Merubah Diri ( Flashback )

1635 Words
Snow : "enggak, kak.... Habis bersin-bersin karena dingin, makanya ini Snow mau pulang," jawab Snow pada akhirnya. Bryant : "Mau pulang sendiri? Atau mau tunggu kakak jemput kesana?" tanya Bryant menawarkan diri untuk menjemput adik kesayangannya. Snow : "Snow pulang sendiri saja, kak... Lagian Snow cuma di taman dekat rumah, kalau tunggu kakak, bisa-bisa Snow makin bersin-bersin, hehehe..." jawab Snow sambil terkekeh lirih, menertawakan kebohongannya kepada sang kakak. Bryant : "Ok lah, tunggu kakak, ya.... Selepas mandi nanti, kita ke rumah Tante Rosa, kita diundang makan malam di sana, katanya Tante Rosa rindu Snow!" ajak Bryant yang segera disanggupi Snow dengan antusias. Snow : "Ke rumah Tante Rosa? Beneran, kak? Oke lah, Snow pulang trus siap-siap, Snow tunggu kakak di rumah!" seru Snow sedikit memekik saking senangnya, karena sudah lama dia tak bertemu dengan Rosa, ibunda Alex. Setidaknya, bertemu dengan Rosa, Snow bisa mendapat pelukan hangat seorang ibu yang selama ini tak pernah dia peroleh dari ibu kandungnya. Dan saat ini, Snow sangat membutuhkan seseorang yang bisa memberikan belukan hangat dan kasih sayang seorang ibu, untuk mengurangi beban dan luka di hatinya akibat kandasnya hubungan antara dirinya dan Kenjiro. Tak mungkin Snow mengatakannya kepada Bryant, karena pasti kakaknya itu akan murka dan mendatangi Kenjiro untuk menghajar atau menghabisi lelaki yang sudah menyakiti adik kesayangannya. Selain juga, selama ini Snow memang merahasiakan hubungannya bersama Kenjiro. Bryant : "Oke, hati-hati pulangnya, ya.... Tunggu kakak di rumah! Dan ingat, ga usah bikin apa-apa buat dibawa kesana, selepas kakak mandi, kita langsung berangkat!" pinta Bryant, karena dia tak ingin adik kesayangannya kelelahan mempersiapkan buah tangan. Snow : "Iya, kak.... Snow pulang dulu, ya.... Bye, kakak!" dengan cepat Snow menanggapi perintah sang kakak, tanpa ada bantahan. Dan setelah mendengar balasan Bryant, Snow segera memutuskan panggilan suara mereka, walaupun Bryant yang meneleponnya tadi. Buru-buru Snow membuka aplikasi pemesanan ojek dan taxi online, kemudian dia segera melakukan pesanan. Saat menunggu pesanan taxinya datang, kembali ponselnya bergetar. Tampak di layar bernda pipih berukuran 8 inches itu, nama seorang pria yang baru saja menorehkan luka di hatinya. Dipandanginya nama itu beberapa saat, sebelum dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam ranselnya dan menunggu taxi pesanannya dengan tenang. Ya.... Snow memutuskan untuk takkan larut dalam kesedihan akibat putus cinta. Jalan hidupnya masig panjang, banyak yang ingin dia lakukan untuk memenuhi impiannya. Dia juga bertekad untuk perlahan membatasi diri dari teman-teman dan gurunya di sekolah. Mungkin perubahannya akan sedikit menyusahkan sang kakak, tapi Snow akan berusaha agar Bryant tak akan kerepotan dibuatnya. Tak berselang lama, taxi yang ditunggunya sudah berhenti tepat di hadapan Snow, dia segera naik dan taxi pun melaju perlahan menuju rumah Bryant. Setibanya di rumah sang kakak, Snow bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap. Tak lupa dia membawakan beberapa toples cookies yang pernah dia buat untuk dijadikan buah tangan. Saat ini Snow sudah duduk manis di ruang tamu dengan memakai celana kulot berbahan kain bermotif garis-garis hitam abu-abu dan t-shirt berwarna ash grey, sambil memeluk bungkusan berisi toples cookies buatannya, menunggu Bryant yang tengah bersiap di kamarnya. Tak berapa lama, Bryant keluar dari kamarnya dan segera mengajak Snow pergi. Hanya butuh waktu 35 menit berkendara, kini mereka sudah berada di halaman rumah orang tua Alex. Terlihat seorang wanita paruh baya tengah berdiri di teras rumah bergaya klasik minimalis. Wanita yang masih terlihat cantik dan anggun itu, segera mengulas senyum lebar saat melihat Snow turun dari mobil Bryant. Rosa yang melihat Snow turun dari mobil milik Bryant, segera datang menghampiri Snow dan memeluknya dengan erat. "Aih, kesayangan tante akhirnya datang juga!" seru Rosa senang, diciuminya kedua pipi dan kening Snow, hingga Snow terkekeh geli. Snow menyerahkan bungkusan berisi toples cookies kepada Rosa dan langsung di terima Rosa dengan senyum lebar dan ceria merekah di bibirnya. "Yuk, masuk... Sudah ditunggu sama Om Ronald dan Kak Alex di dalam. Kebetulan Kak Jeremy juga pulang ke rumah, karena dia rindu sama Snow," Roas segera menggandeng tangan Snow dan mengajaknya melangkah memasuki ruangan luas, tempat suami dan kedua anaknya menunggu. Bryant tersenyum miris melihat interaksi antara Snow dan ibu dari sahabatnya itu, betapa sangat menyayangi Snow, berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya. Saat Snow memasuki ruang tamu bergaya classic minimalis, tiba-tiba ada dua sosok lelaki dewasa yang menghambur untuk berebut memeluk Snow. "Kesayangankuuuu!!!!" pekik kedua sosok lelaki itu bersamaan dengan kedua tangan saling menyikut dan mendorong satu sama lainnya, membuat Snow menatap keduanya dengan tatapan horor. Rosa terlihat memijat pangkal hidungnya, karena mendadak merasakan pening di kepalanya, saat melihat kedua anaknya berebut ingin memeluk Snow. Dia masih memaklumi jika Alex yang melakukannya, mengingat Alex masih seusia dengan Bryant, tetapi Jeremy? Ya Tuhan, dia benar-benar tidak ingat umur, usianya sudah 28 tahun, tapi tingkah polahnya melebihi Alex yang baru memasuki awal 25 tahun. Bryant yang jengah melihat tingkah sepasang kakak beradik itu, segera menarik Snow, dan menjauhkannya dari area pertikaian Tom and Jerry versi manusia, Bryant tidak mau adik kesayangannya kena tampol tangan dari kedua lelaki dewasa yang tidak dewasa itu. Bryant mengajak Snow menghampiri Ronald, lalu mereka berdua segera bersalaman dan mencium tangan Ronald dengan sopan. Ronald membalasnya dengan menepuk ringan bahu Bryant dan memeluk ringan tubuh Snow yang setengah membungkuk di hadapannya. "Kalian berdua berhenti!" seru Ronald dengan suara beratnya, setelah Bryant mengajak Snow duduk di sofa berwarna coklat s**u yang berhadapan dengan sofa yang didudukinya. Walau Ronald tidak membentak, tapi nadanya yang datar dan dingin, spontan membuat kedua putranya berhenti berulah. "Ingat umur!!! Kalian ngga malu dengan tingkah kalian? Pikir juga, kalian berkelahi seperti bocah umur 5 tahun, di dekat Snow. Gimana kalau tangan kalian tak sengaja memukul Snow???" sambung Ronald, masih dengan nada datar, dan tatapan mengintimidasi. Alex dan Jeremy serentak mengarahkan pandangan mereka ke arah Snow tadi berdiri, namun mereka sudah tidak menemukan keberadaan Snow, karena kini Snow sudah duduk di sofa diapit Rosa dan Bryant. Melihat Snow sudah duduk manis di samping Rosa, buru-buru Jeremy melangkah mendekati sofa tempat Snow dan sang bunda duduk. "Maafkan Kak Jemmy, ya kesayangan...." rengek Jeremy sambil bertimpuh di hadapan Snow, tangannya menggenggam erat telapak tangan Snow dan sesekali menciuminya. "Maaf buat apa, Kak Jemmy kan ga salah apa-apa," sahut Snow sambil merekahkan senyum manis di bibirnya. "Aaah.... Kesayangankuuu!!!" sorak Jeremy kegirangan sambil memeluk dan menciumi seluruh wajah Snow. BHUAGH!!!! Tiba-tiba Jeremy tersungkur ke samping akibat didorong oleh Bryant dan Alex yang jengah melihat tingkah laku Jeremy. "Heh, kurang ajar!!" pekik Jeremy sambil melotot kesal ke arah Alex dan Bryant. "Jangan mesumin adikku!" geram Bryant sambil membalas pelototan mata Jeremy dengan tak kalah galaknya. "Siapa pula yang m***m?" elak Jeremy kesal. "Jemmy!!!!" seru Ronald datar, membuat Jeremy auto diam dan menyingkir dari hadapan Snow walau terlihat tidak rela. Setelah Jeremy menyingkir, kini giliran Alex yang memeluk Snow dengan erat, menyalurkan rindunya. Yah, walaupun hampir tiap hari mereka bertemu, tapi entah mengapa, dia selalu merindukan adik dari sahabat karibnya ini. Bryant hanya bisa menghela napas panjang melihat adik kesayangannya kini dipeluk Alex. "Alex, sudah.... Snow bukan lagi anak kecil yang bisa kau peluk sesuka hati!" ucap Ronald mengingatkan sang putra, karena Snow sekarang sudah hampir menginjak usia 16 tahun, usia pra dewasa, jadi tidak elok jika kedua putranya terlalu intim memperlakukan Snow. Dengan berat hati, Alex melepaskan Snow dari pelukannya dan beranjak duduk di sebelah Bryant. Kini giliran Rosa yang memeluk bahu Snow dengan penuh kasih sayang. Ronald yang melihat istrinya memperlakukan Snow selayaknya putri mereka sendiri, tersenyum samar. Dia tahu jika sang istri menginginkan anak perempuan, namun setelah kelahiran Alex, Rosa mengalami pendarahan hebat dan membuat Ronald takut jika Rosa kembali hamil, akan terjadi hal serupa. Maka dia mengambil keputusan untuk melakukan vasektomi, karena tidak ingin memiliki anak lagi. Ronald dan Rosa sebetulnya ingin merawat dan mengasuh Snow, saat melihat perlakuan kedua orang tua Snow yang semena-mena kepada putri mereka, namun karena kedua orang tua Snow tidak mengijinkan, maka Ronald dan Rosa mengubur keinginan mereka dalam-dalam. Saat ini mereka berharap jika suatu saat nanti, Snow bisa berjodoh dengan Jeremy ataupun Alex, meskipun jarak usia mereka terpaut sangat jauh, tapi jika jodoh, maka tak ada salahnya. Mereka terlihat berbincang sejenak di ruang tamu, sebelum akhirnya Rosa mengajak Snow ke dapur untuk memeriksa persiapan makan malam mereka. Saat berjalan menuju dapur, Snow terlihat menatap Rosa dengan tatapan sendu, dan Rosa menyadarinya. "Ada apa, sayang? Ada sesuatu yang mau Snow ceritakan?" tanya Rosa dengan suara lembutnya. Snow menatap Rosa ragu, ingin rasanya menceritakan kejadian yang dialaminya tadi, tetapi dia merasa ragu dan takut, kakau-kalau nanti Rosa menyampaikannya kepada Bryant, sang kakak. "Tante ngga akan cerita ke siapapun, termasuk ke Om Ronald sekalipun," ucap Rosa seakan paham kekhawatiran Snow. "Snow hanya ingin tau pendapat Tante Rosa saja," sahut Snow lirih. "Tentang?" tanya Rosa penasaran, karena melihat raut muka Snow yang tidak baik-baik saja. "Seandainya Snow merubah diri agar mama dan papa mau memberikan sedikit perhatian mereka kepada Snow, kira-kira gimana ya, Tante?" tanya Snow lirih. Kini mereka tengah duduk di kursi yang berada di teras belakang rumah Rosa dan Ronald. Rosa tidak jadi memeriksa persiapan makan malam, dia hanya meminta asisten rumah tangganya untuk segera menatanya di meja, karena dia lebih memilih mendengarkan keluh kesah Snow sambil duduk di teras belakang rumahnya. Girl to girl talk lah ya ibaratnya. Rosa menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dalam hatinya, dia sungguh merutuki kedua orang tua Snow yang merupakan sahabatnya dan Ronald sejak masa putih biru dulu. Mereka membuat Snow harus merasakan kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya, belum lagi perbuatan semena-mena dan juga kekerasan verbal yang selalu mereka lontarkan kepada Snow, membuat hati Rosa sakit. Bagaimana bisa mereka menyia-nyiakan putri secantik dan semanis Snow? Sampai Snow berpikiran untuk merubah diri agar dia dicintai Lizzy dan Edmud, orang tua Bryant dan Snow. Kurang apa lagi Snow ini, sudahlah cantik, perilakunya juga baik, dengan segudang prestasi di bidang inovasi makanan dan juga art. Mau merubah diri seperti apa, sedangkan semua kelebihan sudah Snow miliki, kecuali mungkin di bidang akademik, Snow memang lemah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD