CHAPTER XII | Eratnya Persaudaraan

1323 Words
[Gabriel Jourdain Lovatach] Gue memandang jam dinding, pukul satu malam. Gue belum bisa tidur karena ruam yang berada dihampir seluruh tubuh gue nyeri dengan hebat. Pikiran gue terpaku pada satu orang. Ray. Dia orang baik. Bisa bijak dan narsis dalam satu waktu. Dia bisa menunjukkan suatu ekspresi dan pola pikir yang pas pada waktu yang tepat. Sepertinya gue tahu rencana ke depannya akan seperti apa. Gue meringis, kepala gue tiba-tiba pusing sekali. Ditambah dengan nyeri ruam yang berada di punggung. Astaga, kenapa penyakit hyrexin sesakit ini? Seumur hidup, gue tidak pernah merasakan sakit yang separah ini. Tuhan, kenapa harus gue? Gue mendengar kamar gue terketuk, tak lama dari itu, pintunya terbuka. Menampilkan sosok perempuan cantik yang gue sayang. Zanna. Gue bersusah payah untuk duduk. "Kamu belum tidur?" Dia menggeleng, duduk di tepi kasur. "Kak Gabriel juga belum tidur?" Gue hanya diam. "Ruamnya aku kompres ya?" ucapnya sambil mengambil wadah air beserta handuk yang terdapat di nakas. Gue menggeleng. "Udah malam, dek. Besok aja ya?" "Aku tahu Kak Gabriel belum tidur karena sakit itu, kan? Aku mau Kak Gabriel tidur, tanpa menahan sakit apa pun. Biar nyenyak." Setelah itu dia tersenyum dan berdiri keluar dari kamar. Gue diam. Gue nggak mau menjadi beban bagi siapa pun. Kasihan Zanna. Dia harusnya bahagia. Bukan seperti ini. Zanna kembali dengan wadah yang kini sudah terisi air dan handuk, dia duduk di tepi kasur tepat seperti tadi. Dia tersenyum. "Sini, Kak." Gue menurut, membiarkan Zanna melakukan keinginannya. Dan membelakanginya, membiarkan dia mengompres ruam yang memang sedari tadi nyerinya tidak hilang. Gue merasakan handuk yang dingin mengenai bagian nyeri tersebut. Untuk sebentar, nyeri tersebut menghilang. "Udah, Kak. Bagian depan sini." Gue menurut, membalik badan menghadap dia. Kali ini, gue tidak menemukan raut sedih terukir di wajahnya. Gue malah melihat wajah Zanna yang sangat serius, disertai sedikit senyuman. "Kakak tiduran aja, ya. Biar airnya nggak jatuh kena kasur Kakak." Gue menurut dan berbaring terlentang. Dia kembali mengompres beberapa ruam yang berada di perut dan tangan gue dengan telaten. Sedangkan gue, menatap wajahnya. "Sakit ya, Kak?" Gue tersenyum dan menggeleng. "Rasa sakit karena ruam ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang Kakak rasakan saat melihat kamu menangis, dek." Dia menatap gue. "Aku janji nggak akan nangis lagi. Ke depannya, hanya akan ada keyakinan, bahwa Kak Gabriel pasti sembuh." Gue mengelus pipinya. "Adik Kakak, semakin cantik." Wajahnya merah, sepertinya dia tersipu. "Aneh banget sih, Kak." "Aneh gimana?" "Ya gitu." Gue terkekeh. "Bagian kaki ada yang ruam juga nggak?" "Bagian kaki biar Kakak aja." "Oh, oke deh." "Terima kasih ya, dek." Dia mengangguk. "Wadah sama handuknya aku taruh sini. Sebelum tidur kompres dulu bagian kakinya. Kakak butuh selimut lagi?" "Iya, nanti Kakak kompres." Dia mengangguk. "Aku ke kamar dulu, ya!" "Iya, terima kasih dek." Dia tersenyum, lalu keluar dari kamar gue, tak lupa menutup pintu. Gue langsung bergegas mengompres ruam di bagian kaki gue. Setelah selesai, gue meminum sisa ramuan yang tadi dibuat di rumah Meysha. Gue meminumnya sekali teguk. Gue berbaring dan berharap dalam hati, apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi. Supaya saat esok gue terbangun, gue bisa bahagia tanpa beban. Gue memejamkan mata, terlelap. ** Gue merasakan cahaya matahari pagi mengenai wajah. Gue membuka mata dan sedikit mengedip beberapa kali, menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang mengenai mata gue. Gue duduk, menatap nakas. Di atas nakas sudah ada sepiring nasi goreng, segelas air putih dan secangkir teh manis hangat. Di sana, terselip kertas note, gue mengambil dan membacanya. Good morning Kak Gabriel! Aku udah siapin sarapan, Kakak makan sampai habis ya! Kalau nggak habis, aku nangis :( Tadi juga aku udah kompres ruam Kakak, kok. Pasti nggak kerasa, ya? Soalnya Kak Gabriel tidurnya pules banget sih, aku kan jadi seneng liatnya, hehe. Aku ke rumah Kak Mey dulu ya, mau minta tolong buatin ramuan lagi buat Kak Gabriel. Semoga pas Kakak bangun, aku udah di rumah. Salam sayang banget, dari aku adik tercantik Kak Gabriel, Zanna Gue tersenyum membacanya. Gue mengambil air putih dan meneguknya sampai habis. Setelah itu, mengambil nasi goreng dan memakannya. Gue menghabiskan nasi goreng, karena gue nggak mau melihat Zanna menangis, selain itu karena gue juga lapar, entahlah nafsu makan gue baru kembali pagi ini. Setelah itu, gue meminum teh manis hangat. Zanna bagai sosok Ibu bagi gue. Setelah memikirkan hal itu, gue kembali merindukan sosok Ibu yang benar-benar nyata. Sosok Ibu bagi gue dan Zanna. Ibu dan Ayah kemana? Sekarang mereka baik-baik saja, kan? Pintu kamar gue terbuka dan menampilkan Zanna dengan raut bahagia. Otomatis, membuat gue jadi ikut bahagia, menghilangkan rasa sedih bercampur rindu yang tadi sempat hadir. Dia melihat ke arah nakas dan tersenyum. "Pintar banget Kakak aku. Mau mandi? Aku udah siapin air hangat loh!" Gue mengangguk. "Terima kasih banyak ya, dek." Dia mengambil piring dan gelas yang berada di nakas, dia tersenyum menatap gue. Gue teringat sesuatu. "Kamu nggak sekolah?" Dia yang sedang berjalan keluar kamar, menoleh dan menggeleng. "Hari ini aku izin dulu, mau nemenin Kakak." "Sekolah aja, Kakak bisa sendiri, kok." Dia memutar bola mata malas. "Mau berangkat sekarang juga udah terlambat Kak. Janji deh, hari ini aja aku izinnya, besok masuk." Setelah itu, dia keluar kamar, meninggalkan gue dengan perasaan tidak enak, karena gue merasa benar benar merepotkan Zanna. Tak lama, dia kembali, dia berdiri di ambang pintu kamar. "Mandi dulu, Kak!" Gue mengangguk menurut dan berusaha berdiri, tapi seketika tubuh gue linglung dan hampir saja gue terjatuh kalau Zanna tidak dengan sigap membantu gue. Dia memegang lengan gue. "Aku bantu, Kak." Gue menggeleng, sambil berusaha melepaskan tangan Zanna yang memegang lengan gue. "Aku bisa sendiri." Dia menatap gue lembut, seakan mengerti apa yang ada dipikiran gue. "Kak, aku bantu aja, ya?" Gue luluh. Gue nggak mau mencari masalah dengan Zanna, apalagi saat kondisi seperti ini. Gue memilih menurut. Lalu, Zanna mengalungkan lengan kanan gue di lehernya. Sedangkan tangan kiri Zanna berada pada pinggang bagian kiri gue. Dengan pelan, Zanna memapah gue menuju kamar mandi. Di depan kamar mandi, Zanna tersenyum. "Sampai. Selamat mandi Kakakku tersayang!" Gue mengangguk dan memasuki kamar mandi. Gue keluar kamar mandi saat telah selesai mandi dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawah gue. Gue melihat Zanna menghampiri gue. "Mau aku bantu?" Gue menggeleng. "Kakak bis,a kok." Dia mengangguk. "Oh iya Kak, nanti di kamar jangan lupa minum ramuannya, ya. Tadi udah aku taruh di atas nakas. Zanna mau baca buku dulu. Kalau ada apa-apa, panggil Zanna aja, ya?!" Gue tersenyum, mengacak rambutnya. "Iya dek, terima kasih." Dengan cemberut, dia merapihkan rambutnya. "Ya udah, Zanna ke kamar dulu." Gue mengangguk dan berjalan perlahan menuju kamar. Setelah memakai baju serta celana, gue duduk di tepi kasur. Menatap ramuan buatan Meysha sebentar. Mengambil dan meminumnya sampai setengah. Setidaknya, ramuan buatan Meysha, bisa memperlambat penyebaran racun daun hyrex yang berada pada tubuh gue. Gue berbaring, menatap langit-langit kamar. Gue mendengar telepon rumah berbunyi, otomatis membuat gue langsung bangun dari posisi berbaring dan berjalan dengan langkah pelan menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, gue melihat Zanna yang sudah lebih dulu mengangkat telepon tersebut. Gue menghampiri dan duduk di sofa ruang tamu. "Halo?" Gue melihat wajah Zanna berubah menjadi lesu. "Benar Paman." Paman? Pasti Paman Rendra. "Iya, nanti Zanna sampaikan." "Paman Rendra?" Gue bertanya saat sambungan telepon sudah tertutup. Dia mengangguk. "Paman Rendra bicara apa?" "Dia nanya tentang Kakak." Oke, tanpa perlu diperjelas pun gue ngerti. Pasti berita gue terkena penyakit hyrexin sudah tersebar, bahkan sampai terdengar ke telinga Paman Rendra. "Terus?" Zanna menatap gue. "Besok lusa, Paman sama Bibi mau ke sini. Tetapi mereka tida ingin menginap." "Paman Rendra marah ya, tadi?" Dia terdiam. Gue pindah duduk tepat di sebelah Zanna, lalu merangkulnya penuh kasih sayang. "Ada yang sakit lagi, Kak?" Gue menggeleng. Dia menunduk lesu, seperti tahu kalau gue berbohong. "Jangan bohong, Kak. Kalau ada yang sakit bilang aja ke aku. Oke?" Gue tersenyum. Suara pintu depan terketuk terdengar, mengalihkan perhatian gue dan Zanna. "Permisi, Gabriel!" suara Ray. Sepertinya teman-teman gue datang. Gue yang hendak berdiri langsung ditahan Zanna. "Aku aja." Gue menurut dan kembali duduk. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD