Eight

2123 Words
New York City, Brooklyn, 11 Juli 2014 Hari Jumat yang cukup mendung di kota Brooklyn siang itu tidak membuat Theo mengurungkan niatnya untuk mengunjungi departemen kepolisian di kota Brooklyn. Tempat di mana ia pernah membantu polisi mengusut kasus pembunuhan. Theo sudah berjanji untuk menemui kepala kepolisian di sana karena mereka tertarik kepada Theo. Ia juga datang ke sana untuk memberikan kesaksian kasus tersebut. Pembunuh sendiri telah tertangkap lima hari yang lalu dan Theo dimintai keterangan lebih lanjut. “Theo van Kuiken, berasal dari Indonesia?” Theo mengangguk mengiyakan pertanyaan kepala kepolisian setempat. Namanya Diego Quinn, tertulis di papan nama di depan Theo. Perawakannya tinggi besar dengan alis cukup lebat. Kepala lonjong dengan rambut menipis di bagian depan. Umurnya sekitar empat puluh tahun akhir. Orang Mexico bila dilihat dari namanya pikir Theo. “Keturunan Belanda,” sahut Theo sebelum kepala kepolisan bertanya. “Kau membantu memecahkan kasus pembunuhan tempo hari. Anak buahku melaporkan hal itu padaku dan aku terkesan. Jujur saja kelebihanmu itu akan sangat berguna untukmu kedepannya,” ia melipat jarinya kemudian meletakannya di atas meja lalu menatap Theo dengan teliti. “Dengan kemampuanmu, kau akan sangat berguna di kepolisian,” ucapnya sungguh-sungguh. “Kemampuan saya hanya sebatas itu. Bukankah itu tidak cukup untuk menjadi seorang polisi. Polisi harus memiliki fisik prima, mental baja. Sementara saya tidak.” Diego Quinn menghela napasnya perlahan. “Memang, tetapi kau bisa menjadi agen khusus. Kepolisian tentu saja akan sangat cocok untukmu. Kami akan melatihmu dan meningkatkan kemapuanmu yang spesial itu. Akan sangat menyenangkan bisa mengajakmu bekerja sama,” ucapnya kepada Theo. “Kepolisian mempunyai banyak jenis. Kepolisian bidang kejahatan narkoba, lalu lintas, pembunuhan dan sebagainya.” “Saya memegang paspor Indonesia. Saya bukan warga negara Amerika.” Diego Quinn mengerang pelan. Ia tahu itulah kendalanya saat ini. Polisi atau agen intelijen haruslah orang yang berkewarganegaraan Amerika. Ia sendiri sudah menetap di Amerika sedari kecil meskipun dia orang Mexico dan ia sudah lama mendapatkan kewarganegaraan Amerikanya. “Kau di sini bekerja atau mahasiswa?” tanya Diego lagi. “Saya awalnya mahasiswa, tetapi baru menyelesaikannya beberapa bulan yang lalu dan sekarang tengah menghabiskan masa Optional Practical Training,” jawab Theo. “Sudah punya pekerjaan tetap?” “Baru diterima bekerja di perusahaan media masa.” Ia menghela napas kesal. Entah mengapa Diego Quinn bisa sekesal ini. Tidak biasanya ia terlibat perasaan emosional kepada orang baru. Ia tentu saja sangat menyayangkan orang seperti Theo bukanlah warga negara Amerika. Apabila ia menjadi warga negara Amerika, kemungkinan besar orang sepertinya sudah dilirik oleh badan intelijen karena daya ingatnya yang sangat kuat. Tidak banyak orang di dunia yang memiliki kelebihan seperti itu. Mungkin sekitar 0,01 persen di dunia. Biasanya ada yang dilatih, tetapi yang bawaan lahir cukup langka. Bayangkan saja betapa langkanya keisTimeswaan milik Theo van Kuiken. “Sayang sekali,” ucapnya kecewa. “Aku tidak punya kuasa tinggi untuk membuatmu menjadi warga negara Amerika dengan sangat mudah,” sambungnya masih dengan nada kecewa. “Tapi jika kau mendaftar ke militer Amerika, kau akan bisa menjadi warga negara Amerika dengan cepat dan kau bisa bergabung di kepolisian militer.” Theo tersenyum seadanya. “Terima kasih atas tawaran Anda, tetapi saya tidak tertarik untuk menjadi polisi atau semacamnya. Saya hanya ingin bekerja seperti orang biasa dan kemampuan saya tidak ada apa-apanya. Saya yakin Anda akan menemukan orang sepeti saya lain waktu,” ia sudah berpikir beberapa hari ini bahwa tidak mungkin ia bisa bekerja di kepolisian meskipun ia ingin. Banyak kendala yang ada di depan matanya. Setelah keluar dari gedung departemen kepolisian Brooklyn, Theo berniat menuju restoran cepat saji karena ia belum makan siang, tetapi langkah kakinya dicegat oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Theo tidak tahu siapa orang itu. Namun, ia menyuruh Theo untuk mengikutinya. Sebagai orang yang awas, Theo tidak serta-merta menuruti kehendak orang tersebut, tetapi ia membisikan Theo sesuatu. “Theo van Kuiken, kami tahu tentangmu dan kami harap kau mau bekerja sama. Kami bukan orang jahat,” orang itu membaca raut penasaran di wajah Theo. “Ikuti aku maka kau akan tahu jawabannya.” ♚♛♜♝♞ New York City, Central Park, 27 Maret 2010 Hari Sabtu yang cerah di kota New York membuat Theo van Kuiken memilih untuk menenangkan diri. Musim semi baru tampak sedikit. Bunga-bunga mulai tumbuh bermekaran setelah dibalut musim dingin berbulan-bulan. Banyak orang di sana hanya sekadar bersantai bersama keluarga atau dengan hewan peliharaan mereka duduk termenung membaca buku. Theo duduk di bangku besi berwarna hijau lumut, memandangi taman besar di tengah Manhattan sambil terpekur dengan isi pikirannya sendiri. Ia rindu tanah airnya. Berbulan-bulan ia tersiksa hanya makan mie instan sebagai pengobat rindu masakan Indonesia. Berbulan-bulan ia hanya mampu membuka f*******: dan Twitter untuk tahu kabar orang-orang yang dikenalnya. Ia tersiksa batin, tetapi dia tidak tahu harus kepada siapa ia mengadu. Ia sendirian. Ia tidak punya teman untuk bercakap mengeluarkan isi hatinya. Theo benci kenyataan ia bisa mengingat setiap detail kenangan yang berputar-putar di otaknya. Ia ingat wajah sedih Ibu Husnah ketika mengantarnya ke bandara saat ia akan berangkat, ia kesal mengingat perkataan Dodo yang mengatakan ia rindu pada Theo. Ia rindu membersihkan halaman rumah pamannya setiap minggu. Ia rindu membantu bibinya memasak di dapur dan juga mengajari anak-anaknya belajar. Ia teringat saat-saat latihan taekwondo dan pencak silat di balai kota yang membuatnya mengenal seseorang. Theo mengusap wajahnya yang lelah. Ia melihat ada kucing lewat di dekatnya. Theo memanggilnya dan kucing itu mendekat. “Halo, siapa namamu?” tanya Theo pada kucing tersebut sambil memangku dan mengelus tubuhnya. “Kau sudah makan?” tanya Theo lagi. Sang kucing hanya diam, tetapi tubuhnya mengisyaratkan ia menyukai Theo. Theo membuka tasnya, ia membawa minuman dan juga beberapa makanan ringan. Theo membuka makanan ringannya kemudian ia berikan kepada kucing tersebut. Sang kucing langsung memakannya dengan lahap. Theo tersenyum melihat kucing tersebut. Ia seperti menemukan sosok bercerita meskipun ia tahu ucapannya tidak akan dimengerti oleh sang kucing. “Hei, aku boleh bercerita padamu?” tanya Theo memastikan. Tidak ada jawaban karena sang kucing masih terus makan. Theo tidak peduli. Ia melanjutkan ceritanya. “Apa kau sendirian? Jika iya berarti kita sama. Aku juga sendirian. Aku rindu mereka. Aku ingin pulang, tetapi tidak bisa. Aku ingin mengejar mimpiku di sini. Kau tahu betapa muluknya mimpi yang aku punya ini. Aku ingin menjadi orang yang punya banyak uang. Aku ingin merasa bahagia. Aku ingin menjadi orang hebat agar aku tahu siapa yang telah membunuh kedua orangtuaku. Rasanya sedih sekali karena kami tidak punya uang kasus pembunuhan orangtuaku tidak berlanjut. Mereka orang-orang berkuasa yang katanya pilar rakyat, pengayom rakyat, dan pelindung rakyat nyatanya hanyalah sampah yang haus uang. Betapa kejamnya selembar kertas yang bisa membeli dunia.” Sang kucing selesai makan dan ia menatap Theo dengan tatapan yang membuat Theo kembali mengusap kepalanya. Theo memberinya makan lagi karena ia tidak ingin ditingal sendirian. Ia masih ingin mengeluarkan semua keluh kesahnya yang terpendam belasan tahun. “Jika aku jadi orang hebat nanti, aku akan mengingatmu sebagai teman pertamaku di sini. Yang mendengarkan ceritaku dengan tulus. Sampai saat itu tiba, kau harus tetap hidup dan sehat.” Theo menepuk-nepuk pelan kepala kucing yang ada di pangkuannya. Setelah selesai makan, sang kucing tertidur di pangkuan Theo. Theo membiarkannya sembari terus mengelus tubuh kucing tersebut. Pikirannya melayang jauh. Semua ia pikirkan karena ia merasa saat berpikir adalah saat terbaik sehingga ia tidak merasa kesepian. Isi pikirannya seperti sebuah film yang terputar di depan mata. Ia bisa mempresentasikan isi pikirannya dengan sangat baik. Baik itu rasa dan warna. Ia bisa melihat setiap potongan isi pikirannya dalam bentuk nyata. Seperti sebuah film yang diputar. Namun, tidak tampak. Saat ini Theo tengah memikirkan bagaimana seandainya gedung pencakar langit yang ada di depan matanya ini runtuh tiba-tiba. Ia memikirkan banyak kemungkinan bagaimana cara menyelamatkan diri atau penyebab terjadinya gedung tersebut runtuh. Isi pikirannya sangat rumit serta mendetail. Orang biasa tidak akan memahaminya, tetapi ia menyukai hal tersebut karena ia bisa berimajinasi bebas dan seakan menonton film buatannya sendiri di dalam isi pikirannya. Sebagai contoh mari melihat bagaimana isi pikiran Theo van Kuiken saat ia berkelana di dalam dunianya sendiri. Sebuah gedung pencakar langit bisa runtuh diakibatkan beberapa faktor. Pertama, bencana alam. Bisa saja gempa besar terjadi karena bumi sedang marah, pikirnya. Jika ia berada di dalam gedung tersebut apa yang akan ia lakukan? Terjun bebas menyelamatkan diri atau menuruni tangga darurat? Atau bisa juga menunggu bantuan? Tentu itu akan lama dan ia bisa saja mati di sana. Jawabannya mungkin ia akan terbang kalau ia mempunyai kekuatan super power. Masalahnya ia tidak punya, ia hanya manusia biasa. Jadi bagaimana? Rasanya ia lebih baik terjun dari ketinggian. Persentase kematian 90 persen, sisa 10 persen ia akan terluka parah. Ia akan bertaruh pada 10 persen tersebut karena saat melompat dan terjatuh, bagian yang terkena tanah pertama sekali adalah pinggang atau d**a. Gaya gravitasi akan melempar kepala ke atas, artinya ia akan mengalami patah tulang dan cederah parah dibanding mati dengan kepala pecah. Kemungkinan besar ia akan sembuh atau cacat. Faktor kedua, bisa saja tragedi World Trade Center terulang lagi mengingat dunia akhir-akhir ini memanas dengan isu terorisme. Tidak, Theo tidak ingin peristiwa sejenis itu terulang lagi di belahan dunia mana pun. Jika memang benar terjadi dan ia berada di sana, ia akan menyelamatkan diri sebisa mungkin lalu ikut mengungkap kejahatan. Menjadi saksi penting terdengar menyenangkan. Ia akan terlibat di dalam kasus terhebat dan itu akan membuatnya bangga. Faktor ketiga bisa terjadi karena struktur bangunan yang buruk, tapi itu hampir tidak mungkin mengingat membangun gedung pencakar langit sangat diperlukan sekali perhitungan yang matang. Baiklah, di dalam pikiran Theo semua bisa menjadi kemungkinan meskipun hal itu mustahil. Bagaimana cara ia menyelamatkan dirinya jika hal tersebut terjadi, kemungkinan persentase keselamatannya, penyebab terjadinya hal tersebut, dampak ke depan di kehidupannya apa saja, apakah ia akan mengalami trauma atau tidak, apakah ia akan menjadi saksi penting atau menjadi pahlawan, apakah ia akan mati di sana, jika pun mati siapa yang akan mengurus jenazahnya di sini. Apakah ia akan dikembalikan ke Indonesia, dikuburkan di sana atau tetap di Amerika? Jika ia mati, bagaimana nasib beasiswanya, bagaimana keluarganya, bagaimana teman-temannya mendengar kabar ini sebelum ia mencapai sukses yang ia inginkan? Setelah ia mati apa yang akan ia hadapi, siksaan pedih atau surga menanti? Apakah ia akan bertemu ayah dan ibunya serta neneknya? Apakah saat ia mati, ia akan dikenang atau justru terlupakan? Siapa yang akan mengenangnya? Siapa yang akan melupakannya? Theo menghembuskan napas kasar. Ia kembali ke kenyataan bahwa apa yang ia pikirkan hanyalah praduga dan hayalannya semata. Ia kadang lelah dengan semua pertanyaan dan praduga yang ada di pikirannya. Terlalu rumit dan membutuhkan jawaban yang sialnya harus pasti karena ia tidak suka jawaban menggantung. Lelah dengan isi pikirannya, Theo mengeluarkan ponsel yang ia beli cukup murah di negara asalnya dibuat. Ia mengakses internet hanya untuk membuka f*******:. Theo melihat berandanya cukup ramai dengan tulisan teman-temannya. Ada tulisan dari dinding ke dinding yang menceritakan bahwa tugas kuliah mereka banyak sekali dan ditanggapi teman-teman lainnya. Ada status yang sedang pusing karena belum gajian, ada pula yang berstaus galau. Theo melihat Dodo tengah aktif di f*******:. Ia tahu di Indonesia saat ini pasti tengah malam. Do, belum tidur? Theo mengirim pesan kepada Dodo. Ya ampun Theo! Apa kabar? Belum tidur, lagi main Point Blank di warnet. Warnet deket sekolah. Langganan kita kalau les belum mulai. Masih inget kan? Theo tersenyum gembira. Ia ingat dulu sewaktu menunggu les dimulai, mereka sering ke warnet bersama Dodo dan Gio. Mengambil paket perjam dan patungan dari uang jajan kalau ada lebih, tetapi lebih sering Gio yang membayar tagihan karena dia anak orang kaya. Dulu Theo pernah membuat Friendster dan MySpace karena ia tidak tahu harus melakukan apa di dalam warnet sembari menunggu Dodo dan Gio bermain. Pemilik warnet mengenal baik Theo, bahkan Theo sering mendapat surat dari penggemarnya yang dititip melalui pemilik warnet. Baik, Do. Kabarmu bagaimana? Kuliah lancar? Iya inget, sampaikan salam ya untuk Kak Mul. Theo melihat kucing di pangkuannya mengeliat pelan. Theo kembali mengusap kepalanya dengan sayang. Alhamdulillah baik juga, Yo. Kuliah masih lancar, tapi susah Yo. Pelajarannya bikin pusing. Dosennya galak semua. Tapi banyak cewek cantik loh Yo. Coba kamu kuliah di sini. Aku yakin kamu jadi idola lagi. Udah aku sampein, kata Kak Mul, salam untuk kamu juga. Theo membalas cepat pesan sahabatnya. Sama saja, kuliah di sini susah juga Do. Pake bahasa Inggris. Nilai harus tinggi tidak boleh turun karena aku dapat beasiswa. Kabar teman-teman yang lain bagaimana Do? Sehat-sehat semua? Theo merasa lebih baik setelah ia menyapa sahabatnya di belahan bumi lain. Ia dan Dodo banyak bertukar cerita sehingga Theo tidak sadar jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Ia harus ke perpustakaan kampusnya di Morningside Heights untuk bekerja paruh waktu di sana. Dengan berat hati ia harus menyudahi percakapannya bersama Dodo. Meskipun banyak yang ingin disampaikan atau diungkapkan Theo kepada temannya, ia tidak bisa melakukannya karena memang seperti itulah seorang introvert. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD