[Ray Dhanadyaksa]
Gue masih memikirkan apa yang terjadi kemarin. Zanna cerita ke gue. Gabriel cerita ke Meysha. Mungkin Gabriel sempat ingin cerita ke gue, tapi tidak jadi, karena sudah ke duluan oleh Zanna. Gue tahu kenapa dua kakak adik itu mendatangi gue, pasti karena gue itu luar biasa bijak.
Sepertinya memang benar, Gabriel suka sama Meysha. Dan Meysha suka sama Gabriel.
Apa gue harus mundur?
Sepertinya iya bukan jawaban yang tepat. Susah cuy, buat move on dari Meysha. Apalagi gue udah lama pake banget suka sama Meysha. Move on nggak pernah semudah membalikkan telapak tangan.
Zanna. Dia cantik dan cukup menarik. Tapi, dia nggak berhasil menarik perhatian gue seperti Meysha.
Gue melihat ke arah jam dinding. Jam delapan tepat. Gue langsung beranjak menemui Ibu gue untuk pamit menemui kawan-kawan. Seperti yang sudah direncanakan kemarin lusa, kami akan membuat lebih banyak ramuan untuk meminimalisir rasa sakit penyakit hyrexin.
Gue berjalan pelan menuju rumah Meysha. Gue nggak bisa lupa atas tindakan Gabriel ke Meysha. Gue tahu, gue juga salah. Karena semenjak gue mempunyai rasa ini, gue nggak pernah berani untuk sekadar menunjukkannya. Sekarang? Mana sempat keburu telat.
Gue menatap rumah Meysha lama, sampai akhirnya, seseorang menepuk pundak gue dari belakang. Gue menoleh. Ternyata Gabriel. Tuh kan gue bilang apa, Gabriel nggak pernah sesemangat ini ketika kami akan bertemu. Tapi sekarang? Jelaslah karena kami bertemu di rumah Meysha.
Pasti Gabriel ingin datang sebelum gue, Kendra dan Adara datang. Tapi, mana sempat keburu telat. Em em, mana sempat gue udah datang duluan.
"Tumben nggak telat?" gue membuka pembicaraan.
"Kan kalau sekarang kita ketemuan untuk kebaikan. Jadi, gue nggak mau buang-buang waktu."
Gue memutar bola mata, bilang aja nggak mau buang-buang waktu untuk ketemu Meysha. Gue cowok, maka gue ngerti.
Dia sempat bingung, melihat ekspresi jengkel gue yang mungkin begitu ketara, gue langsung mengangguk dan tersenyum. "Asiap bro. Panggil Meysha sana!"
Dia menaikkan sebelah alisnya. "Lo aja, gih!"
Gue mengangkat bahu. "Sekali-kali lo sana. Masa gue mulu."
Gue sengaja menyuruh Gabriel yang memanggil Meysha. Karena gue ingin melihat reaksi Meysha saat mendengar suara Gabriel. Gue berharap, dia nggak datang secepat kilat keluar rumah.
Gue dan Gabriel berjalan mendekat menuju pintu rumah Meysha.
Lalu Gabriel mengetuk pintu rumah Meysha. "Permisi, Meysha!"
Dalam hati, gue terus berharap semoga Meysha agak lama membuka pintu.
Saat Gabriel hendak mengetuk pintu kembali, pintu langsung terbuka dan menunjukkan wajah Meysha yang terlihat sangat ceria saat menatap Gabriel. Berbeda dengan saat dia menatap gue. Matanya seakan menyiratkan kekecewaan.
Lagi-lagi hati gue potek.
Meysha langsung tersenyum. "Eh, Gabriel, Ray. Masuk yuk. Ada Ibu di dalam."
Gue dan Gabriel berjalan pelan memasuki rumah Meysha.
"Duduk. Gue ambil cemilan dulu, ya."
Gue dan Gabriel mengangguk menurut, lalu duduk lesehan di atas karpet, persis seperti kemarin.
Tak lama, Meysha segera kembali bersama dengan Ibunya yang juga tak kalah cantik dari Meysha.
"Nak Gabriel, Nak Ray. Dimakan ya! Ibu ke dalam lagi."
Gue mengangguk sopan. "Iya Bu, terima kasih."
"Terima kasih, Bu," Gabriel ikut menimpali.
"Eh, Zanna, Adara sama Filona ke mana?" tanya gue.
"Filona udah pergi dari subuh. Sedangkan Adara dan Zanna, mereka pulang dua jam lalu."
"Oh, gitu. Kenapa Adara memilih pulang dulu, ya? Kan lebih praktis dia di sini aja, jadi nggak perlu bolak-balik."
"Rencananya juga mau gitu, tapi tadi pagi bundanya telepon, ada kepentingan mendesak sama Adara. Kalau Zanna, ya, dia mau berangkat sekolah."
"Oh, pantesan."
Tak lama, Kendra datang bersama Adara. Tanpa ragu dan tanpa basa-basi mereka langsung berjalan masuk ke dalam rumah Meysha, yang memang pintu depannya terbuka.
"Halo, kawan-kawan!" ujar Kendra gembira.
"Nggak sopan banget ya lu, main masuk rumah orang aja," ucap gue bercanda.
Kendra mengangkat bahu. "Meysha aja nggak masalah. Ya kan, Mey?"
"Iya, udah duduk. Kita mulai diskusinya."
Kendra dan Adara langsung duduk. Seperti biasa, kami berlima duduk melingkar. Dengan posisi, gue, Meysha, Gabriel, Adara dan Kendra. Paling tidak, gue bisa sampingan sama Meysha.
Meysha berucap, "Jadi gini..."
"Maaf anak-anak. Ibu menganggu. Lebih baik kalian ke rumah Pak Danu terlebih dahulu. Karena, anaknya yang sakit hyrexin sudah tidak tertolong." Ibu Meysha memotong pembicaraan kami yang hendak dimulai.
Kami berlima langsung terkejut setelah mendengarnya. Padahal kemarin lusa kondisi anak Pak Danu sudah jauh lebih baik, namun sekarang sudah pergi mendahului kami semua.
"Ibu mau ke sana dulu. Kalian lebih baik langsung nyusul ke sana juga, ya!"
Kami berlima mengangguk menurut.
"Ya udah. Kita langsung ke sana aja. Ini kita lanjutin nanti pas pulang," ucap Adara.
Kami berempat mengangguk dan langsung bergegas menuju rumah Pak Danu. Pasti Pak Danu sedih banget kehilangan anak bungsunya. Apalagi ini karena penyakit hyrexin. Sepertinya, daun hyrex harus benar-benar di musnahkan dari Desa Tiwa.
Harus berapa banyak lagi, warga Desa Tiwa yang jadi korban karena daun mematikan itu?
Harus berapa banyak lagi air mata yang tumpah hanya karena daun berbahaya itu?
Mata gue berkaca-kaca.
Gabriel menepuk pundak gue, "Gue tahu lo lagi mikirin apa. Keep calm, bro!"
Gue langsung menenggakkan kepala, berusaha mengusir air mata yang hendak jatuh.
Meysha yang ada di sebelah gue juga ikut mengusap punggung gue. Membuat gue sedikit terkejut karenanya. Kendra dan Adara yang ada di samping Meysha ikut tersenyum tulus seakan mengerti dan memberi semangat.
Gue ikut tersenyum. "Thanks, guys!"
Kami telah sampai di rumah Pak Danu, dari luar rumah, kami bisa melihat Pak Danu sedang menangkan Bu Danu yang tengah menangis kencang. Pasti Pak Danu berusaha tegar supaya tidak menangis.
Kami berlima langsung memasuki rumah Pak Danu. Pak Danu melihat kami tersenyum. Lalu kami mengikuti seluruh proses pelepasan anak Pak Danu untuk selama-lamanya.
Setelah proses penguburan anak Pak Danu, kami sempat ke rumah Pak Danu terlebih dahulu sebelum pulang.
"Kami turut berduka cita ya, Pak," ucap Kendra lembut.
Pak Danu tersenyum. "Terima kasih ya, kalian sempat membantu anak Bapak."
Kami berlima mengangguk. "Ya sudah, kami permisi ya, Pak."
Pak Danu mengangguk.
"Gue kasihan banget sama Bu Danu. Tadi dia sedih banget." Meysha membuka pembicaraan saat di perjalanan menuju rumahnya.
"Iya, pasti sedih banget ya, kehilangan orang yang di sayang." Adara menanggapi.
Gue yang berada di tengah-tengah antara Adara dan Meysha, langsung merangkul mereka, berusaha menghibur. "Mau bagaimana pun juga, ini pasti yang terbaik untuk anaknya Pak Danu. Kan kasihan dia, kalau harus menahan penyakit hyrexin lebih lama, dia masih kecil loh."
Kendra melepas paksa rangkulan gue dari Adara. "Bijak sih boleh, tapi jangan sampai rangkul pacar gue, lah," ucap dia sewot.
Lalu Kendra langsung merangkul Adara.
Gue terkekeh. "Gue lupa Dara udah ada yang punya."
Gue mengerling ke Meysha yang masih gue rangkul. "Berarti rangkul lo boleh dong? Kan lo belum ada yang punya?" iseng. Entah keberanian dari mana gua berkata seperti itu.
Gabriel langsung melepas rangkulan gue. "Meysha emang belum ada yang punya, tapi bukan berarti lo bebas merangkul Meysha."
Gabriel cemburu. Oke berarti Gabriel memang suka sama Meysha. Hari ini gue kembali potek untuk yang kesekian kali.
Gue mencebik. "Parah ya kalian semua, gak bisa melihat sahabat senang sebentar aja."
Kendra berdeham. "Dara, sepertinya Gabriel sama Meysha ada sesuatu nih."
"Sepertinya mereka sebentar lagi mau nemenin kita yang pacaran deh, Ken," Adara menggoda.
"Apaan sih kalian!" Meysha menyanggah malu.
Gue yang berada di tengah mereka hanya diam. Gue nggak tahu mau menyahut apa.
"Ken, kalau misalnya Gabriel sama Meysha, kasian orang yang ada di samping kiri gue dong."
Dasar Adara menyebalkan. Malah diperjelas.
Kendra tertawa keras. Parah banget memang. Gue menoleh ke arah Meysha dan Gabriel, mereka terlihat menahan tawa.
"Kalian beruntung, karena menertawakan sahabat nggak dosa," sahut gue jengkel.
"Sorry, Ray," ujar mereka berempat kompak.
Ngeselin banget memang.
"Eh, tapi sepertinya Ray juga ada sesuatu deh, sama Zanna," Kendra berucap.
Dasar kompor meleduk. "Jangan aneh-aneh deh lu."
"Eh itu betulan?" Adara menanggapi penasaran.
Kok kayaknya rumah Meysha jauh banget sih?
"Sepertinya begitu. Kemarin aku lihat Zanna lagi makan mie rebus berdua sama Ray di warung Bi Ida, ditambah pengakuan secara tidak langsung dari Ray dan Zanna kemarin malam."
Adara mengangguk-anggukkan kepala. "Oh iya, benar juga."
"Ah, itu beneran, Ken?"
Mampus gue. Gabriel udah angkat bicara.
Kendra mengangguk.
"Berarti lo dong yang ngajak pergi adik gue?" Gabriel bertanya ke gue.
Stay cool, Ray. "Jadi gini, Riel. Setelah gue lihat lo sama Meysha berduaan. Gue kan mau pulang tuh, terus gue lihat adik lo. Nah, gue sempat minta tolong sesuatu sama adik lo. Sebagai imbalannya ya, gue traktir adik lo mi rebus Bi Ida," ucap gue tak sepenuhnya bohong.
"Oh iya Ken, pas aku mau ke rumah kamu kemarin, aku sempat melihat Gabriel dan Meysha berduaan," ujar Adara semangat.
Kendra terlihat sumringah. "Wah, berarti bener ini, Gabriel akan jadi sama Meysha. Terus Ray sama Zanna deh."
Andai lo tahu Ken, hati gue buat siapa.
"Iya bener, terus kita bisa triple date deh. Pasti seru!" Lalu Adara dan Kendra saling melempar tos tangan.
Adara bisa terlihat ceria cuma di depan kami. Apalagi saat dia bersama Kendra.
"Apa sih, kalian!"
Tanpa gue sangka, gue mengucapkan itu bersamaan dengan Meysha dan Gabriel. Kenapa bisa gini?
Kendra terkekeh. "Waduh, bisa kompak gitu, ya!"
Akhirnya kami sampai di depan rumah Meysha. Kenapa nggak dari tadi sih, sampainya?
Meysha terlihat merogoh saku untuk mencari kunci. Setelah mendapatkannya, ia mencoba untuk menekan knop pintu, memastikan pintunya masih di kunci atau tidak. Sepertinya masih terkunci. Lalu ia memasukkan kunci, memutarnya dan membuka pintu.
Meysha menoleh. "Masuk yuk!"
Kami menurut dan memasuki rumah Meysha.
Di sini, kami langsung membicarakan maksud utama kami berkumpul. Yaitu untuk membuat ramuan untuk penyakit hyrexin lagi dengan jumlah yang lebih banyak.
"Sesuai rencana kemarin lusa. Kita akan membuat ramuan penyakit hyrexin jauh lebih banyak." Meysha membuka pembicaraan.
Kami berempat mengangguk.
Adara menyahut. "Karena kita mau membuat lebih banyak. Jadi, yang cowok nyari daun-daunnya. Dan gue sama Meysha yang meracik itu menjadi ramuan. Setuju?"
Gue sih oke aja. Gak ada salahnya juga. "Siap. Untuk daunnya mau di cari random aja, atau bagi tugas lagi?"
"Dibagi aja, biar bisa fokus mengumpulkan daun yang sudah ditentukan dengan jumlah banyak," usul Kendra.
Gabriel mengangguk. "Setuju."
Meysha mengangguk semangat. "Oke, gue yang bagi ya. Karena daunnya ada sepuluh dan yang nyari cuma tiga orang, berarti salah satu ada yang nyari empat daun. Setuju?"
"Gue aja yang empat," timpah Gabriel.
Bagus. Biar gue nggak capek capek banget gitu.
Meysha mengangguk. "Oke, untuk Kendra daun bidara, sirih, gweria. Ray daun ruds, yinji, fars. Dan untuk Gabriel daun gelagang, weri, tebaga, kipa. Ingat, mengambil daunnya harus extra hati-hati, jangan sampai yang ke ambil daun hyrex."
Gue, Gabriel dan Kendra mengangguk. Lalu kami para laki-laki langsung bangun dari duduk untuk mencari daun daun tersebut.
Tetapi sebelumnya, Adara sempat menahan lengan Kendra. "Hati-hati, Ken. Perasaan aku nggak enak."
Gue menelan ludah.
Kenapa atmosfernya jadi mencekam gini?
Padahal kemarin lusa baik-baik aja, nggak ada rasa khawatir yang berlebih.
"Iya, sama kayak Dara, perasaan gue juga aneh gitu." Meysha menimpali.
Tuh kan.
Gue jadi tambah deg-degan.
"Iya, tenang kami akan hati-hati kok." Gabriel mewakili.
Lalu kami bertiga keluar dari rumah Meysha dengan langkah ragu.
Gue menyenggol Kendra. "Gara-gara omongan pacar lo, gue jadi deg-degan banget nih."
"Enak aja, Adara tuh cuma mengingatkan, biar kita lebih hati-hati," ucapnya tak terima karena pacarnya gue salahkan.
Kini Gabriel yang gue senggol. "Lu gimana Riel?"
Dia menoleh dan mengernyit. "Gimana apanya?"
"Perasaan lo? Deg-degan kah? Cemas kah? Atau biasa aja?"
Dia menatap lurus ke depan. "Mencoba untuk biasa saja."
Gue mengangguk paham. "Berarti deg-degan juga dong?"
Dia mengangkat bahu.
Kendra menepuk pundak gue. "Udahlah Ray, santai aja. Yang penting kita harus hati-hati."
Gue tersenyum paksa dan mengangguk. "Ya udah, gue ke sana dulu, deh. Mau nyari daun ruds," ujar gue sambil menunjuk ke kanan.
"Ray, gue ikut. Searah kan tuh sama letak daun sirih," tambah Kendra.
"Lu mau ikut juga gak Riel? Nyari daun..." gue lupa Gabriel nyari daun apa aja.
Dia menggeleng. "Daun yang gue cari nggak ada yang ke arah sana. Kalian aja. Gue mau nyari daun tebaga dulu aja di sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah kiri, berlawanan dengan gue dan Kendra.
Kendra mengangguk. "Oke. Hati-hati ya, Riel."
Gabriel mengangguk sebagai balasan.
***
[Gabriel Jourdain Lovatach]
Gue berjalan pelan mencari daun tebaga. Pikiran gue berkelana pada kejadian tadi pagi. Saat Paman Rendra menelepon gue dan secara tidak langsung menuntut gue untuk kuliah atau kerja.
Mungkin Paman Rendra sudah tidak sanggup menanggung biaya hidup gue dan Zanna. Kalau untuk kuliah, gue belum tahu jurusan apa yang akan gue ambil. Walaupun Paman Rendra bilang ia siap membiayai kuliah gue sampai tuntas. Kalau bekerja, gue harus kerja apa dengan modal ijazah SMA? Jadi petani? Gue nggak ada bakat.
Gue memetik daun tebaga sebanyak mungkin. Setidaknya, hadirnya gue di Desa Tiwa sedikit berguna dengan apa yang gue dan kawan-kawan lakukan.
Setelah itu gue mencari daun gelagang, setelah menemukannya, gue langsung memetiknya sebanyak mungkin.
Gue melanjutkan mencari daun weri, setelah mendapatkannya gue mencari daun kipa.
Di perjalanan mencari daun kipa, gue berpikir kedekatan antara Ray dan Zanna, adik gue.
Gue sudah menemukan daun kipa, gue memetiknya asal.
Gue sama sekali nggak masalah kalau Zanna dekat sama Ray, tapi gue nggak pengin Zanna pacaran terlebih dahulu. Ia harus fokus dengan pendidikan dan cita-citanya. Gue nggak mau dia berakhir sama kayak gue. Yang nggak tahu mau melanjutkan hidup ke depannya seperti apa.
"RIEL, ITU DAUN HYREX!" Terdengar suara khas Ray dan Kendra berteriak nyaring.
Gue langsung tersadar dari lamunan gue dan otomatis melepas semua daun yang ada di tangan gue.
Gue menatap salah satu daun yang bentuknya khas. Daun hyrex. Napas gue berderu kencang. Pikiran dan perasaan gue berkecamuk. Berulang kali gue menatap daun tersebut dan tangan kanan gue.
Ya Tuhan. Cobaan apa lagi ini?
***