[Meysha Fradella]
Hati gue seakan teriris pilu mendengar ringisan Gabriel dari luar kamarnya. Hati gue hancur saat melihat kondisi Gabriel yang sangat mengenaskan, sebelum Ray sempat mengusir kami secara halus.
Adara menepuk pundak gue, mata Adara pun sama merahnya dengan gue. Gue menoleh ke sebelah kiri, mendapati Zanna yang sedang bersusah payah menahan tangisan.
"Zan, kalau kamu mau menangis, nangis saja. Setiap manusia punya hak untuk bersedih hati."
Zanna tersenyum getir, satu tetes air mata keluar dari pelupuk matanya, satu tetes lagi. Sampai akhirnya, air matanya turun deras, ia menangis pilu.
Gue memeluk Zanna erat. Disusul oleh Adara, kami bertiga saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain saat kami sama-sama sedang bersedih hati.
Gue tidak mau kehilangan Gabriel dengan cara seperti ini.
Kami melepas pelukan.
Gue teringat sesuatu. "Kalau tidak salah, air danau perbatasan banyak mengandung manfaat, kan?"
Zanna menatap gue, netranya menunjukan ia sangat antusias. "Iya juga ya, Kak. Siapa tahu itu bisa sedikit meringankan rasa sakit Kak Gabriel?"
"Ya udah, kita bilang aja ke mereka!" Adara memberi usul.
Gue mengangguk, dan kami bertiga berjalan menuju kamar Gabriel. Gue mengetuk pintu, pintu terbuka menampakkan sosok Ray, ia keluar dan kembali menutup pintu.
Gue mengatakan semua yang gue pikirkan. Awalnya Ray tidak yakin, setelah dikuatkan oleh pendapat Zanna, Ray menjadi sedikit yakin. Tetapi, ia tidak setuju jika kita melakukan apa yang gue saranin sekarang. Karena kondisi Gabriel sangat tidak memungkinkan, juga hal buruk sangat rentan terjadi pada Gabriel jika kita gegabah.
Apa yang Ray bilang ada benarnya, kami bertiga setuju. Gue sempat mengatakan untuk kembali berkunjung ke rumah Mbok Yu, untuk menguatkan apa yang ada di pikiran gue.
"Iya, itu benar. Namun sangat beresiko tinggi."
"Apa resikonya Mbok Yu?" gue bertanya tidak sabar.
"Jika ruamnya tidak membaik, maka kondisi Gabriel yang semakin memburuk."
"Mbok Yu yakin?" tanya Zanna.
Mbok Yu tersenyum. "Itu alasan mengapa Mbok tidak menyarankan hal ini kepada orang yang terkena penyakit hyrexin, padahal Mbok tahu. Itu sangat berbahaya."
"Tapi kita nggak akan pernah tahu kalau kita tidak pernah mencoba, kan?"
Gue mengangguk setuju atas ucapan Adara.
"Sebelumnya, apa kalian bersedia menceritakan kronologi Gabriel bisa menyentuh daun hyrex?"
"Tepat seperti apa yang kebanyakan orang bilang," gue menyahut datar.
Mbok Yu mengangguk. "Keputusan ada di tangan kalian. Entah kalian tetap mau menyarankan Gabriel untuk berendam di danau, atau membatalkannya."
"Menurut Mbok Yu, kemungkinan berhasilnya berapa persen?" Zanna bertanya.
Mbok Yu terlihat berpikir sebentar. "Delapan puluh persen gagal, dua puluh persen berhasil."
Adara dan Zanna yang berada di kiri kanan gue, menatap gue. Gue tahu maksud mereka apa, mereka menyerahkan keputusannya kepada gue.
Kalau di pikir dari pernyataan Mbok Yu, hal ini sangat berbahaya. Tetapi, bukan tidak mungkin untuk berhasil, kan?
Kalau ini berhasil, setidaknya ruam di tubuh Gabriel akan membaik atau bahkan menghilang. Tapi kalau gagal, ini akan semakin memperparah kondisi Gabriel.
Tapi, coba kita pikir ke depan. Walau berat mengakuinya, keadaan parah cepat atau lambat akan Gabriel alami. Jika keparahan Gabriel datang lebih cepat, gue akan menjadi orang pertama yang paling menyesal atas keputusan yang sudah gue ambil.
Kalaupun hal ini berhasil, yang berkurang hanya rasa sakit ruam di tubuh Gabriel. Dan rasa sakit lainnya? Akan tetap ada. Tapi kan yang paling parah rasa sakit yang Gabriel rasakan saat ini adalah ruam.
Bagaimana ini?
Sebentar, kalau ruamnya berhasil kita hilangkan, berarti bukan tidak mungkin, kalau kita juga bisa menghilangkan rasa sakit akibat penyakit hyrexin yang lain, kan?
Kalau ruamnya hilang, itu akan membuka secercah harapan, membangkitkan semangat, sekaligus mematahkan persepsi kalau obat hyrexin hanya berada di dalam hutan belantara.
"Mey?"
Gue tersentak karena suara Adara.
Gue sudah mendapatkan keputusan, setelah bergelut dengan pikiran sendiri. "Kami akan tetap melakukan itu. Dengan kemungkinan dua puluh persen berhasil, bukan berarti tidak mungkin, kan?"
Adara dan Zanna mengangguk ragu.
"Ra, Zan. Kita harus yakin, kalau kita bisa. Gue sudah memikirkan kemungkinan paling buruknya, kok. Tapi bukankah saat ini yang paling tepat kita pikirkan adalah hal yang baik saja?"
"Kalau kita berhasil, ruam di tubuh Gabriel akan membaik atau bahkan menghilang. Jika ruamnya hilang, bukan tidak mungkin kalau kita bisa menghilangkan rasa sakit hyrexin yang lain, kan?"
Adara dan Zanna tersenyum menatap gue.
Gue ikut tersenyum, karena berhasil menebarkan pemikiran baik kepada mereka.
"Menurut Mbok Yu bagaimana?" Gue meminta pendapat.
Mbok Yu tersenyum. "Apa pun yang akan kalian lakukan, Mbok Yu dukung. Tetap berhati-hati."
Kami bertiga mengangguk. Setelah itu, kami berpamitan dan langsung bergegas menuju rumah Gabriel.
"Gimana kalau kemungkinan buruknya jangan kita kasih tahu kepada Ray, Kendra dan Gabriel?" gue memberi saran.
Zanna menatap gue penasaran. "Kenapa Kak Mey?"
"Supaya pikiran mereka hanya terfokus pada hal baik. Jadi, biarkan kita saja yang mengetahui kemungkinan buruk itu. Oke?"
"Gue nggak setuju," ujar Adara sangat yakin.
"Ra, kalau mereka harus tahu, kita akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan itu. Kita juga harus berdebat panjang yang sangat membuang waktu. Bukankah semakin cepat semakin baik?"
"Aku setuju sama saran Kak Mey."
Gue tersenyum puas karena mendapat pembelaan dari Zanna.
"Tapi Mey...."
"Kak Dara, aku nggak bisa melihat Kak Gabriel kesakitan lebih lama. Aku nggak bisa untuk selalu berpura-pura kuat di depan Kak Gabriel. Kalau ada cara dan kesempatan, kenapa tidak?"
Gue merangkul Adara. "Ra, mungkin ini jalan untuk menjemput keajaiban yang akan Tuhan berikan."
Adara menghela napas. "Karena kalian setuju, gue juga setuju. Walau sedikit terpaksa."
Gue dan Zanna tersenyum simpul.
Sebenarnya, jauh dari dalam lubuk hati, gue sedikit meragukan apa yang baru saja gue saranin kepada Zanna dan Adara. Semoga gue tidak salah mengambil keputusan yang egois ini.
Ketika gue masuk ke dalam rumah Gabriel, gue langsung ditunjukan pemandangan Ray dan Kendra yang sedang bersandar di sofa kelelahan. Pasti mereka lelah menjaga dan menghibur Gabriel.
"Gabriel gimana?" Adara langsung bertanya.
"Dia lagi tidur."
Gue menghela napas dan tersenyum.
"Kalian mau minum apa? Biar aku buatkan."
"Apa aja lah, Zan. Yang penting bisa di makan, eh di minum," ujar Ray sedikit menyebalkan.
Gue menggeleng mendengar ucapan Ray.
"Kak Ray mau makan juga?"
Kendra berdeham kencang.
Gue menahan senyum, pasti Kendra sedang meledek Zanna dan Ray.
"Kalian semua mau makan apa?" Zanna bertanya, mencari aman.
"Gue bantu masak ya, Zan."
"Gue juga," Adara ikutan.
"Memangnya, kalian mau makan apa?"
Kendra mengibas tangannya. "Apa aja, yang penting aman masuk perut, Zan. Santai, Ray pemakan segala, kok."
Gue tertawa kecil.
Ray langsung menepuk keras pundak Kendra. "Enak aja, emang gue monyet apa?!"
Satu ruangan ini tertawa mendengar celetukan Ray.
Gue melihat Zanna yang sepertinya sedang malu tingkat dewa karena secara tidak langsung kami jodohkan dengan Ray.
Gue tersenyum simpul. "Udah ih, jangan digodain mulu. Emang ada apa aja Zan, di dapur?"
Zanna terlihat berpikir. "Tadi aku nggak sempat belanja. Tapi aku masih ada stok ayam ungkep, mau nggak?"
Kami berempat mengangguk.
"Ya udah, tinggal goreng aja kan, Zan?"
Zanna mengangguk.
Lalu gue, Zanna dan Adara berjalan menuju dapur, untuk menyiapkan makanan.
Setelah selesai makan, gue mulai membuka topik pembicaraan. Namun sebelumnya, gue teringat sesuatu. "Zan, tadi Gabriel udah makan belum?"
Zanna mengangguk. "Tadi pagi sih udah. Sekarang belum."
"Kamu cek gih, ke kamar. Kalau dia udah bangun suruh dia makan. Kalau nggak mau, paksa. Pastiin dia makan, walaupun cuma sedikit."
Zanna tersenyum dan beranjak berdiri.
Kendra berdeham kencang, lagi. "Ra, aku tersedak cinta nih."
Adara tertawa. "Telen aja Ken. Aman kok kalau dari aku, mah."
Adara, Kendra dan Ray tertawa.
Pasti mereka meledek gue, atas perhatian yang gue berikan kepada Gabriel. Memang salah ya, perhatian sama sahabat sendiri?
"Oh iya, Ray. Masalah tadi—" gue sengaja memberi jeda, semoga Ray langsung mengerti.
Tetapi dia malah mengerutkan alis, bingung. "Yang mana?"
Gue memutar bola mata. "Danau."
Ray mengangguk patah-patah. "Tadi kalian abis ke rumah Mbok Yu?"
Gue dan Adara mengangguk.
"Terus gimana?" Kendra bertanya penasaran.
Berarti Kendra juga sudah tahu mengenai perihal ini.
"Mbok Yu membenarkan dan menyetujui," ucap gue semangat.
Semoga Ray dan Kendra tidak curiga.
"Oh ya udah. Tadi Zanna ngambil makan untuk Gabriel kan, ya? Berarti nanti setelah Gabriel makan dan bila memang kondisinya memungkinkan, kita bawa dia ke danau perbatasan," Kendra memberi usul.
"Tapi gue nggak setuju."
"Maksudnya?" gue menatap Ray, butuh penjelas lebih.
Dia malah tertawa kecil. "Sekarang kan panas banget, nih. Nanti aja, tunggu sore."
Gue menghela napas, awalnya gue kaget karena takut Ray bisa menebak dan tahu yang sebenarnya. Gue benar-benar berharap, semoga semesta mendukung apa yang gue rencanakan demi kebaikan Gabriel.
Tak lama, Zanna kembali, dia duduk di sebelah gue.
"Gabriel gimana?"
Zanna tersenyum. "Udah baikkan, kok. Tadi juga udah makan, banyak lagi."
Kami semua menghela napas lega, syukurlah.
"Soal ke danau gimana?" Zanna bertanya.
"Nanti sore," Adara menjawab.
Yang diangguki kami bertiga.
"Semoga keadaan membaik Kak Gabriel bertahan setidaknya sampai nanti sore, ya," Zanna berharap.
Gue dan bahkan kita semua berharap hal yang sama.
"Sekarang Gabriel lagi apa?" Ray bertanya.
"Lagi istirahat, atau mungkin tidur lagi. Aku nggak yakin."
Gue melihat Ray menatap Kendra. "Temani Gabriel kuy?!"
Mata gue melotot.
"Heh, apa-apaan. Gantian dong, biar gue, Zanna dan Mey yang temani Gabriel!" ujar Adara sewot.
Gue dan Zanna mengangguk setuju.
"Oke, santai bos. Ya udah gantian aja, gue juga ngantuk nih, pen bobo ciang," ucap Ray, membuat gue bergidik.
"Jijik gue, Ray!"
Gue satu pemikiran dengan Adara.
"Zan, Ra. Temani Gabriel yuk!" gue mengajak mereka.
Mereka berdua mengangguk dan kami berjalan menuju kamar Gabriel.
***