Palembang, 18 Desember 1991
“Zijn naam is Theo. (Namanya Theo)”
“Hij is zo knap. (Dia sangat tampan)”
Keduanya tersenyum sembari menatap bayi kecil yang baru lahir ke dunia. Sang wanita mencium puncak kepala bayinya. Wanita satunya lagi mengusap air mata terharu sambil terus tersenyum. Bayi kecil itu adalah anak pertama dari putrinya dan juga cucu pertama untuk dirinya. Yvette Voornhout adalah wanita Belanda yang berusia 57 tahun dan tinggal di Indonesia hampir seluruh hidupnya. Dia dan keluarganya pindah ke Indonesia pada tahun 1935, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Dia saksi hidup perang dunia yang masih tersisa dan selamat. Leluhurnya berasal dari Groningen dan Yvette sendiri lahir di Dordrecht.
“Iriane!”
Kedua wanita yang tadi tengah mengagumi sosok bayi kecil di dalam gendongan ibunya, tiba-tiba menoleh ke arah pintu ruangan dan melihat sosok pria hitam manis dengan senyum lebar. Pria pribumi yang mencintainya tulus walaupun perbedaan di antara mereka sangat banyak. Dia menatap bayi kecil yang ada di dalam gendongan istrinya. Dia tiba tidak tepat waktu, terlambat beberapa jam setelah istrinya melahirkan. Sang pria bekerja di kota sebagai buru pabrik sementara istri dan ibu mertuanya tinggal di daerah pinggiran kota di sebuah lahan perkebunan yang dulunya milik orang Belanda. Di sana ada beberapa rumah peninggalan orang Belanda, salah satunya milik keluarga Yvette.
“Kemarilah, anak kita sangat tampan,” ujar Iriane menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara pada suaminya.
Adri Mahmud mendekat lalu mengambil anaknya dari gendongan sang istri. Ia melihat bayi itu sangat mirip dengan istrinya. Hidungnya mancung, kulitnya merah, rambutnya lebat berwarna hitam seperti dirinya. Matanya berwarna keabu-abuan, ciri khas peranakan berbeda bangsa saat baru lahir.
“Sangat mirip denganmu. Hanya saja rambutnya berwarna hitam seperti rambutku,” ucapnya sambil mencium sang buah hati.
“Ibu sangat senang dia lahir. Dia pasti akan menjadi anak yang pandai.” Yvette kembali mengusap air matanya. Di umurnya yang sudah senja ini, ia baru memperoleh cucu. Mata biru miliknya menyiratkan kebahagiaan yang tiada banding. Harta miliknya bertambah satu lagi setelah ia memiliki Iriane, putrinya dan juga Adri, menantunya. Dia tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini selain mereka.
♚♛♜♝♞
Palembang, 19 Mei 1998
Tahun 1998 merupakan tahun tergelap bangsa Indonesia, kala pergolakan krisis ekonomi hampir di seluruh Indonesia. Hal itu membuat seluruh media memberitakan mengenai tragedi yang terjadi. Koran-koran penuh dengan kolom kejadian di ibu kota Jakarta mengenai tragedi Trisakti. Berita di televisi tidak henti-hentinya menayangkan dampak yang terjadi karena kejadian-kejadian tersebut. Krisis moneter semakin mencekik. Harga bahan pokok meroket tajam dan itu memicu faktor kejahatan meningkat tajam. Membuat para rakyat berteriak kelaparan dan juga kesulitan.
Tidak hanya terjadi di ibu kota Jakarta, di kota-kota lain pun dampaknya sangat terasa. Ribuan masyarakat berbondong-bondong mengantre membeli minyak goreng murah yang disediakan Bulog, buru pabrik dipecat dari pekerjaannya dan memilih usaha lain untuk bertahan hidup. Termasuk di dalamnya Adri Mahmud yang harus berhenti bekerja karena dipecat. Ia frustrasi karena tidak menemukan jalan lain untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Menghidupi satu orang istri, satu mertua, dan satu anak yang harus ia tanggung. Dia adalah tulang punggung keluarga meskipun sang istri membantunya menjadi tukang cuci baju keliling di kampung.
“Kita ke kota saja, di sana aku punya paman yang cukup berada. Kita pinjam uang untuk buka modal usaha,” kata Adri kepada Iriane saat mereka mengobrol berdua di atas tempat tidur. Anak laki-laki mereka sudah tertidur lelap ditemani mimpi indahnya.
“Apakah tidak apa-apa? Mereka tidak suka padaku karena keluargaku orang Belanda. Karena aku keturunan penjajah?” tanyanya dengan serius. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan keturunan penjajah dikucilkan pada saat itu. Pemikiran masyarakat masih sempit dan kolot sehingga tertutup mata batinnya untuk melihat bahwa mereka juga merupakan korban.
“Tetapi kita tidak punya pilihan. Uang tabunganku pun sudah menipis. Kita tidak punya kebun atau ternak yang bisa dijual. Kita bisa buka toko kelontong di dekat sekolahan Theo,” jawab Adri sambil mengusap kepala Theo.
“Baiklah, besok kita berpamitan pada Mama untuk ke kota. Theo bisa tinggal bersamanya saat kita pergi.”
Setelah menyetujui permintaan suaminya, Iriane berbaring di tempat tidur dan memeluk anak semata wayangnya. Entah mengapa ia merasa ini adalah saat terakhir kalinya ia bisa memeluk anaknya. Ia enggan melepaskan pelukan itu sampai sang putra mengeliat kecil dan Iriane melepaskannya.
“Mama houdt van je, Theo. Voor altijd, (Mama mencintaimu, Theo. Selalu dan selamanya)” ucapnya sembari mencium dahi putranya.
♚♛♜♝♞
Palembang 23 Mei 1998
Adri serta Iriane dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka setelah mendatangi rumah pamannya Adri yang berada di kota, mereka berhasil meminjam uang untuk modal usaha membuka toko kelontong kecil. Menaiki bus antar kota yang penuh sesak dan sudah cukup tua. Iriane menjadi pusat perhatian karena fisiknya yang berbeda dari orang pribumi. Dia sudah biasa dengan orang-orang yang mencoba mengajaknya berbicara bahasa Inggris atau mengajaknya berfoto dengan kamera analog yang hasil fotonya harus dicuci terlebih dahulu.
Dia memang orang Belanda asli. Yvette Voornhout menikah dengan orang Belanda bernama Jenssen van Kuiken. Yvette dan Jenssen bertemu di balai desa saat Jenssen yang merupakan seorang pejabat Belanda berkunjung ke desa tempat tinggal Yvette yang saat itu sudah dewasa. Setelah kematian keluarganya karena dibunuh penjajah Jepang, Yvette yang berhasil selamat diasuh oleh pribumi yang dulu bekerja pada keluarganya. Semenjak itu ia tidak pernah menganggap orang pribumi rendahan lagi. Singkat cerita Jenssen melamar Yvette untuk menjadi istrinya. Padahal Jenssen sendiri sudah memiliki seorang istri dan anak, tetapi ia terlanjur mencintai Yvette. Hasil pernikahan itu melahirkan Iriane van Kuiken, gadis Belanda cantik yang diidolakan, tetapi juga dibenci di desa tempatnya tinggal. Ironis, itulah yang terjadi kepadanya.
“Theo pasti senang dengan sepatu barunya,” ucap Iriane saat ia melihat kantong plastik yang berisi sepatu baru untuk anaknya.
“Dia pasti akan semakin kencang berlari dengan sepatu baru itu. Dibuatnya untuk bermain bola kaki juga sekalian,” sahut Adri geli mengingat anak mereka yang sangat lincah. Bus melaju melewati jalanan aspal dengan bentangan kebun karet muda yang baru ditanam di pinggiran jalan. Tidak lama lagi mereka akan sampai di rumah dan bertemu keluarga mereka.
Namun, nahas tidak bisa dielak saat bus itu melewati perkebunan karet yang sepi, sekelompok perampok menghentikan bus yang dinaiki Adri serta Iriane. Mereka adalah orang-orang jahat akibat krisis moneter merajalela. Kepanikan terjadi di dalam bus, termasuk keduanya yang membawa sejumlah uang cukup banyak. Mereka bersenjata celurit dan kapak, mengancam orang-orang di sana supaya menyerahkan barang-barang berharga mereka.
“Serahkan uangmu! Kalau tidak kau akan kubunuh!”
“Kami tidak punya uang! Kami orang miskin juga!” jawab Adri sambil melindungi diri dan Iriane.
“Jangan berbohong! Serahkan tasmu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau melawan!” ucap perampok itu sambil menarik paksa tas yang awalnya dipegang Iriane, tetapi Iriane enggan menyerahkannya. Ini adalah harapan mereka untuk bertahan hidup dari krisis moneter.
“Jangan! Kumohon jangan!” ujar Iriane sambil menangis.
Kegaduhan terjadi di dalam bus yang dirampok. Semua orang tidak berani melawan karena mereka mengancam dengan senjata tajam dan juga senapan rakitan. Raut-raut wajah ketakutan jelas terukir jelas dan mata yang nyalang penuh keberanian akibat hasutan setan terpancar dari para perampok yang saat ini gelap mata karena uang.
“Diam kau!” bentak sang perampok pada Iriane dan ia langsung melayangkan celuritnya pada Iriane tanpa ragu. Iriane langsung tewas di tempat dengan luka tebasan pada lehernya, lalu Adri yang melihat kejadian itu histeris dan berusaha menghajar sang perampok yang sudah mengambil tasnya dan melukai istrinya. Orang-orang di dalam bus berteriak melihat pembunuhan di depan mata mereka. Karena perampokan terjadi berkelompok, mereka membungkam orang-orang yang ada di sana dan membunuh yang melawan, termasuk Adri yang juga dibunuh karena melawan. Kejadian itu terjadi di daerah yang sepi di dekat perkebunan karet yang sangat luas. Yang selamat hanya sedikit, itu pun hanya sang sopir setelah lewat pintu depan dan lima orang lainnya yang sempat turun dari pintu belakang sebelum perampok menaiki bus dan mereka lari ke semak-semak di dekat hutan lindung yang rimbun untuk bersembunyi.
TBC...