CHAPTER X | Kesedihan

1679 Words
[Kendra Leander] Entah mengapa, gue dan Ray sama-sama merasakan firasat buruk. Setelah menemukan daun yang kami cari, kami langsung bergegas menemui Gabriel. Entahlah, kami memiliki firasat buruk yang mengarah ke Gabriel. Semoga dugaan kami salah. "Ken, sumpah perasaan gue nggak enak dari tadi." Ray terus menggerutu di samping gue. Gue frustasi sendiri mendengar gerutuan Ray. "Coba positif thinking dikit bisa gak sih, Ray?" Dia langsung diam. Kami menemukan keberadaan Gabriel yang tengah melamun seperti memikirkan sesuatu sambil memetik daun kipa. Kami saling tatap dan menghela napas lega. Namun baru dua langkah kami mendekat ke arah Gabriel, kami melihat dia memetik daun hyrex. Gue dan Ray saling tatap lagi dengan raut tidak percaya. Kami kembali memerhatikan, berharap bahwa apa yang kami lihat salah. Namun, Gabriel kembali memetik daun yang sudah kami yakini bahwa itu daun hyrex. Dengan refleks, kami berteriak sangat nyaring, "RIEL, ITU DAUN HYREX!" Gabriel terlihat tersadar dari lamunannya. Dan ia langsung menjatuhkan banyak daun yang tergenggam di tangan kirinya. Dia diam terpaku. Berulang kali melihat ke daun yang sudah ia jatuhkan dan ke tangan kanannya. Firasat buruk gue, Ray, bahkan Adara dan Meysha terjawab. Gue dan Ray tanpa pikir panjang langsung menghampiri Gabriel yang masih terpaku, seakan mencoba memproses apa yang sedang terjadi. Gue menepuk pundak Gabriel membuat dia menoleh. "Ken, itu bukan daun hyrex kan?" Dia bertanya gusar. Lalu dia menatap Ray. "Bilang ke gue, itu bukan daun hyrex!" Gue dan Ray membuang muka. Tubuh Gabriel melemah, ia terjatuh. Gue dan Ray refleks menahan tubuhnya. Tapi ia tetap terjatuh. Membuat gue mengikuti geraknya. Gue dan Ray menepuk pundaknya, berusaha mengirim semangat tersirat dari gerakan itu. Ray memunguti daun yang tadi di jatuhkan Gabriel dengan sangat hati-hati. Gue berdiri dan menginjak dua daun hyrex yang tadi sempat di sentuh Gabriel, seakan dengan menginjaknya dapat memusnahkan daun tersebut dari Desa Tiwa. Gue mengusap punggung Gabriel, dia pasti sangat terpukul. "Riel, kita ke rumah Meysha dulu yuk. Biar langsung dibikin ramuan daunnya. Selagi racun dalam daun hyrex belum bereaksi di tubuh lo." Ray mengangguk menyetujui. Gabriel berdiri dan kami berjalan di temani keheningan menuju rumah Meysha. Sesampainya di rumah Meysha, tatapan gue langsung jatuh tepat kepada pemilik sepasang mata indah yang sangat gue sayangi, Adara. "Muka kalian kenapa cemas gitu?" Meysha bertanya. Gue menoleh ke Ray, mengisyaratkan sesuatu. Ray menghela napas. Dengan sangat berat ia berucap, "Gabriel sempat memetik daun hyrex." Karena perkataan Gabriel tersebut, dua perempuan yang berada di depan kami langsung panik. Adara menatap Meysha. "Mey, ternyata ini jawaban dari firasat buruk kita." Gue melihat Meysha meneteskan air mata. "Seharusnya gue nggak pernah memberi saran kepada kalian untuk bantu warga Desa Tiwa, kalau akhirnya akan seperti ini." Kami semua terkejut mendengar ucapan Meysha, Adara langsung mengusap punggung Meysha menenangkan. "Ini bukan salah lo, Mey. Ini sudah jadi takdir, nggak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menerimanya dengan lapang hati." Gabriel yang berada di sebelah gue langsung melangkah maju mendekati Meysha. What? Apa yang Gabriel lakukan benar-benar diluar dugaan kami bertiga. Dia menghapus air mata Meysha dan tanpa ragu langsung memeluknya. Kami bertiga saling tatap. Rasanya, gue ingin juga menghampiri Adara. Tapi kasihan Ray. Posisi dia di sini akan terlihat sangat menyedihkan tanpa seorang pun pasangan. Andaikan ada Zanna, eh. Adara menghampiri gue. Aelah, gue mau buat Ray supaya tidak minder, malah doi gue duluan yang nyamperin. Gue tersenyum sedih menatap Adara lalu merangkulnya. Gue juga merangkul Ray yang ada di sebelah gue. Setidaknya, supaya dia tidak merasa minder berdiri di antara kita berempat yang sudah seperti dua pasangan. Sampai saat ini, Gabriel dan Meysha masih berpelukan. Mereka seperti saling menguatkan satu sama lain. "Maaf." terdengar Meysha berkata lirih. "Ini bukan salah lo, Mey. Gue yang nggak hati-hati." Gabriel melepas pelukan. Meysha tersenyum menatap Gabriel. Adara menoleh menatap gue. Gue balas menatapnya. Ray melepas rangkulan gue, mungkin dia merasa tidak nyaman. Gue melihat Ray mendekat menghampiri Gabriel dan Meysha yang sedang saling menguatkan. Gue menatap Adara, mengisyaratkan untuk ikut mendekat. "Riel, lo jangan pernah merasa sendiri. Ada kami yang selalu siap membantu lo. Ada kami yang selalu siap berdiri disebelah lo." Gue gak yakin kalau kata kata itu keluar dari mulut seorang Ray. "Iya, Riel. Kami akan selalu ada. Kami tidak akan pernah membiarkan lo merasa sendiri," lanjut Adara. Gue mengangguk. "Karena arti sahabat yang sesungguhnya ialah selalu ada di situasi apapun, kan?" Mata Gabriel berkaca-kaca. Ini pertama kalinya gue melihat seorang Gabriel hampir menangis. Ray menepuk pundak Gabriel dan memeluknya. Meysha ikut memeluk mereka, disusul oleh Adara dan gue. Kami berlima berpelukan, menyalurkan energi positif untuk Gabriel. Gue nggak pernah mau kehilangan seorang sahabat, apalagi di saat gue belum lama bertemu dan bersama mereka yang sejati. *** [Meysha Fradella] Gue dan Adara membuat ramuan hyrexin dengan perasaan yang teramat sedih. Sudah berkali-kali gue meneteskan air mata. Begitu juga dengan Adara yang masih sabar untuk menenangkan gue, saat gue mulai terisak. Zanna juga sudah berada di rumah gue, dia masih menangis, isakkannya masih terdengar sampai sini. Ini yang menjadi alasan kenapa gue kembali menangis dan menangis. Gue takut Gabriel pergi, seperti korban penyakit hyrexin kebanyakan. Gue nggak mau kehilangan Gabriel. Dia laki-laki baik. Setelah selesai membuat ramuan hyrexin yang hanya untuk Gabriel, Adara mengingatkan gue untuk menghapus jejak air mata yang berada di pipi gue, supaya tidak memperkeruh suasana. Kami berjalan menuju ruang tamu. "Diminum dulu, Riel," ujar Adara. Gabriel yang sedang duduk dengan raut lesu menurut dan meminumnya dibantu Zanna. Kini, untuk pertama kalinya kami berkumpul dengan suasana sendu, jauh dari kata bahagia. Biasanya, kami bercanda ria sambil melempar lelucon, bukan diam-diam penuh kesedihan seperti ini. Gue meneteskan air mata. "Habisin Riel," suruh Ray. Gabriel mengangguk dan menghabiskan ramuan itu. Zanna terlihat menghapus air matanya. "Terima kasih ya, Kak Meysha, Kak Dara, Kak Kendra, Kak Ray, udah mau bantu Kak Gabriel." "Terima kasih semuanya," Gabriel menimpali. Kami berempat mengangguk. "Zan, kamu jaga kakak kamu ya. Kalau misal dia merasa kesakitan atau apa, langsung aja datang ke rumah Kak Mey," ucap gue khawatir. Zanna mengangguk menurut. Gabriel menegakkan posisi duduknya."Kalian lanjut aja untuk buat ramuan itu, tapi maaf gue nggak bisa bantu." "Iya lah, lo itu harus istirahat," sahut Kendra mewakili kami semua. "Zan, lo antar Gabriel pulang ya, biar dia bisa istirahat," kata Ray. "Oh iya, kalian buat ramuan lebih dari ini, kan?" Kendra bertanya. Gue dan Adara mengangguk. Masih ada satu lagi di dapur. "Tolong ambil ya, supaya Zanna bisa jaga-jaga untuk Gabriel." Gue mengangguk, saat gue ingin berdiri, Adara menahan lengan gue. "Gue aja." Gue mengangguk menurut. Kami semua terdiam. Atmosfer kesedihan sangat terasa di ruangan ini. Gue melihat Gabriel meringis memegang kepalanya, sepertinya racun dalam daun hyrex sudah mulai bereaksi. Gue takut. "Riel, are you oke?" ucap gue khawatir. Gabriel mengangguk sebagai balasan. Setelah itu, Adara datang membawa satu botol ramuan dan langsung menyerahkannya ke Zanna. Zanna menerimanya. "Terima kasih banyak semuanya, aku sama Kak Gabriel pamit pulang dulu." "Hati-hati ya, Riel, Zan," pesan Ray. Gue menunduk dan kembali meneteskan air mata. Adara mengusap punggung gue pelan. Ray bergerak mendekat. "Mey, setidaknya kita harus yakin, kalau Gabriel akan baik-baik saja." "Kalau misalnya dia cuma sakit demam, batuk pilek biasa, gue akan yakin. Tapi ini hyrexin, Ray! Daun yang mampu membuat orang yang menyentuhnya walau hanya sejengkal, berkemungkinan untuk tewas." setelah itu gue terisak. "Kalau kita semua berpikir seperti itu, kemungkinan buruk itu akan semakin besar untuk terjadi. Tapi kalau kita berpikir yang sebaliknya, siapa tahu Tuhan akan berbaik hati memberikan mukjizatnya?" Ray memang paling bisa untuk menenangkan seseorang yang perasaannya sedang kacau balau. Kendra merangkul Adara dan mereka berdua tersenyum dalam sorot kesedihan. Entah dorongan dari mana, gue memeluk Ray. Ray, yang tidak pernah serius, selalu berlebihan. Tapi bisa berpikir positif saat orang di sekitarnya berpikir negatif. Dia luar biasa. Gue sangat senang, bisa kenal dan punya sahabat seperti Ray Dhanadyaksa. *** [Zanna Felysia Lovatach] Gue benar benar khawatir dengan keadaan Kak Gabriel. Gue gak mau kehilangan Kak Gabriel. Kalau Kak Gabriel pergi, gue sama siapa? Gue gak mau sendirian, kesepian tanpa satu orang pun teman. "Kak Gabriel mau makan apa? Biar Zanna masakin." Dia menggeleng, "Kakak mau istirahat aja." Gue mengerti, "Kalau gitu, Zanna buatin teh manis hangat, mau ya Kak?" Dia mengangguk, lalu berjalan menuju kamar. Gue melangkah ke dapur. Di setiap langkah, gue berpikir, apa yang membuat Kak Gabriel menyentuh daun hyrex. Kak Gabriel gak pernah seceroboh ini sebelumnya. Gue mulai membuat teh manis. Apa karena telepon dari Paman Rendra tadi pagi? Gue gak sengaja sedikit mendengar percakapan antara Kak Gabriel dan Paman Rendra. Paman Rendra yang meminta Kak Gabriel untuk kuliah, atau kalau tidak mau kuliah, bekerja. Apa karena itu? Gue menuang air panas ke gelas tempat gue membuat teh. Setelah itu, gue membawa teh itu ke kamar Kak Gabriel. Gue mengetuk kamar Kak Gabriel terlebih dahulu sebelum masuk. Kali ini, gue bertingkah sedikit sopan di rumah. Gue membuka pintu kamar Kak Gabriel dan mendapati Kak Gabriel bertelanjang d**a. Untung kakak sendiri. Kak Gabriel sempat melihat ke arah gue dan hanya diam. Mungkin suatu pesan tersirat yang membolehkan gue untuk masuk. Tanpa ragu, gue masuk ke kamar Kak Gabriel. Gue baru menyadari terdapat ruam merah di sekitar area punggung Kak Gabriel. Membuat gue sedikit meringis. "Sakit Kak?" Sepertinya Kak Gabriel mengerti apa yang gue maksud, "Sedikit." Gue menaruh gelas teh manis di atas nakas. Dan gue duduk di atas kasur Kak Gabriel. Gue kembali bersedih. Kak Gabriel ikut duduk di samping gue. "Mau aku kompres ruamnya?" Kak Gabriel menggeleng, "Biar gue sendiri aja." Gue mengangguk. Gue berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata, namun sia-sia. Gue menangis lagi, bahkan terisak. Kak Gabriel mendekat, "Jangan nangis dek, hati kakak sakit dengarnya." Gue malah semakin terisak, gue rindu dengan panggilan 'dek' yang keluar dari bibir Kak Gabriel. Kak Gabriel menghapus air mata gue dengan ibu jarinya. Ia menangkup pipi gue. "Kakak sayang kamu, dek." Gue mengangguk dan langsung memeluk Kak Gabriel dan terisak di dadanya yang tanpa baju. Gue gak mau kehilangan Kak Gabriel. "Dede juga sayang Kakak." Kak Gabriel semakin mengeratkan pelukannya. Gue salah saat menilai pelukan Kak Ray lebih nyaman dari pelukan Kak Gabriel. Ternyata, sampai sampai saat ini, Kak Gabriel masih memiliki pelukan ternyaman untuk gue. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD