5. Menunggu Emran Memanggil

1062 Words
Hari pertama tanpa kehadiran Hesti dan April. Begitu lunglainya Gendhis memasuki ruangannya, ada pak Abi yang sudah datang duluan. "Selamat pagi, Gendhis," sapa Abi duluan. "Selamat pagi juga, pak," balas Gendhis dengan lemas. "Belum sarapan yah?" tanya Abi yang melihat Gendhis tampak lemas. "Sudah pak, sebentar lagi saya juga pasti sarapan." "Hah ??? Sarapan dua kali? Muat perutnya?" "Sarapan omelan maksudnya, pak." "Siapa yang ngomelin Gendhis pagi begini?" "Yang pasti orangnya galak, rese deh, pak." Gendhis sampai bergidik mengingat pelototan Emran. Abi terkekeh. "Pak Emran maksudnya?" tanyanya. "Siapa lagi orangnya selain pak Emran, pak, eh.. Tapi bapak jangan bilang sama orangnya yah, bisa metong saya nanti. "Hahaha.. Santai saja, mulut saya tidak ember kok." Gendhis mengacungkan kedua ibu jarinya pada Abi. "Pak Abi memang keren." "Bisa saja, kamu." Siang menjelang, Gendhis berkutat dengan laptopnya karena dikasih tugas sama Riki yaitu mengerjakan BAS atau berita acara sidang. Hanya Gendhis sendiri di ruangan sampai menuju jam istirahat. "Hai bestie, sendiri saja. Kita makan bareng yuk!" Ajak April. April dan Hesti sudah diambang pintu. Dengan semangat empat lima Gendhis beranjak dari duduknya. "Hayu, ah. Jadikan kita ngebakso hari ini?" "Jadi dong," sahut Hesti. Ketiganya makan bakso dekat pengadilan, makan bakso sambil ngobrol itu enak. Apalagi baksonya dengan kuah yang pedas bikin nampol. Kepala yang pening jadi segar. "Dis, gimana rasanya di sana tanpa kami berdua?" Tanya Hesti. "Yang pasti sepi, sunyi dan sendiri." "Kan ada pak Abi, pak Riki dan bu Sri." "Ya beda atuh, Pril. Mereka punya kerjaan sendiri. Usia juga beda, ngobrol juga pastinya beda. Terus kalian bagiamana di tempat yang baru?" Hesti menjawab, "Lumayanlah, diajarin dulu terus dikasih kerjaan. Bareng sama mahasiswa magang lainnya, mahasiswa lainnya pada kutu buku semua, mau ngajak ngobrol juga jadi ragu, pokoknya beda banget sama kita bertiga yang selengean." "Sama, aku juga gitu. Tapi bedanya, ditempatku orangnya pada serius semua," April ikut menimpali. "Pak Emran gimana? Sudah ada tes belum?" Tanya Hesti. "Entahlah, hari ini belum lihat pak Emran, atau akunya sendiri yang tidak sadar ada pak Emran karena dari pagi aku sudah dikasih tugas sama pak Riki." "Yang semangat yah, bestie. Aku yakin kita bertiga bisa bertahan melewati segala aral melintang selama tiga bulan," ujar April penuh semangat, sekalian menyemangati diri sendiri. "Mangat buat kita bertiga," ucap Gendhis. "Mari kita semangat bestieee !!!" ucap Hestie. Setelah isoma, Gendhis kembali mengerjakan tugasnya dengan serius, tidak peduli sama sekitarnya. Emran datang, hanya menoleh sebentar pada Gendhis lalu ke mejanya Sri. "Bu Sri, tolong suruh Gendhis mengerjakan ini." Emran menyerahkan berkas pada Sri. Sri melihat berkasnya, lalu menoleh pada Emran. "Pak, ini susah kerjaannya. Gendhis juga baru belajar mengerjakan BAS, pak. Dan itu juga belum selesai semua yang dikasih pak Riki." "Ajarin dia sekarang," titah Emran. "Tapi, pak. Kasihan Gendhis." "Oke untuk hari ini dia kerjakan BAS tapi besok suruh Gendhis kerjakan yang saya kasih, ibu Sri ajarkan dia dulu," Emran seakan tidak mau dibantah. Sri menggarukkan kepalanya, menoleh pada Riki dan Abi yang juga sedang melihatnya. "Gimana, bu?" "Baik, pak. Besok saya suruh Gendhis mengerjakannya." Emran pun keluar ruangan. Sri menghampiri meja Riki, Abi pun ikutan. Mereka bertiga membahas kerjaan yang baru diberikan Emran buat Gendhis. Mereka bertiga berdiskusi dengan suara pelan dengan sesekali melirik Gendhis yang wajahnya terhalang sama layar laptop. "Gini saja, bu. Saya yang kerjakan tugas dari pak Emran," usul Abi. "Jangan, nanti pak Emran curiga. Gimana kalau nanti pak Emran nanya ke Gendhis terus Gendhis tidak bisa jawab? Nyawa Gendhis bisa hilang dicabut pak Emran," jelas Riki. Abi mangut-mangut. "Benar juga, yah. Menurut bu Sri gimana?" "Pak Riki ambil lagi saja kerjaan yang diberikan pada Gendhis. Sekarang saya ajarin Gendhis, jangan sampai Gendhis dimarahi seperti kemarin. Kasihan anak orang tiap hari dimarahin terus sama pak Emran. Saya juga punya anak gadis jadi tidak tega." "Saya setuju, bu," kata Abi. "Kalau gitu saya ambil kerjaan itu sekarang yah, bu. Ibu ajarkan Gendhis sekarang, kan?" "Iya." Sri dan Riki menghampiri Gendhis. "Gendhis," seru Riki dan Gendhis langsung mendongakkan kepalanya melihat Riki. "Iya, pak? Maaf pak kerjaannya bentar lagi selesai," Gendhis sudah ketar ketir takut ditanya tugasnya. "Bapak ambil dulu kerjaannya." "Sebentar lagi selesai kok, pak." "Yang ada saja dulu, sisanya biar saya kerjakan." Gendhis mengicepkan matanya dan terlihat lucu di mata Riki. "Beneran? Seriusan ini, pak?" "Iya, serius." "Saya kirim lewat email bapak saja yah, pak." "Oke." Gendhis sibuk fokus lagi ke laptopnya untuk mengirimkan hasil kerjaannya. "Sudah, pak," ucap Gendhis. "Oke, terima kasih." "Sama-sama." Sri pun duduk di sebelah Gendhis. "Dis, ibu sekarang mau ngajarin kerjaan baru buat Gendhis." "Baik, bu." Sri pun mengajarkan setiap detailnya pada Gendhis. "Coba Gendhis kerjakan yang ini, kalau tidak paham langsung tanya sama ibu yah." "Baik, bu." Gendhis serasa dijubeli segala berkas kerjaan, rasanya sekarang Gendhis butuh obat puyeng bintang tujuh. Gendhis mabuk berkas. Sesekali Gendhis nanya ke Sri karena takut salah dengan apa yang dia kerjakan. Sambil mengerjakan tugas, detak jantung Gendhis berpacu dalam melodi menunggu Emran memanggilnya untuk ujian hari ini. Waktu yang Gendhis tunggu hingga jam kerja selesai tidak jua datang. Emran belum memanggilnya untuk tes, kan Gendhis jadi takut sendiri. "Kenapa pak Emran belum manggil juga sih?" Gumam Gendhis sendiri. "Gendhis, ayo siap-siap pulang," ajak Sri yang baru membereskan berkasnya. "Tapi pak Emran belum ngetes, bu." "Hari ini libur dulu tesnya, kita pulang yuk!" "Beneran tidak ada tes ini, bu? Atau saya tanya sama pak Emran? Saya takut dimarahi lagi." Gendhis yang polos membuat Sri, Riki dan Abi gemas. "Hari ini pak Emran sedang sibuk jadi diundur tesnya. Mari kita pulang, Gendhis," ajak Riki. "Ayo bereskan berkas, matikan laptopnya, kita tunggu, kita turun ke bawah barengan," kata Abi. Kan bikin Gendhis terharu biru diperlakukan baik sama mereka bertiga, kecuali sama Emran yang bikin Gendhis ingin melet, guna-guna kalau perlu santet juga deh. Kalau saja Gendhis tahu bahwa Emran yang ngasih pekerjaannya tadi mungkin Gendhis langsung datang ke dukun beranak untuk melet, guna-guna plus santet Emran. Gendhis memasukkan laptop ke tas ranselnya. "Markipul," ucap Gendhis dengan berjalan ke arah Sri yang sudah menunggunya di ambang pintu. Gendhis, Sri, Abi dan Riki berpapasan dengan Emran yang baru keluar dari toilet. "Pulang, pak?" Tanya Sri sekedar basa-basi pada Emran. "Masa nginap sih," balas Emran sambil tersenyum Gendhis mengernyitkan keningnya. 'Ni orang geje deh, mendadak ramah, mendadak galak, kalau dia gitu terus aku pelet juga dah sampai dia pertukuk lutut di depanku, mohon-mohon minta maaf,' Gendhis bicara dalam hatinya, pikirannya ngehalu membayangkan semuanya. Sampai Gendhis tanpa sadar tersenyum sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD