New York City, Tribeca, 4 Februari 2018
Jam menunjukkan pukul dua siang sewaktu Theo memasuki kedai kopi pinggir jalan. Cuaca di luar sangat dingin. Bulan Februari merupakan puncak musim dingin dan ia sebagai orang yang biasa hidup di negara tropis meskipun sudah hampir delapan tahun menetap di Amerika, Theo terserang penyakit rutinnya tiap tahun. Flu. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk menghangatkan diri dengan kopi sebelum melanjutkan perjalanan menemui seorang target yang telah berhasil mereka lacak.
Setelah mendapat kopi hangatnya, Theo menyeruputnya dengan nikmat sembari menatap jalanan yang cukup sepi. Musim dingin seperti ini New York City bisa terlihat sepi meskipun skala sepinya berbeda dengan tempat lain. Orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah dibanding keluar di musim dingin. Saat ia tengah menikmati kopinya, Theo merasakan ponselnya berdering. Ia melihat panggilan masuk dari temannya.
“Saya sedang tidak sehat. Flu karena musim dingin,” jawab Theo saat temannya menanyakan kabar. “Tidak apa-apa, akan sembuh sebentar lagi.”
Yang meneleponnya adalah Teressa Magnar, sudah beberapa hari ia tidak bertukar kabar dengan Teressa. Semua Theo lakukan karena demi pekerjaan. Ia yang pendiam pun harus berubah menjadi orang yang banyak omong demi memainkan peran. Tidak ada rasa tertarik yang Theo rasakan pada Teressa. Yang ada hanyalah perasaan kasihan karena wanita tidak bersalah itu harus ia tipu demi mendapatkan informasi.
“Terima kasih atas perhatian Anda. Saya sudah merasa lebih baik,” ucapnya diiringi tawa palsu.
Panggilan berakhir dan Theo meletakkan ponselnya dengan sembarang di meja. Ia kembali menyesap kopi pahit yang akhir-akhir ini menjadi candunya. Ia baru tahu kenapa kopi terasa lebih nikmat dibanding teh, karena mencium aroma khasnya menenangkan. Ia ingat dulu pamannya selalu meminum kopi setiap pagi, bibinya yang membuatkan dan Theo selalu menolak saat pamannya menawarkan kepada Theo.
Ia jadi merindukan rumah pamannya, sudah lama Theo tidak bertukar kabar kepada mereka. Kira-kira sudah satu bulanan ia tidak menelepon. Bagi Theo sekarang, hanya keluarga pamannya yang ia anggap keluarga. Adik bungsu ayahnya itu memang berbeda dari kebanyakan keluarganya yang lain. Meskipun perekonomiannya cukup sulit, ia memperjuangkan Theo untuk diasuh olehnya. Ia pernah tinggal di panti asuhan kala perekonomian pamannya sangat terbatas, saat perekonomian pamannya mulai meningkat, pamannya menjemput Theo untuk tinggal bersama. Sekarang ia yang membalas jasa itu. Setiap bulan ia selalu mengirimkan uang rutin kepada mereka. Gaji sebagai pegawai pemerintah yang Theo terima cukup fantastis untuk ukuran orang Amerika apalagi Indonesia. Dulu ia serba kekurangan, sekarang apa yang ia mau bisa ia dapatkan. Benar kata-kata yang pernah diucapkan atasannya dulu bahwa ‘selembar kertas yang bisa membeli dunia’ memang benar adanya.
Setelah kopinya habis Theo keluar dari kedai kopi dan melanjutkan perjalannya ke sebuah bar kecil di sudut jalan. Di sana banyak anak muda yang mengkonsumsi obat terlarang. Merokok dan minum-minuman keras. Perdagangan ganja di sana cukup umum untuk ditemui. Ia tidak mempermasalahkan hal tersebut karena bukan urusannya. Saat ia memasuki bar kecil tersebut semua mata tertuju padanya. Theo tetap tenang seolah dia hanyala pengunjung di sana. Ia mendekati meja bar dan memesan minuman. Tidak lupa Theo menyalakan rokok. Sebenarnya ia benci harus meminum alkohol dan merokok, tetapi demi tugas ia harus rela menjejali tubuhnya dengan hal yang tidak ia sukai.
“Silakan,” ucap pelayan yang memberikan minum kepada Theo. Theo mengangguk sambil terus merokok.
“Terima kasih,” ucap Theo mengambil minumnya. Menyesapnya sedikit. Pahit. Theo tidak pernah suka rasanya. “Bar ini selalu sepi?” tanya Theo berbasa-basi.
“Biasanya cukup ramai,” jawab sang pelayan yang tengah mengelap beberapa gelas. “Saya baru pertama kali melihat Anda di sini.”
Theo mengisap rokoknya dengan perlahan. Tidak jauh darinya ada seorang pria dan wanita yang sama-sama minum sepertinya. Sang pria adalah targetnya, namanya Dexter Wu. Pria Tiongkok penyuplai sabu-sabu. Bukan soal dia adalah penyuplai sabu yang Theo akan selidiki, tetapi soal keterlibatannya dalam penyuntikan dana besar-besaran untuk operasi bisnis menguasai dunia. Dari data yang mereka miliki, Dexter Wu bekerja sebagai agen properti di Santa Monica, California. Namun, pekerjaan itu hanya sebagai tameng dari bisnis penyelundupan narkoba miliknya dan keterlibatannya dalam perkumpulan orang-orang yang ingin menguasai dunia. Dia sudah menjadi incaran kepolisian Amerika, tetapi mereka menunggu waktu yang tepat untuk penangkapan karena ada beberapa kendala dan juga mereka harus berhati-hati untuk menangkapnya mengingat ia orang yang cukup berpengaruh di perkumpulan orang-orang yang ingin menguasai dunia. Mereka harus beroperasi senyap agar bisa menyelidiki yang lainnya.
“Ya, aku mampir karena melihat bar ini. Di luar sangat dingin. Aku butuh menghangatkan diri,” jawab Theo atas pertanyaan sang pelayan. “Sepertinya aku akan sering mampir ke sini lain kali. Aku suka rasa minuman buatanmu ini. Pas!” dusta Theo.
“Terima kasih! Saya sangat tersanjung,” ungkapnya yang Theo yakin sangat senang.
Theo kembali berpura-pura menikmati minum dan rokoknya, ia menunggu saat yang tepat untuk berinteraksi dengan target. Theo memikirkan cara bagaimana menciptakan keadaan ia dan target dapat berinteraksi lalu memulai obrolan. Dari sudut matanya, Theo melihat sang target mengenakan jam tangan bermerek Patek Philippe edisi cukup baru. Kemeja Turnbull & Asser melekat di tubuh kecilnya. Dari caranya berpenampilan, Theo dapat menyimpulkan pria itu mengerti tentang fashion. Theo tersenyum senang karena berhasil menemukan cara untuk berinteraksi dengan target.
“Tambah lagi,” ucap Theo kepada pelayan sambil menyodorkan gelas minumnya.
Gelas minumnya sudah penuh kembali, Theo mengambil ponselnya lalu berpura-pura mengangkat telepon sembari menenteng minumannya. Ia akan memakai cara murahan, tetapi dijamin akan memperlancar aksinya.
“Halo, Bill? Suaramu tidak terdengar. Musik di sini cukup keras! Tunggu aku akan pindah tempat!” Theo berjalan dan ia sengaja menyandung kakinya lalu minuman itu mengenai kemeja serta jam tangan milik targetnya. Cara murahan, tetapi berhasil ia peragakan untuk mendapatkan atensi target. “Oh Maaf!” ucapnya dengan nada terkejut campur menyesal.
Dexter Wu juga sama-sama kaget karena lengan baju sebelah kiri dan jamnya basah oleh minuman milik Theo. Dari gurat wajahnya yang sempat Theo tangkap, ia kesal setengah mati. Dia mengumpat dalam bahasa Mandarin yang Theo paham artinya. Tidak heran bila ia mendapatkan makian itu karena Theo baru saja membasahi kemeja mahal dan jam mahal miliknya.
“Maafkan saya Tuan! Saya benar-benar tidak sengaja! Ya ampun, bagaimana ini?” Theo menampakkan raut wajah paniknya. “Bill, aku dalam masalah. Nanti aku akan meneleponmu lagi.”
“Kau tidak punya mata! Sialan!” umpatnya untuk Theo. Wanita di sampingnya berusaha menenangkan sang pria. Theo tampak sangat menyesal di balik wajah bersalahnya. “Bajuku ini baju mahal! Jam milikku juga mahal!”
“Maaf Tuan, saya benar-benar minta maaf!” Theo melihat pria itu melepas jam tangannya yang basah lalu memeriksanya. Theo yakin jika jam itu asli maka tidak akan ada kerusakan di sana. Ia melihat bagian belakang jam tersebut dan mengambil tisu untuk mengelap bagian yang basah. Theo berinisiatif membantu sebagai bentuk permintaan maaf. “Boleh saya lihat jam Anda sebentar. Saya cukup mengerti mengenai jam,” ucap Theo dengan hati-hati. Dexter Wu kembali murka, tetapi ia memberikan jam itu kepada Theo.
Theo dengan cepat mengambilnya lalu mengingat setiap detail bagian belakang jam tersebut. Nomor seri yang ada di belakang jam tangan tidak akan sama satu sama lain meskipun memiliki model sama. Apalagi jam tangan mahal seperti milik Dexter Wu, sudah pasti nomor seri tersebut sebagai penanda keaslian sewaktu pengecekan barang. Jangan ragukan soal ingatan Theo van Kuiken yang bisa mengingat detail angka sesulit apa pun.
“Untunglah jam Anda tidak apa-apa. Maafkan saya sekali lagi,” Theo mengembalikan jam tangan milik Dexter Wu. “Atau saya boleh meminta nomor Anda? Saya takut terjadi apa-apa nantinya pada jam Anda, saya siap bertanggung jawab.”
Dexter Wu yang masih marah tampak keberatan dan langsung memukul Theo di wajah. Theo tentu saja tidak membalas meskipun ia bisa melakukannya. Ia tidak ingin gegabah, saat ini ia tengah menjalankan tugas, menjadi orang bodoh pun ia lakoni demi memperoleh informasi. Theo mengusap wajahnya yang terasa sakit di bagian tulang pipi. Darah dari gusinya yang terluka mengalir di sudut bibir.
“Minggir! Orang miskin sepertimu tidak akan mampu! Orang Amerika miskin!” ucapnya dengan nada rasis. Theo menunduk seolah perkataan yang diucapkan Dexter Wu benar adanya. Setelah Dexter Wu keluar dari bar dengan raut wajah marah, Theo van Kuiken justru tersenyum senang. Ia sudah mendapat informasi yang sangat berguna. Sang pelayan prihatin melihat Theo yang tampak terpukul.
“Dia salah satu langganan kami, orang kaya dan cukup berbahaya. Sebaiknya Anda tidak pernah ke tempat ini lagi jika ingin aman,” nasihat sang pelayan kepada Theo. Theo mengambil napas dalam seolah-olah ia masih terpukul. “Saya punya obat bila Anda butuh untuk pipi Anda,” tawarnya.
“Tidak perlu, terima kasih. Saya akan pergi dari sini,” pamit Theo sambil mengeluarkan uang untuk membayar minumannya. Setelah ia keluar, Theo menoleh ke arah kanan dan kiri. Dexter Wu sudah benar-benar pergi. Theo bergegas menuju ke markas FBI untuk menganalisis informasi yang baru ia dapatkan. Hanya dari seri angka jam tangan, Theo yakin bisa mendapatkan banyak informasi. Misalnya saja ia akan tahu atas nama siapa jam tangan itu dibeli, menggunakan pembayaran melalui apa, mereka bisa meretas akun bank milik Dexter untuk tahu ke mana saja ia menyuntik aliran dana. Mereka akan menyelidiki satu persatu nama yang terlibat di dalamnya. Bila ia memiliki banyak akun, tidak masalah karena semua akan ketahuan dari bukti transfer. Cara kerja FBI memang luar biasa, oleh sebab itu kecerdasan mereka sangat dibutuhkan.
“Mulai terasa menarik,” gumam Theo yang mulai menyukai misteri kasus tersebut.
TBC...