[Ray Dhanadyaksa]
Di pagi hari, gue berjalan santai menuju rumah Meysha. Entahlah, naluri gue bilang, Meysha sedang butuh bantuan. Mungkin untuk membuat ramuan hyrexin.
Gue menatap langit yang menampilkan sunrise yang sangat indah. Keindahannya hampir menandingi wajah Meysha. Tapi, Meysha tetap menjadi yang terindah bagi gue.
Di pertigaan dekat rumah Meysha, gue melihat Zanna berjalan dari arah berlawanan dengan gue. Raut wajahnya bahagia. Syukurlah, setidaknya dari apa yang gue lihat, perasaan Zanna sedang baik-baik saja.
Dia menatap ke arah gue, kami saling melempar senyum. Sampai akhirnya kami berdiri berhadapan. "Mau ke rumah Meysha?" Gue bertanya lebih dulu.
Dia mengangguk. "Iya, mau minta tolong buatin ramuan, sekalian bantu-bantu."
"Sama dong. Bareng?"
Dia tersenyum.
Lalu kami melangkah beriringan menuju rumah Meysha.
"Kak Ray." Zanna memanggil.
Gue menoleh sebentar. "Apa?"
"Kakak sudah bilang soal perasaan Kakak ke Kak Mey?"
Gue berhenti melangkah, membuat Zanna juga ikut berhenti.
Gue menunduk dan menggeleng. "Belum ada waktu yang pas. Seiring berjalannya waktu, gue semakin yakin kalau perasaan Meysha ada di Gabriel. Nggak apa, gue ikhlas. Meysha bahagia, gue juga ikut bahagia."
Raut wajah Zanna berubah, dia seperti merasa bersalah. "Maaf ya, Kak. Padahal, aku mengharap jawaban yang keluar berbeda dari itu."
Gue mengacak rambutnya. "Santai aja."
Dia cemberut sambil membenarkan rambutnya. "Lanjut, yuk!"
Gue menurut.
Kami kembali melangkah bersama. Tepat saat lima langkah kami berjalan, seseorang memegang pundak gue dan Zanna mengagetkan. "Hei," ujar seorang perempuan, yang gue duga Adara.
Gue berbalik dan benar, dia Adara.
Akhir-akhir ini, semenjak Adara menjalin hubungan dengan Kendra, sikapnya yang awalnya jutek, seiring berjalannya waktu menjadi sedikit menyebalkan. Setidaknya, Adara ini yang sempat gue tahu saat SMA, sebelum ada masalah.
"Demen banget ya, ngagetin orang!" Gue berujar kesal.
Dia tersenyum lebar. "Mau ke rumah Mey?"
Gue dan Zanna mengangguk.
"Pas banget, yuk bareng!" Adara menimpali.
"Tumben nggak sama Kak Kendra?" tanya Zanna, sekaligus mewakili gue.
"Dia kemarin nyebelin banget, gue lagi kesel sama dia."
Gue terkekeh. "Oh, ceritanya lagi berantem, nih?"
Adara hanya menekuk wajah sebagai jawaban.
"Emang Kak Kendra nyebelin kayak gimana, Kak?" Zanna bertanya. Dasar cewek, kepo banget.
Gue memasang telinga lebar-lebar, diam menyimak.
"Kemarin waktu gue sama Kendra, kan hujan tuh. Dia bilang mau nyari minuman hangat sendiri. Gue tungguin lama banget, dia nggak balik-balik. Ya udah, mending gue yang balik. Sebel nggak sih? Sebel kan ya, Zan?"
Gue mati-matian menahan tawa.
Astaga, sejak kapan, seorang Adara Rosalie mempermasalahkan hal seperti ini?
Apa dia tidak memikirkan kemungkinan positif mengapa Kendra tidak kembali?
Zanna tersenyum. "Mungkin Kak Kendra ada keperluan mendadak, jadi nggak bisa nemuin Kakak lagi."
"Tapi, apa susahnya sih, balik lagi, suruh gue pulang, karena dia ada kepentingan. Biar gue nggak nunggu lama. Demi apa pun, baju gue basah saat itu, dingin banget."
Gue terkekeh. "Namanya juga urusan penting, Ra. Siapa tahu di jalan, dia melihat kucing lahiran, terus dia bantu bawa ke bidan?"
Dia mencubit kecil pinggang gue. Walau cubitannya kecil, rasanya sakit banget. Apalagi, dia nyubit gue lebih dari tiga kali.
"NYEBELIN BANGET SIH LO!"
"Udah ah, kita mau ke rumah Kak Mey, kan? Aku takut Kak Gabriel kebangun terus nyariin aku, karena aku lama." Zanna menjadi pereda emosi Adara.
Sip, setidaknya gue tidak berakhir semengenaskan itu.
Lalu kami bertiga berjalan menuju rumah Meysha yang sudah tidak jauh lagi. Zanna berjalan di tengah antara gue dan Adara yang masih saja cemberut kesal.
Ada-ada saja sumber masalah dari sebuah hubungan. Bahkan, seorang Adara yang selalu terlihat dewasa, juteknya minta ampun, bisa seperti anak kecil cuma karena Kendra.
Kira-kira, Meysha akan seperti Adara juga tidak ya? Saat dia menjalin hubungan sama gue. Pasti ngambeknya Meysha lucu banget, bikin gemes, minta gue peluk.
Gue menggeleng kuat-kuat. Hal itu tidak mungkin terjadi pada gue. Orang yang paling besar kemungkinannya bisa melihat wajah lucu Meysha saat ngambek adalah Gabriel. Wajah gue yang tadinya ceria, langsung berubah murung.
Udah lah, Ray. Stop menghayalnya!
Tiba-tiba, Zanna menepuk pundak gue, mengagetkan. "Kenapa, Kak?"
"Kenapa apanya?"
"Tadi Kakak geleng-geleng kepala. Kenapa?"
Gue terkekeh. "Oh itu, tadi ada lalat, ganggu banget!"
"Gue sih nggak heran, kan lo belum mandi, Ray!" Adara bicara melantur tidak jelas.
"Enak aja, gue udah mandi ya!" Gue membela.
Adara memutar bola mata malas.
Zanna mengetuk pintu rumah Meysha saat kami sudah tiba di depan rumahnya.
"Permisi, Kak Meysha!"
"Mey!" Adara ikut memanggil.
"Heh! Sopan dikit dong, kayak Zanna tuh, pake basa-basi." Gue mengoreksi.
Mata Adara melotot, membuat gue sedikit takut. "Bodo. Suka-suka gue!"
Pintu terbuka, menampilkan sosok Meysha yang sangat cantik. Meysha memang selalu terlihat cantik, bahkan sempurna bagi gue.
"Eh kalian, gue kira siapa. Tapi tadi kok, gue dengar ada suara ribut. Siapa yang ribut?"
"Aku nggak mungkin ribut loh, Kak!" Zanna berujar.
Meysha menatap gue dan Adara bergantian. "Pantes. Ya udah, masuk, yuk!"
Kami bertiga menurut, memasuki rumah Meysha.
"Lo sendiri, Mey?" Adara bertanya.
Karena memang keadaan rumah Meysha tengah sepi sekali. Tidak ada tanda-tanda Ayah atau Ibu Meysha di dalam rumah ini.
Meysha mengangguk. "Ayah sama Ibu lagi jenguk Bibi yang sakit di Desa Sihwa."
"Desa Sihwa kan jauh, Kak?"
"Iya, kemungkinan paling lama mereka pergi semingguan. Jadi gue sendiri."
Kami bertiga mengangguk mengerti.
Desa Sihwa tempatnya memang sangat jauh dari Desa Tiwa. Desa Sihwa letaknya di pinggiran kota, sedangkan Desa Tiwa berada di pelosok. Perjalanan ke sana pun memerlukan waktu yang tidak sebentar.
"Lo emang berani sendirian terus?" tanya Adara dengan nada mengejek.
"Gue bukan anak kecil kali! Kalau gue bosen, gue tinggal ke rumah lo, Ra."
"Yakin banget bakal gue bukain pintu?"
Meysha terkekeh. "Ya kalau lo gak bukain pintu buat gue tinggal pulang. Gue nggak akan menjadi semenyedihkan yang ada di pikiran lo, ya?!"
Adara tertawa. "Bercanda kali, Mey."
"Iya, gue tahu lo nggak akan serius."
Lalu mereka berdua tertawa.
Gue dan Zanna saling tatap dan geleng-geleng kepala. Ada-ada saja. Tapi setidaknya, mereka berdua tidak lagi terlarut kesedihan akan keadaan Gabriel saat ini. Gue senang lihatnya.
"Kak Mey, aku mau minta tolong buatin ramuan untuk Kak Gabriel, boleh?" Zanna berucap.
Meysha tersenyum manis. "Masa nggak boleh sih? Boleh lah! Tapi kamu bantuin aku buat ya. Tinggal dikit lagi, kok."
Zanna mengangguk.
"Gue ikut bantu!" Adara menimpali.
Gue diam saja sedari tadi. Entahlah, kenapa gue merasa canggung ya, karena cowok sendiri di sini?
Meysha menatap gue. "Lo juga ikut bantu ya, Ray."
Gue langsung mengangguk yakin. Demi apa pun, seriusan nih, Meysha ngajak gue? Rasanya pengen terbang juga gue saat ini.
Adara memutar bola mata malas. "Alah Mey, paling di cuma bikin ribet."
Gue melotot. "Enak aja, lo! Lo ada masalah apa sih sama gue? Sewot banget dari tadi, heran!"
"Lo yang ada masalah apa sama gue? Dari tadi ngeselin banget!" Adara tak mau kalah.
"Heh! Dari tadi gue diem aja, ya!"
"Udah, udah. Kenapa ribut sih? Aku takut Kak Gabriel kelamaan nunggu aku, terus nyusul ke sini. Kan kasihan dia." Zanna menghentikan duel yang hampir saja dimulai oleh gue dan Adara.
"Bener tuh, kata Zanna! Kalian ke sini mau bantu gue bikin ramuan, atau mau ribut?" Meysha ikut andil.
"Bantu lo," ucap gue dan Adara bersamaan.
Meysha kembali tersenyum. "Damai dulu dong."
Gue dan Adara saling tatap.
Karena gue cowok, gue mengulurkan tangan lebih dulu kepada Adara untuk dibalas. Meminta maaf duluan, bukanlah hal buruk. "Gue minta maaf."
Adara membalas uluran tangan gue. "Gue juga minta maaf. Dari kemarin, gue emang lagi sensi banget."
Gue mengerti, pasti karena sang kekasih hati, yang meninggalkannya begitu saja di tengah hujan.
"Ya udah yuk! Bantuin gue."
Kami bertiga mengangguk dan berjalan menuju dapur Meysha.
"Emang lo sensi kenapa, Ra?" Meysha membuka pembicaraan saat ia sedang mengaduk ramuan.
"Katanya sih lagi ada masalah sama Kak Kendra," Zanna yang menjawab.
Meysha tersenyum. "Ya, namanya hubungan, Ra. Kan nggak harus selalu baik-baik aja."
"Tapi dia ngeselin banget, Mey!"
"Ngeselin gimana?"
Adara mencebik kesal. "Gue males ceritanya, Mey. Lo aja yang ceritain, Ray!"
"Lah, kenapa jadi gue?" sahut gue tak santai.
"Kan lo dari tadi diem aja."
Benar sih, dari tadi gue cuma melihat ketiga perempuan ini membuat ramuan. Atau cuma membantu mengambil peralatan yang mereka perlukan, seperti sendok dan lain-lain.
"Jadi gini, Mey. Kalau yang gue simpulin dari cerita Adara tuh, dia ditinggal gitu aja sama Kendra."
Meysha berbalik menatap gue, dari antesinya yang tertuju pada panci di kompor. "Ditinggal gimana?"
Gue ngerti arah pikiran Meysha. "Jadi tuh, kemarin kan hujan. Terus Kendra bilang mau beli minuman hangat dulu, tapi nggak balik lagi. Terus Adaranya nungguin lama banget, katanya juga dia kedinginan nunggunya."
Adara mengangguk.
Meysha tersenyum lega. "Mungkin ada sesuatu yang penting."
"Tapi kan, apa susahnya sih balik lagi, nemuin gue, suruh gue pulang, biar gue nggak nunggu."
Meysha kembali mengaduk ramuan yang berada di panci. "Kan namanya juga sesuatu yang penting, Ra."
"Tapi, kan..."
"Lo bukan seperti Adara yang gue kenal sebelumnya."
Gue setuju atas ucapan Meysha.
"Maksudnya?"
"Adara yang gue kenal itu, selalu berpikir sesuatu dengan kepala dingin, terus juga, lo nggak pernah meladeni candaannya Ray."
Gue setuju lagi.
"Masa sih?"
Meysha mengangguk.
"Iya, biasanya kalau gue ledekin lo, lo cuma melototin gue," gue ikut meyakinkan argumen Meysha.
Adara menghela napas. "Gue takut kehilangan Kendra."
"Kendra nggak akan kemana-mana, Ra."
Zanna mengangguk. "Menurut aku, orang yang tidak begitu dekat dengan kalian pun, bisa yakin kalau Kak Kendra itu tulus sama Kak Dara. Itu semua kelihatan dari bagaimana Kak Kendra memperlakukan Kak Dara seperti ratu."
Gue dan Meysha mengangguk setuju.
Adara merekahkan senyumnya. "Serius, Zan?"
Zanna mengangguk yakin.
"Udah ya, kalau nanti lo ketemu Kendra, minta dia jelasin. Lo jangan marah-marah, Ra."
Adara mengangguk.
Lalu gue melihat mereka bertiga kembali melanjutkan aktivitasnya membuat ramuan, yang memang cukup banyak.
"Terima kasih ya, Kak Meysha, Kak Dara, Kak Ray. Aku mau kasih ramuan ini ke Kak Gabriel dulu," ucap Zanna saat kami telah selesai membuat ramuan.
"Iya, jaga Kakak kamu baik-baik ya, Zan."
Zanna tersenyum. "Pasti, Kak Mey. Aku pulang dulu, ya."
Kami bertiga mengangguk.
"Hati-hati, Zan!" ujar gue.
Zanna tersenyum dan mengangguk.
Setelah Zanna pergi, Adara menyenggol lengan gue.
"Lo sama Zanna jadian ya?"
Gue mengerutkan alis. "Apa sih, nggak usah nggak jelas, deh!"
"Lagian kalian cocok, kok!" tambah Meysha.
Andaikan lo tahu, Mey. Kalau hati gue di elo.
Gue mencebik. "Apaan sih."
Lalu, muncul sosok Kendra yang sedang berjalan menuju rumah Meysha. Otomatis, gue melihat raut wajah Adara. Syukurlah, dia tidak menampilkan raut jutek.
"Aku tadi ke rumah kamu, tapi kata Bunda kamu, kamu ke rumah Mey. Kok nggak nunggu aku, Ra?" Kendra langsung bertanya kepada Adara, tanpa memedulikan kehadiran kami.
Adara cemberut. "Aku kesel sama kamu!"
Raut wajah Kendra berubah menjadi panik, kalau suasananya memungkinkan, gue ingin sekali tertawa kencang.
"Kesel kenapa, Ra?"
Adara melipat tangan di depan d**a. "Coba ingat-ingat apa yang kamu lakuin kemarin waktu hujan pas sama aku?"
Kendra terlihat sedang berpikir keras. Demi apa pun, gue ingin sekali tertawa. Meysha menata gue, dia melotot. Oke, gue akan berusaha keras untuk menahan tawa ini. Mereka lucu sekali.
"Oh itu. Maaf banget Ra, kemarin di jalan aku ketemu sama Bibi aku, terus Bibi bilang, Ibu sama Bapak lagi di rumah. Otomatis aku langsung pulang, karena aku kangen banget sama mereka. Kamu kan tahu, aku udah lama nggak ketemu mereka."
Adara langsung luluh seketika. "Gitu ya? Aku minta maaf, Ken."
"Aku juga minta maaf, Ra. Tapi, beneran deh, kemarin aku balik lagi, tapi kamunya udah nggak ada. Aku pengen ke rumah kamu, tapi aku lebih milih pulang, karena Bapak Ibu cuma sebentar ke sini. Tadi pagi banget, mereka udah berangkat lagi. Kamu pasti nunggu lama, ya?"
"Iya tuh, Ken. Tadi aja, ruang tamu Meysha hampir jadi ring tinju buat gue sama Dara baku hantam," gue ikut campur dalam obrolan mereka.
Adara menatap gue tajam.
Gue tersenyum. Ini baru Adara yang gue kenal.
"Jadi kalian udah baikan nih?"
Adara dan Kendra saling tatap lalu mengangguk.
Meysha tersenyum. "Bantuin gue lagi yuk! Kasih sisa ramuan tadi ke Mbok Yu, terus kita ke rumah Gabriel, temani dia."
***
"Ini Mbok, ada sedikit bantuan dari kami," ujar Meysha.
Mbok Yu menerima. "Terima kasih, anak-anakku."
Kami berempat tersenyum.
"Oh iya, Mbok denger, Gabriel terkena penyakit hyrexin, benar?"
Kami berempat menunduk lesu dan mengangguk.
Mbok Yu tersenyum tulus. "Kalian harus jadi kekuatan untuk Gabriel, ya. Supaya dia selalu semangat."
"Pasti, Mbok," balas gue.
"Kok ramuannya di kasih ke Mbok, Nak Gabriel gimana?"
"Gabriel udah dapet kok, Mbok. Kami memang membuat ramuan itu cukup banyak," Kendra menjawab.
Mbok Yu tersenyum. "Maaf, Mbok mau nanya, apa benar Gabriel terkena penyakit hyrexin karena niat baik kalian, untuk membuat ramuan ini?"
Gue melihat Meysha, wajahnya kembali murung.
Kami berempat saling diam, tidak tahu harus menjawab seperti apa.
Raut wajah Mbok Yu berubah seperti menjelaskan ia merasa tidak enak. "Maaf jika pertanyaan Mbok Yu menyinggung kalian. Mbok Yu cuma ingin memastikan apa yang dibicarakan warga sekitar benar atau tidak."
Gue menghela napas. "Tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar, Mbok."
Gue harap Mbok Yu mengerti.
"Apa boleh Mbok Yu tahu, bagaimana kronolginya?"
"Maaf Mbok, kami mau ke rumah Gabriel dahulu, kami ingin menemani dia. Soal pertanyaan Mbok Yu, kami akan jawab di lain waktu," ucap Adara dengan berani.
Kendra yang berada di sebelahnya menatap Adara dengan tidak percaya.
"Baiklah, di lain waktu. Sekali lagi, Mbok Yu berterima kasih. Kalian lebih baik temani Gabriel, dia butuh kalian."
Kami berempat berdiri dan pamit.
Kami berjalan menuju rumah Gabriel dengan raut tertekuk. Heran, mengapa tiba-tiba Mbok Yu bertanya seperti itu.
"Guys, kita harus tetap terlihat bahagia ya, di depan Gabriel. Jangan ada satu pun diantara kita yang terlihat sedih. Oke?"
Mereka bertiga tersenyum dan mengangguk.
"Permisi, Gabriel!" panggil gue saat sudah di depan rumahnya.
Tak lama, pintu terbuka menampilkan sosok Zanna yang sedang tersenyum.
"Eh ada Kakak-kakak. Mau ketemu Kak Gabriel ya? Ayo masuk."
"Gabriel baik-baik saja, kan?" Meysha bertanya sedikit cemas.
Zanna menghela napas. "Sementara ini, baru ruam saja yang muncul, mungkin sakit kepala juga."
Kami berempat mengangguk.
"Ingat ya, kita harus tetap tersenyum." Gue mengingatkan sekali lagi.
Setelah itu, kami memasuki rumah Gabriel. Dan melihat Gabriel sedang memegang kepalanya, meringis kesakitan.
***