CHAPTER XV | Memburuk

1657 Words
[Ray Dhanadyaksa] Gue kalut. Gabriel tiba-tiba saja kondisinya menjadi semakin memburuk. Padahal, Gabriel sudah meminum ramuan, yang seharusnya dapat memperlambat reaksi racun daun hyrex di tubuhnya. Tapi, gue nggak tahu harus gimana. Keadaan Gabriel yang tiba-tiba saja sangat kesakitan ketika saat bermain tadi, cukup membantu gue untuk lolos dari kewajiban menjawab pertanyaan yang sangat membingungkan. Iya, gue tahu, gue nggak boleh senang akan hal itu. Ibaratnya seperti ini, masalah pertama yang sifatnya pribadi selesai. Tetapi dengan imbalan masalah baru yang jauh lebih besar dan berat, bukan cuma untuk gue, tapi untuk kita semua, hadir. Gue melihat Kendra mengambil ramuan yang berada di atas nakas, ia memberikannya kepada Gabriel. Gabriel menggeleng lemah. Jelas, keadaan seperti ini sangat tidak memungkinkan untuk Gabriel meminum ramuan itu. Rasa sakit di kepala pasti sangat mendominasi atensi Gabriel. Gue melotot terkejut, saat Gabriel menggaruk tangannya. Gue kaget bukan main. Karena, di tangan Gabriel terlihat ruam merah yang cukup mengerikan untuk dilihat. Gue menggeleng, cepat atau lambat, pasti gatal itu akan menjalar bahkan sampai ke seluruh tubuh Gabriel yang terdapat ruam. Gue mati-matian menahan tangis. Untuk saat ini, gue nggak boleh menangis. Ini bukan waktu yang tepat. Bahkan sekarang waktu yang sangat tidak tepat untuk mengeluarkan air mata setetes pun. Gue tidak tahu harus bagaimana. Gue memandang Kendra yang sama kalutnya seperti gue. "Buka baju aja ya, Riel? Biar ruam lo kena udara," Kendra memberi usul. Gue mengangguk, membantu Gabriel untuk duduk dan melepas pakaiannya. "Ray, ambil kipas, Ray!" Kendra menyuruh gue. Gue mengernyit, "Di mana?" "Apa kek, barang yang bisa dijadiin kipas." Gue mengedarkan pandang ke sekeliling. Oke, Ray. Putar otak. Eh, otak kan di dalam kepala, jadi nggak bisa diputar, dong. Gue melihat sebuah kertas terselip, mungkin bisa gue gunakan. Gue segera megambilnya. Dan langsung mengipasi Gabriel dengan kertas itu. Gue meringis dalam hati melihat kondisi Gabriel saat ini. Dia tengah berbaring dengan raut yang ketara sekali sangat menahan rasa sakit yang hebat. Sekujur badannya memerah karena ruam itu. Mungkin bagian kakinya juga. Tak lama, derap langkah kaki terdengar, gue menoleh ke ambang pintu dan menemukan tiga perempuan terkejut melihat apa yang terjadi di sini. Gue memalingkan muka. Gue sangat tidak sanggup melihat ekspresi sedih Meysha. "Lebih baik kalian tunggu di luar aja, ya. Kondisi Gabriel saat ini sangat tidak memungkinkan untuk ditemani kalian. Nanti kita gantian temani Gabriel saat ruam di tubuh Gabriel sudah membaik." Ketiga perempuan itu mengangguk. "Dikompres aja ruam Kak Gabriel," Zanna mengingatkan. Belum sempat gue berbicara, Gabriel langsung menggeleng kepala menolak. "Jangan di kompres. Itu hanya membuat ruam ini semakin sakit." Zanna mengangguk pasrah. Lalu mereka bertiga melangkah menjauh dari kamar Gabriel. Gue menyerahkan kertas yang tadi di pakai untuk mengipas Gabriel kepada Kendra. Gue berjalan menuju pintu kamar Gabriel. Sebelum menutup pintu, gue melihat tiga perempuan itu menunduk dengan bahu turun, sedikit bergetar. Gue tersenyum getir, mereka bertiga pasti menangis. Setelah menutup pintu, gue berjalan mendekat kembali kepada Gabriel. "Apa aja yang sakit, Riel? Gue mohon lo jujur." Gue mengangguk setuju akan pertanyaan Kendra. Gabriel menggeleng tak berdaya, "Kepala gue sakit, badan gue gatal dan panas, tubuh gue sedikit kaku." Gue dan Kendra melotot saling tatap. Apa Gabriel akan lumpuh? Gue menggeleng, meneguhkan hati, bahwa semuanya tidak akan terjadi secepat ini. Kendra langsung mengambil ramuan lagi, kini dia memaksa Gabriel untuk meminumnya. Dengan susah payah, Gabriel meminum ramuan itu yang tadinya tinggal setengah, kini habis tanpa sisa. Gue dan Kendra berharap-harap cemas, berharap semoga ramuan itu segera bekerja. "Kaki gue sakit," Gabriel meringis. Gue tersenyum kecut. "Gue tahu lo kuat dan bisa mengatasi ini. Penyakit hyrexin nggak akan mem" Astaga, bahkan memikirkan salah satu di antara teman baik gue akan terkena penyakit hyrexin pun tidak pernah. Gue bingung harus melakukan apa, supaya dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan Gabriel. Pintu kamar Gabriel terketuk. Gue memberi isyarat kepada Kendra supaya gue saja yang membuka pintunya. Gue membuka pintu, keluar dari kamar Gabriel dan kembali menutup pintunya. Mana mungkin juga gue biarkan ketiga cewek ini melihat kondisi Gabriel sekarang. "Ray, gue tahu harus melakukan apa untuk mengurangi rasa sakit karena ruam di tubuh Gabriel," ujar Meysha menggebu. Mendengar nada bicara Meysha yang sangat semangat dan penuh harap, membuat gue sedikit cemburu dengan Gabriel. Walaupun gue tahu, sekarang bukan waktu yang tepat untuk cemburu. Tapi rasa cemburu bisa datang kapan saja, kan? Sama seperti cinta. Dan rasa cemburu itu wajar dialami untuk seseorang yang sedang jatuh cinta, kan? Gue menaikkan sebelah alis. "Apa?" "Berendam di danau perbatasan." Gue tidak percaya akan hal itu. "Lo yakin?" Meysha mengangguk kuat-kuat. "Lo tahu kan, air danau perbatasan banyak mengandung manfaat? Banyak warga Desa Tiwa yang mengambil air dari sana. Pun air di danau tidak pernah kering dan keruh. Selalu melimpah dan jernih." Apa yang Meysha katakan memang benar adanya. Tapi sebentar, satu pertanyaan terlintas di kepala gue. "Kenapa Gabriel harus berendam? Kenapa kita nggak mengambil air danau dan membiarkan Gabriel mandi dengan air itu?" "Supaya lebih efektif, Ray," jawab Meysha. "Kak Ray, bisa tolong sampaikan ini ke Kak Gabriel?" kata Zanna. "Sebentar. Berendam di tengah danau atau pinggir danau?" Ketiga perempuan itu menatap gue dengan tatapan yang seakan berbicara, 'Bisa serius nggak sih, Ray?' Tapi gue tidak bercanda soal ini. "Di pinggir danau lah, Ray!" Adara menyahut sebal. Oke, oke. Santai. "Kapan?" "Sekarang!" ujar Meysha dan Zanna berbarengan. Otomatis gue menggeleng tidak setuju. "Gue nggak setuju." "Kenapa?" sahut Zanna. "Kondisi Gabriel saat ini sangat tidak memungkinkan untuk berjalan ke danau perbatasan yang kita tahu cukup jauh. Saran gue, nanti sore atau nanti sampai kondisi Gabriel sudah memungkinkan untuk berjalan ke danau. Kita nggak mau sesuatu yang lebih parah terjadi di perjalanan kepada Gabriel, kan?" Gue menjelaskan. Ketiga perempuan itu terdiam. Gue tersenyum. "Jangan gegabah." Lalu berbalik hendak memasuki kamar Gabriel. "Ray!" panggil Meysha, membuat pergerakan gue terhenti. Gue balik kanan, menghadap Meysha. "Kami mau memastikan hal ini kepada Mbok Yu terlebih dahulu. Jaga Gabriel, ya?" Tanpa disuruh siapapun, gue pasti akan melakukan itu. Gue mengangguk yakin. Setelah itu, gue kembali masuk ke dalam kamar Gabriel, tak lupa menutup pintu, bahkan menguncinya. "Kenapa, Ray?" Kendra bertanya. "Mereka menyarankan Gabriel untuk berendam di danau perbatasan." "Berendam?" ujar mereka kebingungan sangat kompak. Gue mengangguk. "Yakin?" Kendra terlihat tidak percaya. "Meysha dan Zanna yang menyarankan itu. Gue baru ingat soal manfaat air danau itu." "Kapan?" "Mereka bilang sekarang. Gue kurang setuju. Setidaknya, kondisi Gabriel harus lebih baik dulu. Atau mungkin nanti sore." Mereka berdua mengangguk, yang berarti setuju. "Gue takut." Gue kaget saat pertanyaan itu keluar dari mulut Gabriel. Gue menggeleng. "Apaan sih, Riel." Lalu Gabriel menatap gue. "Ray, gue titip Zanna ya, kalau misalnya gue nggak bisa bertahan lebih lama lagi dengan kondisi ini." "Lo akan baik-baik aja. Lo akan sembuh. Lo akan tetap bersama Zanna, melindungi dia, seperti biasa." Gue meneteskan air mata di ujung kalimat. Hanya karena perkataan pesimis keluar dari mulut Gabriel, hal itu berhasil meruntuhkan pertahanan gue, yang sudah gue bangun sekuat baja. Gabriel tersenyum getir. Gabriel pasti sembuh. Gue sangat percaya dengan suatu hal yang bernama keajaiban. Tuhan bisa memberikan keajaiban, kapan pun Ia mau. Kendra menepuk bahu gue, memberi kekuatan. Lalu ia berkata, "Riel, gue, Ray, bahkan kita semua yakin kalau lo akan bertahan. Kalau pun lo berakhir, bukan dengan cara seperti ini. Kita semua yakin lo akan menjadi orang pertama di Desa Tiwa yang sembuh dari penyakit hyrexin." Gue sangat setuju dengan ucapan Kendra. "Argh...." Gabriel meringis sambil memegang kepalanya. Gue dan Kendra sama sekali tidak tahu harus melakukan apa. Gue meringis dalam hati. Gue tidak tega melihat kondisi Gabriel saat ini. Hampir seluruh tubuhnya merah, dipenuhi ruam yang pastinya sangat gatal dan sakit. Gabriel dengan brutal menggaruk ruam yang gatal di tangannya, berpindah ke perut, leher bahkan sampai kaki. Gue menggeleng. "Gue tahu ini gatal. Tapi jangan digaruk." "Gue nggak tahan, Ray." "Jangan digaruk ya, Riel. Karena itu hanya akan memperparah ruam lo." Kendra ikut menimpali. Gabriel menghentikan aktivitas menggaruknya. Oke, Ray. Bersikap wajar. Hibur Gabriel. Dia butuh pengalih perhatian dari seluruh rasa sakitnya. "Riel, rencana lo dua tahun ke depan apa?" Hanya itu yang terlintas di pikiran gue. "Mungkin melanjutkan sekolah," jawabnya sambil sedikit meringis. "Jurusan apa?" Kendra berujar tertarik. Sepertinya Kendra mengerti apa yang sedang gue lakukan saat ini. Tuh kan, apa gue bilang, dia itu orangnya peka banget, tiada tanding. "Kedokteran." Mata gue membola terkejut, "Cool." Kendra ikut mengangguk antusias. "Lo enak udah ada bayangan, atau setidaknya ada Paman lo yang mau bantu biaya. Sedangkan gue, nggak yakin bisa kuliah," curhat Kendra. "Pasti bisa, kok. Kuliah kan, bisa kapan saja," kata Gabriel. Bagus, Gabriel sudah mulai terbawa obrolan. "Kalau gue sih tetap pada tujuan gue." "Emangnya lo punya tujuan?" Kendra bertanya tidak percaya. "Jangan salah, bro. Gue punya cita-cita untuk menjadi Ray Tegar." Gue melihat Gabriel memutar bola mata malas, dengan tangan masih sedikit menggaruk bagian lehernya. "Ray Tegar?" "Jadi, gue ingin menjadi motivator. Atau penenang bagi orang yang punya masalah. Kecil-kecillan aja dulu." "Gue nggak ngerti, gue nggak paham." Gabriel terkekeh mendengar pernyataan Kendra. "Lo tahu nggak sih, motivator yang terkenal itu? Yang sering kita tonton acaranya seminggu sekali di pos ronda." Karena televisi hanya ada satu di Desa Tiwa. Itu pun dibeli dari hasil patungan para warga. Kendra mengangguk. "Nah, gue mau menjadi semacam dia." Barulah setelah itu Kendra tertawa lepas, sangat lepas. "Guru BK kali, Ray!" Gabriel memberi pendapat. Gue menampilkan raut berpikir. "Kok guru BK?" "Guru BK kan sering membatu menyelesaikan masalah para muridnya." Kendra yang menjawab. "Tepat sekali," balas Gabriel. "Oh gitu, ya? Boleh juga. Akan gue pikirkan." Kendra langsung menjitak kepala gue. "Gaya lu tuh selangit banget ya, Ray! Untung lo teman gue, kalau bukan udah gue ceburin lu ke danau kali!" "Wah psikopat!" Kendra tertawa lebar. Bahkan Gabriel juga ikut tertawa singkat. Rencana gue untuk menghibur Gabriel berhasil dan sangat sukses. Mungkin sekarang, ruam atau kepala Gabriel tidak sakit lagi. Ternyata, menyenangkan bisa menghibur seseorang yang tengah kesakitan, atau lebih tepatnya, mengalihkan pikiran seseorang yang tengah kesakitan. Rasanya sangat memuaskan. Karena gue merasa jauh lebih berguna menjadi seorang manusia yang diberi kesempatan untuk hidup di dunia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD