CHAPTER XIV | Tiba-tiba

1669 Words
[Meysha Fradella] Gue melihat Gabriel sedang meringis sambil memegang kepalanya, otomatis gue langsung menunjukan raut panik. Tetapi, Ray menepuk pundak gue, seakan mengingatkan gue untuk terlihat biasa saja. Oke, gue akan mencoba untuk bersikap biasa saja. Tapi dalam hati, demi apapun gue takut dan panik. Zanna mendekati Gabriel. "Kepala Kak Gabriel sakit?" "Sedikit. Tapi sekarang udah nggak kok." Dia menatap kami bertiga. "Duduk." Kami menurut. "Riel, lo merasa sakit apa aja, semenjak hampir dua hari ini?" Adara bertanya, mewakilkan kami semua. "Cuma nyeri sama sakit kepala aja, kok," ucapnya seakan dia hanya merasakan sakit pilek. "Gatal-gatal?" Adara kembali bertanya. "Mungkin belum." "Guys kita mainan, yuk!" ajak Ray semangat. Ray. Dia selalu bisa merubah suasana yang tadinya canggung, menjadi ceria. Yang tadinya sedih, menjadi bahagia. Gue tersenyum dan mengangguk. "Main apa?" Ray terlihat berpikir. "Ada saran? Permainan yang bisa dimainkan dalam rumah, tanpa perlu berdiri." "Gimana, kalau misal masing-masing dari kita membuat dua atau tiga pertanyaan di kertas. Setelah itu, kita hompimpah. Yang berbeda sendiri, dia yang harus jawab pertanyaan di kertas itu." Kendra memberi ide. Kami semua mengangguk semangat, termasuk Gabriel. "Pertanyaannya tentang apa?" Zanna bertanya. "Bebas, tentang apapun." "Kalau kita dapet pertanyaan yang kita buat sendiri?" tanya Gabriel. "Menurut gue, jawab aja." "Kalau jawab aja, kita nggak tertantang untuk membuat pertanyaan yang aneh dong. Ya, karena bisa s*****a makan tuan nantinya." Ray menyanggah. Kendra berpikir. "Oke. Kalau kita dapat pertanyaan yang kita buat sendiri. Bilang pas. Dan tukar sama pertanyaan lain. Setuju?" "Masing-masing orang, bikin tiga pertanyaan gitu?" Adara memastikan. Kendra tersenyum menatap Adara. "Iya, sayang." Membuat gue, Ray, Gabriel dan Zanna merasa geli sendiri. Adara melotot. "Jangan gitu, ah!" "Ih kenapa, masa aku nggak boleh bilang sayang ke kamu? Terus aku bilang sayang ke siapa? Kan nggak mungkin Meysha." Gue terkekeh. Adara terlihat malu-malu. "Suasananya nggak pas." Ray berdeham. "Kalau mau pacaran tuh lihat situasi dan kondisi dulu kali. Bikin gue yang jomblo jadi iri aja." Kami tertawa. Sedangkan Gabriel, ia hanya tersenyum kecil. "Nah, kalau gitu, mending kalian semua pacaran. Kan pas. Ray sama Zanna, Meysha sama Gabriel. Iya nggak, Ra?" Adara mengangguk semangat. "Iya dong. Jadi kalau ngumpul gini, namanya triple date." "Kalian ngomong apa sih?" Gue berujar. "Tahu, gak jelas banget." Zanna menambahkan. "Cowoknya pada nggak peka banget nih, jelas-jelas ada cewek yang nggak kalah cantik sama Dara di Desa Tiwa. Masa nggak dijadiin sih?" Kendra tetap melanjutkan. "Heh, lu kira menyatakan perasaan ke cewek semudah kentut apa? Nggak!" Ray berkata absurd yang ada benarnya. "Ini kita jadi nggak mainnya?" Gabriel memutus percakapan mengenai pasangan. Kendra terkekeh. "Waduh, santai bos. Jadi lah. Ada kertas kan, di rumah ini?" Zanna mengangguk. "Bentar ya, aku ambil dulu." Tak lama, Zanna kembali dengan membawa buku beserta pulpen di tangannya, ia memberikan buku itu kepada Kendra. "Masih terpakai nggak nih?" Kendra memastikan. Zanna menggeleng. "Nggak, Kak." Lalu, gue melihat Kendra merobek asal kertas pada buku itu. Ia mengoper satu lembar kertas kepada kami semua. "Main kayak gini, enaknya di lantai. Ya gak?" usul Ray. "Setuju!" sahut Kendra semangat. Kami berenam duduk melingkar di lantai. Dengan posisi gue, Ray, Zanna, Kendra, Adara dan Gabriel. Gue merobek asal kertas itu menjadi tiga bagian. Menunggu giliran pulpen yang di awali dari Zanna. Setelah pulpen itu berada di tangan gue, gue memulai menulis tiga pertanyaan yang terlintas begitu saja di kepala gue. Setelahnya, gue mengoper pulpen itu ke Gabriel dan menggulung tiga kertas secara bergantian, lalu meletakkan kertas itu di tengah lingkaran kami. Setelah semuanya telah selesai menulis pertanyaan dan meletakkan kertas, Kendra mengacak-acak kertas yang berada di tengah kami. "Oke guys. Mulai. Kita hompimpah alias gambreng," ucap Kendra. Kami semua menurut dan mengulurkan satu tangan setelah itu memulai hompimpah. Dan orang yang mendapat giliran pertama menjawab pertanyaan di kertas adalah Adara, karena tangan dia berbeda sendiri saat hompimpah. Adara menghela napas, "Oke. No problem, i'm not scared." "Close your eyes, babe," ujar Kendra. "Oke." Lalu Adara menutup mata dengan satu tangannya dan mengambil kertas dengan tangannya yang lain secara asal. Lalu dia membukanya. "Bacain, Ra," ujar Kendra. "Sebutkan sepuluh orang yang paling lo sayang." "Yah, itu mah gampang banget," keluh Ray. Gue tersenyum, itu pertanyaan yang gue buat. "Okey, sepuluh orang. Ayah dan Bunda gue, Kendra, Meysha, Gabriel, Zanna, Ray dan semua orang yang tanpa gue sadari telah membantu gue." "Bentar, kenapa nama gue disebut paling akhir?" protes Ray. Gue mengulum senyum. Selalu saja ada bahan untuk Ray supaya dia bisa menghibur kami. Adara melotot. "Karena lu ngeselin tingkat dewa!" Kami geleng-geleng kepala. "Lanjut, kuy!" ajak Ray semangat. Kami menurut. Kali ini, giliran Gabriel yang menjawab pertanyaan di kertas. Gabriel mengambil kertas dan membukanya. Lalu ia terdiam, matanya menatap ke gue, membuat gue bingung. "Apa isinya, Riel?" tanya Ray. Gue melihat Gabriel menghela napasnya. "Apa hal yang paling lo sukai dari orang yang berada di sebelah kiri lo." Gue terkejut. Begitu pun semua orang yang berada di sini. Seluruh pasang mata langsung tertuju ke gue. Membuat gue gugup bukan main. Jadi ini alasan Gabriel sempat menatap gue sebentar. Benar-benar sudah gila orang yang membuat pertanyaan seperti ini. "Jawab, Kak," ujar Zanna. Gabriel menatap gue, lagi. Gue menjadi semakin gugup. Nggak tahu harus melakukan apa. "Mungkin, kebaikan hatinya yang sangat tulus." Jawaban itu membuat gue terpaku. Sebisa mungkin gue menahan untuk tidak tersenyum. Kendra berdeham. "Nggak mau sekalian nembak aja, bos?" Hah? Apa-apaan sih. "Udah, udah. Mending lanjut main lagi aja." Zanna memutus obrolan. Huh, untunglah. Kami semua langsung mengulurkan tangan, bermain seperti tadi. Dan kini, kami mendapatkan Zanna. Zanna menutup matanya dan langsung mengambil satu kertas, ia membacanya sebentar. "Apa isinya Zan?" Gue bertanya. "Apa hal terunik yang pernah lo lakuin dan kita semua nggak tahu tentang itu." Kami berlima terkekeh. "Ini, termasuk Kak Gabriel juga?" Kami berlima mengangguk. Zanna berpikir cukup lama. "Aku suka bernyanyi lagu mandarin." Kami semua terkesiap, bahkan Gabriel pun sama. "Seriusan?" Adara bertanya mewakilkan kami semua. Zanna mengangguk ragu. "Coba nyanyiin satu lagu mandarin." Gue menimpali. Zanna menggeleng. "Maaf, itu tidak tertulis di kertas, jadi aku tidak harus melakukan itu." "Oke, oke. Lain waktu ya, berarti?" ujar Ray. Zanna mengangkat bahu. Lalu kami melanjutkan permainan. Kini, giliran Kendra yang menjawab pertanyaan di gulungan kertas. "Apa arti sahabat menurut lo? Seberapa pentingkah kehadiran mereka di hidup lo?" Gue tersenyum, itu pertanyaan dari gue. Kendra tersenyum tulus. "Sahabat adalah rumah kedua bagi gue. Tempat pulang ketika gue memiliki masalah di rumah pertama, alias keluarga. Dengan mereka, gue merasa beban di pundak gue runtuh seketika. Mereka, kalian, menjadi salah satu bagian yang sangat sangat penting dalam hidup gue. Yang posisinya tak akan tergantikan oleh apapun. Gue merasa beruntung bisa kenal kalian." Kami semua tersenyum dan saling merangkul satu sama lain. "Tinggal siapa nih yang belum pernah jawab sama sekali?" Adara bertanya. "Gue," ucap gue dan Ray berbarengan. "Gimana kalau kalian berdua suit aja, yang kalah, yang jawab pertama. Biar kita semua kebagian menjawab satu pertanyaan. Setelah itu, kita mulai putaran kedua. Oke nggak?" usul Kendra. Gue, Ray dan yang lain setuju. Gue dan Ray berhadapan dan memulai suit. Dan hasilnya, gue kalah. Gue sudah tahu hasilnya akan seperti ini. Karena gue sangat tidak jago dalam bersuit. Gue memejamkan mata dan mengambil satu gulungan kertas, membacanya dalam hati terlebih dahulu. Bukan pertanyaan yang sulit. "Menurut lo, seorang Ray Dhanadyaksa itu seperti apa?" Gue menduga, Ray sendiri yang menulis pertanyaan ini. Kendra tertawa. "Alay banget sih lo, Ray. Pasti ini lo yang tulis kan?" Tuh kan, Kendra aja satu pemikiran sama gue. Ray melotot, "Enak aja, sealay-alaynya gue, gue nggak akan buat pertanyaan seperti itu. Seriusan!" Gue terkekeh. "Bohong nih pasti?!" sahut Adara. "Beneran, sumpah demi apapun!" Ray membela. Gue terkekeh. "Udah, ah. Siapapun yang membuat pertanyaan ini, bukan suatu masalah besar, kok. Gue jawab ya." Gue memberi jeda sebentar, "Menurut gue, Ray Dhanadyaksa adalah orang yang hebat dengan caranya sendiri. Dia bisa berekspresi sesuai dengan suasana. Dia bisa menjadi penghibur dan bijak di kala kita sedih. Dan dia bisa jadi menyebalkan saat kita tengah bercanda ria. Gue senang punya sahabat baik seperti Ray Dhanadyaksa." Gue tersenyum tulus sambil menatap Ray diakhir kalimat. Gue menatap sekitar, mereka semua tersenyum, seakan setuju dengan apa yang gue katakan. "Terima kasih Mey, atas pandangan lo ke gue yang sangat menakjubkan. Gue lanjut, ya." Setelah itu dia mengambil asal satu gulungan kertas sambil memejamkan mata. Dia membuka gulungan kertas itu, dahinya berkerut, mungkin respon secara tidak sadar dia setelah membaca pertanyaan di dalam kertas itu. Gue menjadi penasaran. "Apa isinya, Ray?" Kendra bertanya. "Siapa orang yang menarik perhatian lo, akhir-akhir ini. Dan orang itu harus berlawanan jenis dengan lo. Harus sebut nama." Kami semua menjadi penasaran. Bahkan gue sangat penasaran, siapa perempuan beruntung itu. Karena perempuan itu berhasil menarik perhatian seorang Ray Dhanadyaksa yang menurut gue, dia sangat luar biasa. "Siapa, Ray?" Gabriel bertanya. Tuh kan, orang seperti Gabriel pun ikut penasaran. Ray terdiam sangat lama. Membuat kami semakin bertambah penasaran. "Siapa, Ray?" gue ikut bertanya. Ray masih diam. "Perempuan itu adalah...." Dia memberi jeda sesaat. Tidak biasanya Ray seperti ini. Gue menatap Ray, dia gugup, ekspresinya kalut. Ray yang biasanya selalu santai dalam menghadapi sesuatu, sekarang berbeda. Apakah perempuan itu ada di sini? Zanna? Apa Ray berniat untuk menyatakan cinta kepada Zanna seperti ini? Mungkin itu alasan yang tepat dan sangat masuk akal akan ekspresi yang ditunjukan Ray. "Dia...." "Argh...." Gue terkejut menatap Gabriel yang berada di sebelah gue, dia memegang kepalanya, terlihat sangat kesakitan. "Riel?" Gue berujar panik. "Kakak kenapa?" "Argh...." Gue meringis, sepertinya Gabriel sangat merasa kesakitan. "Kita bawa ke kamar aja," ucap Kendra. Akhirnya, Kendra dan Ray membantu memapah Gabriel berjalan menuju kamarnya. Sedangkan gue, Adara dan Zanna masih diam di tempat. Kami terlalu asyik bersenang-senang. Sampai melupakan salah satu di antara kami yang kondisi tubuhnya tengah rentan. Salah satu di antara kami yang selalu menutupi rasa sakitnya dengan senyum bahagia, berusaha untuk tidak mengkhawatirkan kami. Namun semesta tak selalu bertindak sesuai rencananya. Semesta memilih untuk mengingatkan kami yang sudah terlanjur tenggelam dalam kebahagiaan yang menghanyutkan. Pada akhirnya, gue pun tak mampu untuk terlihat tegar di depan siapa pun. Gue manusia, dan menangis adalah hak yang pantas untuk gue dapatkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD