"Semangat belajar kalian hari ini?" Tanya Riki.
"Semangat dong, pak," jawab April.
"Pastinya semangat, pak," imbuh Hesti.
"Hari ini kita belajar apa, pak?" Tanya Gendhis.
"Nanti kalian akan hadir di persidangan. Setelah istirahat kalian akan diajarin cara bikin berita acara sidang militer. Kalian bertiga bawa laptop masing-masing kan?" Tanya Riki.
"Bawa, pak."
"Bagus! Kalau gitu kalian bertiga langsung ikut bapak lihat acara peradilan seperti apa."
"Kita bawa laptop gak, pak?" Tanya April.
"Tidak usah, kalian bawa buku sama pulpen saja. Catat apa yang kalian pengen catat, gimana prosesnya, alur jalan persidangan, untuk menambah ilmu buat kalian. Takutnya nanti kalian bertiga ditanya sama pak Emran, karena pak Emran itu susah ditebak orangnya. Kalau kalian tidak bisa jawab pertanyaan pak Emran nanti saya yang ngerasa salah."
"Kami ambil buku sama pulpen dulu yah, pak."
"Cepetan yah, bapak tunggu di depan pintu."
Ketiganya dengan cepat mengambil buku dan pulpen di dalam tas mereka.
"Ayo kita pergi sekarang, sepuluh menit lagi sidang segera dimulai."
Ketiganya berjalan di belakang Riki, berpapasan dengan Emran yang hendak masuk ke ruang sidang sebelahnya.
"Sudah siap semuanya, pak Riki?" Tanya Emran pada Riki.
"Sudah, pak."
"Ajarin mereka yah, nanti saya akan tes mereka."
"Siap, pak!"
Ketiganya langsung lemas, apalagi mendengar akan di tes sama Emran.
"Kalian bertiga harus fokus memperhatikan sidang hari ini," Emran bicara kepada ketiga anak didiknya.
"Siap, pak!" jawab ketiganya dengan kompak.
"Kalau gitu saya tinggal yah, saya masuk ke ruang sidang sebelah."
Sebelum berjalan Emran tersenyum pada Hesti dan April, namun tidak pada Gendhis. Emran langsung melengos berlalu begitu saja tanpa menoleh pada Gendhis.
'Pak, Emran kok gitu sih? Senyum sama Hesti dan April tapi sama aku sama sekali tidak memberikan senyumannya, nengok saja kagak. Memangnya aku salah apa sih? Apa wajahku ada yang aneh? Atau ada upilnya di hidungku?' Gendhis bertanya dalam hatinya.
"Gendhis, ayo! Kok malah melamun," April yang memanggil Gendhis yang sudah berdiri di depan pintu masuk ruang pengadilan dari tadi karena Gendhis sibuk melamun memikirkan Emran.
Gendhis langsung berlari sampai depan pintu masuk.
Selama di persidangan, pikiran Gendhis terbagi dua antara mengikuti proses peradilan sama menebak kenapa Emran begitu beda dengannya. 'Kenapa sama aku berbeda sih? Apa sih salah aku?' tanyanya terus dalam hati.
Setelah selesai menyaksikan secara langsung acara proses peradilan bagaimana, Riki menyuruh ketiga anak didiknya untuk istirahat karena memang sudah jamnya istirahat.
"Kalian mau makan siang di mana?" Tanya Riki.
"Makan di sini saja pak, kami bawa bekal makanan dari rumah."
"Oh gitu."
"Bapak makan siang di mana?" Tanya Hesti sekedar basa basi.
"Saya juga dibekali istri saya tapi ketinggalan, ini saya mau ngambil dulu tadi dititipi di depan. Saya ke bawah dulu yah."
"Ya, pak!"
Tak lama Sri pun datang bersama Abi, datang dengan membawa tumpukan berkas.
"Kalian baru makan ini?" Tanya Sri.
"Baru mau, bu. Ibu tidak makan siang?" Tanya Gendhis.
"Ini ibu juga mau, tapi taruh berkas dulu."
"Saya bantu, bu?" Tawar Gendhis yang sudah mau beranjak dari duduknya.
"Tidak usah, kalian lanjutin saja makannya. Ibu juga mau makan."
Abi juga makan bersama mereka, makan di meja masing-masing sambil ngobrol ngalor ngidul hingga selesai.
Ceklek..
Pintu ruangan dibuka dari luar, Fajar ketua pengadilan yang membuka pintu. Sri dan Abi langsung berdiri, Gendhis, Hesti dan April pun ikut berdiri.
"Kalian sudah selesai makan siang?" Tanya Fajar.
"Sudah, pak!" jawab Sri.
"Ini tiga mahasiswa magang itu yah?"
"Iya, pak. Ayo anak-anak salaman dulu sama ketua pengadilan," perintah Sri.
Dengan patuh Gendhis, Hesti dan Sri salaman pada Fajar.
"Siapa nama kalian?" Tanya Fajar.
"Saya Gendhis, pak!"
"Saya Hesti, pak!"
"Saya April, pak!"
"Saya pak Fajar, ketua pengadilan di sini. Kalian bertiga satu kampus kan?"
"Iya, pak," jawab Hesti.
"Satu ruangan bertiga?" tanya Fajar kembali.
"Iya, pak," jawab Hesti kembali.
"Wah, tidak bisa begini ibu Sri. Mereka bertiga tidak boleh bertumpuk di sini. Coba sebarkan mereka bertiga. Biarkan mereka bertiga berpencar dan saling sharing pengetahuan ke teman mereka. Kalau mereka dalam satu tempat itu berarti hanya dapat ilmu di sini saja, bergaulnya cuma bertiga, pastinya ke mana-mana bertiga terus. Bilang sama pak Emran, satu di sini. Eum.. Gendhis kan?" Fajar menunjuk pada Gendhis.
"Iya, saya Gendhis, pak."
"Kamu di sini. Terus kamu Hesti, benar?"
"Iya, pak."
"Gini saja deh, ibu Sri."
"Siap, pak."
"Ibu Sri atur Hesti dan April ke bagian yang lain yang penting mereka tidak boleh dalam satu bagian, bergabung sama mahasiswa kampus lainnya."
"Siap, pak."
"Ibu koordinasi sama yang lain saja yah, minta acc dulu sama pak Emran."
"Siap, pak."
"Saya tinggal dulu. Gendhis, Hesti dan April, bapak harap kalian bertiga bisa cepat beradaptasi, cari ilmu sebanyak-banyaknya, jangan segan untuk bertanya, di sini tidak akan ada yang ganggu kalian jadi kalian tenang saja. Jika ada yang melakukannya, jangan ragu lapor sama bapak."
"Siap, pak," jawab ketiganya kompak.
"Tapi kalau kalian di gombalin sama yang di sini jangan baper, oke?"
"Oke, pak," jawab Gendhis.
"Siap, pak," jawab Hesti dan April.
Mereka bertiga saling toleh karena tidak kompak menjawab.
"Oia bu Sri, tolong bilang ke bagian yang lain juga untuk menyebarkan mahasiswa magang lainnya, saya tidak mau ada yang satu kampus hanya berada di dalam satu ruangan seperti mereka bertiga ini, mereka harus mencar. Biar bisa berkomunikasi dengan bagian yang lain dan bergaul dengan anak kampus lainnya."
"Siap, pak. Nanti akan saya sampaikan."
"Bagus, setelah itu suruh setiap kepala bagian menghadap saya yah."
"Siap, pak."
Ketiganya bisa bernafas lega setelah Fajar sang ketua pengadilan pergi.
"Kalian tenang saja, di sini tidak akan macam-macam kok orangnya, semua pada baik. Ya tapi kami semua tegas, pada disiplin, tidak suka yang lelet, jadi kalau ada marah jangan diambil hati, mungkin karena kerjaan kita ada yang salah tapi di luar kerjaan semuanya baik. Santai saja yah," ujar Sri.
Ketiganya mendadak diam, agak takut juga sih yang mereka rasakan apalagi harus berpisah.
Emran masuk ke dalam ruangan, Sri langsung ngobrol dengan Emran membahas apa yang diperintah sama Fajar.
"Oke, nanti saya yang menghadap langsung ke bagian lain. Biar mereka bertiga hari ini di sini dulu, besok baru Hesti dan April pindah bagian."
"Siap, pak."
Emran beralih melihat ketiga anak didiknya, melihat Gendhis sekilas. "Hesti, April dan Gendhis, setengah jam lagi kalian akan bapak tes atas proses peradilan yang kalian hadiri tadi."
Mendadak ketiga diam ngefreze, terlihat pada tegang.
"Nanti saya akan panggil kalian. Saya mau ke bagian yang lain dulu."
Ketiga masih terdiam, freezenya belum mencair. Setelah Emran pergi baru freezenya mencair.
"Bu Sri, memangnya pak Emran galak yah?" Tanya Gendhis pada Sri yang baru saja duduk.
"Enggak juga ah, galak pada waktu tertentu saja kok."
"Judes gak, bu?" Tanya Gendhis kembali.
"Gak judes, malah baik, sering nraktir juga."
"Ketus gak, bu? Mahal senyum gak, bu?" Gendhis terus bertanya pada Sri.
"Gendhis, pak Emran itu baik, tidak judes, tidak galak, tidak ketus namun cuek, senyumnya juga kadang itu juga tapi orangnya baik kok."
"Saya takut, bu. Apalagi saya sendiri di sini."
Sri terkekeh melihat Gendhis yang memang terlihat takut. "Tenang saja, pak Emran tidak bakalan galak, marah, selama kerjaan kita rapih dan benar."
Hesti menepuk bahu Gendhis. "Yang sabar yah bestie," ucapnya. "Fighting." Sambil Hesti mengepalkan tangan kananya, April juga mengikuti.
Gendhis tetap lemas, bestie.