Arkan membawa Zara ke pusat perbelanjaan. Bukan hanya untuk membeli baju saja, ia pun ingin sekali membelikan sesuatu untuk Zara. Terlihat senyum di wajah Arkan membuat wajahnya menjadi cerah. Berbeda sekali dengan tadi yang terlihat muram sekali karena kesedihannya.
Secepat kilat Arkan memilihkan satu setel baju untuk Zara agar bisa cepat mengajak kakaknya ke tempat tujuan utama mereka. Arkan memilihkan kaos hitam dengan celana jeans putih membuat perpaduan yang sangat indah menempel di tubuh Zara.
"Cantik, yaudah gue bayar dulu ya." Zara hanya mengangguk mengiyakan ucapan Arkan. Jarang sekali ia di teraktir seperti ini oleh adiknya. Biasanya kan Arkan yang selalu minta di belikan apapun oleh Zara.
Adiknya itu kini tengah kembali dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Tak lupa juga ia ulurkan tangannya pada Zara untuk di genggam oleh sang kakak. Adik kakak yang membuat orang lain salah paham dan menganggap mereka sepasang kekasih.
"Emang kita mau kemana sih?"
"Nanti juga tau."
Tak banyak tanya lagi, Zara kini mengubah genggaman tangannya menjadi sebuah rangkulan. Ia memeluk lengan Arkan dengan kepala yang di sandarkan pada pundaknya. Mata Zara terpejam dengan langkah yang terus berjalan berdampingan dengan Arkan.
"Cape ya?"
"Hmm." Arkan mengelus surai panjang Zara. Hingga akhirnya ia sampai di toko tujuan mereka.
"Sampai." Mendengar hal itu, Zara membuka matanya perlahan dan dengan cepat mata Zara langsung berkilat kala melihat toko tersebut. Wajahnya kembali ceria saat melihat barang yang berada di toko itu.
"Waktunya cuci mata."
Zara bersorak girang dan memeluk erat tubuh Arkan. "Akhirnyaaaa.... Come to mama, baby." Teriak Zara seraya memasuki toko itu.
Ternyata Arkan memang tau apa yang di butuhkan Zara. Gadis cantik itu berlari kecil melihat setiap skateboard yang menarik perhatiannya. Matanya berbinar bak mendapat uang ratusan juta.
Ia bahkan sampai melupakan Arkan, orang yang membawanya kesini. Astaga.
Melihat betapa antusiasnya sang kakak membuat Arkan semakin tersenyum cerah. Ya, setidaknya ia bisa melupakan kesedihan karena kejadian tadi.
Seseorang yang sedari tadi mengintai mereka pun melaporkan apa yang di lihatnya saat ini.
Di sebuah gedung pencakar langit, Xenan tersenyum menatap potret yang di kirimkan salah satu anak buahnya. Di sana terpampang jelas wajah ceria dari pujaan hatinya.
Namun yang jadi pertanyaan dalam benaknya saat ini adalah kenapa ada luka di wajah cantiknya? Dan siapa yang berani melakukan itu padanya?!
Xenan memerintahkan kembali untuk mencari informasi Zara lebih dalam lagi. Hingga, suara ketukan pada pintu ruangan nya membuat fokus Xenan teralihkan.
"Masuk."
Masuk lah Andana dengan beberapa proposal yang berada di tangannya.
"Selamat siang Pak, saya akan membacakan jadwal bapak selanjutnya."
"Hm..."
"Pukul 13.00, bapak akan melakukan rapat dengan PT. Sinar Jaya, Tbk. Di restoran Yezhekiel."
"Ada lagi?"
"Dan ini proposal yang harus bapak tanda tangani."
"Oke."
Akhirnya Andana pun pamit undur diri meninggalkan ruangan. Xenan pun memeriksa kembali proposal yang akan ia tanda tangani. Wajahnya begitu serius namun membuatnya terlihat semakin tampan.
Sesuai dengan jadwalnya, 30 menit kemudian Xenan pun bangkit seraya menenteng jasnya. Tak lupa dengan kacamata hitam yang selalu ia gunakan.
"Selamat siang, Pak." Ucap Andana seraya membungkukkan badannya kala melihat Xenan keluar dari ruangannya.
Andana dengan cepat mengikuti langkah Xenan yang kini berjalan di depannya. Tangannya fokus pada ponsel genggam yang dimana ada foto Zara terpampang jelas memenuhi layar ponsel milik Xenan.
Semangatnya seakan bangkit lagi kala melihat senyum indah dari Zara. "Hufftttt jangan sampe gue jadi penderita penyakit bucin hahahah...." Gumamnya dalam hati mentertawakan diri sendiri.
~~~~~
Restoran Yezhekiel merupakan tempat yang sangat cocok untuk melakukan sebuah pertemuan seperti rapat, acara keluarga ataupun untuk berkencan. Suasana yang damai dan juga memiliki design yang sangat cocok membuat para pengunjung merasa lebih relax.
"Atas nama Mr. Anthony."
"Baik, mari ikuti saya." Mereka melangkah menuju ruangan yang telah di reservasi oleh kliennya. Namun, langkah Xenan tiba-tiba terhenti kala meja di hadapannya memperlihatkan Zara dan juga Arkan yang tengah makan siang bersama.
Mereka tertawa bersama. Hal yang membuatnya semakin terbakar api cemburu. Terlihat Zara yang tengah bangkit dari duduknya hendak pergi.
Melihat ada kesempatan, Xenan pun berjalan kembali dan dengan sengaja membenturkan bahunya pada Zara.
"Awww...." Pekik Zara yang kemudian oleng karena tak sempat menahan tubuh nya. Xenan yang tau itu akan terjadi dengan cepat merangkul kan tangannya pada pinggang Zara.
Keduanya saling menatap dalam. Xenan yang mengagumi wajah Zara, beda lain hal dengan Zara yang kini tengah mengingat siapa pria di depannya saat ini.
"Ekhemm..." deheman seseorang yang ternyata Arkan membuat Zara dan Xenan akhirnya memisahkan diri.
"Ah.. maaf, tuan."
"Ya, gapapa." Jawab Xenan singkat kemudian matanya beralih pada Arkan yang kini berada tepat di belakang Zara dengan wajah paniknya.
"Kamu gapapa?" Tanya Arkan kembali memainkan perannya.
"Hm... aku gapapa kok."
"Yaudah sana, katanya mau ke toilet."
"Iya." Zara kembali menatap Xenan kemudian sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda minta maaf dan pamitnya.
Arkan melihat kebencian di wajah Xenan, entah apa yang sebenarnya pria dewasa ini pikirkan padanya. Namun, hal itu jelas tak membuatnya takut sama sekali. Arkan pun pergi meninggalkan Xenan untuk kembali ke tempat duduknya.
Akhirnya, Xenan pun kembali melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia akan melakukan rapat. Perbincangan yang amat serius membuat Xenan menjadi pribadi yang berbeda.
Setelah banyak berbincang dengan beberapa banyaknya ide lain untuk dimasukkan dalam kontrak kerja mereka. Akhirnya mereka pun menandatangani kontrak sebagai bentuk persetujuan kerjasama kedua perusahaannya.
Xenan pun menyambut uluran tangan Mr. Anthony yang kini tengah terulur padanya. Setelahnya, ia pergi meninggalkan restoran. Matanya kembali melirik sekitar mencari keberadaan gadisnya. Namun ternyata mereka telah pergi.
Andana membukakan pintu mobil untuk Xenan. Dengan segera ia pun memasuki mobilnya tanpa banyak bicara lagi. Jadwalnya telah selesai, pekerjaannya di kantor pun telah selesai.
"Hufffttt... Akhirnya aku bisa beristirahat."
Xenan mencoba memejamkan matanya karena merasa lelah. Namun, hal tak disangka terjadi kala suara teriakan serta tembakan terdengar di telinganya.
"Aaahhhkkk...." Teriak Andana yang ternyata terkena peluru pada bagian lengannya.
Xenan terkejut bukan main, ia melihat ke arah dua mobil yang ternyata kini berada di depan dan di belakangan nya.
"Astaga!!! Siapa yang berani-beraninya melakukan ini padaku?!"
Tiba-tiba, tembakan kembali terdengar dan kali ini, supirnya lah yang terkena sasaran nya. Hal itu membuat kemudian tak dapat di kendalikan dan membuat mobil oleng menabrak pepohonan.
Semuanya terasa mengerikan, hanya terlihat bayangan samar hingga akhirnya kegelapan menutupi penglihatannya. Ia di tarik dengan paksa keluar dari mobil.
Hingga, akhirnya ia pun merasakan sebuah pukulan pada pundaknya dan membuat ia kehilangan kesadaran.
~~~~~