Bryan masuk ke kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ara telah berbaring di atas kasur. Setelah sampai apartemen, wanita itu langsung membersihkan dirinya dan naik ke tempat tidur.
"Ara, apa kau sudah tidur?"
"Belum."
"Kau lapar? Apa kau ingin makan?"
"Aku tidak ingin makan. Aku lelah."
"Baiklah."
Bryan menepuk-nepuk bantalnya sebentar lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai. Saat menatap langit-langit kamarnya, Bryan kembali teringat pada kata-kata kasarnya siang tadi.
"Tadi siang aku bertemu papaku," kata Bryan. Ara tidak memberi tanggapan apapun. "Papaku sepertinya sangat peduli padamu. Dia benar-benar mengkhawatirkanmu. Kurasa aku dengan sangat kekanakannya telah cemburu padamu karena papaku lebih memihakmu dibandingkan diriku." Ara masih tidak menjawab. "Kau sudah tidur?"
"Belum. Aku mendengarkanmu."
"Aku tidak bisa mengendalikan diriku tadi. Kata-kataku pasti telah menyakitimu."
"Iya," sahut Ara. "Aku bahkan tidak bisa menangis karena sangat terkejut."
"Maafkan aku. Aku sangat menyesal," kata Bryan dengan tulus. "Aku mencarimu dan melihatmu berdiri sangat lama di depan rumahmu. Aku bertanya-tanya mengapa kau tidak langsung masuk. Aku tahu kau sangat ingin pulang."
"Sekarang tidak lagi. Aku tidak ingin pulang."
"Kau tidak ingin pulang lagi?"
Ara tidak langsung menjawab. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu dengan wajah sedihnya sebelum kembali buka mulut.
"Aku tidak bisa menggambar dengan bagus, tapi karena semua orang selalu memuji gambarku aku jadi berpikir jika gambarku memang bagus. Aku tidak bisa masak atau melakukan pekerjaan rumah dengan baik, tapi mereka selalu bilang tidak apa-apa karena ada pelayan yang akan melakukan semuanya. Aku tidak bisa menjahit, tidak bisa merangkai bunga dengan cantik, tidak bisa mendandani diriku sendiri. Satu-satunya hal yang kulakukan selama ini hanya menjadi putri manja orang tuaku yang tahu dengan baik bagaimana caranya menghabiskan uang mereka."
Bryan tidak berkomentar apapun, membiarkan Ara mencurahkan isi hatinya sepuasnya. Tahu pasti jika saat ini wanita itu hanya butuh didengarkan saja.
"Papa dan mamaku selama ini membangun perusahaan dengan susah payah namun mereka harus mewariskannya padaku yang tidak tahu apa-apa ini. Aku mungkin hanya akan menghancurkannya saja."
"Itu pasti karena kata-kata kasarku tadi. Kau tidak perlu memikirkannya. Aku hanya sedang bersikap kekanakan tadi,” kata Bryan yang tidak tahan untuk terus diam saat Ara yang biasanya tidak tahu diri ini justru jadi menyedihkan sekali saat menyalahkan dirinya sendiri seperti ini.
"Tidak. Kau benar, Bryan. Aku memang tidak bisa melakukan apa-apa. Itu membuatku jadi malu untuk menunjukkan diriku di hadapan orang tuaku."
"Ara..."
"Aku ingin berusaha untuk hidupku sekarang. Aku akan belajar memasak. Aku akan belajar membersihkan rumah dan tidak bergantung lagi pada orang lain. Dengan begitu... Dengan begitu, jika ada orang yang berkata bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku bisa membela diriku sendiri."
Bryan jadi merasa sangat bersalah. Kata-kata kasarnya pasti telah sangat melukai hati wanita itu.
Tidak ada yang bersuara lagi. Keduanya mencoba untuk mengakhiri hari ini dengan tidur. Bryan yang sudah memejamkan matanya akhirnya kembali membukanya saat mendengar suara pergerakan Ara yang terus membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Kau tidak bisa tidur?"
"Perutku sakit."
"Kau lapar?"
"Bukan itu."
"Ah..." Bryan mengerti sakit apa yang sedang Ara rasakan saat ini. "Pejamkan matamu dan jangan berfokus pada rasa sakitnya. Itu mungkin akan sedikit membantu," kata Bryan sebelum kembali memejamkan matanya.
"Itu karena wanita yang b******a dengan teratur akan mendapatkan siklus datang bulan yang baik dan s****a itu seperti vitamin alami bagi organ kewanitaan yang bisa mengurangi nyeri saat datang bulan."
Bryan kembali membuka matanya saat tiba-tiba teringat kata-kata mamanya ketika mereka bertemu siang tadi. "Vitamin..." gumamnya. "Ada-ada saja Nyonya Besar itu!"
Ara masih tampak gelisah di atas tempat tidurnya. Ia terus membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan hingga membuat seprainya menjadi kusut, mencari posisi yang nyaman untuknya tidur. Namun rasa nyeri di perutnya membuatnya tidak bisa merasa nyaman.
"Ara." Ara menolehkan kepalanya ke kiri dan mendapati Bryan yang telah duduk bersila di atas lantai sebelah tempat tidurnya. "Menurut mamaku, aku punya vitamin yang bisa meredakan sakitmu itu."
"Vitamin?" tanya Ara dengan kening berkerut.
"Tapi aku tidak akan memberikannya padamu." Bryan menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menggosok-gosokkannya. "Aku tidak tahu apa cara ini bisa membuatmu merasa nyaman. Tapi ini berhasil pada mamaku."
Bryan memasukkan telapak tangan kanannya ke dalam selimut dan menyusupkannya ke dalam pakaian Ara.
"Bryan!" Ara memekik kaget saat merasakan telapak tangan hangat Bryan di perutnya. Bryan tidak menggerakkannya, hanya meletakkan telapak tangannya di atas perut Ara.
"Perutmu terasa dingin. Bernapaslah dengan benar, Ara. Kau tidak akan bisa merasa nyaman jika perutmu tegang seperti ini,” kata Bryan. Cara bicaranya yang lembut terdengar seolah ia tidak pernah membentak Ara sekeras yang dilakukannya siang tadi.
Ara mengerjap-ngerjapkan kedua matanya lalu menghembuskan napas perlahan. Setelah merasa Ara lebih tenang, Bryan mulai menggerakkan tangannya, mengusap perut dingin Ara dengan lembut. "Jika papaku melakukan ini, mamaku akan merasa nyaman dan akhirnya tertidur. Bagaimana? Apa kau sudah merasa nyaman?"
Ara tidak menjawab, hanya terus menatap Bryan.
“Pejamkan matamu dan cobalah untuk tidur. Tidak perlu memikirkan apa-apa. Itu hanya akan membuatmu sulit tidur,” kata Bryan sambil terus mengusap perut Ara.
Ara menurut dan memejamkan kedua matanya. Bryan menatapnya lalu menyentuh dahi Ara yang berkerut. “Jangan mengerutkan keningmu. Itu bisa membuatmu keriput dan mendapat mimpi buruk.”
Ara membuka matanya sebentar dan segera memejamkannya lagi saat mendapati wajah tersenyum Bryan. “Bryan… Kau tahu apa yang paling kutakuti saat ini?”
“Apa itu?”
“Kau,” sahut Ara yang langsung menghapus senyuman di wajah Bryan. “OBryan. Kau yang paling kutakuti saat ini,” tambah Ara lalu segera mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Bryan, membuat pria itu harus mengeluarkan tangan kanannya dari balik pakaian dan selimut Ara. Ara menaikkan selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya yang meringkuk di balik selimut itu seolah sedang berusaha melindunginya dirinya dari Bryan.
“Begitu…” gumam Bryan dengan suara yang terdengar sedih. “Maafkan aku. Selamat tidur.”
Bryan kembali ke kasur lantainya dan berbaring miring dengan posisi yang membuat dirinya dan Ara saling memunggungi.
Hujan yang turun malam ini membuat udara jadi terasa sangat dingin. Namun hati Ara yang sudah terlanjur terluka oleh sikap Bryan tampaknya jadi jauh lebih dingin dari hujan tersebut. Membuat Bryan tidak berhasil untuk mengetuk hati wanita itu dengan hanya membawa sedikit kehangatan yang berhasil ia kumpulkan dari semua rasa simpatinya untuk mantan calon istrinya itu.
**To Be Continue**