Nineteen

1335 Words
New York City, Midtown East, 10 April 2018 Jam makan siang Theo sudah tiba di tempat pertemuan yang dijanjikan sang wanita. Tempat tersebut tidak ramai seperti tempat kebanyakan saat jam makan siang di kota New York. Hanya ada beberapa meja yang terisi oleh pengunjung. Sisanya para pelayan yang melakukan tugas masing-masing. Theo memilih duduk di pojok jendela besar. Sang wanita belum datang padahal ia sudah menunggu selama sepuluh menit. Theo membuka ponselnya karena ia berniat menghubungi sang wanita. Namun, saat itu juga sang wanita datang. Mengenakan pakaian berwarna hitam dengan masker menutupi sebagian wajahnya dan juga kacamata hitam. Dari postur tubuhnya sang wanita terlihat berumur pertengahan dua puluh tahun. Dari perawakannya ia orang Asia Timur. Theo menatap sang wanita yang menunggunya untuk berbicara. “Anda yang menghubungi saya?” tanya Theo memulai obrolan. “Ya.” “Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya Theo yang jujur saja penasaran dengan apa yang akan disampaikan sang wanita kepadanya. “Saya tahu Anda adalah seorang FBI dari kenalan saya. Siapa dia saya tidak bisa memberi tahu Anda,” aksen bicara sang wanita masih sangat kental. Dia orang Jepang. “Sebelum saya memberitahu hal penting tersebut. Saya ingin Anda berjanji untuk merahasiakan pertemuan ini dari siapa pun.” Theo menatap sang wanita sebentar untuk menilai. Ia kemudian mengangguk. Cepat atau lambat ia akan tahu siapa yang memberitahu wanita di depannya ini tentang dirinya. “Jika tidak merugikan saya, saya akan melakukannya.” Sang wanita mengambil kertas dari dalam tasnya lalu memberikan kepada Theo. Theo menyambut kertas yang diberikan sang wanita. Ia membacanya sebentar kemudian mengalihkan lagi tatapan matanya ke arah wanita di depannya. “Apa ini?” tanya Theo. “Tempat transaksi mereka dan juga beberapa nama yang terlibat. Orang-orang yang sedang Anda selidiki,” ucap sang wanita berbisik. Ia terlihat sedikit gugup. “Saya mendapatkannya dari adik saya. Itu kumpulan kode dan saya percaya Anda bisa memecahkannya. Saya mohon kepada Anda untuk bisa mengungkap hal ini.” Theo mencari nada kebohongan dari suara sang wanita. “Adik saya terlibat di dalam kasus ini dan dia dalam bahaya. Tolong saya!” “Bagaimana Anda begitu yakin bahwa adik Anda sekarang tengah terlibat dengan orang-orang yang tengah saya selidiki?” Theo tidak ingin mendesaknya terlalu jauh. Ia lebih suka bertanya pelan-pelan karena tipikal wanita di depannya ini lebih suka pembicaraan yang tidak mendesaknya untuk bertutur langsung. “Adik saya kuliah di sini, di Columbia University. Dia berada di tahun ketiga. Beberapa bulan ini dia tampak aneh. Jarang menghubungi kami sekeluarga dan selalu meminta uang dengan jumlah yang cukup banyak. Awalnya kami tidak curiga, tetapi dua bulan belakang adik saya tidak dapat dihubungi sama sekali. Saya datang kembali ke Amerika untuk melihat keadaannya, tetapi dia sudah tidak ada di kampusnya. Saya menanyakan keberadaannya kepada teman-teman dekatnya. Namun, tidak ada yang tahu ia di mana.” “Bisa ceritakan detail kejadiannya kepada saya? Anda sudah menghubungi polisi?” tanya Theo serius. “Belum. Saya tidak berani menghubungi polisi karena saya takut adik saya akan terancam,” jawabnya. Wanita itu memainkan jemarinya kemudian ia menunduk lalu mulai berbicara dengan suara bergetar. “Beberapa bulan yang lalu dia sempat bercerita kepada saya mengenai pekerjaan sampingannya yang berhubungan dengan saham. Ia bermain saham di internet kemudian mengatakan soal keuntungan berlipat ganda dan ia juga tengah membuat beberapa perangkat lunak yang dipesan oleh perusahaan asing dari Ukraina. Dia memberitahu saya bahwa perusahaan yang mengontraknya merupakan perusahaan besar berbasis perbankan dunia. Saya tidak tahu pasti perangkat lunak apa yang ia kerjakan, tapi saya yakin itu bukan sesuatu yang baik karena saya sempat melihat catatan di buku adik saya mengenai pencucian dana.” “Adik Anda tidak membiarkan Anda tahu lebih lanjut?” Sang wanita menggeleng pelan. “Saya tidak berpikir hal buruk waktu itu karena saya yakin mungkin adik saya tengah menguji coba perangkat lunak buatannya apakah bisa mencegah untuk mencuci dana dan kejahatan buruk lainnya. Saya berpikir seperti itu kemarin karena saya orang awam dan tidak mengerti apa-apa. Namun, sekarang saya tahu bahwa apa yang ia kerjakan berbahaya. Uang yang sering ia minta kepada kami kemungkinan besar adalah untuk membeli saham atau membeli keperluan perangkat lunaknya. Kami tidak tahu pasti mengenai hal tersebut.” Theo membaca kertas yang tadi diberikan sang wanita kepadanya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan kertas tersebut. Hanya terlihat seperti coretan-coretan tangan yang menggambarkan banyak huruf acak dan juga angka-angka tidak beraturan. Bukan hal baru baginya berhadapan dengan kode-kode seperti ini. Dulu ia sampai ingin muntah karena terlalu bosan memecahkan kode sewaktu pelatihan dan memecahkan masalah di lapangan. “Kenapa Anda sangat yakin kertas ini berisi kode mengenai mereka?” sang wanita menatap kertas yang tengah Theo pegang. “Kemungkinan Anda tahu sesuatu yang harusnya tidak terlihat menjadi sebuah pertanyaan baru bagi saya.” “Saya mendatangi kamar asrama adik saya dan menemukan ini beserta pesan darinya di ponsel yang ia tinggalkan,” sang wanita lalu membuka ponsel milik adiknya kemudian menyerahkan kepada Theo. “Ia menulisnya di catatan ponsel dan sepertinya memang ditujukan kepada saya untuk saya temukan dan baca.” “Anda menemukannya di kamar asrama adik Anda? Bagaimana posisinya? Di atas meja? Di atas kasur? Atau di tempat lain?” Theo mulai bertindak seperti detektif. Tiba-tiba ia ingin menjadi seperti Sherlock Holmes. “Ponsel dalam keadaan mati atau masih memiliki baterai?” “Di dalam laci meja belajarnya. Dalam keadaan habis baterai,” jawabnya. Ia kemudian membuka kode ponsel sang adik setelah Theo memintanya. Dengan cepat wanita itu mengarahkan Theo untuk membuka catatan di sana. “Saat saya menemukan ponselnya, saya langsung merasa ada yang tidak beres. Adik saya selalu membawa ponsel ke mana pun ia pergi. Oleh sebab itu saya langsung memeriksanya.” Di dalam catatan yang ada di ponsel tersebut Theo melihat ada pesan yang berisi: Kertas di dalam buku Sejarah Dunia, ada pesan untukmu. Buka dan tolong simpan lalu hubungi polisi atau penegak hukum lainnya. Aku dalam keadaan terancam. Tulisan tersebut ditulis dalam bahasa Jepang. Theo juga melihat tanggal dibuatnya catatan tersebut sudah hampir dua bulan lebih. Ia kemudian memeriksa beberapa catatan lain dan juga foto-foto yang ada di sana. “Saya bisa mengartikannya untuk Anda,” tawar wanita tersebut karena Theo hanya diam tidak menanggapi. “Tidak apa-apa, saya mengerti bahasa Jepang,” jawab Theo dan ia kembali fokus memeriksa ponsel yang kini tengah ia pegang. Jujur saja masih banyak kejanggalan yang saat ini berputar di otaknya seiring ia menganalisis ucapan yang disampaikan wanita di depannya. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Sang korban memang diculik atau ia memang melarikan diri. Bisa jadi sang korban saat ini tengah melakukan upaya untuk membongkar kejahatan yang ia ketahui atau bisa jadi ini merupakan awal dari jebakan. Semua kemungkinan selalu ada di balik setiap kejadian. “Bagaimana Anda tahu kode ponsel adik Anda?” tanya Theo kemudian. “Dia memberitahunya kepada saya. Kami berdua cukup dekat.” “Terima kasih karena Anda menghubungi saya. Saya akan membawa ponsel adik Anda dan juga kertas ini untuk coba saya selidiki. Namun, sebelum itu alangkah baiknya bila Anda memberitahu siapa nama Anda dan juga adik Anda serta yang memberitahu Anda mengenai saya. Saya tidak bisa bekerja tanpa tahu latar belakang korban dan pelapor, mestinya kasus seperti ini ditangani oleh polisi terlebih dahulu baru nanti akan dilimpahkan kepada kami bila kasusnya berbahaya. Itu sesuai prosedur yang berlaku. Anda tidak perlu khawatir, kami menjamin keselamatan Anda.” Theo tidak mengancam agar sang wanita memberitahu identitasnya, ia melakukan tugasnya dengan benar. Akhirnya sang wanita memberitahu siapa dia dan siapa yang memberitahunya soal Theo van Kuiken adalah seorang FBI. Tentu saja kekesalan Theo timbul seketika saat wanita itu menyebut nama Bill Dallas. Ia sudah menduga pasti hal seperti ini akan terjadi dan benar saja Bill menjerumuskan Theo ke dalam jurang hitam yang dalam. Mau bagaimanapun Bill sepenuhnya tidak salah karena memang kasus ini ia yang tangani sedari awal. Memberikannya kepada Theo adalah solusi tepat, tetapi Theo tidak terima bahwa Bill membongkar identitasnya sembarangan. Sedari dulu dia dan Bill layaknya seperti kucing dan anjing. Rekan kerjanya itu memang selalu mengganggu ketenangan hidup Theo yang damai. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD