[Meysha Fradella]
Zanna membuka pintu kamar Gabriel perlahan, untuk sekadar memastikan, apakah Gabriel terlelap, atau terjaga.
Gue dan Adara ikut mengintip dari celah pintu. Gue melihat punggung Gabriel yang merah dipenuhi ruam, posisi tidurnya membelakangi kami.
Zanna menutup pelan pintu.
"Menurut lo dia tidur?" Adara bertanya pelan.
Zanna mengangkat bahu. "Menurut aku, Kak Gabriel butuh waktu sendiri. Satu jam lagi, baru kita temui dia."
Ya, gue setuju dengan pendapat Zanna. Pasti berat untuk Gabriel menerima kenyataan yang ada. Gue aja masih tidak percaya akan hal ini, apalagi Gabriel yang mengalaminya secara langsung.
"Ya udah, kita balik ke ruang tamu aja," gue memberi usul yang diangguki Adara dan Zanna.
Sesampainya di ruang tamu, gue melihat raut heran bercampur lelah pada wajah Ray dan Kendra.
Gue duduk bersebelahan dengan Ray, yang kebetulan dia duduk di sofa berukuran besar. Sedangkan Adara, duduk di pinggiran sofa yang diduduki Kendra. Zanna, dia duduk di sofa yang bersebrangan dengan sofa Kendra dan Adara, tepat di samping kiri gue.
"Kenapa balik lagi?" Kendra yang bertanya.
"Kami nggak tahu, Gabriel lagi tidur atau nggak, karena posisi dia membelakangi kami dan menurut Zanna, Gabriel butuh waktu sendiri," gue menjawab.
Kendra dan Ray mengangguk paham.
Lalu, gue melihat Kendra yang berdiri dari posisi duduknya, sepertinya ia mempersilahkan kepada Adara untuk duduk di tempatnya tadi. Setelah itu, Kendra duduk lesehan di lantai, bersandar pada sofa, lalu dia mengambil tangan Adara dan meletakkan tangan Adara di kepalanya.
Gue dan Ray saling tatap heran dan tersenyum.
Adara memainkan rambut Kendra. Mereka memang terlihat sangat serasi. Kendra yang memiliki pikiran dewasa dan sifat ceria, bertemu dengan Adara yang juga bisa dibilang mempunyai pikiran dewasa dengan sikap cueknya.
Gue tersenyum, dalam senyuman itu, gue berharap suatu saat bisa seperti Adara yang sudah menemukan separuh jiwanya.
Menemukan seorang laki-laki yang sangat menyayangi, menjaga gue dan menerima apapun kekurangan gue, adalah impian terbesar yang sejak dulu gue pendam dalam-dalam.
Bahkan, sekarang gue tidak yakin bahwa ada setidaknya satu laki-laki yang mencintai gue. Gue tahu, hal itu sangat tidak mungkin untuk terwujud dalam waktu dekat ini.
Gue tersadar dari dunia khayalan. Dan melihat sekitar gue, semuanya sedang tertidur lelap. Semuanya, kecuali gue.
Gue tidak bisa tidur. Keputusan yang gue ambil demi kebaikan Gabriel, sampai sekarang masih sangat gue ragukan. Gue harus bertanggung jawab seperti apa, jika ternyata kondisi Gabriel semakin memburuk?
Mencari obat hyrexin yang masih tabu ke dalam hutan berantara?
Hal itu sangat tidak mungkin.
Tapi bisa saja menjadi mungkin, jika keadaan memaksa. Itu bisa jadi opsi kesekian yang paling berbahaya yang akan gue sarankan demi kebaikan Gabriel.
Gue sangat berharap, semoga hal itu tidak perlu gue pikirkan lagi, atau bahkan terjadi. Karena keputusan berbahaya yang gue ambil untuk Gabriel berhasil.
Gue terkejut dengan Ray yang tiba-tiba mengubah posisi tidurnya. Tadinya, Ray tidur dengan duduk, namun sekarang berbaring, dengan kepala yang berada di samping paha gue, kakinya tertekuk.
Dengan posisi Ray yang seperti itu, membuat gue sedikit bergeser menjauh darinya.
Gue melipat tangan di d**a, dengan pandangan lurus ke depan. s**l, gue tidak bisa mengalihkan perhatian dari Ray yang tertidur di samping.
Gue menjatuhkan tatapan tepat di wajahnya. Membuat bibir gue melengkung sempurna. Entah mengapa wajah tenang Ray yang tertidur dapat sedikit menenangkan sekaligus menghangatkan hati.
Ray selalu terlihat ceria di depan orang banyak. Selalu berusaha bijak saat orang di sekitarnya berada dalam kesulitan. Menebar energi positif bagi siapapun yang berada di dekatnya. Dan gue baru sadar, sepertinya Ray terlalu sibuk menghibur orang di sekitarnya, sampai mengabaikan dirinya sendiri.
Biasanya cara seorang extrovert menghibur dirinya dengan seperti itu, namun menurut gue, itu bukanlah cara yang tepat. Memberikan kebahagiaan untuk orang lain, memang kita juga bisa ikut bahagia. Namun rasanya pasti berbeda.
Ray terlalu sibuk dengan memperbaiki suasana hati orang di sekitarnya, sampai kita melupakan bagaimana kondisi hati Ray. Dia tidak pernah bercerita tentang kehidupannya semenjak kita berlima berteman dekat. Yang dia lakukan hanya menghibur dan menghibur.
Gue meneteskan air mata. Tanpa disadari, kita berempat telah mengabaikan perasaan orang paling penting dalam persahabatan ini. Seorang Ray Dhanadyaksa.
Kenapa gue baru sadar sekarang?
Gue merasa seperti seorang sahabat yang sangat tidak berguna karena telah mengabaikan Ray.
Gue menghapus air mata perlahan.
Jika kondisi semuanya sudah membaik, gue berjanji akan berusaha lebih dekat dengan Ray. Berusaha untuk mengorek lebih dalam tentang Ray. Gue ingin menjadi sahabat seperti Ray yang berguna bagi kami berempat.
Ray masih tertidur pulas dengan posisi yang sama seperti tadi.
Sambil melihat wajahnya, gue membayangkan apa saja yang sudah gue lewati bersama Ray. Membuat gue berkali-kali tersenyum dan menggeleng.
Ray menggeliat, mungkin mencari posisi tidur ternyaman. Entahlah, gue malah mendekat, seakan membiarkan saja kalau misalnya Ray ingin tertidur di atas paha gue.
Dan Ray melakukan itu.
Seharusnya gue biasa saja, karena naluri gue yang lebih dulu memulai. Namun, mengapa jantung gue berdegup kencang?
Dengan ragu, gue mengelus rambutnya ke belakang. Memperlakukan dia seperti anak kecil. Gue memandangi wajah Ray, dengan tangan yang masih setia mengelus rambutnya. Dia terlihat tampan jika dilihat dalam jarak yang cukup dekat ini.
Ray kembali menggeliat, yang otomatis membuat tangan gue menjauh dari kepalanya. Gue gugup setengah mati. Asli.
Lalu matanya terbuka, dia cukup terkejut dengan posisinya yang seperti ini. Sebelum dia bangun dari posisinya, gue berucap, "It's oke."
Gue kira Ray akan tetap bangun. Namun ternyata tidak. Dia malah menggerakkan kepalanya di paha gue. Mencari posisi nyaman, mungkin.
Dia mengambil tangan gue, menggenggamnya dan meletakkan tangan gue di atas dadanya. Matanya menatap gue, mungkin untuk memastikan bahwa gue tidak terganggu dengan sikapnya.
Gue membalas dengan senyuman.
Tangan gue yang satunya lagi mengelus rambut Ray. Dia sangat terlihat nyaman dengan hal itu. Gue juga tidak tahu apa yang terjadi dengan diri gue. Entah mengapa gue merasa sangat nyaman. Tetapi tetap dengan ritme jantung yang kencang.
Gue melihat mata Ray kembali terpejam.
Gue bersandar di sofa. Rasa kantuk baru saja tiba menghampiri gue. Sepertinya tidur sebentar tidak apa.
Lalu gue terlelap dalam ketenangan.
***
Gue kembali membuka mata. Dan tidak ada Ray di atas paha gue. Otomatis, gue menoleh ke samping dan menemukan Ray yang sedang terdiam.
Gue kembali mengalihkan tatapan. Gue mendapatkan sofa yang tadi ditempati Zanna kosong. Gue menoleh ke kanan dan mendapati Kendra dan Adara yang sepertinya baru terbangun, sama seperti gue.
"Zanna ke mana, Ray?" Gue bertanya, seolah kami tidak pernah melakukan apapun sebelumnya. Eh, tapi kan tadi bukan apa-apa. Jadi tidak perlu khawatir berlebihan. Iya, kan?
"Tadi dia bilang mau mengecek Gabriel," Ray menjawab.
Gue baru ingat. "Ra, susul Zanna, yuk!" ajak gue.
Adara mengangguk.
Lalu kami berdua beranjak menuju kamar Gabriel.
Dengan perlahan, gue membuka pintu kamar Gabriel. Di sana ada Zanna yang sepertinya sedang berbincang seru dengan Gabriel.
Adara berdeham cukup keras.
Membuat Gabriel dan Zanna mengalihkan perhatiannya kepada kami.
Gue tersenyum kaku.
"Sini, Kak!"
Gue berjalan mendekati Gabriel, persis seperti apa yang Zanna katakan.
"Ruamnya masih sakit, Riel?" gue bertanya ragu.
"Sedikit."
"Ramuannya udah diminum?" kini Adara yang bertanya.
Gabriel mengangguk. "Udah."
"Oh iya, Kak Gabriel udah setuju soal berendam di pinggir danau," jeda sebentar, "Bahkan dengan kemungkinan terburuknya."
Mata gue membola terkejut. "Zan?"
Dia tersenyum. "Maaf Kak. Setelah aku berpikir ulang, aku nggak bisa menyembunyikan ini dari Kak Gabriel. Bagaimana pun juga kan, Kak Gabriel yang melakukan. Dia harus tahu mengenai resikonya."
"Iya Mey. Gue siap kok, apa pun resikonya."
Gue menghela napas. "Semoga berhasil ya, Riel."
Adara, Zanna dan Gabriel mengangguk penuh harap.
"Udah siap, Kak?" Zanna bertanya.
Gabriel mengangguk yakin.
"Sekarang?" tanya Adara ragu.
"Udah nggak panas juga lagian," kata Zanna.
Oke, gue mengerti.
Semoga apa yang kami lakukan ini benar dan berhasil.
Gue dan Zanna membantu Gabriel berjalan. Sesampainya di ruang tamu, Ray dan Kendra menatap kami heran.
"Mau ke mana?" tanya Ray.
Tuh kan. Nyari masalah lagi.
"Ke wonderland. Ya ke danau perbatasan, lah!" Adara menjawab jengkel.
"Sekarang?" Kendra memastikan.
"Iya." Adara menjawab, namun kini dengan ekspresi senang.
Gue menahan tawa.
Setelah itu, kami berenam berjalan bersama menuju danau perbatasan yang tidak terlalu jauh.
Sesampainya di danau, Kendra dan Ray yang menemani Gabriel berjalan mendekati pinggir danau.
Sedangkan gue, Adara dan Zanna duduk bertiga di bangku yang ada di sini.
Hati gue berharap-harap cemas.
"OI, GABRIEL BERENDAM DI SINI BERAPA LAMA?" Ray berteriak.
"Kalau nggak salah lima belas menit. Ya nggak sih, Zan?" Gue bertanya memastikan.
Zanna mengangguk. "Iya, Kak."
"LIMA BELAS MENIT!" Adara yang berteriak.
Dari sini, gue melihat Gabriel melepas bajunya. Menampilkan punggung tegapnya yang penuh dengan ruam merah. Dan kini, Gabriel sudah siap berdiri di tepian danau.
Sebelum berendam di tepian danau, Gabriel sempat berbicara terlebih dahulu dengan Ray dan Kendra. Setelah itu, dia melompat memasuki danau yang cukup dalam itu.
"Kita ke sana, yuk!" ajak gue.
Adara dan Zanna mengangguk, lalu kita langsung berlari menghampiri Ray dan Kendra yang sama cemasnya dengan kami.
Tak lama, Gabriel muncul di permukaan, ia berenang menuju tepi, mendekati kami berdiri.
Dia sempat tersenyum, sebelum akhirnya kembali menyelam. Mungkin kata menyelam jauh lebih tepat dari pada berendam.
Gabriel muncul lagi di permukaan, untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu ia kembali menyelam.
Siklus seperti tadi terjadi sampai empat kali.
Mungkin sekarang sudah hampir tiga menit sejak Gabriel menghirup udara. Namun, Gabriel tak kunjung muncul di permukaan.
Kami semua saling tatap cemas.
"Gue akan berenang cari Gabriel. Nanti gue akan kasih kode ke lo, Ken. Buat bantu gue kalau misalnya gue nggak berhasil menemukan Gabriel," ujar Ray dengan nada panik.
Kendra mengangguk yakin.
Lalu, Ray melepas baju.
"Hati-hati, Ray!"
"Hati-hati, Kak Ray!"
Gue dan Zanna mengucapkan itu bersamaan, membuat gue dan Zanna menjadi sedikit canggung.
Ray tersenyum dan mengangguk, lalu melompat berenang menyusuri danau mencari Gabriel.
Gue meneteskan air mata.
Seharusnya tidak seperti ini.
***