Raja malam sudah lama muncul di langit. Tidak bulat sempurna dan bintang juga tidak terlihat di atas permadani angkasa. Theo yang lelah baru tiba di apartemen pada pukul sepuluh malam. Saat ia tiba, dua kucing dan satu anjing miliknya menyambut Theo dengan riang. Theo bermain sejenak sebelum memutuskan untuk makan malam. Ia memegang pipinya yang terasa cukup sakit. Terlihat memar di bagian tulang pipinya. Ia memutuskan untuk mengompres dengan es batu sembari menyiapkan makan malam. Malam ini ia makan sambal tempe kering dan ikan teri, kemudian rendang serta telur goreng. Untuk sambal tempe kering dan ikan teri beserta rendang, Theo sengaja memesan pada orang Indonesia yang tinggal di New York, seorang perempuan yang telah bekeluarga dan membuka bisnis masakan Indonesia. Theo selalu memesan banyak dan ia simpan di lemari pendingin. Saat ingin makan, ia tinggal menghangatkannya.
Ia makan dalam diam ditemani kucing dan anjingnya yang bermain. Dari jendela besar yang menghadap gedung-gedung bertingkat, Theo melihat keramaian kota yang dijuluki sebagai ‘kota tidak pernah tidur’. Sama seperti dirinya yang hampir tidak pernah beristirahat karena ia memegang dua pekerjaan. Sebagai FBI dan pegawai di perusahaan media massa. Theo sempat terpikir untuk berhenti bekerja sebagai pegawai, tetapi itu dilarang karena pekerjaan Theo tersebut bisa menghubungkan Theo ke banyak relasi penting yang dapat mereka butuhkan untuk menyelidiki banyak hal. Selain itu pekerjaan Theo dibutuhkan untuk menutupi identitasnya sebagai FBI.
Theo tiba-tiba teringat dengan keluarganya di Indonesia, ia mengambil ponsel dan menelepon nomor pamannya. Dua kali ia menelepon tetapi belum diangkat. Theo akhirnya memutuskan untuk mandi lalu mengisi daya baterai ponselnya. Selesai mandi Theo ingin beristirahat, tetapi bunyi pesan tiba-tiba masuk ke ponselnya. Dari pamannya menanyakan mengapa Theo menelepon.
“Bagaimana kabarnya, Paman dan Bibi?” tanya Theo dengan senyum senang.
“Alhamdulillah baik, Theo. Kamu bagaimana kabarnya? Kapan pulang?”
Wajar saja pamannya selalu bertanya kapan Theo pulang, pasalnya semenjak ia meninggalkan Indonesia untuk pertama kali, belum pernah Theo kembali lagi ke tanah kelahirannya. Pekerjaannya sebagai FBI dan pegawai perusahaan menyita waktunya. Bila libur pun tidak pernah banyak dan Theo menghabiskan hari liburnya untuk memata-matai musuh. Güliz pun pernah memarahi Theo karena terlalu sibuk.
“Baik juga, Paman. Entahlah kapan bisa pulang. Sekarang masih sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Aku pasti akan pulang ke Indonesia.”
“Iya jangan sampai tidak pulang, rumah warisan nenek kamu terbengkalai, dihancurkan tidak bisa karena tidak ada izin dari ahli waris. Sayang loh rumah nenek kamu itu rumah buatan Belanda. Batu-batunya masih bagus, masih terawat karena paman yang bersihkan sebulan sekali. Ada yang mau sewa tapi paman tidak berani kasih izin karena kalau di tangan orang nanti tidak terawat,” ceritanya penuh semangat.
“Iya, itu kenang-kenangan terakhir milik nenek dan juga rumah masa kecil mama. Aku ingin tetap menjaganya,” balas Theo sambil mengenang rumah kecil milik neneknya. Rumah itu sangat mudah dikenali karena berada di pinggir jalan lintas timur Sumatera. Bentuknya yang berbeda dari kebanyakan rumah panggung dan rumah baru di sekitar sana. Tidak jauh dari rumah itu ada kuburan tua milik orang-orang Belanda yang dimakamkan di sana, ada juga kuburan Kristen di pinggir jalan yang berada di antara kebun karet. Nenek Theo dikubur di kuburan Kristen, Theo melihat banyak nama-nama orang Belanda yang juga dimakamkan di sana.
“Iya makanya paman benar-benar rawat. Kemarin, bibimu nanam bunga di sana. Katanya biar asri meskipun tidak ditunggu. Buah jambunya masih manis, kemarin juga ambil dan dibagi-bagikan sama tetangga.” Theo senang mendengar cerita pamannya tentang kampung halaman yang sudah lama tidak ia lihat. “Tapi jalanan sekarang ke sana macet, Theo. Jalan aspal mulai rusak, kalo hujan tanah merah di sebelah aspal bikin becek. Jalan alternatif cuma satu, itu pun jalannya sempit dan jelek.”
Cerita pamannya berlanjut sampai satu jam kemudian. Sambungan putus karena pamannya sadar bahwa di New York saat ini tengah malam sementara di Indonesia tengah hari. Setelah menelepon keluarganya perasaan Theo membaik meskipun tidak mengobati rindunya pada kampung halaman. Theo membuka laci di samping tempat tidurnya, ia membuka kotak yang berisi harta karun yang ia bawa dari Indonesia. Di sana ada foto saat ia ulang tahun ke lima, ada ayah dan ibunya beserta Theo yang tengah meniup lilin. Di sebelah kiri ibunya, ada neneknya yang tersenyum melihat Theo meniup lilin.
Di dalam foto itu tertuang kebahagiaan yang Theo rindukan. Tiap kali ia mengingat keluarganya, bayangan mayat ayah dan ibunya yang bersimbah darah menari di benak Theo. Theo masih ingat luka yang diterima ibunya waktu itu hampir memisahkan tubuh dan kepalanya. Setiap mengingat itu Theo akan menangis tersedu seorang diri di kamar. Luka yang diterima ayahnya pun tidak kalah parah, wajah yang penuh luka karena dipukuli dan luka akibat benda tajam. Ini yang Theo benci dari ingatannya, ia bisa mengingat sangat rinci dari luka lamanya.
“Ayah, Mama. Theo pasti akan menangkap orang-orang yang telah membunuh kalian,” ucapnya sambil menyentuh wajah ayah dan ibunya di dalam foto. “Sampai saat itu tiba, Theo mohon Ayah dan Mama bersabar sedikit lagi. Theo berjanji akan menghukum mereka setimpal.”
Senyum Iriane di dalam foto seakan membuat Theo kembali merasa kuat. Ibunya adalah malaikat bagi Theo. Ia hanya sempat merasakan kasih sayang yang sedikit dari kedua orangtuanya. Setelah itu neneknya yang membesarkan Theo dengan kasih sayang. Meskipun Theo dan neneknya berbeda keyakinan, neneknya tidak pernah memaksa Theo mengikuti keyakinannya. Justru neneknya selalu memerintah Theo untuk mengaji setiap sore di masjid dekat rumahnya. Ia juga selalu mendidik Theo untuk taat kepada pencipta sesuai kepercayaan yang Theo anut dari lahir.
“Oma, ik mis je, (Nek, aku rindu)” Theo dan neneknya selalu berbicara dalam bahasa Belanda di kehidupan mereka sehari-hari. Theo yang meminta karena dulu ia bisa membanggakan diri pada teman-temannya bahwa ia bisa berbahasa Belanda. “Dank je dat je altijd mijn regenboog na de storm wilt zijn. (Terima kasih karena selalu menjadi pelangiku setelah badai datang)” Theo mengusap foto neneknya yang juga tersenyum melihat Theo tengah meniup lilin.
Setelah melihat foto tersebut, Theo membuka surat dari neneknya. Surat yang selalu Theo buka saat ia butuh kekuatan. Surat itu ditulis di kertas yang sudah cukup lusuh, tetapi masih terawat karena Theo menyimpannya dengan hati-hati. Itu adalah surat terakhir yang Theo temukan di bawah bantal kamar tidur neneknya sesaat setelah neneknya meninggal. Surat itu ditulis dalam bahasa Belanda dengan huruf sambung yang indah. Tulisan tangan neneknya.
Theo mijn liefste kleinzoon…
Ik hou zoveel van je, omdat je zonder twijfel de liefste kleinzoon in hele wereld bent, mijn lieve schat. Onthoud dat als ik er niet meer ben, je altijd mijn kleine lieve Theo blijft. Ik wens je heel veel geluk en gezondheid in je leven. (Untuk Theo cucu tercintaku…Nenek sayang padamu, tidak ada keraguan di dunia ini yang mengatakan bahwa kamu adalah permataku yang paling berharga. Ingatlah saat nenek tidak ada, kau harus tetap menjadi Theo yang sopan, santun, dan baik. Doa nenek selalu menyertaimu sepanjang hidup dan mati.)
Je Oma (Nenekmu)
Theo mengusap air matanya perlahan. Meskipun dari luar ia terlihat sangat kuat, tetapi tidak di dalamnya. Dia lebih suka mengadopsi rasa sedihnya seorang diri. Dia bisa bertahan bila orang lain yang menyakitinya, dia bisa melawan bila bahaya datang kepadanya. Namun, dia tidak akan bisa melawan kala kesedihan itu datang dari orang yang paling berharga untuknya dan bahaya itu datang menghampiri orang tercintanya. Ia menutup surat itu kemudian mengembalikannya ke tempat asal. Mulai saat ini ia harus kembali mendikte dirinya untuk fokus mencari siapa yang telah membunuh kedua orangtuanya. Akan ia kejar sampai ujung bumi untuk membalaskan dendamnya. Dia bukan hanya pengingat, tetapi juga pendendam untuk hal-hal tertentu.
TBC...