Rey malah semakin gencar menggodanya di bagian cuping telinganya. Pusat sensitifnya. Kanaya melepaskan pelukan Reynand dan berbalik menatap mata Reynand yang nampaknya telah berkabut penuh gairah. Tak ingin terjadi yang sebenarnya di inginkan. Namun tak boleh terjadi. Kanaya mencoba menstabilkan deru napasnya. “Rey, katanya mau cari kado buat adik aku. Yuk, sekarang aja! Keburu malam nanti.” Ucap Kanaya pelan. Perlahan Reynand mulai mengatur deru napasnya yang memburu. “Maaf!” satu kata yang terucap dari bibirnya yang sejak tadi hanya diam. Kanaya mengangguk singkat dan menarik tangan Reynand untuk segera turun dan menuju ke toko yang Reynand beritahukan padanya tadi siang. Suasana di dalam mobil benar-benar hening. Reynand yang sibuk dengan pikirannya sendiri dan merasa bersalah. Sedangkan Kanaya yang merasa bersalah juga karena tak bisa memberikan apa yang di inginkan oleh kekasihnya. Beberapa jam kemudian. Kanaya dan Reynand telah kembali ke hotel mereka. Karena besok pagi mereka harus segera sampai ke bandara. Maka malam ini adalah waktunya untuk istirahat. Kanaya masuk lebih dulu ke kamarnya. Sebab Reynand tengah mengobrol dengan seorang teman prianya yang sedang membicarakan tentang bisnisnya. Kanaya mulai ritual mandinya. Ia merasa malu dan juga kecewa. Apalagi setelah melihat ekspresi wajah Reynand tadi. Pastinya Rey akan mengerti dirinya bukan? Benaknya. Tapi bagaimana jika Reynand memilih untuk mencari kepuasan dari wanita lain di luar sana? Sanggah suara yang lainnya dalam hatinya. “Aargh..diam! Nggak! Nggak mungkin Rey akan sejahat itu sama aku. Hanya gara-gara 'itu' yang tak bisa aku penuhi? Ya, Rey pasti mengerti.” Setelah selesai mandi. Kanaya yang hanya memakai handuk sebatas setengah pahanya. Membuka pintu kamar mandi. Dan seketika itu juga, tubuhnya menegang. Tatkala melihat tubuh atletis Reynand yang terpampang jelas di depannya. Sama halnya dengan Reynand yang meneguk kasar salivanya. Tubuh polos Kanaya yang hanya tertutupi handuk kecil itu. Ia yakini jika handuknya dibuka, maka akan ada keindahan surga dunia yang selalu di agung-agungkan oleh semua orang. Beruntung kewarasannya masih tersisa. Meskipun hanya secuil. Reynand memilih untuk mengabaikan Kanaya yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Reynand segera masuk ke dalam kamar mandi dan menghidupkan shower. Mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin. Tubuhnya yang seakan terbakar panasnya hasratnya sendiri. Rey menunduk untuk melihat 'Rey Junior' yang masih tegak berdiri dengan helaan napas panjangnya. “Sepertinya aku harus mandi lebih lama lagi! Huft...” gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD