[Adara Rosalie]
"Ken, aku nggak mau kehilangan Gabriel."
Kendra menatap gue teduh. "Jangan ngomong kayak gitu, Ra."
Gue menunduk. "Ke rumah Gabriel yuk, Ken!"
Kendra meletakkan tangannya di pundak gue. "Ra, Gabriel butuh istirahat. Dia butuh sendiri. Besok aja ya, kita temui Gabriel?"
Gue menatap mata Kendra, apa yang dia bilang benar, gue mengangguk.
"Aku nggak mau kehilangan Gabriel."
"Kita semua nggak ada yang mau kehilangan Gabriel."
"Aku takut, Ken."
Tiba-tiba cuaca menjadi mendung, lalu hujan langsung turun dengan deras begitu saja. Seakan langit juga ikut merasakan kesedihan yang gue dan teman-teman rasakan.
Kendra menangkup pipi gue, menatap mata gue intens. Membuat gue mengalihkan tatapan. Jujur, gue sedikit takut dengan tatapan Kendra.
"Tatap aku, Ra."
Gue tetap tidak menatap Kendra.
"Tatap mata aku, Adara."
Jujur, gue malah menjadi tambah takut.
"Sayang?"
Satu kata. Hanya satu kata yang dapat dengan mudah mengalihkan tatapan gue. Bahkan, mengalihkan seluruh atensi gue, semuanya. Gue balas menatap mata Kendra, yang kini tatapannya sudah berubah menjadi lembut dan teduh. Tatapan yang mampu membuat gue jatuh dan luluh pada seorang Kendra Leander.
"Setidaknya, kita berempat yang harus berpikir bahwa Gabriel bisa sembuh. Kita berempat yang harus selalu menyalurkan energi positif pada Gabriel. Kita harus yakin kalau Gabriel adalah orang pertama Desa Tiwa yang bisa sembuh dari penyakit hyrexin." Kendra sedikit berteriak mengucapkan itu, karena suara hujan lebih mendominasi pendengaran kami.
Gue menangis dan mengangguk kuat-kuat. "Aku harus selalu ada di sisi Gabriel. Sama seperti dia dulu."
Kendra mengangguk dan memeluk gue erat. Di tengah hujan deras, kami berpelukan. Seakan dengan berpelukan, Kendra dapat menghilangkan pikiran negatif yang sedari tadi berkeliaran di kepala gue.
Setelah itu, dia meletakkan dagunya di kepala gue. Karena perbedaan tinggi gue dan dia yang cukup jauh, dia dapat dengan mudah melakukan itu. Tangannya mengelus rambut gue pelan.
"Tenang ya, Ra. Gabriel akan baik baik saja."
Gue mengangguk.
Untuk kesekian kali, Kendra menatap gue, kali ini lengkap dengan senyuman.
Dia mengulurkan tangan, meminta untuk gue sambut.
Gue menaikkan sebelah alis.
Lalu, dia mengambil paksa tangan gue. Dia menarik gue dan kami menari di tengah hujan.
Untuk sementara, gue meluapkan rasa sedih bersamaan dengan air hujan yang jatuh ke bumi. Bersamaan dengan gerakan tubuh serta hati yang bahagia bersama dengan Kendra.
Di tengah hujan dan kebahagiaan yang kami rasakan, Kendra memeluk tubuh gue dari belakang, mengangkat dan memutarnya. Gue tertawa bahagia, sesekali memukul lengan Kendra yang melingkar di pinggang gue. Karena gue takut jatuh.
"Kamu nggak akan jatuh, Ra. Aku jamin."
"Turunin aku Ken, malu tahu."
Kendra tertawa. "Nggak ada yang lihat ini."
"Tapi tetap malu Ken, kayak anak kecil banget kita."
"Aku nggak masalah kita terlihat seperti anak kecil. Anak kecil kan selalu bahagia. Kesedihannya cuma sebatas tidak diizinkan main dengan teman, atau tidak dikasih uang jajan."
Gue tersenyum.
Kendra menurunkan gue dengan perlahan.
"Kenapa diturunin?"
"Lain lagi kalau misalnya aku udah capek."
Gue lagi-lagi tertawa.
Lalu, gue mengadahkan kepala, membiarkan air hujan membasuh wajah gue tetap dengan senyuman bahagia. Sesekali, gue menatap ke arah Kendra, yang tidak pernah mengalihkan tatapan bahagianya dari gue.
Kendra mengambil kedua tangan gue lagi. "Bahagia terus ya, Ra."
Gue tersenyum.
***
[Ray Dhanadyaksa]
Saat malam hari, gue sedang berjalan menuju rumah Gabriel. Walau pun Gabriel memiliki Zanna. Tapi menurut gue, Gabriel pasti butuh teman laki-laki untuk cerita.
Dari sini, gue melihat Zanna sedang menangis tanpa suara, dengan bahu bergetar hebat. Zanna pasti sedang memikirkan kemungkinan terburuk dari kondisi Gabriel saat ini.
Gue mendekati Zanna. Kepalanya terangkat, mungkin karena mendengar derap langkah pelan kaki gue yang mendekat.
Dia menghapus air matanya, tersenyum dan berdiri. Hati gue seakan teriris melihat senyum yang dipaksakan oleh Zanna saat sedang bersedih hati.
"Kak Ray, mau ketemu Kak Gabriel?"
"Gue duduk di situ, boleh?" tanya gue sambil menunjuk bangku di sebelah Zanna.
Dia mengangguk. "Silakan."
Gue berjalan mendekat ke bangku yang gue tunjuk tadi, lalu duduk.
"Aku panggil Kak Gabriel dulu ya," ucapnya sambil berbalik.
Dengan cepat, gue menahan lengan Zanna. Membuat dia menoleh ke gue dan kami bertatapan cukup lama.
Zanna tersadar lebih dulu, dia memalingkan muka. Sedangkan gue biasa saja. Tetap dengan tangan gue yang menahan lengan Zanna.
"Ada apa, Kak?"
Gue melepaskan tangan gue dari lengannya. "Gue mau ngobrol sama lo dulu, bentar. Mau ya?"
Dia mengangguk dan kembali duduk.
"Gue yakin lo kuat, Zan."
Dia malah menangis lagi.
"Eh, gue salah ngomong ya?"
Dia menggeleng. "Aku takut kehilangan Kak Gabriel. Kalau Kak Gabriel pergi, aku tinggal sendiri di sini. Aku nggak mau sendiri, Kak Ray."
Gue tersenyum, berdiri dari duduk, mendekati dia. Kini, gue berlutut di depan Zanna yang sedang duduk serta menangis. Gue menggenggam kedua tangannya.
Dia sempat terkejut dengan sikap yang gue lakukan, tapi gue berusaha untuk tidak peduli.
"Gabriel akan sembuh."
Dia justru menangis dengan bahu terguncang, seperti tadi. "Semakin banyak orang yang ngomong seperti itu, semakin aku tidak yakin, Kak. Mereka semua berbicara seperti itu, sekaligus meyakinkan diri sendiri bahwa Kak Gabriel akan baik-baik saja. Yang padahal, isi kepala mereka satu pemikiran seperti aku."
Gue menggeleng, meletakkan tangan kanan gue di pipinya. Sedangkan tangan kiri gue, tetap memegang tangan dia.
"Hei, justru itu malah bagus. Semakin banyak orang yang berbicara bahwa Gabriel akan sembuh, maka semakin besar kemungkinan Tuhan mengabulkan itu. Ucapan sama dengan doa. Berarti, mereka semua sedang mendoakan yang terbaik untuk Gabriel."
Dia menatap mata gue.
"Setidaknya, kita harus yakin akan keajaiban yang bisa Tuhan kasih kapan saja."
Dia menunduk.
Gue sedikit menggerakkan tangan gue yang berada di pipinya, supaya dia kembali menatap gue.
"Zan, diantara kita semua, lo yang paling dekat dengan Gabriel. Karena lo dan dia memiliki hubungan darah. Jadi, lo harus menjadi orang yang paling yakin akan kesembuhan Gabriel, supaya setidaknya Gabriel tidak putus asa. Bukannya malah menangis terus-terusan seperti ini. Dengan lo menangis, itu semakin menurunkan rasa semangat dari Gabriel. Ngerti?"
Dia mengangguk.
Gue tersenyum dan berdiri. Gue mendekap Zanna yang sedang duduk. Mengusap punggungnya, berusaha menenangkan.
Dia membalas pelukan gue, mungkin masih menangis. Tidak apa, dia juga manusia, butuh waktu untuk bersedih. Tapi setidaknya, jangan berlebihan.
"Sekarang lo boleh nangis, lo boleh memikirkan kemungkinan terburuk dari kondisi Gabriel. Tapi besok, lo harus jadi orang yang paling kuat dan yakin akan kesembuhan Gabriel. Oke?"
Dia mengangguk.
Zanna melepas pelukan, dia berdiri.
"Terima kasih, Kak Ray."
"Tetapi lo masih bisa menangis kapan saja, asal jangan berlebihan. Karena dengan menangis, mampu membuat kita merasa menjadi manusia seutuhnya."
***
Kini, gue berada di dalam kamar Gabriel. Setelah menenangkan Zanna, gue langsung meminta ia untuk memanggil Gabriel. Tetapi, Gabriel malah meminta gue untuk langsung memasuki kamarnya.
"Ada yang sakit, Riel?"
"Kalau lo nanya itu, mana mungkin nggak ada."
Aduh, kok gue bodoh banget. Padahal tadi pas gue sama Zanna, gue udah seperti motivator terkenal. "Ramuannya udah diminum?"
Dia mengangguk. "Udah."
"Sakitnya di bagian mana aja, Riel?"
Dia tersenyum. Bisa-bisanya dalam kondisi yang gue yakin dia sedang menahan sakit malah tersenyum. "Baru muncul ruam aja, kok."
"Sakitnya parah nggak?"
Dia menggeleng. "Cuma nyeri biasa."
Astaga, Gabriel!
Nyeri dihampir seluruh bagian tubuh, dia bilang cuma?
"Mau gue bantu kompres?"
"Nggak usah. Tadi baru aja gue kompres."
"Ya, kompres lagi aja."
Dia menggeleng.
Membuat gue mengangguk menurut.
"Terima kasih ya, Ray."
"Terima kasih untuk apa?" bingung gue.
"Lo udah menenangkan Zanna untuk kedua kalinya. Dari tadi gue bingung harus melakukan apa untuk Zanna. Karena, yang Zanna mau cuma kesembuhan gue. Dan gue nggak yakin bisa memberikan itu."
"Jangan ngomong begitu, Riel. Lo pasti bisa sembuh. Soal Zanna, itu udah jadi kewajiban gue untuk menolong sesama manusia. Apalagi lo kan sohib gue."
Dia ikut tersenyum.
"Eh berarti tadi, lo dengar semua percakapan gue sama Zanna, dong?"
Dia mengangguk ragu.
Gue tersenyum bangga. "Tadi gue mirip banget kan, sama motivator terkenal yang hits pada masanya? Gue udah cocok belum, jadi penerusnya?"
Dia memutar bola mata malas. "Mulai deh, narsisnya!"
Gue tertawa. Setidaknya itu yang Gabriel butuhkan. Bahan candaan untuk membuat dia sementara lupa dengan kondisinya saat ini.
"Kayaknya gue udah nemu deh, bakat terpendam gue!"
Dia mengangkat sebelah alis. Meminum teh manis yang tadi Zanna sediakan untuk gue dan Gabriel. Seolah tidak peduli.
"Tanya dong, memang apaan, Ray?"
"Apa?" Dia bertanya malas.
"Jadi motivator."
"Sudah gue duga."
"Nanti di depan rumah gue, gue pasang poster iklan. Isinya gini, 'Anda banyak masalah? Butuh solusi? Anda menemukan orang sekaligus tempat yang tepat. Tinggal ketuk pintu rumah ini dan hati anda akan menjadi tenang. Salam, Ray Tegar.' Gitu, keren kan? Ray Tegar."
Dia tertawa kecil, "Kenapa Ray Tegar?"
"Itu terinspirasi dari nama motivator terkenal. Terus gue ganti sedikit jadi Ray Tegar, supaya nggak dikira ngikutin."
"Memang itu bukan ngikutin?"
"Nggak, itu namanya terinspirasi."
Dia menggeleng heran.
"Riel, nanti kalau misalnya usaha gue jadi motivator kecil-kecilan berhasil, terus nanti ada acara di salah satu stasiun televisi mengundang gue jadi pembicara, atau malah membuatkan acara sendiri buat gue, lo dan seluruh warga Desa Tiwa akan gue undang!" ucap gue bersemangat.
Dia menggeleng heran. "Gue bingung sama lo Ray. Belum ada satu jam lo bijak, sekarang malah kayak gini lagi. Narsis!"
"Bukan Ray Dhanadyaksa kalau nggak begitu. Ya kan?"
***