Kini, mereka berempat tengah berkumpul di sebuah kamar hotel yang luas. Dua laki-laki dan dua perempuan termasuk Zara. Mereka saling tertawa dan berbagi cerita. Tak hanya itu, mereka pun tak segan mengejek dan memberikan pukulan kala mereka kalah dalam sebuah permainan.
Hingga, "gimana kalau hukuman nya di ubah?" tawar salah satu lelaki bernama Denis.
"Hm?" Seolah ada alarm tanda bal
haya yang kini berbunyi di dalam otaknya. Zara sedikit was-was akan apa yang mereka lakukan selanjutnya. Ia tak boleh gegabah.
"Gimana hukumannya?" Tanya Alexa dengan sebelah alis yang terangkat ke atas.
"Yang kalah harus buka baju sampai permainan berakhir."
"s**t!" Maki Zara dalam hati namun tetap menampilkan wajah polosnya.
"Gimana Zara? Kamu setuju?"
"Jadi, aku harus buka baju kalau kalah?"
"Yup! Tapi tidak sekaligus, nanti jika saat bermain kamu kalah, buka bajumu terlebih dahulu. Jika kalah lagi, buka juga dalamanmu dan itu dilakukan seterusnya juga berlaku untuk semua pemain."
"Bukankah itu sangat memalukan?" Tanya Zara sedikit menunduk seraya meremat kedua tangannya. Dalam pandangan mereka, Zara terlihat sangat polos dan pemalu. Namun, yang sebenarnya adalah ia tengah menahan emosi yang siap meledak kapan saja.
"Kamu tenang saja Zara, kita tidak akan macam-macam, ini hanya sebuah permainan."
"Em... okey."
Suara Teo kembali terdengar lagi, "hati-hati Zara, mereka licik." Zara menganggukkan kepala mengerti. Ia yakin Teo kini tengah mengawasinya di balik CCTV ruangan ini. Setidaknya ia akan merasa aman jika ada Teo.
Permainan kartu di mulai.
Zara meringis kala mendapatkan kartu jelek yang pastinya akan mudah terkalahkan. Ia menatap ke arah Denis dan Jonathan dengan mata berkaca-kaca.
"Aku... kenapa bisa dapat kartu sejelek ini... hikss... hikss...." Tangis Zara dibuat-buat membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.
"Ingat baby, your punishment."
Zara pun dengan perlahan membuka pakaian yang ia kenakan sekarang. "Loh? Kok?" tanya mereka terkejut kala Zara melepasnya.
"Jaket juga termasuk pakaian yang aku gunakan kan?"
"Hah? Oh... i– iya." Mereka saling memandang seolah menyiratkan sebuah pesan dalam tatapannya.
"Okey kita lanjut."
Mereka bermain kembali, suasana penuh ketegangan yang di rasa oleh Zara berbeda dengan tiga orang lainnya. mereka menyeringai di balik kartu yang kini tengah mereka pegang.
"Hufftt... kalah lagi." Keluh Zara membuat ketiganya semakin tersenyum puas.
"Hukumannya sayang...." Ucap Alexa yang akhirnya mau tak mau Zara kembali membuka bajunya.
Namun, mereka kembali merasa geram kala baju yang di gunakan Zara berlapis-lapis.
"Baju panjang lagi?" Tanya Jonathan yang tak kuasa menahan rasa geramnya.
"Iya, hehehe Zara gak tahan dingin, suka alergi... makanya banyak pakai baju panjang dan tebal kalau ke luar negeri. Gapapa kan? Zara tetep buka baju kok sesuai peraturan permainan ini."
Mereka hanya bisa menganggukkan kepala namun raut wajahnya terlihat masam.
"Astaga... jangan sampe gue kalah yang ketiga kalinya." Batin Zara dengan harap-harap cemas menatap kartu yang kini baru saja di berikan padanya.
"Gue bilang mereka licik, Zara." Bisik Teo pada earphone yang di kenakan Zara.
Zara menghembuskan nafasnya lelah. Ia tak mungkin kan memperlihatkan tubuh seksinya di hadapan mereka kan? Ini gila!
Mereka kembali bermain dengan serius. Lagi-lagi, Zara mendapatkan kekalahan yang serupa. Mereka semua bersorak gembira kecuali Zara tentunya.
"Emm... tapi Zara malu... dan disini dingin."
"Tenang, aku siap memelukmu kalau kamu kedinginan." Ujar Jonathan dengan seringai tipis di bibir nya membuat Zara muak.
Zara mencengkram bajunya dengan kuat, "astaga... ini gila! ini gila! Gue gak mau buka baju!"
Tiba-tiba, suara ponsel salah satu dari mereka berbunyi nyaring membuat Zara bernafas lega.
Dilihat-lihat, sepertinya itu pembicaraan penting karena raut wajah Denis yang terlihat amat serius menanggapi si penelepon.
"Kita berangkat sekarang." Ucap nya seraya membawa jaket serta koper yang ia bawa sebelumnya.
"Misinya?"
"Ck, terlalu lama, mending langsung kita siarkan secara langsung saja."
"Jadi kita akan kemana?"
"Kita harus ke markas. Bos udah nunggu barang baru."
"Ini dia yang gue tunggu." Batin Zara berteriak girang.
"Lo ikut kita!" Tunjuk nya pada Zara membuat gadis cantik itu kembali memainkan perannya.
"Kok aku harus ikut? Emangnya kalian mau kemana?"
"Pokoknya tempat mengasikkan, lo gak bakalan nyesel." Satu kedipan Jonathan berikan pada Zara membuatnya menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Bukan karena terpikat, tapi karena menahan kesalnya yang sedari tadi ia tahan.
"Aku pake dulu ini." Ucap Zara seraya mengangkat baju dan jaketnya yang telah terlepas.
"Gak usah! kelamaan."
"Eh... tapi aku kan—"
"Ssstt... udah ikut aja, dari pada nanti kamu di marahin sama Denis." Ujar Alexa seraya memegang lengan Zara agar mengikutinya dengan cepat.
"Tapi aku alergi dingin."
"Tahan sebentar okey." Alexa menuntun Zara untuk memasuki taksi yang mereka berhentikan.
Perjalanan yang menghabiskan waktu hampir satu jam ini membuat Zara tertidur di pundak Alexa.
Wanita itu menatap Zara dengan sendu. "Sorry Zara." Batin nya kemudian menggenggam tangan Zara dengan erat.
Mereka telah sampai, udara disini terasa semakin dingin dengan beberapa tumbuhan dan juga salju yang menutupi jalan.
Zara menggigil dengan tubuh kemerahan. Nafasnya mulai terengah membuat Alexa panik.
"Denis! Jo! Tolong Zara!"
Kedua pria itu menengok kan kepalanya ke arah belakang dimana Zara kini tengah di topang oleh Alexa. Melihat keadaan Zara seperti ini, mereka yakin harga jual Zara akan menurun.
"Jaket!"
Ketiganya langsung menutupi Zara dengan tiga jaket yang mereka kenakan. Namun, tak berhasil. Nafas yang masih terengah kini semakin menjadi.
Alhasil, mereka pun dengan terpaksa membawa Zara ke tempat tahanan, bukan penjualan.
"Kita tinggalkan dia disini." Ucap Jo dengan nada datarnya. Alexa sedikit tak tega melihat keadaan Zara. Tapi mau bagaimana pun, ia hanyalah seorang bawahan yang tak mungkin melanggar perintah.
Sepeninggalan ketiganya, sosok yang sedari tadi duduk di pojokan dengan tangan dan kaki terikat pun mulai mendekat dengan cara menggeser kan badannya ke arah perempuan itu.
"D- dingin...." Gumamnya lirih namun masih terdengar oleh sosok itu.
Ia semakin mendekat, dan betapa terkejutnya ia kala wanita idamannya kini tengah berada dalam kondisi menghawatirkan.
Nafasnya semakin terengah dengan ruam yang semakin terlihat jelas.
"D- ding— in."
Sosok itu adalah Xenan, pria tampan yang kini terlihat mengenaskan karena telah lama di sekap di tempat kumuh ini. Matanya menatap sekitar berharap mendapatkan sesuatu agar bisa membantunya.
Namun nihil! Ide gila pun terlintas dalam benaknya. Ia mendekatkan wajahnya pada Zara, dengan perlahan bibirnya bertemu dengan bibir merah milik gadisnya itu. Semakin lama, ciuman itu menjadi sebuah lumatan yang menuntut sebuah balasan.
"Kenapa? Kenapa bisa senikmat ini." Pikirnya dengan terus memberikan ciumannya pada Zara. Ia pun berharap bisa memberikan kehangatannya pada Zara.
~~~~~