New York City, 30 November 2012
Suara alarm sudah terdengar puluhan kali dari meja nakas di samping tempat tidur yang terlihat sangat nyaman di tengah dinginnya salju di kota New York City. Berbunyi memekakkan telinga, tetapi tidak berpengaruh pada sesosok manusia yang tidur di sana. Ia seolah tidur seperti mayat. Tidak terganggu dengan hal-hal yang ada di sekitarnya. Barulah suara dentuman keras dari pintu yang berhasil membuka matanya. Iris berwarna coklat kehijauan itu terbuka perlahan dan mengeram kesal.
“What the hell!” erangnya kesal sambil membuka selimut dengan kasar.
Rambutnya berantakan, matanya masih setengah terpejam, ia hanya mengenakan celana pendek Adidas warna hitam. Ia tidak pernah tidur memakai baju, itu merepotkan karena mengganggu gerakannya saat tidur. Dengan berat hati ia membuka pintu dan mendapati seorang wanita di depan pintu apartemen kecilnya.
“Maaf mengganggu,” ucapnya sambil menahan kesal. “Tetapi bisakah kau mematikan alarm milikmu? Bunyinya sampai ke kamarku!” pintanya dengan penekanan.
Theo tidak bereaksi dengan permintaan wanita itu. Ia hanya mengusap-usap wajahnya dan membersihkan kotoran di mata. Setelah selesai ia menoleh ke arah sumber suara yang baru disadarinya memekakkan telinga. Setelahnya ia kembali menatap wanita yang berdiri di depan pintu. Tidak berbicara satu kata pun, Theo melangkah masuk ke kamarnya lalu mengambil alarm yang masih berbunyi nyaring.
Sang wanita heran melihat Theo membawa alarm yang berbunyi ke hadapannya. Theo mengambil tangan wanita itu lalu meletakkan alarm yang berbunyi di sana kemudian ia menutup pintunya dan berniat kembali tidur. Ia tidak akan melewatkan waktu tidurnya hanya larena hal sepeleh seperti barusan.
Sang wanita membuka mulutnya ternganga. Ia tidak menyangka tetangga barunya itu berbuat hal yang tidak sopan padanya. Dia memberikan alarm miliknya? Sungguh sangat tidak sopan! Sudah mengganggu dengan suara alarm yang memekakkan telinga, pria itu menambahnya dengan kelakuan yang di luar perkiraan. Karena kesal, wanita tersebut mematikan alarm lalu membuangnya ke dalam kotak sampah.
“Sungguh tidak sopan!” kesalnya sambil membuang alarm itu ke dalam kotak sampah.
Sementara di dalam kamarnya, Theo van Kuiken tidak bisa melanjutkan tidur karena merasa sudah tidak mengantuk lagi. Ia memasak mie instan dua bungkus ditambah dengan telur goreng serta sekotak besar jus jeruk. Masih dengan wajah bangun tidur ia membawa makanannya ke atas ranjang. Ia menyalakan televisi sembarangan kemudian melempar remot juga sembarangan. Terakhir ia mengambil ponselnya untuk mengecek pemberitahuan.
Tangan kiri memegang ponsel sambil terus menggulir layarnya, tangan kanan sibuk dengan sendok makan sembari menyuap mie ke dalam mulutnya. Ia mengecek surel, berita terbaru dan juga obrolan-obrolan yang masuk ke ponselnya. Tidak ada yang membuatnya tertarik pagi ini. Ia mudah sekali bosan dengan hal-hal yang tidak dianggapnya menyenangkan. Theo melempar ponselnya ke sembarang tempat di atas kasur, sarapan paginya tinggal setengah saat ia melihat berita yang muncul di televisi. Menayangkan kasus pembunuhan. Sontak ia mencari remot televisi dan membesarkan suara
...diduga kuat pelaku melakukan pembunuhan karena korban memberikan perlawanan. Dari tubuh korban ditemukan luka tusuk di bagian perut. Polisi masih mengusut kasus ini....
Theo menatap kosong layar televisinya. Ia tidak mendengar ucapan yang disampaikan di sana. Sekelebat bayangan mayat kedua orangtuanya bersimbah darah menari-nari di ingatan Theo. Sudah lama, tetapi ia tidak akan lupa kejadian saat itu. Jangan harap dia akan diam dan membiarkan pelaku yang belum tertangkap bisa bebas seenaknya. Selama ini Theo masih mencari siapa pelakunya. Dia tidak punya banyak petunjuk tentang pelaku yang membunuh kedua orangtuanya, Theo hanya tahu ciri-cirinya dari orang yang berhasil kabur, itu pun ia tahu setelah ia cukup besar dan mengerti bahwa orangtuanya dibunuh.
♚♛♜♝♞
New York City, 18 Desember 2017
Hari ini hari ulang tahunnya, tidak ada yang spesial sama sekali. Tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tidak ada kue apalagi kado. Theo sendiri hanya menghabiskan hari di tempatnya bekerja, di sebuah tempat media massa hiburan yang tersohor di dunia. Dia suka bekerja di tempatnya sekarang. Dia menyukai kebebasan dalam berkarya dan juga seni. Orang-orang di lingkungan bekerjanya pun adalah tipikal orang yang sangat menjaga privasi dan hal itu yang sangat disukai Theo sebagai seorang introvert.
Sebenarnya dia memang introvert, tetapi kadang-kadang bisa menjadi extrovert jika memang dia menginginkan. Itu pun hanya pada orang-orang yang sudah dikenalnya sangat dekat atau pada saat dibutuhkan. Dia bisa berubah-ubah sesuai dengan suasana hatinya. Bukan karena dia seseorang yang labil, itu memang sudah mejadi sifatnya semenjak dulu.
“Theo, bisa tolong carikan aku data ini sesegera mungkin?” tiba-tiba seorang teman kerjanya menghancurkan lamunan Theo tentang grafitasi bumi.
Dia tidak menolak dan langsung mencarikan data yang diminta oleh temannya. Tidak sampai satu menit data itu telah ditemukan olehnya. Jared tersenyum puas karena Theo selalu bisa diandalkan jika menyangkut hal yang berhubungan dengan ‘mencari’. Itu semua karena ia mengurutkan semua hal yang dianggapnya penting, dengan tanggal atau dengan patokan dan ia hanya perlu mengorek isi otaknya sedikit untuk menemukan memori penyimpanannya yang tersimpan rapi di otaknya. Ia memiliki eidetic memory, kemampuan untuk mengingat objek, suara, atau gambar dengan akurasi tinggi. Dia bisa mengingat dan menghapal apa pun dengan sangat cepat.
“Thanks man!” ujarnya setelah membawa data yang telah diletakkan Theo di dalam map.
“Anytimes,” jawab Theo sembari merapikan file penyimpanan yang berada di kubikelnya.
Saat Theo selesai merapikan file penyimpanan dan ia siap melamun lagi untuk memikirkan mengapa manusia tidak bisa terbang dan mengapa sampai sekarang belum tercipta mobil terbang yang bisa menghindari kemacetan di Manhattan atau minimal motor terbang, bagusnya lagi permadani terbang seperti film Aladin yang sering ia tonton dulu bersama tetangganya, tepat saat itu pula ponselnya berbunyi. Theo menatap ponselnya sebentar sebelum menempelkan ke telinganya.
“Ya Güliz, ada apa?”
“Kau masih bekerja?” tanya suara di seberang sana.
“Hm, ini masih siang.”
“Oh maaf jika aku mengganggumu,” ia terdengar menyesal.
“Tidak apa-apa. Mengapa kau menelponku?” tanyanya sambil memutar-mutar bolpoin di tangan kanannya.
“Aku ada di depan kantormu. Tidak apa-apa, aku hanya kebetulan lewat,” jawabnya sambil menengada ke gedung tinggi di hadapannya.
“Tunggu di bawah, aku akan menemuimu,” sambungan terputus begitu saja dan Theo mengambil mantelnya. Sebelum keluar ia melihat teman-temannya yang masih sibuk bekerja di kubikel masing-masing. Theo tidak peduli karena pekerjaannya sudah selesai dari satu jam yang lalu dan ia akan keluar sebentar.
Tenang saja, bosnya tidak akan berani melarang keinginan Theo. Sebab orang seperti dirinya adalah aset perusahaan mereka. Dia berotak cerdas dengan ingatan kuat. Dia bisa berbahaya jika dikekang. Theo sangat mencintai kebebasan. Kebebasan adalah hal utama yang ia junjung tinggi. Dan yang membuat perusahaan tidak berkutik melawan keinginannya karena Theo tidak pernah menginginkan jabatan tinggi meskipun dia bisa meraihnya, lalu kejujurannya. Theo sangat jujur, dia tidak suka kemunafikan. Percuma berbohong di depannya karena dia tahu. Dia manusia yang peka dan dapat menyerap emosi orang-orang di sekelilingnya. Tipe introvert yang menilai semuanya dengan perasaan. Dia juga konsisten, ia bekerja karena menyukainya, bukan karena mencari uang sebanyak-banyaknya.
Jalanan masih memutih karena salju dan jejak-jejak kaki tercetak jelas di sana. Güliz berdiri di pelataran gedung sembari melihat jalanan 6th Avenue yang cukup lenggang. Di tangan kirinya ia membawa sekotak kue dari toko kue Magnolia Bakery yang berada di Rockefeller Center. Ia membeli Banana Pudding yang merupakan kue kesukaan Theo.
“Hei.” Güliz menoleh saat mendengar suara Theo memanggilnya. Ia tersenyum lalu memeluk Theo sebentar.
“Selamat ulang tahun,” ucapnya lalu ia melepaskan pelukan dan memberikan kotak kue pada Theo. “Jangan kaupikir aku tidak ingat hari ini ulang tahunmu,” ucapan Güliz mau tidak mau membuat Theo tersenyum senang dan membuka kotak kue pemberian Güliz.
“Aku tahu kau akan datang, melihat dari kebiasaanmu yang selalu melakukan ini setiap tahun. Jangan kaupikir aku tidak ingat. Lagi-lagi kau orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku,” sahut Theo sambil mencicipi Banana Pudding kesukaannya. “Karena kau sudah memberiku kue, aku akan membelikanmu makanan. Bersedia?” Güliz mengangguk senang. Lesung pipinya membuat senyum itu semakin indah.
“Dengan senang hati aku menerima traktiran makan darimu!”
“Restoran Turki atau Italia?”
“Kau tahu dengan pasti aku orang Turki,” jawabnya sambil menuruni tangga. “Dan aku tahu dengan pasti kau menyukai Köfte lebih dari orang Turki sepertiku.”
“Aku tersanjung kau tahu kesukaanku,” akunya terang-terangan.
“Tidak sulit karena aku hanya perlu memahami kepribadian rumit sepertimu dan mengerti untuk bisa membuatmu merasa kau mempunyai teman serta tidak sendirian,” jawabnya sembari memasukkan tangan ke saku mantel.
“Kau sudah seperti keluargaku. Hanya kau yang kuanggap seperti itu.” Theo meraih pundak Güliz dan merangkulnya. Keduanya berjalan bersisihan melewati jalanan salju di antara gedung-gedung pencakar langit dengan awan mendung. “Jangan ada perasaan lebih di antara kita sampai kapan pun,” lanjutnya sambil mengembuskan napas dan menatap Güliz yang tersenyum paham.
“Aku tahu, Theo. Kau tidak pernah ingin terikat. Kau manusia yang menginginkan kebebasan, aku paham,” jawabnya sambil melanjutkan perjalanan. “Kita bisa berteman seumur hidup, berdampingan seperti keinginanmu.”
Theo mengusap pundak Güliz dengan pelan. Padahal jauh di dalam hatinya ia tahu Güliz mencintainya. Dia peka, dia bisa menyerap emosi orang-orang di sekitarnya. Dia memang tidak suka kebohongan, hanya untuk perasaan Güliz, ia rela dibohongi karena ia sendiri tahu bagaimana sulitnya Güliz menekan perasaannya untuk dirinya.
TBC...