Satria dan Arkan kini tengah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Tak terasa air mata remaja itu pun jatuh membasahi pipi nya teringat akan bagaimana dekat nya ia dengan sang kakak. Arkan berharap semoga Zara baik-baik saja.
Mereka memasuki lift dimana ada beberapa orang suster dan pengunjung wanita berada di dalamnya. Semua tertegun kala melihat Satria yang tampan dan gagah dengan Arkan yang juga memiliki ketampanan serupa dengan Satria.
Mereka saling berbisik dan merapikan penampilan agar terlihat oleh keduanya. Mereka mengira dua lelaki tampan dihadapannya saat ini adalah adik kakak.
"Lantai berapa ya?" Tanya Satria pada dirinya sendiri sembari memiringkan kepalanya mengingat percakapannya saat di telepon.
"Arkan, kamu tau lantai berapa?"
"Arkan gak tau. Emangnya–" Arkan langsung membulatkan matanya saat sadar akan kecerobohan yang di lakukan daddy nya itu.
"Jangan bilang kalau daddy lupa tujuan kita?!"
"Daddy?"
tt
"Yahh... punya bini dong."
"Pantes aja cakep nya sama."
"Pupus sudah harapan... haaahh."
Ucap mereka yang pastinya hanya bisa di ungkapkan dalam hati.
Satria yang mendengar ucapan anaknya itu pun langsung menatap Arkan dengan bengis seraya memencet tombol angka tiga.
"Daddy belum setua itu sampai lupa hal kecil di saat genting begini, Arkan."
"Ya habis, daddy tanya begitu, jadi Arkan simpulin kalau daddy lupa."
"Gak tuh, tanya aja sama susternya." Ucap Satria dengan yakin.
Arkan yang penasaran pun hendak menanyakan pada salah satu suster di sana, namun ia urungkan kala ia belum tau nama ruangan yang akan mereka tuju.
"Nama ruangannya apa dad?"
"Cempaka."
Seakan tau maksud dari perdebatan kedua pria tampan itu, suster pun menjawab dengan senyuman yang terbingkai di bibirnya.
"Iya betul, ruangan cempaka ada di lantai tiga."
"Daddy menang." Arkan yang mendengar itu pun hanya memutar matanya tak percaya akan tingkah Sang daddy karena tak ingin kalah dari anaknya.
"Dad, sebenarnya siapa yang masuk rumah sakit?"
"Kakak kamu—"
"Apa? Kakak? Daddy kenapa gak bilang dari tadi sih dad!"
"Ehhh... Ark—" Arkan langsung berlari keluar saat pintu lift terbuka. Dirinya langsung pergi begitu saja meninggalkan Satria.
"Loh? kok ke sana?" Tanya Satria saat melihat Arkan berlari ke arah yang salah.
"Ckck... biarin aja, dari awal dia udah salah paham duluan." Sekali-sekali jahil sama anak sendiri gapapa kan ya? Lanjutnya dalam hati.
Satria pun melangkah ke arah berlawanan. Dan di sana, nampak lah seorang gadis dengan baju seragam yang kini tengah kotor karena darah dari musuh dan juga sahabatnya Teo.
"Dad..."
"Are you okey sweetie?"
"Fine, hanya dapat luka kecil."
Satria meneliti keadaan anaknya. Beberapa memar di bagian wajah dan juga goresan pada lengan kanannya ternyata mampu di tahan oleh putrinya. Satria bangga akan kekuatan yang di miliki Zara.
Tangan besarnya itu merengkuh tubuh Zara untuk masuk dalam pelukannya.
"Kamu memang hebat, daddy bangga sama kakak. Lain kali jangan sampai terluka ya." Zara pun mengangguk dalam pelukan Satria.
Ya, ia paham betul akan apa yang di ucapkan oleh daddy nya. Karena jika ia terluka, pasti akan ada banyak orang yang menghawatirkan nya. Terlebih, sang adik— Arkan.
"Kakak!!!" Teriak nya seraya berlari menuju ke arah Zara. Satria dengan perlahan melepas pelukannya dengan Zara karena tau akan ada drama apa selanjutnya.
"Kakak... kakak gapapa kan? Ada yang luka? Siapa yang berani nyakitin kakak? Mana yang sakit? Sebelah mana?"
Arkan terus bertanya dengan air mata yang kini masih tertahan di pelupuk matanya. Zara tak tega melihat adiknya khawatir seperti ini pun akhirnya membawa Arkan dalam pelukannya.
Di situlah, tangis Arkan terdengar. Dalam pelukan kakaknya yang pasti dengan air mata mengalir deras membasahi baju Zara.
"Sssttt... kakak baik-baik aja, udah jangan nangis lagi."
"Kakak bikin Arkan takut." Lirih nya yang masih terdengar oleh Zara.
Zara senang kala adiknya memperhatikan ia sampai seperti ini. Walau mereka selalu bertengkar, namun ada kala dimana mereka selalu mencurahkan rasa kasih dan sayang mereka.
Dokter pun keluar dari ruang operasi, "keluarga pasien?"
"Saya dok." Jawab Satria dengan cepat.
"Pasien mengalami patah tulang di bagian rusuknya, juga ada beberapa luka di bagian kepalanya. Kami telah melakukan operasi darurat dan bersyukur pasien masih bisa di selamatkan."
Mendengar hal itu, Zara dan Satria akhirnya bisa bernafas lega. Ya, karena Teo dalam keadaan baik-baik saja.
"Kapan ia akan sadar dok?"
"Nanti malam atau bisa jadi besok karena pasien masih dalam pengaruh anestesi nya."
"Baik dok, tolong siapkan kamar VVIP untuk anak saya."
Sang dokter pun menganggukkan kepala kemudian pamit pada Satria. Zara menghela nafas lega karena sahabatnya masih bisa di selamatkan.
"Zara–"
"Kakak, Arkan...." Pungkas Satria saat putranya itu memanggil nama Zara.
"Eh, iya dad."
"Kak, mending kita obati dulu lukanya, setelah itu kita cari baju." Ucap Arkan menyadarkan Zara akan penampilannya saat ini. Satria pun menganggukkan kepala memberi izin pada Zara dan Arkan membuat keduanya pergi.
Arkan hendak membawa Zara ke UGD untuk menangani lukanya. Namun dengan cepat, Zara menahannya.
"Kenapa?"
"Obati sama lo aja."
"Tapi Zar—"
"Gak ada tapi– tapi, gue baik-baik aja, cuma dapat luka kecil."
Ketika tidak ada orang tuanya, mereka akan kembali dengan panggilan santai mereka.
Arkan kembali mengamati luka pada Zara. Dengan pasrah ia pun mengiyakan ucapan kakak tersayangnya itu.
Mereka meninggalkan rumah sakit dengan motor Arkan yang sebelumnya di bawa oleh Zara. Mereka mampir ke sebuah apotik membeli obat untuk luka Zara.
Arkan menatap kakak nya dengan pandangan sendu saat ia tak sengaja melihat memar pada wajah Zara.
"Nih pake dulu." Ucapnya seraya memberikan sweater pada Zara.
"Thanks." Dengan cepat Zara menggunakannya. Arkan memasuki apotik dan tak lama kemudian ia keluar dengan sebuah keresek yang berisi obat-obatan.
"Sini gue obatin dulu."
Dengan telaten, Arkan membersihkan darah yang terlihat mengering pada sudut bibir dan juga kepalanya. Ia juga mengoleskan salep pada luka memar Zara. Tak terdengar sedikit pun ringisan yang keluar dari bibir gadis cantik itu.
Bahkan mereka tak menyadari bahwa kini keduanya tengah menjadi pusat perhatian. Di tambah lagi sosok di balik pintu mobil yang menatap mereka dengan tatapan tajamnya.
"Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?" Ucapnya dalam hati.
"Cari info lengkap anak lelaki itu." Titahnya dengan tegas.
"Baik."
Ia melihat lagi ke arah dimana Zara dan Arkan berada. Dan ia semakin mengepalkan tangannya kala melihat Arkan mencium kening Zara.
"Berani-beraninya bocah itu menyentuh milikku. Lihat saja, tunggu tanggal mainnya. Jalan!"
~~~~~