Masuk Rumah Sakit

1119 Words
Tubuh Liodra ambruk dalam pelukkan Alex, ia kehilangan kesadaran sepenuhnya. Alex mengecek napasnya yang masih teratur, hanya shock dan kelelahan. Ia mengusap perlahan rambutnya yang berantakan. “Liodra …,” panggilnya lirih, tapi tak ada respons. Saat ia hendak mengangkat tubuh gadis itu, sebuah suara lain muncul, suara gesekan kecil, seperti seseorang yang mencoba bersembunyi namun gagal menahan ketakutannya. Alex tidak langsung berdiri. Ia menajamkan pendengaran, lalu menoleh ke sisi gelap gudang. Di sana, Lino menggigil ketakutan, bersembunyi di balik rak tua yang hampir roboh. Matanya merah, napasnya memburu. Ia melihat semua badan preman tergeletak tak bergerak, dan darah yang menetes dari tubuh Alex. Lino yakin ia akan mati menyusul mereka. Alex bangkit perlahan, bahunya berdenyut tetapi langkahnya tetap stabil. Ia berjalan mendekati Lino tanpa terburu-buru, membiarkan suara sepatunya menggema menghantui ruangan. Lino mundur sampai punggungnya menempel ke dinding. “Ja-jangan bunuh aku—” katanya terbata, siap memohon ampun. Namun, Alex justru berjongkok di depannya. Ia tidak memukul. Tidak menendang. Tidak mengancam. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. “Terima kasih,” gumam Alex pelan. Lino membeku. “A … apa?” Alex menepuk pipi Lino ringan, seolah sedang menenangkan anak kecil. “Kau sudah melakukan yang terbaik.” Kalimat itu membuat wajah Lino semakin pucat. Ia tidak paham. Sungguh tidak paham. “A-Apa maksudmu?” Alex berdiri, menatapnya dari atas. “Artinya tugasmu selesai. Pergilah.” Tidak ada ancaman. Tidak ada penjelasan. Tidak ada emosi. Hanya perintah dingin. Dan bagi Lino, itu lebih dari cukup. Tanpa menoleh lagi, ia bangkit dan berlari keluar gudang secepat mungkin, seperti hewan buruan yang tiba-tiba dilepas kembali ke hutan. Begitu suara langkah Lino menghilang, ponsel Alex bergetar. Nama di layar, Sayap Hitam. Alex menjawab tanpa ragu. “Semua berjalan sesuai rencana,” katanya datar, seolah tidak sedang berdiri di tengah mayat dan darah. “Tetap diam sampai aku memberi perintah.” Suara di seberang menegaskan sesuatu. Alex mengangguk sekali, lalu mematikan ponsel. Keheningan kembali memenuhi gudang. Dengan napas perlahan, Alex kembali ke sisi Liodra. Ia menatap gadis itu lama, wajah yang masih dipenuhi sisa air mata dan ketakutan. Ia berlutut, menyelipkan lengannya di bawah tubuhnya dengan hati-hati. Saat ia mengangkat Liodra dalam gendongannya, wajah Alex kembali datar, dingin, seakan tidak ada drama, darah, atau konspirasi yang baru saja terjadi. Seolah kejadian tadi hanyalah rencana yang sudah berhasil terlaksana. Ia membawa Liodra keluar dari gudang tua itu dalam pelukannya, tidak sadar apa pun tentang permainan besar yang baru saja terbuka. *** Ruangan rumah sakit itu sunyi, diterangi cahaya lembut dari lampu dinding. Liodra perlahan membuka mata, kelopak matanya terasa berat. Pandangannya sempat buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit putih di atasnya. Ia mengerjap pelan. Tangannya terasa dingin, tersambung dengan jarum infus. Seluruh tubuhnya kaku, seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang. Namun, ketika matanya bergerak ke sisi kanan ranjang, napasnya tercekat. Alex duduk di sana. Kepalanya sedikit menunduk, tertidur sambil duduk. Bahunya yang diperban terlihat jelas dari balik kemeja hitamnya. Wajahnya tetap sama, dingin, tenang, tetapi kelelahan jelas di sana. Liodra hanya bisa menatap. Hatinya, yang sejak tadi terasa kacau dan ketakutan, tiba-tiba menemukan sesuatu yang menenangkan. Ia selamat. Dan itu … karena Alex. Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari betapa keras jantungnya berdebar. Seolah perasaan yang ia pendam baru saja terbuka sepenuhnya. Dengan perlahan, ia mendorong selimut ke samping. Ia bangun duduk, meski tubuhnya masih lelah. Kakinya menapak ke lantai yang dingin. Setiap gerakan disertai rasa sakit ringan, tapi ia tetap melangkah, mendekat ke arah pengawalnya itu. Alex masih tidur, garis rahangnya tegas, napasnya pelan. Liodra merunduk sedikit. Menatapnya dari jarak hanya beberapa sentimeter. Hatinya makin tidak stabil. “Kenapa … jantungku berdebar seperti ini?” bisiknya pada diri sendiri, tapi langkahnya tidak berhenti. Dan sebelum pikirannya sempat melarang. Liodra menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Alex. Lembut. Ragu. Tapi penuh emosi yang selama ini ia sembunyikan. Beberapa detik kemudian, mata Alex terbuka. Dingin. Tajam. Tidak terkejut … tapi jelas sangat sadar. Liodra langsung membeku. “A—Alex!” Ia tersentak mundur, kehilangan keseimbangan, hampir jatuh ke lantai. Namun, tangan kuat Alex bergerak cepat. Ia menangkap pinggang Liodra dan menariknya, membuat tubuh gadis itu jatuh tepat ke pangkuannya. Kedua tangan Liodra mendarat di d**a Alex, wajah mereka berbenturan jarak sangat dekat, hanya beberapa helaan napas. Jantung Liodra meledak-ledak. “Liodra.” Suara Alex rendah, dingin, tapi penuh kendali. “Apa kau baik-baik saja?” Liodra mengangguk cepat. Terlalu cepat. “A-aku … baik.” Tiba-tiba ia menekan lengan Alex yang terluka tanpa sengaja. Alex mengernyit, menahan rasa sakit. Napasnya tersendat. Liodra langsung panik. “Maaf! Alex, aku tidak sengaja! Kau luka karena aku? Karena nyelametin aku …” Alex menghela napas pendek. “Aku sudah biasa.” Ia hendak menurunkan Liodra dari pangkuannya, tetapi gadis itu menahan dadanya. Mata Liodra menatapnya. “Jangan turunkan aku,” bisiknya. Alex menatapnya, alisnya sedikit terangkat. Liodra menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya berkata, suara pelan, tapi penuh ketulusan, “Terima kasih. Kalau bukan kau, aku … aku mungkin sudah mati malam itu.” Ada jeda. Yang terdengar hanya derasnya detak jantung mereka. Kemudian Liodra mencondongkan tubuhnya lagi, perlahan mencium Alex sekali lagi. Lebih dalam. Lebih berani. Kali ini, Alex tidak diam. Dengan wajah dingin yang selalu ia gunakan sebagai tameng, Alex justru membalas ciuman itu. Tangan kirinya naik, memegang pinggang Liodra, menariknya lebih dekat. Ciumannya tegas, dalam, dan penuh rasa, seolah ia ingin memastikan bahwa Liodra tahu Alex pun merasakan hal yang sama. Liodra tersenyum di tengah ciuman itu, seakan seluruh penantiannya akhirnya terjawab. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Alex, menariknya lebih dekat, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan yang selama ini ia pendam. Tubuhnya bergetar halus, bukan karena takut, tapi karena bahagia akhirnya cintanya terbalas. Namun Liodra tak menyadari sesuatu. Di antara sentuhan lembut yang seolah penuh kehangatan itu, mata Alex perlahan terbuka. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada cinta. Hanya tatapan datar, dingin, tajam seolah semua ini hanyalah permainan kecilnya saja. Perlahan, Liodra melepaskan ciumannya. Nafasnya masih tersengal, dadanya naik turun cepat seolah tubuhnya belum siap melepaskan kedekatan itu. Pipinya memanas, wajahnya merah seperti tersiram cahaya senja. Ia menunduk, tak sanggup menatap Alex yang berada begitu dekat dengannya. Alex memerhatikan semuanya dalam diam. Bibirnya melengkung kecil, senyum samar yang entah menghangatkan atau justru menyesakkan dan dengan gerakan lembut ia mengangkat tubuh Liodra dari pangkuannya, meletakkannya kembali ke atas ranjang rumah sakit. Sentuhannya pelan, hati-hati, seolah gadis itu adalah barang berharga yang mudah pecah. Liodra makin berdebar saja karenanya. Namun, sebelum liodra sempat menemukan kata atau keberanian untuk bicara, ponsel Alex berdering, memecah keheningan intim yang baru saja tercipta. Alex baru menggeser layar untuk menjawab ketika pintu ruang rawat terbuka begitu keras hingga membuat Liodra tersentak. Tomas Muller berdiri dengan wajah dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD