New York City, 8th Avenue, 10 April 2018
Selasa pagi Theo sudah tiba di kantornya dan sekarang ia tengah mengecek beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Hari ini ada berita besar yang keluar di media massa New York, beberapa temannya terlihat sibuk mengangkat telepon dan menjelaskan kepada penelpon. Bagaimana tidak menghebohkan, FBI baru saja menggerebek kantor pengacara sekaligus orang kepercayaan Presiden Amerika saat ini. FBI menyita beberapa dokumen penting terkait tuduhan skandal perselingkuhan sang Presiden dengan seorang aktris. Tentu saja berita tersebut menghebohkan karena sang aktris merupakan pemeran film dewasa.
Theo van Kuiken orang yang mempunyai pekerjaan ganda sebagai pegawai di perusahaan media massa dan sekaligus sebagai agen keamanan negara harus tetap terlihat netral. Ia tidak menyalahkan semua sisi, di satu sisi sebagai pegawai media massa memang pekerjaannya untuk mencari berita dan sebagai FBI juga merupakan tugasnya untuk menegakkan kebenaran. Kasus yang terjadi sekarang bukan bagian dari tugas Theo, itu tugas teman-temannya dan mereka sudah lama menyelidiki kasus ini hingga muncul ke permukaan.
“Theo, bisa tolong aku untuk menyelesaikan artikel ini bila pekerjaanmu sedang tidak banyak?” Angela Song mendekati Theo dengan wajah panik. “Aku harus menghadap atasan kita terkait berita yang baru saja keluar dan artikel ini harus diserahkan sebelum makan siang. Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa, semua orang tengah sibuk,” ia mengedarkan pandangan matanya ke penjuru ruangan.
“Apa yang harus aku kerjakan?” tanya Theo sembari menyuruh Angela tenang. “Akan aku bantu sebisaku. Jelaskan padaku sekarang maka aku akan menyelesaikannya sebelum jam makan siang.”
Angela memeluk Theo dengan perasaan bahagia. Ia memang paling tahu bahwa Theo van Kuiken selalu bisa membantunya. Di kantor mereka Theo terkenal sangat baik dan paling memikat pandangan para wanita. Dari segi wajah sebenarnya Theo bukanlah tergolong sangat tampan seperti model, dia sendiri tidak pernah merasa dirinya tampan. Wajahnya memang terkesan sombong dan angkuh dengan banyak sentuhan dingin pada tatapannya. Ditambah pelupuk mata yang dalam serta bola mata berwarna hazel membuat kesan misterius pada dirinya melekat jelas. Namun, ada banyak hal yang membuat para wanita jatuh hati kepadanya. Selain ia baik hati, Theo tidak seperti kebanyakan lelaki metropolitan yang terjerumus pergaulan bebas. Theo van Kuiken merupakan pria sopan dengan kharismanya yang misterius. Meskipun tidak pernah terdengar isu ia mempunyai kekasih, tetapi tidak pernah ada gosip buruk mengenai dirinya. Orang-orang terlalu segan mengumpat hal buruk tentang Theo karena kebaikannya ditambah memang orang Amerika tidak suka mencampuri urusan pribadi orang lain.
“Aku akan mentraktirmu makan siang hari ini! Terima kasih sekali lagi,” ucap Angela sebelum ia berjalan cepat menuju ruang atasan mereka.
Theo membaca artikel yang dibuat oleh Angela, baru sepertiga bagian yang dibuat olehnya. Angela tengah membuat artikel tentang festival bunga sakura yang akan diadakan di beberapa tempat di New York City, salah satunya yang paling terkenal di Brooklyn Botanic Garden akan diadakan pada tanggal 28 dan 29 April 2018. Festival itu sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang di New York City karena pohon-pohon sakura bermekaran indah dan banyak jualan makanan murah di sana. Theo sudah beberapa kali mengikuti festival bunga sakura dan ia bertekad untuk datang ke tempat asalnya suatu hari nanti.
Mengingat bunga sakura, Theo mendapat ide untuk mengajak seseorang yang sudah mempunyai janji lama dengannya untuk bertemu. Kebetulan memang ia akan bertandang ke Amerika dalam waktu dekat dan Theo sendiri yang menyarankan waktu terbaik untuk mengunjungi Amerika adalah di musim semi atau gugur. Musim semi cuaca sangat bersahabat dan bunga-bunga bermekaran indah di taman. Musim gugur waktunya untuk melihat dedaunan berwarna coklat kemerahan dan udara yang juga bersahabat. Theo sendiri sangat menyukai musim semi dan gugur karena ia sangat menyukai taman sebagai tempatnya bersantai menghilangkan penat.
Saat Theo tengah menyelesaikan artikel milik Angela, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya. Theo membiarkannya karena ia tidak terlalu suka berbicara dengan orang asing. Sambungan terputus, tetapi setelah itu ponselnya kembali berdering. Theo menunggu hingga tiga kali, bila ponselnya berdering sampai tiga kali dengan nomor yang sama, barulah Theo akan mengangkatnya. Akhirnya ponsel miliknya kembali berdering dengan nomor yang sama. Theo mengangkatnya.
“Theo van Kuiken?”
Suara seorang perempuan membuat Theo mengernyit. “Dengan siapa saya berbicara?”
“Anda tidak perlu tahu dengan siapa, cukup dengarkan apa yang akan saya sampaikan kepada Anda.”
“Maaf saya tidak suka berbicara dengan orang asing yang bahkan menyebutkan namanya pun tidak bisa.” Theo siap mematikan sambungan karena ia merasa tidak ingin membuang-buang waktu. Namun, wanita itu segera mencegah Theo.
“Bisa kita bertemu? Ada hal penting yang harus Anda tahu. Jam makan siang ini, di Midtown East. Akan saya kirimkan pesan kepada Anda lokasi tepatnya,” sang penelepon langsung mengakhiri panggilan. Theo menatap ponselnya yang masih menyala. Ia menimang-nimang dan memikirkan apa yang akan disampaikan oleh sang wanita kepadanya meskipun setengah hatinya tidak ingin percaya.
Theo kembali fokus ke pekerjaannya dengan sikap tenang. Ia sudah memikirkan apa yang akan ditulisnya di dalam artikel kali ini. Dia memprediksi pekerjaannya akan selesai dalam kurun waktu satu jam. Setelah selesai Theo berencana membaca beberapa kumpulan kasus untuk ia pelajari dan ia juga akan bermain game yang kemarin baru ia beli.
Saat tengah mengerjakan artikel, pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tadi menghubungi Theo. Pesannya berupa kata-kata untuk Theo datang menemuinya karena apa yang akan ia sampaikan merupakan hal yang sangat penting. Nalurinya sebagai seorang petugas keamanan negara jelas membuat Theo berpikir untuk mengambil tindakan apakah ia akan menemuinya atau tidak. Bisa jadi undangan tersebut adalah jebakan. Sangat rentan bagi mereka kena jebakan oleh pihak musuh.
Theo membuka laci mejanya. Ia mengambil permen untuk dimakan. Dia telah menyelesaikan artikel milik Angela Song, saat ini Theo akan menyusun rencana di otaknya dan memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Permen rasa lemon di mulutnya membuat Theo berdecak beberapa kali karena asam yang ditimbulkan, tetapi hal tersebut justru menghasilkan beberapa rencana untuknya. Dia tidak boleh gegabah ditambah sang penelepon tahu mengenai dirinya. Meskipun wanita itu tidak menyebutkan secara gamblang, Theo yakin dia tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Berhadapan dengan seseorang yang tahu mengenai identitasnya perlu banyak persiapan.
Selain membekali dirinya dengan beberapa perlengkapan, Theo juga melapor ke atasannya agar mereka bisa mengantisipasi keadaan bila yang terjadi saat ini merupakan jebakan. Setelah persiapannya matang, Theo melihat jam dan bersiap pergi menemui sang penelepon. Ia menghidupkan alat pelacak di ponselnya untuk berjaga-jaga. Suasana kantor saat ia pergi masih cukup kacau karena berita yang beredar. Theo bahkan harus lewat samping agar bisa keluar gedung dengan aman. Banyak petugas berjaga dan masyarakat yang ingin tahu kebenaran berita mengenai Presiden mereka.
Dalam perjalanan Theo kali ini ia sangat memperhatikan sekitar karena kemungkinan ada mata-mata yang membahayakan dirinya. Kadang ketidaktenangan ini menyiksa Theo. Ia ingin hidup normalnya kembali, tetapi terlambat untuk mundur karena ia sendiri yang memilih jalan ini. Dengan rasa waspada yang tinggi, Theo menyusuri jalanan yang ramai karena jam makan siang sebentar lagi akan dimulai. Semua orang keluar mencari makan dan itu artinya kewaspadaan Theo harus semakin meningkat karena banyaknya orang yang tidak bisa ia awasi satu demi satu.
TBC...