New York City, Broadway, Times Square, 6 April 2018
Hari ini ia sudah berjanji untuk bertemu dengan Güliz di restoran Italia sekitaran Times Square. Times Square selalu padat karena penuh dengan turis. Para Yonkers biasanya menghindari untuk datang ke Times Square apalagi di musim semi dan musim panas saat libur sekolah berlangsung. Gadis Turki itu sudah menerornya dari berminggu-minggu yang lalu untuk mengajak bertemu dan makan di tempat favoritnya. Dengan kesibukan yang Theo miliki, ia baru menyanggupi ajakan Güliz hari ini. Setelah pulang bekerja, Theo langsung menuju lokasi pertemuan mereka. Sudah hampir tiga bulanan ia tidak bertemu dengan Güliz. Semenjak Theo memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih luas tiga tahun lalu, mereka jarang bertemu. Biasanya ia dan Güliz selalu menghabiskan akhir pekan bersama. Dari mulai menonton film di bioskop hingga hanya bersantai di taman-taman kota. Bagi Theo, Güliz adalah teman yang ia anggap saudara.
“Kau sudah lama datang?” tanya Güliz saat ia duduk di bangku. “Jalanan macet sekali dan ada perbaikan jalan, taxi yang aku naiki sampai memutar jauh untuk sampai.”
“Baru lima menit yang lalu aku datang. Pesanlah apa yang ingin kau makan.” Theo memberikan buku menu kepada Güliz. “Kau harus makan sampai kenyang.”
Güliz memiringkan kepalanya ke kanan sembari memperhatikan Theo yang juga menatapnya. “Harusnya kau yang banyak makan. Tubuhmu lebih kurus dibanding tiga bulan yang lalu. Apa yang kaulakukan hingga kau tampak kurang beristirahat seperti ini?” tanya Güliz ingin tahu.
“Aku olahraga, mungkin itu sebabnya,” dusta Theo. “Aku makan cukup, tidak pernah kekurangan. Jangan khawatir.”
Güliz tidak pernah berhasil mengorek informasi lebih dalam jika Theo tidak mengizinkannya untuk tahu. Selalu seperti itu semenjak ia mengenal Theo. Pria berdarah campuran itu memang tertutup untuk beberapa urusan. Bagi Theo, Güliz tidak perlu tahu mengenai luka hatinya atau urusan pekerjaannya sebagai FBI. Ia hanya ingin gadis baik itu aman menjalani hidup karena Güliz sudah sangat banyak membantunya selama ini.
“Kau terlalu banyak bekerja, kau harus mengambil cutimu dan pulang ke Indonesia untuk bertemu keluargamu. Aku khawatir padamu, Theo,” ucapnya dengan tulus. “Aku tidak bisa untuk tidak khawatir padamu mengingat kau selalu memakan mie instan dulu dan tidak pernah peduli saat kau sakit.” Güliz benar-benar khawatir, terlihat dari mata indahnya bahwa ia menyayangi Theo meskipun Theo selalu mengabaikan rasa cinta Güliz padanya.
Theo terkekeh geli mendengar ucapan Güliz. “Aku baik-baik saja, tidak perlu berlebihan mengkhawatirkanku. Pekerjaanku juga cukup santai. Harusnya kau yang lebih banyak beristirahat, membaca novel sampai larut malam harus kau kurangi.”
Güliz tidak menanggapi ucapan Theo karena ia ingin memesan makan malamnya. Sekitaran Times Square tidak pernah sepi, berisik di berbagai sudut karena Times Square sendiri seperti jantung kota New York City. Tempat makan mereka pun ramai, lantai satu sudah penuh oleh orang-orang yang kelaparan. Keduanya duduk di sebelah jendela besar yang penuh dengan papan iklan. Dari sana terlihat toko coklat Hersey’s. Rencananya setelah makan, Güliz berniat mengajak Theo untuk membeli coklat.
“Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu?” tanya Theo ingin tahu.
“Ada kendala beberapa minggu ini. Pimpinan kami yang baru lebih menyebalkan dibanding yang lama. Ia baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan asing yang dulu sempat bermasalah dengan perusahaan kami. Alhasil banyak mitra kerja yang sebelumnya menanam saham di tempat kami, tiba-tiba mencabut sahamnya. Perusahaan kami sedikit tidak stabil, akhirnya berdampak perombakan pada sistem pemasaran dan itu membuat kami harus merasakan lembur,” ceritanya dengan wajah lesuh.
“Jadi itu yang menyebabkan mata pandamu?” tanya Theo sambil tertawa geli.
“Hm, aku benci mata panda ini.”
“Kau tidak berniat mencoba pindah ke perusahaan lain?”
“Theo, aku rasanya ingin berhenti bekerja di sana dan pindah ke tempatmu bekerja,” ungkap Güliz tiba-tiba. “Apakah ada lowongan di sana?”
“Akan aku cari tahu nanti mengenai lowongan pekerjaan di sana. Akan aku kabari secepatnya,” jawab Theo. Güliz menatapnya dengan wajah berbinar.
“Kau memang Theo yang baik hati. Aku akan membelikanmu coklat setelah ini, bagaimana?” tanyanya masih dengan wajah berbinar. Güliz selalu menyukai Theo yang baik hati dan tidak pernah membuatnya merasa sedih. “Ah! Tapi kau tidak suka coklat! Bagaimana dengan membelikanmu buku?” tanyanya lagi.
“Aku lebih suka kau membelikanku mie instan,” jawab Theo diiringin tawanya. Güliz menghela napas kesal.
“Aku akan membelikanmu mie instan satu kontainer besar! Kau harus menghabiskannya dan tidak boleh kauberikan kepada siapa pun!” Theo semakin tertawa geli. Hanya di depan Güliz ia bisa tertawa lepas seperti ini. “Jangan merengek padaku saat kau sakit karena memakan mie instan satu kontainer! Aku akan dengan senang hati menjebloskanmu ke dalam rumah sakit!”
Theo menggapai kepala Güliz lalu mengusapnya dengan keras sehingga membuat rambut Güliz berantakan. Theo selalu suka melakukannya pada Güliz saat gadis itu sudah kesal kepadanya. Güliz mengambil tangan Theo lalu mencoba menggigitnya, tetapi Theo dengan cepat menarik tangannya. Karena tidak berhasil membalas perbuatan Theo, Güliz menggunakan kertas menu untuk memukul Theo. Güliz memukul Theo dengan kekesalan yang ia punya, Theo menghindar dengan tangannya sembari terus tertawa.
“Ya Tuhan! Kau semakin menyebalkan!”
Theo masih tertawa geli. Güliz memilih untuk melihat jalanan dari jendela besar yang menghadap langsung toko coklat Hersey’s penuh oleh turis dari berbagai negara. Rencananya setelah selesai makan ia akan mengajak Theo ke toko itu untuk membeli coklat kesukaannya. Beberapa saat menunggu, pesanan mereka tiba. Güliz menatap makanan dengan berbinar. Mata hijau kebiruannya berkilat-kilat senang.
“Penantianku akhirnya usai! Ini enak sekali!” ucapnya dengan gembira sembari mengunyah makanan. “Theo, kau harus mencicipnya,” tawar Güliz.
“Sedikit saja.” Güliz menyendok makanannya lalu menyuapi Theo yang mengangguk setuju bahwa makanan tersebut lezat. “Rasanya pas, bisa kau tambahkan lada sedikit supaya lebih enak,” saran Theo.
“Benar! Jadi lebih enak!” Theo tersenyum sombong karena ucapannya benar. “Kapan-kapan kita akan ke sini lagi jika kau punya waktu luang. Kau sekarang sudah sombong, bertemu denganmu pun harus menunggu tiga bulan. Jika kau punya pacar, pastilah pacarmu akan menyerah di minggu pertama berkencan denganmu,” ejek Güliz.
Theo kembali tertawa geli. Apa yang Güliz katakan mungkin memang benar. Ia tidak punya cukup waktu bila ia mempunyai pasangan karena waktu Theo semuanya tersita untuk dua pekerjaan. Lagi pula menjadi agen FBI membuat Theo was-was kepada orang yang dikenalnya dekat. Bisa saja penyamarannya bocor dan musuh akan berbalik menyerangnya. Titik lemah tentu saja kepada orang-orang yang mengenal Theo. Theo tidak ingin orang-orang yang tidak bersalah harus mendapatkan luka dari tugasnya.
“Berarti dia tidak benar-benar mencintaiku,” ucap Theo sambil meminum minumannya. “Seperti itu saja ia tidak mampu berkomitmen, bagaimana kedepannya?”
“Apa pandanganmu soal cinta masih tetap sama seperti dulu?” tanya Güliz penasaran.
“Hal apa yang membuatku harus mengubahnya sekarang?” pertanyaan Theo sekaligus menjawab tanya yang Güliz ajukan. “Cinta itu tidak menjamin kebahagiaan, yang menjamin kebahagiaan itu adalah kedamaian. Berdamai dengan hati sendiri bahwa semua akan baik-baik saja tanpa cinta.”
Güliz menatap Theo cukup lama, entah apa yang terjadi kepada Theo hingga ia tidak pernah mau mengakui ia butuh cinta di hatinya. Entah apa yang terjadi di masa lalu sehingga membuat Theo menutup pintu hatinya begitu rapat untuk dimasuki. Güliz sendiri hanya bisa memendam rasa cintanya untuk Theo sampai sekarang. Ia tidak ingin Theo menjauhinya bila suatu saat Theo tahu apa yang ia rasakan untuknya.
“Kau manusia paling aneh,” ejek Güliz akhirnya mengalah. “Tunggu saja sampai saat kau jatuh cinta. Aku akan mengejekmu habis-habisan.”
Theo tersenyum kecil. “Silakan saja bila kau mampu.”
Keduanya melanjutkan makan sembari terus mengobrol mengenai banyak hal. Bercerita dengan Güliz selalu membuat Theo seakan melupakan bebannya. Güliz juga sangat pintar menghibur Theo yang kaku. Tidak banyak orang yang bisa sedekat ini dengan Theo van Kuiken, jika pun ada berarti orang tersebut beruntung.
TBC...