Seventeen

1309 Words
New York City, Civic Center, 12 Februari 2018 Theo berada di kantor FBI di New York City setelah sebelumnya ia pulang dari kantor New York Times tempatnya bekerja sebagai pegawai di perusahaan media massa tersohor Amerika. Hari sudah cukup larut, tetapi ia tetap menyempatkan dirinya untuk ke markas FBI. Rekannya memberitahukan Theo mengenai hasil penyelidikan tentang Dexter Wu. Theo dengan cepat menaiki taxi setelah jam kantor berakhir. Di sinilah ia sekarang, membaca laporan yang diberikan rekannya. “Aliran dana yang ia suntikkan sangat besar. Kebanyakan dana yang ia suntikkan dari hasil penjualan narkoba yang ia geluti. Lokasi transfer kebanyakan dari Beijing dan California. Dia punya apartemen di Hudson Yards, New York City. Di sanalah ia tinggal selama ia menetap di New York. Cukup kesulitan meretas informasi dari akun bank Dexter, ia cerdik dan sepertinya sudah mengantisipasi semua hal. Kau tahu, peretas Tiongkok merukapan kelompok peretas terbaik saat ini. Mereka benar-benar kuat.” “Ya dia cerdik,” komentar Theo sambil terus melihat deretan tulisan di kertas yang sedang ia baca. “Sepertinya ia juga bekerja sama dengan hukum di sana. Orang jahat selalu punya cara untuk bebas bertindak.” “Kau benar, ada beberapa akun bank yang mencurigakan. Ia melakukan pencucian uang dan itu tidak ke rekening biasa, rekening pemerintahan. Jelas artinya bila ia didukung penuh oleh pemerintah di sana. Dia bukan orang biasa, kemungkinan mafia pemerintahan.” Fabio Fernandez memberikan data lain kepada Theo untuk dibaca. “Aku dan rekan lainnya sudah memberitahu hal ini kepada atasan kita. Aku tidak tahu langkah apa yang akan diambil. Mungkin saja memberikan informasi ini kepada CIA. Semua kemungkinan bisa terjadi.” Theo dengan cermat melihat tulisan di kertas yang diberikan Fabio. Hampir semua bukti transfer dari akun milik Dexter Wu. Dari bukti transfer tersebut, ada beberapa nama yang menjadi target mereka selanjutnya. Selain bukti transfer suntikan dana, Theo juga menerima aktifitas perbankan milik Dexter. Dari satu akun ke banyak akun lainnya. Jelas ia mempunyai lebih dari sepuluh akun bank yang tersebar di seluruh dunia. Namun, yang paling menarik perhatian Theo adalah aktifitas transferan ke akun bank Nikolas Magnar. Seperti yang sudah mereka selidiki, Nikolas Magnar merupakan anggota orang-orang yang ingin menguasai dunia dan merupakan kakak kandung Teressa Magnar, wanita yang Theo dekati demi informasi. “Travis dan Bill sudah tahu tentang ini?” “Sudah, tapi mereka tidak berkomentar.” Theo mengangguk pelan. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Perutnya tiba-tiba lapar karena memang waktunya makan malam. Di kantor mereka memang masih cukup ramai karena ada beberapa pegawai yang lembur, termasuk Fabio yang tadi dimintai tolong oleh Theo untuk menunggunya sampai datang ke kantor. “Kau ingin makan malam? Ayo kita keluar. Aku akan mentraktirmu,” Theo berdiri dan menepuk bahu Fabio beberapa kali. Fabio berada satu tingkat di bawah Theo. Ia sangat cerdik dalam dunia peretasan. “Aku tidak bisa menolak ajakanmu, Kawan,” keduanya kemudian keluar untuk makan malam. Tidak jauh dari kantor mereka saat ini, tengah terjadi perundingan bisnis dari orang-orang yang ingin menguasai dunia kepada pebisnis Amerika pemula. Pertemuan tertutup itu hanya berlokasi di sebuah tempat makan yang tidak terlalu ramai. Mereka memang kerap menghindari keramaian karena New York City terkenal akan agen FBI yang sering mengintai. “Keuntungan bisnis Anda akan berkali-kali lipat dan tidak akan ada yang berani mengacau bisnis Anda, selama Anda mengikuti aturan kami,” pria bermata kecoklatan itu menatap orang di depannya dengan tajam. Ia akan menjerat targetnya sampai dengan kata kesepakatan. “Apakah keraguan masih membayangi Anda, Tuan Zefron Brox?” Pria tengah baya bernama Zefron Brox terlihat ragu untuk mengikuti ajakan bisnis pria muda di depannya. Ia sudah pernah mendengar desas-desus mengenai mafia bisnis yang bergerak dalam kesenyapan. Orang-orang yang menginginkan kekuasaan dunia dan ketamakan. Awalnya ia menyangka akan bekerja untuk badan pemerintahan karena pria di depannya ini mengaku sebagai utusan dewan, tetapi ia segera curiga ketika datang ke tempat pertemuan dan mendapati banyak pria-pria besar yang mengawasinya. Ternyata kecurigaannya benar, ia masuk ke dalam jebakan mereka. “Bisnis saya sepertinya kurang cocok untuk bekerja sama dengan bisnis Anda, dan jujur saja bisnis saya saat ini sedang banyak masalah. Kami mempunyai hutang di bank. Belum lagi saham menurun selama seminggu,” ucapnya dengan penuh keyakinan. Hanya itu yang bisa Zefron Brox pikirkan untuk menolak ajakan mereka. “Tidak masalah bagi kami, dengan senang hati kami akan membantu Anda keluar dari masalah tersebut. Tidak ada masalah yang tidak bisa kami selesaikan,” ucapnya sambil menatap mata lawan di depannya dengan penuh kemenangan. Zefron Brox langsung menelan ludah dengan gugup. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya mengelak. Bukan dia tidak pintar, hanya saja saat ini moncong senjata api sudah menekan tempurung kepala bagian belakangnya. Orang-orang berbadan kekar tadi mendekatinya perlahan lalu memegang tangan Zefron untuk berdiri, senjata api masih menekan tempurung kepalanya. “Hanya ada dua pilihan untuk Anda,” ia berbisik di telinga Zefron dengan nada suara yang membuat merinding. “Anda jelas tidak akan suka dengan salah satu pilihannya.” Napas Zefron tercekat karena rasa takutnya. Pupil matanya membesar tanda kecemasan dan takut sekarang tengah menghantuinya. Bagaimana tidak, ia seakan berjumpa dengan malaikat maut yang siap mengambil nyawanya saat ini. Pria di depannya ini adalah gambaran Iblis dunia yang sesungguhnya. “Siapa Anda sesungguhnya?” Zefron mencoba memberanikan diri bertanya. Sang pria tertawa pelan, tetapi tawanya mengandung keburukan. “Percayalah, lebih baik Anda tidak perlu tahu siapa saya. Jikalau Anda memaksa ingin tahu siapa saya, pilihan yang saya ajukan kepada Anda hanya tersisa satu. Mutlak. Dan Anda tahu dengan jelas apa pilihan itu.” Zefron mengangguk pasrah. Akhirnya ia masuk ke dalam jebakan mereka. Memang pebisnis pemula lebih mudah untuk dijerat dibanding pebisnis lama yang tahu bagaimana cara untuk menghindari mereka. Dalam hal ini bisnis yang ia kelola sepertiga hasil akan menjadi milik mereka, orang-orang yang ingin menguasai dunia. “Bagus, itu yang saya harapkan dari Anda. Selanjutnya kita akan membahas apa yang harus Anda lakukan dan tidak boleh Anda lakukan. Bila Anda melanggar, tiang gantung atau timah panas akan didaftarkan atas nama Anda untuk digunakan. Terdengar menarik?” Zefron jelas menggeleng keras. “Apa yang harus saya lakukan?” ia bertanya karena sudah muak melihat wajah pria di depannya saat ini. “Apa saja asal menghasilkan uang, apa saja asal rahasia ini aman. Kau tahu konsekuensi bila ini bocor? Keluargamu adalah jaminan untuk kami.” Seperti itulah cara mereka mengancam serta memperoleh uang dengan sangat banyak. Iblis-Iblis yang terkurung di tubuh manusia selalu membuat kekacauan. Dunia ini sudah penuh oleh manusia-manusia jahat yang mengabaikan sesama, para Iblis menawan hati mereka yang suci lalu dilumuri dosa. Rasa kemanusiaan kian menipis, perang saudara terjadi di mana-mana. Propoganda memecah bangsa menjadi banyak kubu seakan sebuah era baru untuk memperoleh pengakuan yang mana paling benar. Teror menjadi mimpi buruk di setiap relung manusia yang penuh ketakutan. Bukan senjata yang membunuh banyak manusia, tetapi kata-kata laknat pemecah persatuan. Saling menyakiti sesama manusia, saling menghempaskan demi bisa menjadi tertinggi. Mengabaikan nurani yang dulu berbisik mengaumkan kedamaian. Hati ini mudah berkhianat bila bertemu dengan yang namanya kekuasaan, kemewahan, dan lupa akan pencipta. Mirisnya, itulah cerminan kebanyakan manusia sekarang. Theo van Kuiken sadar bahwa dirinya menginginkan kedamaian di dunia tempatnya hidup saat ini. Ia pernah kehilangan segalanya, rasanya menyakitkan. Oleh sebab itu ia merelakan kewarganegaraannya sebagai orang Indonesia demi bergabung dengan FBI. Peran FBI cukup besar pada dunia, dia akan membantu sebisa mungkin untuk menumpas kejahatan. Ia yakin apa yang akan ia kerjakan pasti berdampak besar untuk kedamaian dunia. “Fabio, apa alasanmu bergabung di FBI?” tanya Theo saat mereka menuruni lift. Fabio menoleh ke arah Theo van Kuiken di sebelahnya. “Aku suka ilmuku dipakai untuk berbuat kebaikan, membantu menumpas kejahatan,” jawab Fabio sekadarnya. “Bagaimana denganmu?” “Dulu karena terpaksa, sekarang untuk membunuh Iblis berwujud manusia. Akan aku kejar mereka sampai ujung bumi. Keadilan adalah segalanya, sesuai moto pekerjaan kita. Kau saksi dari kata-kataku, kejahatan adalah teman Iblis.” TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD