Nine

1136 Words
New York City, Brooklyn, 11 Juli 2014 Keduanya berada di sebuah gedung kosong yang tidak jauh dari kantor departemen kepolisian Brooklyn. Theo mengawasi tempat tersebut karena bisa saja ia mengalami kejadian buruk. Ia menilai tempat tersebut dan mengamati situasi sebagai persiapan ia bisa kabur. Hanya ada satu tangga dan mereka menuju lantai empat gedung. Seandainya situasi memburuk, ia akan melompat atau meniti pipa besi yang menempel di tembok sebagai jalan untuk kabur. Ia melihat orang yang membawanya ke gedung itu membawa senjata api. Diletakkan di pinggangnya, tetapi berusaha ditutupi dengan baik agar tidak terlihat. Theo sering membaca buku detektif atau kasus pembunuhan maupun film-film bertema itu. Intuisinya sudah cukup terlatih hanya dengan mengingat detail kejadian di buku dan film. “Bos, dia sudah di sini.” Pria yang dipanggil bos itu menoleh lalu membuang rokoknya. Ia menatap Theo van Kuiken sejenak lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Theo melihat caranya berjalan agak sedikit menyeret. Mungkin ia sempat terkilir beberapa hari yang lalu karena bermain sepak bola atau karena sesuatu yang lain selidik Theo. “Travis Wine, FBI,” ucapnya memperkenalkan diri sambil memperlihatkan kartu identitas FBI miliknya. “Rekanku, Bill Dallas,” ia menunjuk pria yang tadi membawanya. “Ada urusan apa FBI repot-repot membawaku ke sini?” tanya Theo dengan tenang. “Aksen Amerikamu bagus sekali. Tidak tersirat bahwa kau orang Indonesia yang baru berada di Amerika sekitar lima tahun.” Travis menyilangkan tangannya di d**a. “Di FBI tidak akan ada rahasia yang tidak kami ketahui.” “Terdengar menarik,” sahut Theo sekadarnya. “Berarti kalian juga tahu ukuran pakaian dalamku beserta isi hatiku?” Bill Dalas terkekeh mendengar pertanyaan Theo. “Bahkan kalian pasti tahu ukuran alat kelamin setiap orang.” Bill Dallas menghentikan tawanya, ia justru tersedak ludahnya sendiri karena ucapan Theo. Travis Wine menghela napasnya kesal. Baru kali ini ia berhadapan dengan orang yang cerdik seperti Theo. Banyak orang yang sudah ia hadapi saat investigasi, tetapi tidak banyak yang bisa membuat Travis mati kutu. Agen FBI selalu mempunyai intuisi, kecerdasan dan kecerdikan melebihi orang normal kebanyakan. Ia hanya tidak menyangka Theo van Kuiken akan membuatnya mati kutu di kalimat awal perkenalan mereka. Secepat itu, terlebih rekannya menertawakan ia habis-habisan. “Ya kami tahu semua hal,” ucap Travis menyelamatkan harga dirinya. “Theo van Kuiken, kami melihatmu seminggu yang lalu di televisi. Kau membantu kepolisian mengungkap kejahatan hanya dengan ingatanmu. Tentu saja kami mencari tahu siapa kau dan itulah tujuanmu di sini.” “Aku baru menolak ajakan bergabung di kepolisian beberapa menit yang lalu karena aku warga negara Indonesia, sepertinya kau juga akan menerima penolakan karena alasan yang sama.” Bill Dallas salut karena Theo berhasil membaca apa yang mereka inginkan darinya hanya dalam beberapa menit. Atasan mereka di FBI memang jeli melihat kemampuan seseorang. Oleh sebab itulah Travis dan dirinya diperintahkan untuk mencari keberadaan Theo dan mengajaknya secara eksklusif bergabung di FBI. Menjadi agen FBI bukanlah sesuatu yang mudah. Sangat sulit bisa menembus bentengnya. Tidak hanya pintar, seseorang itu juga harus cerdas di semua bidang. Minimal menguasai tiga bahasa selain bahasa Inggris. Dapat beradaptasi di segala situasi, kuat fisik dan juga mental. Bahkan bila memiliki kemapuan khusus yang sangat hebat, hal itu akan menjadi pertimbangan penting atau bahkan diundang untuk bergabung. Proses diterimanya pun tidak mudah, harus diselidiki latar belakangnya secara detail. Di mana ia pernah tinggal, dengan siapa ia berteman, organisasi apa yang pernah ia ikuti. Bahkan FBI akan mendatangi lokasi tempat di mana calon yang akan diterima pernah tinggal. Mewawancarai keluarga, teman dan kenalan tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang diselidiki. Prosesnya bisa memakan waktu sampai dua tahun jika ia pernah tinggal di banyak tempat. Itulah sebabnya tidak akan ada rahasia di FBI. “Benarkah kau menolak ajakan kami? Sayang sekali, padahal bisa saja kau menyibak tentang pembunuhan orangtuamu melalui kami.” “Apa yang membuat kalian menginginkanku?” tanya Theo sambil berusaha menutupi rasa penasarannya bagaimana mereka tahu bahwa orangtua Theo dibunuh. “Kau bisa bertanya itu pada atasan kami. Dia yang memerintahkan kami untuk menemuimu. Kurasa dia melihat sesuatu yang sangat hebat di dalam dirimu. Jangan mengecewakannya karena dia tidak suka dibuat kecewa,” Bill bersiul pelan sambil membuka isi plastik belanjaan yang dibelinya beberapa saat lalu selagi mengawasi Theo di kantor kepolisian. “Kami punya semua info tentangmu. Tidak sulit menyelidiki dirimu dalam seminggu ini karena kau tidak sering berpindah tempat. Semua nilai akademikmu dan kegiatamu sudah kami ketahui. Dia berminat besar padamu. Kau sepertinya akan jadi anak emasnya.” Travis menerima minuman kaleng yang dibuka oleh Bill untuknya. Theo menatap keduanya dalam diam. Jujur saja ia cukup terkejut mengetahui FBI menyelidiki tentang dirinya sampai sejauh itu dan fakta FBI tertarik bekerja sama dengannya juga membuat Theo tidak habis pikir. Jelas-jelas ia tidak akan bisa bergabung karena ia bukan warga negara Amerika dan ia tidak mempunyai kehebatan fisik seperti keduanya yang kekar. Tubuhnya cenderung jangkung dan tidak terlalu berisi. Ia pun payah jika disuruh lari. Maklum, sudah lama Theo tidak latihan basket, taekwondo maupun pencak silat. Kesibukan kuliah dan bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus menyita waktunya. “Aku tertarik untuk membuatnya kecewa,” aku Theo sambil melihat jam tangannya. Ia harus segera pergi menemui teman yang rencananya akan mengajak Theo membuat video untuk kontennya di Youtube. “Aku harus pergi. Katakan padanya maaf sudah membuatnya kecewa.” Bill serta Travis saling pandang sesaat sebelum keduanya menahan Theo agar tidak pergi. Bill menendang kaki Theo kemudian Travis menahan tangan Theo. Sayangnya Theo yang mahir taekwondo beserta pencak silat terbiasa akan hal itu. Ia membalas serangan keduanya tanpa kesulitan. Sudah lama ia tidak menggerakan otot-otot kakunya. Theo tahu baik Bill maupun Travis sepertinya juga menguasai taekwondo, Ju-jitsu, karate, dan MCMAP (Marine Corps Martial Arts Program). Ia memutuskan untuk memakai ilmu bela diri pencak silat yang asli Indonesia. Cukup sengit hingga akhirnya Travis menghentikan serangan karena berbahaya apabila pertarungan mereka berlanjut. Theo jelas tangguh dan itu juga akan menjadi nilai tambah untuknya sebagai laporan kepada atasan mereka terutama seni bela diri pencak silat yang tidak umum untuk orang asing. Lagi pula mereka tidak ingin membuat Theo benar-benar menolak tawaran dari FBI. “Datanglah ke sini dan kau akan bertemu dengannya,” Travis memberikan Theo selembar kertas yang berisi lokasi serta waktu untuknya bertemu dengan atasan mereka. “Kami harus memastikan kau menerima atau CIA yang akan datang merekrutmu setelah kami. Tugas CIA lebih berat serta berbahaya. Kami sangat ingin bekerja sama denganmu.” Setelah mengatakan itu keduanya pergi. Theo menahan sakit di perutnya akibat tendangan Bill yang keras. Harusnya ia berpikir dua kali untuk memutuskan membalas serangan kedua agen FBI tersebut. Besok pagi pasti seluruh tubuhnya akan terasa sakit. Theo membuka kertas yang diberikan Travis. Ia melihat lokasi serta waktu yang ditetapkan mereka untuk bertemu dengan atasan FBI. “Baiklah jika itu mau kalian,” ucapnya sambil menyimpan kertas itu kemudian beranjak dari sana. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD