Dunia gempar karena kecelakaan dan menghilangnya pebisnis muda Xenan Gio Macmilan. Tak hanya itu, banyaknya investor yang menanyakan bagaimana tindak lanjut bisnis mereka jika Xenan belum segera di temukan.
Satu minggu berlalu tanpa ada kabar ataupun petunjuk. Supir yang saat itu mengendarai mobil Xenan telah meninggal dunia karena tembakan tepat mengenai jantungnya. Sedangkan Andana kini tengah menjalani perawatan di rumah sakit.
Hal itu membuat ayah dari Xenan, Harris semakin khawatir. Semua telah ia kerahkan, banyaknya polisi serta detektif yang turun untuk menemukannya.
Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk membuat janji dengan Black Jack. Ya, ia mengirimkan e-mail khusus yang bertujuan untuk membantunya mencari sang putra.
Satria yang tau ini akan terjadi pun menyeringai dengan tipis. Tangannya menekan tombol panggilan pada Zara.
"Sayang, bersiaplah! Akan ada misi buatmu."
"Koordinat nya?"
"Akan daddy kirim kan, kamu bersiaplah."
Zara pun menyiapkan beberapa peralatan untuk ia gunakan dalam misi kali ini. Tak lupa dengan beberapa suntikan yang telah ia beri obat dan pastinya mematikan milik sang Mommy.
Ya, Athena tak terjun langsung menjalani misi. Ia lebih memilih untuk memperdalam ilmunya dalam alkimia untuk di jadikan senjata.
Gadis cantik yang kini tengah mengikat rambutnya menatap tegas pada cermin. "Ini mudah! Lo akan kembali dengan selamat!" Gumamnya dengan tekad yang telah bulat. Ia memasang earphone nya dan betapa terkejutnya Zara kala suara seseorang yang di rindukan pun terdengar di telinganya.
"Baby Zara... kita satu misi. Tapi sorry, gue gak bisa terjun langsung."
"It's okey." Ucap Zara dengan singkat namun bibirnya tengah tersenyum lebar. Ya, ia sangat senang kala sahabatnya kembali.
Zara menatap sekitar berharap tak bertemu dengan Arkan. Karena jika ia bertemu dengan adik tampannya itu, pasti akan tertahan di mansion.
"Lokasi?"
"Gue belum dapet. Gila, sistemnya susah buat di bobol. Gue yakin mereka bukan penjahat ecek-ecek."
"Hm... Gue juga mikir kayak gitu." Zara memakai helm dan bersiap men-stater motornya, namun siapa sangka seseorang akan duduk di belakang dan memeluknya dengan erat.
Ia yakin ini akan sulit. Hufffttt... Sabar Zara. Gadis itu mengelus tangan yang kini tengah memeluknya dengan erat.
"Arkan, gue susah nafas b**o!"
"Biarin! Suruh siapa lo diem-diem perginya! Gak mau pamit sama gue lo?!"
"Hm... sorry, gue kira lo gak ada di rumah."
"Ck, kali ini kemana?"
"Gue juga ga–" Teo pun bersuara kembali kala ia mendapatkan lokasinya.
"Rusia, alamatnya di xxx."
"Serius lo?" Tanya Zara mencoba menyakinkan sesuatu yang di dengarnya.
"Serius gue. Bokap lo udah siapin penerbangan lo kesana. Tinggal otw bandara."
"Hm. Thanks."
Arkan terdiam, ia yakin kakaknya akan mendapatkan misi yang sulit. Dan ia pun yakin bahwa saat ini kakaknya akan pergi jauh darinya.
"Jangan pergi."
"Gak bisa, gue harus selesaikan misi."
"Gue ikut!"
"Kemana?"
"Misi lo!"
"No!!!" Bentak Zara kala mendengar ucapan Arkan. Ia tau betul adiknya seperti apa. "Sekarang lo turun, gue harus pergi."
"Tapi—"
Zara pun melunak kembali kala mendengar nada sendu dari Arkan. Ia menghela nafas berat kemudian turun dari motornya. Arkan pun mengubah duduknya jadi menyamping menatap ke dalam manik mata Zara.
"Lo percaya sama gue! Gue bakal balik dalam waktu satu minggu."
"Kelamaan Zara...."
"Itu udah paling sebentar buat misi kelas SS."
Arkan menundukkan kepalanya kemudian memeluk Zara kembali. "Janji ya, lo harus pulang dengan selamat."
"Iya, gue janji."
Zara melepas pelukannya kemudian mencium kening dan kedua pipi Arkan. "Gue pergi dulu, jaga Mommy."
"Hmm...." Sekali lagi, Arkan memeluk Zara dengan erat. Tangannya seperti terkena lem yang sangat sulit untuk di pisahkan.
"Gue berangkat ya... Bye Arkan jelek."
"Bye Zara gendut!"
Zara pun akhirnya meninggalkan mansion dengan motor besarnya. Ia akan menitipkan motornya di bandara agar saat pulang nanti ia lebih mudah untuk kembali ke mansionnya.
Teo memberikan wejangan dan juga beberapa lokasi yang akan Zara tempuh nanti. Selama perjalan, Zara fokus dengan jalan yang ada di hadapannya juga perkataan Teo.
~~~~~
Zara tengah berada dalam penerbangan menuju Rusia. Ia yakin misi kali ini akan menguras otak dan tenaganya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.
Matanya terpejam untuk beberapa menit saja. Cantik, itulah yang kini mereka saksikan kala menatap Zara yang tengah tertidur dengan pulasnya. Ada dua lelaki yang dengan berani mengambil fotonya, ada pun wanita yang kini tengah duduk di sampingnya seraya bersandar pada pundak Zara.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Wajah bak dewi itu kini tengah tertidur dengan tentram nya membuat mereka memiliki kesempatan untuk lebih lama menatap pada Zara. Ketiganya memberi kode yang hanya mereka tau.
Beberapa saat kemudian, Zara pun terbangun membuat orang-orang itu berhenti menatapnya.
Manik biru itu kini menatap awan yang tengah sejajar dengan nya. Hufftt... Kapan ia akan sampai?!
Earphone nya kembali berbunyi membuat Zara dengan segera menyiapkan pendengaran nya.
"Target ada di sekitar lo."
"Wanita kisaran 25 tahun tepat di sebelah lo, dan dua lelaki yang ada di kursi depan lo. Mereka satu komplotan."
"Gimana pun caranya, lo harus ikut sama mereka, karena gue yakin mereka suka lo!"
Zara memiringkan kepala tanda tak mengerti. Suka? Dalam hal apa?
Teo pun kembali bersuara karena ia yakin sahabatnya itu bertanya-tanya akan apa yang ia maksudkan.
"Mereka suka lo buat di jual!"
"s**t!" Geramnya dalam hati. Akhirnya Zara pun memulai aktingnya. Air mata mulai keluar dari kedua pelupuk mata indah itu. Dan target pun terpancing.
Dengan perhatiannya sang target menggenggam tangan Zara untuk menguatkan.
"Hey... are you okey?"
"No, i'm not hikss... hikss..."
"You can share stories with me."
"Yes, my boyfriend is cheating. I left him for Russia so I could forget him. Hiks... hiks..."
"Don't worry about it, you are not alone, i have by your side."
Zara menatap hari pada wanita di sampingnya kemudian membawanya ke dalam pelukan Zara. "Thank you."
"You're welcome... oh, what's your name?"
"My Name is Zara, and you?"
"I'm Alexa."
Zara menatap Alexa dan tersenyum dengan manisnya. "Thank you Alexa."
"Hmm... It's ok."
Mereka pun saling berbagi cerita. Dengan macam-macam pembahasan yang membuat mereka semakin terlihat akrab.
Dan... Zara pun akhirnya bisa ikut dengan Alexa sesuai dengan keinginan wanita itu karena terus memaksanya untuk ikut.
"Aku akan memakan umpanmu kali ini." Seringai tipis Zara yang begitu menyeramkan pun muncul tanpa di ketahui oleh siapa pun.
~~~~~