Gendhis yang sudah sampai rumah langsung membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruang keluarga. Jiwa dan raganya sedang tidak baik-baik saja, Gendhis sedang lelah hayati.
Ibunya yang melihat Gendhis baru datang langsung ikutan duduk di sofa lainnya di seberang Gendhis.
"Capek?" tanya ibunya Gendhis.
"Capek banget, bu," rengeknya.
"Capek gimana? Disuruh lari?"
"Bukan, bu. Dikasih tugas banyak banget, kepala mbak pusing banget, bu. Rasanya pengen pecah."
Kedua adik Gendhis yaitu Arjuna dan Dewangga yang beda ibu dengan Gendhis hanya memperhatikan kakaknya dari tadi, namun tidak berani ngerecoki karena kalau sedang gitu, mode kakaknya bisa berubah menjadi mode senggol bacok.
"Bu, pengen pindah deh tempat magangnya."
"Mau pindah ke mana, mbak?" Tanya ibunya Gendhis.
"Ke mana gitu, pusing mbak deh, bu. Mbak lelah hayati, bu."
"Itu kan sudah bagus tempat magangnya, sudah rekomendasi dari mas Idar."
Idar atau Haidar adalah keponakannya Hameeda atau Meda ibu tirinya Gendhis. Idar anak kakaknya Meda yang seorang perwira TNI, sekaligus temannya Emran dan Keenan.
"Iya sih tempatnya bagus, namun.. " Gendhis tidak bisa melanjutkannya.
"Namun apa, mbak? Memangnya boleh pindah tempat magang?"
Gendhis sampai melupakan hal itu. "Tidak boleh sih, bu. Tidak diizinkan."
"Jalani saja, mbak. Kan cuma tiga bulan ini, waktu tidak akan kerasa. Anggap saja mbak belajar di sana, susah dapat ilmu militer, susah pula dapat magang di sana kan?"
"Mbak tidak centil kan di sana? Mbak tidak cari jodoh kan di sana?" Arjuna adiknya Gendhis bertanya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Gendhis.
Gendhis langsung duduk, melempar bantal ke arah Arjuna. "Diam lu bocil."
Arjuna langsung pindah duduk ke sebelah ibunya, merajuklah dia. "Bu, masa mas Juna dibilang bocil sih? Gini juga mas bisa buat bocil deh."
Meda menyentuh kening Arjuna dengan jari telunjuk kanannya, didorongnya kepala anaknya dengan jarinya hingga kepala Arjuna mundur ke belakang. "Mas jangan macam-macam yah, kalau ayah dengar bisa dihukum. Ibu dan ayah tidak pernah mengajarkan kalian yang tidak baik. Kalau kalian berulah, segera angkat kaki dari kartu keluarga," ancam Meda.
"Kejam sekali ibu ini. Ya ibu jangan kasih tahu ayah dong."
Adiknya Gendhis ini begitu tengil berbeda dengan si bungsu Dewangga yang kalem.
Gendhis yang sudah pusing malah tambah pusing melihat kelakuan adiknya.
"Bu, mbak ke kamarnya."
"Tidak makan dulu?"
"Mau mandi dulu, bu. Biar segeran ini otak dan hati."
Setelah Gendhis mandi, langsung merobohkan tubuhnya dengan terlentang. Dia merasa adanya ketidakadilan yang diberikan Emran padanya.
"Apa aku minta pindah bagian saja kali yah? Ke keuangan atau apalah. Yang penting jauh dari si Emran itu," gumamnya sendiri sambil menatap langit kamar.
"Atau aku ke dukun saja? Ke dukun beranak mah jelas tidak ampuh, yang ada ntar si kutu kupret Emran malah melahirkan miss kunti pula." Gendhis menepuk keningnya sekali. "Njir, napa pikiranku jadi tersesat begini sih? Tapi kalau si kutu kupret sudah keterlaluan aku guna-guna saja deh atau aku tumbal si kutu kupret jadi pembangunan apa gitu. Biasanya suka butuh tumbal."
Gendhis mengambil gulingnya dipukul beberapa kali. "Kan ku buat engkau wahai kutu kupret meminta maaf padaku." Gendhis memukul gulingnya lagi. "Eh tapi gimana caranya? Gimana nanti sajalah."
Tok.. Tok.. Tok..
"Mbak, dipanggil ibu suruh makan dulu," teriak Dewa dari luar kamar Gendhis.
"Iya, bentar."
Gendhis langsung loncat dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar, adiknya masih setia menunggu kakaknya.
Dewa yang masih SMP tingginya melebihi Gendhis. "Ayo, dek!" Gendhis memeluk lengan adiknya. Sudah biasa kakaknya sering manja gini ke dua adiknya.
"Dek, ayah sudah pulang?"
"Belum, tadi ayah nelpon katanya pulang setelah maghrib, lembur bentar."
Ibu mereka sudah di dapur. "Ibu, ibu tidak ke resto?" Tanya Gendhis.
Keluarga ibu tirinya ini punya resto sunda dan sudah memiliki dua cabang. Ibunya memilih memegang resto yang cabang yang dekat rumah, sedangkan yang pusat dipegang oleh kakak ibunya, om Haris. Istri om Haris ini mantan ayahnya Gendhis, bahkan sempat lamaran pula namun sayang tidak berjodoh. Ayahnya malah berjodoh dengan adik ipar mantannya.
"Sudah, dari jam sepuluh sampai jam dua. Ibu mendadak pusing jadi ibu pilih pulang saja."
"Waah, curiga ibu hamil lagi?" Duga Juna.
"Kamu mah suka asal ngomong deh, mas. Awas malaikat lewat, kalau dicatat terus di acc Allah gimana? Kamu mau ngurus adek mu mas?"
"Aku cabut kata-kataku deh, mbak."
"Makannya kalau ngomong itu dipikir dulu," tegur Gendhis.
Kan Meda jadi curiga dirinya sendiri hamil lagi. Mikirin tiga anaknya saja sering sakit kepala karena meributkan hal yang tidak penting, gimana nanti dia hamil lagi?
"Bu, mbak makan dulu yah."
"Hum."
Juna dan Dewa malah ikutan nemenin kakaknya makan. Walau Juna sering bikin kesal kakaknya tapi keduanya lengket.
"Dek, jadi mau daftar Akmil?" Tanya Gendhis ke Dewa.
"Jadi, mbak."
"Jadi diajarkan sama mas Idar?"
"Jadi, mbak. Kata mas Idar, adek harus belajar dan latihan fisik dari sekarang."
"Ya baguslah. Belajar yang benar yah, dek."
"Asiap, mbak."
"Aku tidak ditanyain, mbak?" Tanya Juna.
"Kamu mau ditanyain apa?" Tanya Gendhis sambil menggigit bakwan jagung ke dalam mulutnya.
"Ya apa kek, progres aku berlatih juga."
"Sok atuh mbak tanya, gimana progres hasil belajar dan latihannya?"
"Sudah bisa mbak, tinggal nunggu untuk daftar Akmil."
Kedua adiknya ini ingin jadi tentara karena terinspirasi dari kedua kakak sepupu mereka yaitu Haidar dan Hendri dan suami kakak sepupu mereka yaitu Keenan.
***
Keesokan harinya Gendhis menguatkan mentalnya masuk ke dalam gedung tempat magangnya. Dan tanpa sengaja berpapasan dengan Emran, Gendhis melambatkan langkah kakinya agar Emran berjalan duluan dan Emran berjalan di depan Gendhis.
Gendhis mencoba ramah padahal hatinya masih dongkol. "Selamat pagi, pak," sapa Gendhis basa basi busuk pada Emran.
"Hum," jawabnya tanpa ekspresi dan tanpa melihat Gendhis. Ingin rasanya Gendhis beubeuk seperti rujak beubeuk itu Emran.
'Sombong sekali ni orang, tidak ada ramahnya, senyum saja kagak. Apa mungkin ibunya waktu hamil si kutu kupret banyak makan garam sama minum cuka jadi asem terus mukanya,' Gendhis gerutu dalam hati.
Mana berani Gendhis mengatakan langsung sama orangnya bisa dipelototin lagi, lagipula Gendhis tidak seberani itu orangnya, lebih tepatnya pengecut.
Gendhis yang berjalan agak jauhan dengan Emran, kaki kananya digerakkan seolah sedang menendang bola padahal pengen menendang Emran dari belakang. Tangan kanannya di kepalkan, ingin memukul Emran juga dari belakang.
'Akan ku buat kamu wahai kutu kupret bertekuk lutut di depanku, entah minta maaf, entah menyesal jutek padaku. Pokoknya harus terlaksana walau entah gimana caranya atau kapan terlaksananya,' Gendhis bertekad dalam hatinya.
Emran berpapasan dengan yang lain dan begitu ramahnya dia. Gendhis jadi kesal sendiri.
'Njir lah, itu orang punya masalah apa sih sama aku? Orang lain disenyumin, diramahin sedangkan aku dijutekin. Sepertinya aku harus cari di internet, aku harus cari tempat dukun yang bagus untuk guna-guna kutu kupret. Ku guna-guna itu orang biar senyum terus. Hmm.. Bukan ide yang buruk.'