Zeema 23

1115 Words

Pagi pum tiba, aku tak lagi mendudukkan tubuhku di kasur. Sebaiknya aku menunggu Disaka di samping jendela yang sudah ku buka tirai nya. Ku tatap pria ini menggeliat merasakan cahaya yang menerpa wajahnya, perlahan kedua matanya terbuka. "Kenapa kau membuka tirainya?" Protesnya seraya menarik selimut menutup seluruh tubuhnya. "Bangun nanti telat bekerja Disaka." Tak menyahut, tapi pria ini berbalik memunggungi ku. Aku menghela nafas pelan. Aku mendekat, mendudukkan tubuhku di sisi kasur, menarik selimutnya. "Semalam sudah ku peringatkan, tapi kau tak mau dengar." Disaka terlihat seperti anak kecil, saat ku tarik selimutnya, pria ini mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. "Disaka!" Ku tarik lengannya untuk mengambil bantal itu. Tapi bukan bantal yang ku dapat, Disaka yang men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD