New York City, Lower Manhattan, 15 Desember 2017
“Aku tidak suka kau mengganggu waktu makan siangku,” ucap Theo pada orang yang tiba-tiba duduk di bangku meja makannya.
“Kulihat kau sedikit santai jadi kau perlu teman mengobrol dibanding makan sendirian,” jawabnya sembari mengambil kentang goreng milik Theo. “Ayolah, aku benci melihat wajah datarmu.”
“Apa tujuanmu?” tanya Theo tanpa basa-basi lagi.
Pria di depannya itu mencari sesuatu di saku jaketnya. Kertas kecil yang cukup lusuh kemudian ia berikan kepada Theo. Theo tidak berminat sama sekali. Ia melanjutkan makannya dalam diam. Sang pria di depannya sudah paham akan hal itu, ia kemudian memesan minuman untuk menemaninya sembari Theo selesai makan dan membahas apa yang perlu mereka bahas.
Theo selesai makan dan pria tadi menghentikan acaranya bermain ponsel.
“Mengorek informasi dari pebisnis Jack Walker. Itu tugas untukmu,” ucapnya yang menyuruh Theo untuk membaca kertas lusuh di depannya. “Infonya dia pernah berhadapan dengan mereka.”
“Siapa mereka?” tanya Theo yang kini membaca isi kertas lusuh.
“Kelompok yang berbahaya. Mereka dalang di balik hampir semua kejahatan dunia.”
Theo mengangguk pelan sembari terus membaca informasi mengenai Jack Walker yang ada di dalam kertas itu. Ia harus mengenal targetnya dengan sangat baik. “Atasan kita sudah mengatur strategi untuk membuatmu mengobrol dengannya. Semakin cepat semakin baik. Kita perlu informasi secepatnya.”
Theo menyimpan kertas tersebut di saku jaketnya. Ia meminum sisa minumannya kemudian mengambil ponsel yang ada di meja. Masih pukul satu siang lewat sedikit. Ia akan kembali ke kantor karena akan ada rapat pada pukul dua siang.
“Jangan bertindak sesukamu. Semua sudah aku arahkan. Kau tipikal yang suka memberontak,” ucapnya mengingatkan Theo.
“Aku lakukan atau ini batal?” Theo memberi pilihan.
Bill Dallas terkekeh pelan. Ia sudah mengenal Theo selama beberapa tahun dan paham dengan kalimat-kalimat sarkas miliknya yang sering terlontar tanpa ia berpikir. Bill mengangkat bahunya lalu mengangguk tanpa beban. “Aku tahu kau mampu.”
“Aku lebih dari mampu,” jawab Theo sembari menyimpan ponselnya di saku celana.
“Kabari aku secepatnya atau aku yang akan menerormu.”
Theo tidak mengubrisnya dan langsung pergi dari sana tanpa pamit. Bill sendiri masih terkekeh melihat tingkah Theo. Pemuda campuran itu memang paling sulit ditebak isi pikirannya, banyak orang yang menyerah untuk dekat dengannya serta memahami isi pikiran Theo. Atasan mereka di sana saja sempat menyarankan perawatan psikologis untuk Theo karena yang mereka ketahui, Theo memiliki trauma masa lalu karena ia kehilangan orangtuanya. Theo van Kuiken masuk agen rahasia milik negara melalui jalur biasa, tetapi ada pertimbangan khusus untuknya diajak bergabung.
♚♛♜♝♞
Sumatera Selatan, Palembang 21 Juli 2009
“Jadi kapan kamu akan berangkat ke Amerika, Theo?” tanya salah satu guru ketika Theo sedang ke sekolahnya untuk mengambil surat kelulusan yang sudah dilegalisir.
“Akhir bulan ini atau awal bulan Agustus, Bu,” jawabnya.
Ibu guru itu menatap Theo dengan tatapan lembut. Ia sangat mengenal anak didiknya yang satu ini. Ia menonjol dalam segala hal di sekolah, tetapi dia tetap anak yang pendiam dan juga tidak bertingkah. Dia berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika. Husnah ingat sekali tahun lalu Theo sering berada di perpustakaan sekolah untuk mencari informasi beasiswa. Ia meminjam komputer dan internet sekolahan karena dia sendiri tidak mempunyai ponsel yang dapat mengakses internet. Tahun 2009 internet masih terbatas dan mahal untuk kalangan menengah serta bawah, ponsel yang bisa mengakses internet pada saat itu hanyalah Nokia dan Blackberry yang sedang tenar-tenarnya di lingkungan sekolah Theo. Untuk ke warung internet Theo tidak cukup mampu. Ia lebih memilih berhemat uang jajannya untuk biaya membuat paspor dan visa atau asuransi ke Amerika kelak.
Theo van Kuiken menonjol di bidang akademik dan olahraga, ia bermain basket—hasil paksaan dari guru olahraga—karena postur tubuhnya yang tinggi dan ia berhasil ikut membawa sekolahnya ke tingkat nasional. Ia juga pernah mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris tingkat provinsi sewaktu kelas dua sekolah menengah atas. Dia terdaftar sebagai pelajar yang belajar taekwondo—sabuk hitam DAN II—serta pencak silat di balai resmi kota. Dari prestasinya tersebut, Theo mendapatkan beasiswa penuh di universitas Amerika. Selain nilai akademik, universitas di sana mempertimbangkan prestasi non-akademik dan prestasi akademik di luar sekolah untuk mendapatkan beasiswa. Mereka juga mempertimbangkan siswa yang memiliki kegiatan organisasi. Hal tersebut dapat sangat berpengaruh sebagai nilai tambah.
“Siapa yang akan antar?” tanyanya lagi.
Theo tersenyum kecil. “Katanya Bapak Waluyo dan Ibu Nurul yang akan antar saya ke Jakarta, Bu. Paman dan Bibi saya hanya ikut antar sampai bandara.” Theo melihat seberkas kesedihan mampir di mata gurunya. “Ibu mau ikut antar ke bandara?” tanya Theo.
“Ibu usahakan bisa antar kamu ya, Nak,” ucapnya sambil menghapus air mata. “Ibu titip pesan sama kamu jangan malas belajar ya, jangan ikut-ikut pergaulan di sana. Jangan minum-minum alkohol. Jangan lupa sholat ya Theo.”
Theo tidak akan sesedih ini jika yang mengatakan itu Anggun, gadis yang menyukainya di sekolah secara terang-terangan atau Bella, adik kelas yang juga mengejar-ngejarnya atau juga semua penggemarnya di sekolah maupun luar sekolah, bahkan Dodo teman sebangkunya dan Gio teman mainnya di warung playstasion. Ini ibu Husnah, guru baik hati yang membantunya mencari beasiswa dan juga seperti sosok seorang ibu yang tidak Theo miliki. Ibu Husnah banyak membantu Theo dalam segi keuangan karena Theo tinggal di rumah keluarga ayahnya. Ia sering kekurangan uang dan malu untuk meminta. Ibu Husnah pernah bercerita bahwa ia pernah punya anak laki-laki yang seumuran Theo, tetapi anaknya meninggal karena tipes dan demam berdarah. Setiap ia melihat Theo, ia seperti melihat anaknya sendiri. Maka ibu Husnah menganggap Theo seperti anak kandungnya.
“Iya, Bu. Kalau pulang ke Indonesia, Theo akan mampir lihat Ibu.”
Dia tidak akan menangis di depan sosok malaikat dunia yang berdiri di depannya. Dia akan menyimpan kesedihannya di dalam lubuk hatinya seorang diri. Theo tahu dia terlihat kejam, tapi ia bukan tipikal orang yang bisa mengumbar isi hatinya ke permukaan. Sudah terlalu sering ia menapaki kesedihan sampai rasanya ia bosan.
“Kalau umur Ibu panjang kita akan berjumpa lagi nanti, Nak. Ibu akan selalu doakan kamu sehat selalu dan sukses,” air mata kembali membasahi pipi Ibu Husnah yang sudah tua. Ingin rasanya Theo memeluk Ibu guru yang berjasa besar padanya. “Ya sudah, kamu pulang sana. Ibu juga akan masuk kelas sebentar lagi.”
Theo mengangguk kecil sembari menahan desakan pilu di dadanya. Andai orangtuanya masih hidup, mereka pasti akan lebih bangga dan lebih sedih seperti yang Ibu Husnah alami. Sayangnya orangtuanya sudah tidak ada. Theo kemudian melihat jam di dinding ruang tata usaha sekolahnya, masih jam sepuluh pagi. Ia menimang sebentar sebelum mengambil keputusan.
Theo akhirnya keluar menuju jalan raya di depan sekolah untuk mencari angkutan umum yang akan membawanya ke perbatasan luar kota kemudian turun di terminal lalu melanjutkan perjalanan menuju luar kota. Ia akan berziarah ke makan ayah dan ibunya serta ke makam neneknya. Ia akan berpamitan kepada mereka selagi sempat. Theo tidak tahu kapan ia akan kembali lagi ke Indonesia dan mengunjungi mereka.
TBC...