Gelombang malam menghantam sisi perahu kecil itu, memantulkan cahaya bulan yang dingin. Lino menahan kemudi dengan tangan bergetar, panik karena tidak menyangka keadaan berubah secepat ini. Di kakinya, Liodra terbaring tak bergerak. Gaun hitamnya basah oleh cipratan air laut, rambutnya menempel di wajah, dan noda merah tipis muncul di pelipis akibat pukulan barusan.
Lino memandang Liodra sebentar, napasnya tersengal. Ia tidak bermaksud sejauh itu, tidak sampai membuat gadis itu pingsan. Tapi rasa takut kehilangan kendali memaksanya bertindak brutal. Kini ia terjebak dalam skenario yang bahkan ia sendiri tidak paham bagaimana mengakhirinya.
“Bangunlah… jangan mati!” gumam Lino gemetar. Tapi Liodra tetap diam.
Speedboat hitam di belakang mereka semakin dekat. Suara mesinnya mengaum menggetarkan permukaan air. Setiap detik, cahaya kecil dari lampu speedboat itu kian membesar, mendekati perahu kecil mereka seperti predator yang menemukan mangsa.
Alex berdiri, satu tangan memegang kemudi, satu tangan meraih pistol di pinggang. Matanya tajam memantau posisi Liodra. Begitu melihat gadis itu tak bergerak, dinginnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Wajah Alex tetap tanpa ekspresi, tapi rahangnya menegang keras. Kecepatan speedboatnya melonjak, gelombang besar tercipta di belakang.
“Cepat… cepat…” Lino memutar kemudi dengan penuh kepanikan, mencoba mengarahkan perahu kecil ke arah jembatan beton tua yang gelap di bagian utara teluk tempat yang tidak diawasi, tempat ia bisa bersembunyi atau menurunkan Liodra dan menyerahkannya pada orang yang menyuruhnya.
Tapi Alex lebih cepat.
Speedboat itu meluncur sejajar dengan perahu kecil, hanya berjarak beberapa meter. Angin membuat rambut Alex berkibar, tapi matanya tidak berkedip. Ia menilai jarak, kecepatan, dan risiko dalam hitungan detik.
Lino semakin panik. “Pergi! PERGI!!” Ia menambah gas, tapi mesin perahu kecil itu tidak mampu menandingi kecepatan speedboat yang dibawa Alex.
Alex mengangkat pistol.
Tidak diarahkan ke Lino.
Melainkan ke mesin perahu kecil itu.
DOR!
Satu tembakan. Akurat. Mesin langsung berasap dan tersendat, membuat perahu kecil terguncang hebat. Lino hampir terjungkal.
“TIDAK! SIAL!!”
Dalam kepanikan itu, gelombang besar dari speedboat membuat perahu kecil miring. Tubuh Liodra terguling ke tepi. Hanya beberapa sentimeter dari jatuhnya ia ke laut.
Dan saat itu juga Alex membuat keputusan.
Ia melompat.
Speedboatnya dibiarkan melaju sendiri beberapa meter sebelum akhirnya melambat. Tubuh Alex menembus udara malam, jatuh ke perahu kecil dengan hentakan keras yang menggema. Lino tersentak, hampir kehilangan keseimbangan, tapi Alex lebih cepat.
Dengan satu hantaman siku, ia menjatuhkan Lino hingga lelaki itu terkapar. Pistol di tangan Lino terlempar ke laut, jatuh dengan bunyi kecil yang tenggelam oleh suara ombak.
Lino mencoba bangkit, namun tangan Alex mencengkeram kerah bajunya dan menekannya ke dinding perahu.
Napas Lino memburu. Mata Alex dingin seperti belati. Tapi sebelum ia melakukan apa pun pada Lino, tatapannya beralih ke sisi perahu.
Liodra.
Tubuh gadis itu setengah terjuntai ke luar perahu, hampir jatuh. Alex menangkap tubuh Liodra agar tidak jatuh ke laut, suara yang tidak ia harapkan justru meledak dari kejauhan.
Peluru memecah udara, menghantam bahu Alex dengan keras. Tubuhnya terdorong ke belakang, darah langsung menyembur dari luka tembaknya. Rasa panas menjalar cepat, membuatnya limbung dan kehilangan keseimbangan.
Lino, yang tadi nyaris pingsan, langsung memanfaatkan kesempatan itu. Dengan teriakan panik bercampur putus asa, ia mendorong Alex kuat-kuat.
Alex terjatuh ke laut.
Tubuhnya menghantam air es malam itu, tenggelam beberapa meter. Napasnya tersendat, kesadarannya nyaris tercabut. Namun insting bertahan hidupnya menendang, memaksa tubuhnya naik kembali ke permukaan.
Ia muncul sambil terengah, darah mengalir deras dari bahu, tapi tatapannya tetap fokus ke arah perahu kecil yang semakin menjauh membawa Liodra.
***
Sementara itu, perahu kecil Lino terus melaju menuju sisi dermaga tua yang gelap. Beberapa menit kemudian, perahu itu berhenti di depan gudang raksasa, bangunan tua yang sudah bertahun-tahun tak terawat. Cat dindingnya mengelupas, jendela pecah, dan pintunya hampir terlepas dari engsel.
Lino menyeret Liodra yang masih pingsan masuk ke dalam gudang, melewati tumpukan kotak-kotak berdebu dan mesin-mesin karatan. Di tengah ruangan, sebuah kursi kayu dipaksa berdiri, dan di sanalah ia mengikat kedua tangan Liodra dengan erat. Mulutnya juga ditutup kain kotor, mencegah suara apa pun keluar.
Lampu-lampu redup menggantung seadanya, beberapa berkedip-kedip seperti hendak mati.
Liodra mulai siuman.
Kelopak matanya berat, kepalanya berdenyut hebat karena pukulan Lino. Begitu kesadarannya kembali, ia merasakan tali kasar yang mencengkeram pergelangan tangannya. Jantungnya langsung memukul-mukul dadanya.
Matanya melirik pada Lino yang berdiri tak jauh darinya. Tapi Lino hanya menunduk seolah merasa bersalah tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Liodra menatapnya dengan penuh kekecewaan.
Hingga suara langkah berat terdengar.
Seorang pria besar muncul dari balik bayangan. Tubuhnya kekar, rambut acak-acakan, dan di wajahnya terdapat bekas luka besar yang membelah pipi hingga dagu.
Penculik itu mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomor.
“Tomas Muller,” katanya dingin ketika sambungan tersambung. “Jika kau ingin putrimu hidup, kau siapkan uang tebusan. 20 juta euro. Jika tidak…”
Ia menatap Liodra, tersenyum miring yang mengerikan.
“…kau akan menerima potongan tubuhnya satu per satu.”
Liodra menegang. Air mata mulai memenuhi matanya. Ia mencoba berteriak, tapi suara itu tertahan kain.
Namun, respons Tomas justru membuat jantung Liodra membeku.
“Aku tidak akan bayar sepeser pun,” suara Tomas terdengar dingin, tanpa ragu.
Pria berbekas luka itu mengerutkan alis. “Kau mau anakmu mati?”
Tomas menghela napas, suaranya masih keras. “Itu kesalahan Liodra sendiri. Dia melanggar aturan, kabur dari rumah. Urus sendiri masalahnya. Aku tidak akan tunduk pada ancaman.”
Sambungan ditutup begitu saja.
Liodra membeku. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Rasa marah, takut, dan hancur bercampur menjadi satu. Air mata mengalir deras. Selama ini ia tahu ayahnya keras… tapi tidak sampai seperti ini.
Ia mencoba menjerit, tubuhnya menegang. Ia meronta, memukul kursi dengan kaki yang terikat. Namun, semua itu hanya membuat penculik tertawa.
“Kasihan sekali,” ejek pria berbekas luka sambil menepuk pipinya. “Bahkan ayahmu tidak peduli pada nyawamu.”
Liodra tidak punya harapan lagi.
Hingga suara berat terdengar dari pintu gudang.
DUM!
Pintu itu dihantam keras sampai terlepas dari engselnya. Suara dentuman menggemakan seluruh gedung kosong itu.
Pria-pria penculik langsung menoleh.
Di ambang pintu, seseorang berdiri dengan napas berat. Bajunya basah kuyup. Darah mengalir dari bahu dan pelipis. Namun tatapan matanya … tajam, penuh tekad, penuh api.
Alex.
Meski tubuhnya nyaris roboh, ia tetap bergerak maju. Tangan kirinya menggenggam pisau kecil, sementara tangan kanannya yang terluka menahan darah agar tidak mengalir terlalu cepat.
“Cari mati kau?” salah satu penculik menertawakan, mengarahkan pistol ke Alex.
Tapi Alex bukan jenis orang yang gentar.
Dengan kecepatan hampir tak terlihat, ia melempar pisau itu tepat ke lengan penculik, membuat pistol terlepas dan orang itu menjerit. Alex langsung menerjang, menghantam wajahnya hingga pria itu terkapar.
Lino yang melihat itu langsung bersembunyi ketakutan jauh dari sana.
“Sial! Kenapa jadi begini!” pekiknya mencoba untuk tidak ketahuan oleh Alex.
Penculik lain menyerang dengan besi batangan, Alex menunduk, memutar, menendang lutut pria itu sampai patah.
Dua orang tersisa mencoba kabur, tapi Alex menarik kerah salah satunya dan membantingnya ke lantai hingga pingsan. Yang terakhir mencoba mengangkat pistol lain, tapi Alex menghantamkan lutut ke dadanya hingga pria itu jatuh ke tumpukan kotak.
Ruangan menjadi sunyi.
Hanya napas berat Alex yang terdengar. Napas yang tertahan oleh rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Namun ia tetap menoleh.
Pandangan matanya langsung menemukan Liodra.
Gadis itu menangis, tubuhnya gemetar hebat, tapi matanya berbinar penuh kelegaan. Seolah dunia yang tadi runtuh tiba-tiba berhenti.
Alex berjalan ke arahnya, meski jalannya terseok. Tangannya bergetar saat ia merobek kain yang menutup mulut Liodra, lalu perlahan melepaskan ikatannya.
Begitu bebas, Liodra langsung jatuh ke dadanya meski tubuh Alex kembali goyah oleh beban itu.
“Ka … kau datang .…” Suaranya pecah, tersedu-sedu.
Alex tidak menjawab. Tapi lengannya, meski terluka parah, terangkat untuk memeluknya erat.