Kebahagiaan Yang Lebih Baik

1238 Words
“Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?” Beberapa menit telah berlalu sejak Josh duduk di sofa ruang tengah apartemen kecil Bryan. Namun meski sudah diberi es krim rasa pisang sebagai sogokan dan disuruh duduk sendirian dengan tenang, pria itu masih tidak habis pikir mengapa dirinya mau-mau saja disuruh seperti ini oleh Ara. “Rasanya seperti aku sedang mengkhianati Tuan dan Nyonya,” keluh Josh sebelum menggigit es krimnya—yang andai Bryan melihatnya pasti akan mengomelinya karena tidak menikmati es krimnya dengan dijilat sedikit-sedikit melainkan langsung dilahap seperti itu. “Itu...” Sesuatu yang terselip di sofa menarik perhatian Josh. Pria itu mengambilnya dan mengerutkan keningnya saat melihat bra warna hitam dan pink yang sangat manis itu. “Ini milik Nona?” Josh mengamati bra tersebut dan memiringkan kepalanya bingung saat menyadari sesuatu yang ganjil. “Tapi kenapa talinya satu? Dan juga... Ini sepertinya bukan ukuran yang tepat. Ini... Ini besar sekali untuk nonaku.” “Kau pakai gelang?” Sementara itu, di balkon apartemen tersebut Ara yang duduk di kursi kuningnya tertarik pada tali hitam yang melingkari pergelangan tangan Bryan dan tampak sangat kontras dengan kulit putih pria itu. “Gelang apa itu? Kok jelek sekali?” “Ah...” Bryan jadi gelagapan. Jadi malu juga hingga memilih untuk menyembunyikan tangannya di balik punggung sambil berusaha melepas tali bra tersebut. “Bukan gelang. Bukan apa-apa.” Mereka lalu terdiam dan Ara menggunakan kesempatan itu untuk memperhatikan penampilan Bryan. Saat bertemu dengan Bryan semalam, ia tidak bisa mengamati penampilan Bryan seperti ini karena pria itu menutupinya dengan masker dan keadaan sekitar yang tidak terlalu terang. Namun sekarang, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana pukulan yang calon mertuanya berikan pada Bryan itu benar-benar meninggalkan bekas yang tampak sangat menyakitkan di wajah pria itu. “Apa masih sakit?” Ara bertanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Namun tidak berani untuk benar-benar menyentuh wajah Bryan karena khawatir hanya akan semakin menyakitinya. “Sudah tidak apa-apa.” Bryan meyentuh tangan Ara dan membawanya ke pipi kirinya. Membiarkan wanita itu membelai lebam di wajahnya dengan lembut. “Tanganmu?” Tatapan Ara beralih pada tangan kanan Bryan. Pria itu langsung melepas gipsnya setelah meninggalkan rumah sakit, namun membiarkan perban tetap membalutnya. “Masih sedikit sakit,” jawab Bryan. “Tapi sudah jauh lebih baik. Ara menghela napas panjang, menatap Bryan dengan sedih. “Padahal seharusnya aku juga dipukul karena sudah jadi anak yang nakal. Tapi kenapa kau jadi satu-satunya yang mendapat hukuman?” “Memangnya siapa yang tega menghukum anak manis ini, uh?” Bryan membelai puncak kepala Ara dengan lembut sebelum turun ke pipinya dan kembali membelainya dengan tak kalah lembut. “Kau sendiri bagaimana? Kau terlihat jauh lebih baik setelah pulang.” “Tidak lihat mataku bengkak, uh?” Ara sengaja mendekatkan wajahnya pada Bryan agar pria itu dapat melihat matanya lebih jelas. “Aku tidak tidur semalaman dan terus menangisimu karena kau jahat sekali padaku semalam,” gerutunya yang tentu saja bohong. Walau sangat sedih karena patah hati, tidur di atas kasur empuknya yang sangat nyaman membuatnya sampai bangun kesiangan hari ini. “Maafkan aku.” Bryan menggunakan kedua telapak tangannya untuk menangkup wajah Ara dan menariknya mendekat hingga kening mereka saling menempel. “Aku kehilangan seluruh kepercayaan diriku saat melihat bagaimana kau begitu bahagia bersama mama dan papamu kemarin.” “Jadi apa kau akan senang jika aku kelihatan sedih?” tanya Ara dengan wajahnya yang juga sudah mulai kelihatan sedih. “Itu benar. Kau pasti merasa terkhianati karena kemarin aku bisa bermain sebahagia itu setelah kita dipisahkan dan kau babak belur begini.” “Tidak. Bukan itu maksudku.” Bryan menggeleng pelan hingga kening mereka saling bergesekan. “Bahkan meski aku berusaha sangat keras, aku tidak akan bisa membahagiakanmu sebanyak yang dapat dilakukan oleh mama dan papamu. Kau mungkin bisa tertawa dan bahagia saat bersamaku, tapi aku juga banyak membuatmu sedih dan menangis. Aku... Bagaimana aku bsia memiliki cukup kepercayaan diri untuk merebutmu dari orang tuamu saat aku tidak bisa memberimu kebahagiaan yang lebih baik dari yang bisa mereka berikan padamu?” Ara menarik wajahnya, memberi sedikit jarak agar ia bisa menatap langsung kedua mata Bryan. Menunjukkan dengan jelas keseriusannya saat berkata, “Jadi itu yang membuatmu menyerah? Kau tidak berpikir jika keputusanmu untuk menyerah justru jadi alasan atas penderitaanku?” “Maaf,” bisik Bryan yang membuat Ara menghela napasnya. Menunjukkan jika dirinya tidak senang terus mendengar yang seperti itu dari Bryan. “Aku hanya berpikir pendek semalam.” “Jadi sekarang setelah kau membawaku masuk seperti ini kau sudah memikirkan semuanya dengan matang?” Bryan tidak menjawab. Sadar jika sepanjang waktu yang dilaluinya sejak meninggalkan Ara semalam hanya ia gunakan untuk menyesali keputusan tersebut dan meratapi patah hatinya. Ia tidak benar-benar memikirkan tentang Ara sampai ia mendengar suara sedih wanita itu saat mengatakan tentang ketakutannya dari balik pintu apartemennya beberapa saat yang lalu. “Bukan merebut, tapi memilikiku dengan cara yang terhormat.” Ucapan Ara membuat Bryan kembali memusatkan perhatiannya pada wanita itu. Dan untuk pertama kalinya setelah ia membawa Ara masuk, ia bisa melihat senyuman hangat Ara yang terasa seperti pelukan untuk hatinya yang sedang terluka ini. “Kita berdua sudah melakukannya dengan baik, kan?” Senyuman Ara jadi semakin lebar dan suaranya terdengar seceria biasanya. “Kita memulai semuanya dari awal. Mulai dengan jadi teman, jadi kekasih, dan merencanakan pernikahan impian kita. Kita juga bisa melakukannya pada orang tua kita. Mulai dari awal dan meyakinkan mereka jika kita adalah calon menantu yang paling pantas untuk anak kesayangan mereka.” “Anak kesayangan siapa?” tanya Bryan dengan wajah tak terima. “Memangnya anak kesayangan akan dihajar sampai seperti ini?” Ara kembali menghela napas. Sepertinya misinya bukan hanya tentang mengambil hati calon mertuanya juga, tapi juga memperbaiki hubungan buruk Bryan dengan papanya. “Kita memang tidak hidup di negeri dongeng dan kesedihan itu pasti akan datang sesekali tanpa kita hindari. Tapi...” Ara meraih kedua telapak tangan Bryan dan menggenggamnya sambil menunjukkan senyuman manisnya pada pria itu. “Karena kita saling mencintai sekarang, kebahagiaannya bahkan akan jauh lebih banyak dari kesedihannya.” “Ah, saling mencintai.” Seakan teringat sesuatu, Bryan menatap Ara dengan wajah menyesal. “Aku bahkan belum pernah mengatakannya dengan benar padamu jika aku mencintaimu.” Ara memasang ekspresi cemberut di wajahnya saat mengangguk membenarkan ucapan Bryan. Namun ia kembali tersenyum saat berkata, “Katakan sekarang. Aku akan mendengarkannya dengan baik.” Senyuman Ara menular pada Bryan. Pria itu membuka mulutnya, sudah hampir menyatakan cintanya dengan cara paling tulus saat suara Josh menginterupsinya. “Ah, ini dia. Aku mencarinya ke mana-mana,” kata Josh yang membuat Bryan membulatkan kedua matanya saat melihat pria itu mengambil gelang—maksudnya tali bra—yang sebelumnya ia buang ke lantai dan dengan cuek kembali memasangkannya di bra tersebut. “Nah, sudah. Ini.” Kemudian tanpa rasa risih sedikit pun, Josh menyodorkan bra tersebut pada Ara yang langsung mengerutkan keningnya. “Ini punyamu, kan?” “Bukan!” sanggah Ara. Kerutan di keningnya jadi semakin dalam saat menambahkan, “Itu kebesaran.” “Ya ampun, padahal baru beberapa hari ditinggal sudah berani bawa wanita lain,” kata Josh yang tidak hanya membuat mata Bryan semakin melotot padanya melainkan juga Ara yang menatapnya dengan kedua mata membesar. “Apa—“ “Dasar p****************g!” cerca Josh seraya melemparkan bra tersebut ke wajah Bryan. “Kau pikir bisa semudah itu untuk kembali pada nona mudaku yang polos ini? Lewati dulu mayatku, sialan!”     **To Be Continue**      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD