Emran datang lagi ke ruangan anggotanya. langsung duduk di kursinya Abi karena Abi pergi ke ruangan lain.
"Hesti," panggil Emran dari kursinya.
Hesti yang sedang membaca tulisannya karena takut sama tes yang akan Emran lakukan nanti langsung kaget. "Siap, pak," jawabnya sambil berdiri.
"Santai saja Hesti, duduk saja tidak usah berdiri."
"Iya, pak." Hesti duduk kembali dengan lemas. Dugaannya pasti tes langsung dilaksanakan sekarang.
"Hesti, mulai besok pindah ke bagian pelaporan."
"Siap, pak," jawabnya masih lemas.
"Sudah tahu ruangannya?" Tanya Emran.
"Sudah tahu, pak. Yang dekat tangga kan, pak?"
"Iya, besok langsung ke sana yah."
"Siap, pak."
"Lalu bagiannya April."
April langsung duduk tegak. "Siap, pak."
"April besok ke bagian ortala yah, sudah tahu ruangannya?"
"Euuum, yang di sebelahnya pengaduan bukan pak?" Tanyanya ragu.
"Iya, besok langsung ke sana."
"Siap, pak."
"Dan Gendhis."
"Siap, pak." Gendhis duduk tegak sekali.
Emran menoleh melirik sebentar pada Gendhis lalu melihat kertas yang dipegangnya. "Gendhis tetap di ruangan ini, Gendhis tetap di bawah bimbingan saya," Emran ngomong dengan tegas.
"Siap, pak."
Gendhis melihat Emran, keningnya mengkerut, ada rasa tak terima di hatinya, seperti merasakan ketidakadilan yang Gendhis rasakan.
Gendhis merasa kenapa saat ngomong dengan Hesti dan April, Emran menatap keduanya, bahkan ngomongnya sangat halus, sehalus knalpot mobil baru keluar dari showroom. Tapi kenapa saat bicara pada dirinya, Emran terlihat serius dan sama sekali tidak mau menatapnya, bahkan senyum saja tidak.
Gendhis pengen komplain tapi takut dibilang 'hanya perasaan kamu saja,' kan itu sama saja mempermalukan diri sendiri, harga dirinya bisa push up di jurang paling dalam.
Jadinya Gendhis terima nasib sajalah. Siap berjuang selama tiga bulan ke depan.
"Karena Hesti dan April akan pindah bagian jadi tidak perlu saya tes. Hanya Gendhis saja yang akan saya tes."
Hesti dan April pun bernafas lega, tentram dan damai namun tidak begitu dengan Gendhis.
Semua yang di ruangan langsung melihat pada Gendhis, mendadak Gendhis tremor. Gendhis mendadak mengalami badan meriang, panas dalam, bibir pecah pecah, curiga gejala sariawan. Gendhis butuh cap kaki lima.
"Gendhis, ikut saya ke ruangan," perintah Emran begitu tidak bernada, tidak ada iramanya, rasanya hambar.
"Ayo semangat bestie, kamu pasti bisa," April menyemangati Gendhis.
"Aku mendoakan mu bestie, doa kami menyertaimu," Hesti pun menyemangati Gendhis.
'Bang ke lah kalian,' gerutu Gendhis dalam hatinya.
"Ayo Gendhis cepetan, jangan sampai pak Emran menunggu. Nanti pak Emran keluar tanduknya," Sri menakuti Gendhis dan Gendhis pun memang takut beneran.
"Doakan saya yah, bu. Doakan saya keluar dari ruangan pak Emran masih bernyawa."
"Kamu itu lucu, sana cepetan. Pak Emran tidak suka sama yang lelet."
Gendhis pun langsung berjalan cepat hingga di depan ruangan Emran mengerem tubuhnya. Gendhis melakukan inhale exhale sebelum mengetuk pintu ruangan Emran.
"Ayo kamu bisa, Gendhis," Gendhis menyemangati dirinya sendiri.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk," Emran menjawab dengan berteriak dari dalam ruangan.
Gendhis menongolkan kepalanya terlebih dahulu.
"Boleh masuk, pak?"
"Silahkan."
Gendhis pun masuk, bingung harus duduk di mana karena belum dipersilahkan.
"Silahkan duduk, Gendhis." Emran menunjuk kursi yang dihadapannya yang hanya terhalang meja.
"Saya duduk, pak?"
"Kalau mau tetap berdiri juga tidak masalah," jawabnya dengan ketus tanpa melihat Hasna.
'Ada yah lelaki macam ginian, ketusnya mit amit dah. Tak pelet juga nanti baru tahu rasa ni orang,' Gendhis ngebatin sendiri.
Gendhis gugup segugup gugupnya apalagi ruangan Emran begitu dingin karena AC dan ruangannya begitu wangi pula bikin Gendhis dari gugup berubah menjadi tambah gugup.
"Sudah siap?"
"Siap apa, pak?"
"Menurutmu?"
"Tes, pa." Gendhis senyum terpaksa walau tidak dilihat Emran tetap saja Gendhis senyum.
Emran mengangkat kepalanya, menatap Gendhis, Gendhis dari tadi menatap Emran, mata mereka saling berpandangan, sayangnya tidak bertahan lama karena Emran yang memutus pandangannya. Emran menatap kertas lagi.
"Pertanyaan pertama, apa beda peradilan sama pengadilan."
Bagi Gendhis itu pertanyaan gampang untuk di jawab, Gendhis langsung menjawab, "Beda pak."
"Ya apa bedanya?"
"Bedanya di pera sama penga, keduanya ada dilannya tapi bukan dilan yang film," dengan konyol Gendhis berkata begitu. Otaknya tidak berpikiran begitu tapi kenapa ini bibir tidak bisa sinkron dengan otaknya?
Emran langsung menatap tajam Gendhis, Gendhis langsung menelan ludahnya. Tatapannya seperti hendak menelan Gendhis bulat-bulat.
"Ulangi lagi jawabanmu," nada ucapan Emran sudah naik ke bon cabe level sepuluh.
Gendhis mendadak lupa mau jawab apa, bahkan dia sendiri lupa tadi menjawab apa.
"Saya tanya sekali lagi, apa bedanya pengadilan dan peradilan?"
Gendhis mendadak pengen nangis, karena Emran nanyanya seperti membentak, padahal ayahnya saja tidak pernah membentaknya.
"Jawab pertanyaan saya, Gendhis !!!"
"Iii.. Ituuu, pak. Kaalauuu pengadilan itu proses beracaranya sedangkan peradilan itu instansi berbadan hukum," saking takutnya Gendhis salah menjawab karena ketukar jawabannya.
"Gendhiiis !!!!" Emran melotot pada Gendhis.
Gendhis menahan nangis. "Iii.. Ituu pak, ketukar jawabannya. Maksud, maksud saya itu pengadilan itu lembaga, instansi badan hukum. Kalau peradilan itu proses beracaranya," Gendhis sendiri ragu benar atau tidak menjawab pertanyaan Emran saking gugup, takut dan pengen nangis.
Emran memijat keningnya, mendadak kepalanya menjadi nyut nyutan dan saking perasaannya juga nano nano sama Gendhis.
"Pertanyaan kedua, menurut Gendhis apakah pengadilan militer berhak mengadili warga sipil?"
Sebelum menjawab, Gendhis menghapus air matanya dulu dengan punggung telapak tangannya. Setelah selesai baru Gendhis menjawab, "Hanya warga militer atau TNI saja, pak."
Emran mendorong kotak tisunya ke hadapan Gendhis. "Hapus air matamu, saya tidak suka cewek cengeng, manja, apalagi centil," titahnya dengan nada tidak ada halusnya.
Gendhis mengernyitkan keningnya karena dia merasa tidak pernah cengeng, manja apalagi centil.
'Gue pelet juga lu ke dukun beranak baru tahu rasa, kalau perlu lu beranak dalam kubur dah,' Gendhis geram sendiri di dalam hatinya.
"Untuk hari ini cukup sekian pertanyaan dari saya, besok saya akan tes kamu lagi atas apa yang kamu pelajari tiap harinya."
Gendhis mendadak susah bernafas, pengen rasanya pura-pura drama kesurupan kuda lumping tapi tidak mungkin hantu kuda lumping nyasar ke pengadilan militer. Dan lagi pula dia bukan drama queen.
"Kamu bisa kembali ke ruangan," Emran mengusir Gendhis dan Gendhis sadar diri.
"Saya pergi pak."
"Hum."
Gendhis dengan lesu keluar ruangan Emran, masuk ke dalam ruangannya. Masuk dengan kepala tertunduk, jalan lesu, lunglai dan bahagia setelah duduk di kursinya.
Semuanya langsung melihat Gendhis.
"Gimana, Gendhis? Tesnya bisa menjawab pertanyaan pak Emran kan?" Tanya Sri.
"Boro-boro, bu. Yang ada saya tegang, gugup duluan. Saya sendiri ragu apa jawab benar atau salah."
Sri pun tertawa. "Nanti juga terbiasa kok, jangan diambil hati atas semua perkataan pak Emran, yah."
Gendhis menangkupkan wajahnya di meja, dia beneran pasrah sama nyawanya selama tiga bulan ke depan.
Emran membuat dia stres setengah metong.