Break Up

1290 Words
Suasana di salah satu private room restaurant, terlihat mencekam, keheningan yang menyelimuti ruangan tersebut hanya meninggalkan suara desisan pendingin ruangan yang ada di sana. Terlihat Snow tengah menatap datar lelaki yang duduk di hadapannya. Bibirnya terkatup rapat terlihat enggan bergerak untuk berbicara. Sementara lelaki di hadapannya, hanya bisa membalas tatapan Snow dengan sorot mata sendu dan penuh penyesalan. Lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Kenjiro, guru mata pelajaran Bahasa Inggris sekaligus kekasih rahasianya itu, baru saja mengungkapkan suatu pernyataan yang membuat hati Snow tercabik dan meninggalkan luka yang menganga lebar. Kenjiro tampak gelisah melihat Snow yang hanya diam seribu bahasa, tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya, namun tatapan Snow sudah mampu mengungkap segala rasa di hatinya. Setelah beberapa saat tenggelam dalam keheningan, Snow memejamkan kedua matanya, meredam gejolak rasa yang menyakitkan di dadanya. Dengan berat, dia menghela napas panjang. "Jadi, anda dijodohkan, dan akan segera menikah beberapa bulan ke depan?" suara datar meluncur keluar dengan ringan dari bibir Snow, sesaat setelah dia membuka matanya. "Maafkan aku, Snow..... Aku...." sahut Kenjiro, namun langsung terputus karena Snow mengangkat telapak tangan kanannya untuk menghentikan kalimat yang akan diucapkan Kenjiro. "Cella.... Panggil saya Cella, bukan Snow. Snow hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang dekat dan berarti dalam hidup saya!" tegas Snow, matanya berkilat mempertegas makna dari kalimat yang diucapkannya, walau dengan nada datar. "Tapi, bukankah kita...." Kenjiro berusaha menyanggah, tetapi lagi-lagi Snow mengangkat telapak tangannya. "Sudah tidak ada KITA lagi sejak Pak Kenji bilang kalau Pak Kenji sudah dijodohkan!" Snow kembali membuka suaranya, "beruntunglah, saya belum terlalu menempatkan bapak di hati saya, jadi rasanya tak begitu menyakitkan, hanya rasa kecewa saja yang mendominasi," sambung Snow yang kini terlukis seulas senyum tipis di bibir mungilnya yang plumpy. "Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu, sayang.... Tunggulah aku.... Setahun setelah pernikahan dan dia melahirkan anak untukku, aku akan segera menceraikannya, dan kita akan menikah, ya?!" ungkap Kenjiro yang seketika membuat Snow semakin merasa kecewa dan terluka. "Maksud bapak, saya harus jadi perusak rumah tangga wanita lain? Dan apa tadi? Bercerai setelah menikah dan istri bapak melahirkan anak, lalu bapak akan menikahi saya?" tanya Snow meyakinkan pendengarannya. "Ya, kita akan hidup bahagia dan berdua bersama anak cucu kita," jawab Kenjiro dengan berapi-api. "HEH!!!!" Snow mendengus dengan keras, "bapak kira saya mau menikah dengan bekas suami orang lain dan dilabeli sebagai perempuan perusak rumah tangga orang lain?" sarkas Snow dengan seringai yang terlihat sedang menahan jijik. Kenjiro menatap kedua mata Snow dengan tatapan penuh harap. "Maaf, saya tidak mau menikah dengan lelaki bekas pakai yang tidak punya prinsip. Saya akan menikah dengan lelaki yang benar-benar mencintai saya, lelaki yang berpendirian teguh tanpa mau dikendalikan oleh orang tuanya. Lelaki yang menghargai dan menghormati wanita, bukan lelaki yang hanya menganggap wanita hanya sebagai alat untuk memproduksi keturunan!" lanjut Snow yang seketika itu juga meruntuhkan harapan Kenjiro. "Saya pamit, Pak Kenji! Mulai detik ini, saya dan bapak adalah orang asing," ucap Snow seraya bangkit dari duduknya, makanan di hadapannya belum tersentuh sedikitpun. "Snow.... Tunggu, makanlah dulu, nanti setelah makan, kuantarkan pulang!" pinta Kenjiro, tangannya terlihat menahan tangan Snow. Namun, tanpa diduganya, Snow segera menepis tangan Kenjiro dengan kasar. "Jangan sentuh!!!! Tak perlu lagi memperhatikan saya, lagipula, saya sudah dijemput Selli dan Keanu!" ucap Snow tegas, ada nada tak suka saat dia mengucapkan kalimat itu, dan itu membuat Kenjiro terluka. "Sayonara!" ucap Snow kemudian. Tanpa menunggu balasan Kenjiro, Snow sudah melangkah mantap meninggalkan private room itu, sementara Kenjiro yang ingin segera menyusul, harus direpotkan dengan bill menu yang dia pesan tadi, walaupun belum tersentuh sama sekali. Snow terus melangkahkan kakinya, tanpa menoleh ke belakang, keluar dari restaurant dan tetap meneruskan langkahnya tanpa henti. Dia berbohong pada Kenjiro jika dia dijemput Selli dan Keanu, dia hanya ingin sendiri dan tidak lagi berurusan dengan Kenjiro.Tak mau lagi menerima perhatian dan kebaikan dari lelaki yang sudah bertunangan dengan perempuan pilihan orang tua lelaki itu. Bohong juga kalau Snow tidak menempatkan Kenjiro di dalam hatinya, dia sudah jatuh hati kepada Kenjiro, tentu saja Kenjiro sudah menepati satu ruang di hatinya, tapi dia tak ingin menunjukkannya di hadapan Kenjiro, dia tak ingin Kenjiro tetap ngotot melakukan ide gila yang dilontarkannya tadi. Lebih baik berpura-pura, daripada kelak timbul masalah baru berjudul perselingkuhan, pelakor dan perceraian. Snow tidak ingin merusak rumah tangga perempuan lain, karena itu pasti sangat menyakitkan. Dia yang diputuskan karena Kenji dijodohkan saja, sakitnya terasa menyiksa, apalagi bercerai karena perselingkuhan atau wanita lain, pasti lebih menyakitkan. Snow juga merasa sangat kecewa kepada Kenjiro, yang tahu jika di keluarganya ada tradisi perjodohan, seharusnya di awal hubungan mereka, Kenjiro mengatakannya, sehingga Snow tak akan menaruh rasa dan harap kepada lelaki keturunan Jepang itu, atau bahkan Snow tidak akan menerima pernyataan cinta lelaki yang seusia dengan kakaknya, Bryant. Seandainya pun mereka menjalin suatu hubungan, dan Kenjiro benar-benar mencintainya, Kenjiro seharusnya memperjuangkan hubungan mereka sekuat tenaga, bukan menyerah sebelum berjuang. Sungguh masa 1 tahun 9 bulan yang terbuang sia-sia. Tanpa sadar, Snow sudah tiba di taman yang terletak tak jauh dari restaurant tempatnya dan Kenjiro bertemu tadi, dan kebetulan pula, tak jauh dari rumah sang kakak. Taman yang terbilang luas, di tengahnya tampak danau buatan yang airnya terlihat berkilau ditimpa sinar matahari di hari yang sudah beranjak senja. Perlahan, Snow melangkahkan kaki ke salah satu bangku yang berada di tepian danau yang dilindungi sebuah pohon yang cukup rindang, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sana. Lalu Snow membuka ranselnya dan mengeluarkan sweater berwarna coklat s**u dan memakainya, karena udara mulai terasa dingin. Kini Snow tengah memandang lurus ke depan, pikirannya melayang, menembus awan. 'Tuhan.... Aku kira, dibenci oleh mama dan papa sudah cukup menjadi ujian terberat bagiku, tetapi mengapa kini Engkau memberiku ujian lain yang juga mencabik hatiku? Tak cukupkah derita yang kualami karena perlakuan mama dan papa, Tuhan? Tak bisakah Engkau hentikan ujian ini? Aku sudah lelah.... Jika tak mengingat betapa Kak Bryant mencitai dan menyayangiku, aku akan lebih memilih meninggalkan dunia ini....' Snow meratap dalam hati, mata dan hidungnya terasa panas dan perih, perlahan, lelehan cairan bening pelumas mata, meluncur tanpa ragu setelah berhasil ditahannya sedari tadi. Ya.... Snow merasa lelah. Lelah menjalani kehidupannya. Kebencian dan siksaan kedua orang tuanya, sudah cukup melukai hati dan perasaannya. Kini di saat dia mempunyai tambatan hati pun, harus patah di tengah jalan. Cukup lama Snow menangis, menumpahkan segala lara di hatinya, tanpa mempedulikan getaran yang berasal dari ponselnya yang disimpannya di dalam ransel sekolahnya. Setelah tenang dan bisa menata kembali perasaannya, Snow segera menghapus bekas air mata yang ada di pipinya, lalu menarik napas dalam-dalam, sebelum menghembuskannya perlahan. 'Baiklah, mulai besok, aku akan berubah, akan membatasi diri dari orang-orang di sekitarku, tak perlu terlalu dekat dan akrab, aku tak ingin lagi merasa sakit karena ditinggalkan oleh orang-orang yang kusayangi.... Maafkan aku, Selli.... Keanu.... Aku terpaksa.....' Snow bergumam lirih, memutuskan sesuatu yang mungkin akan membawa perubahan dalam kehidupan di sekolah, kelak. Snow kemudian mengambil ponselnya yang tak berhenti bergetar dari dalam ransel sekolahnya. Dilihatnya ada puluhan panggilan rak terjawab dari Kenjiro, Selli dan Keanu. Pun begitu dengan pesan yang dia terima di aplikasi hijau.Tapi tak ada niat sedikitpun pada Snow, untuk membuka pesan ataupun melakukan panggilan kepada ketiga orang itu. Dia hanya membuka aplikasi hijau, untuk membalas sang kakak, yang ternyata baru saja mengirimkan pesan kepadanya. Namun, belum lagi Snow mulai mengetik, Bryant sudah meneleponnya. Bryant : "Snow, dimana? Kakak telepon bibi, katanya Snow belum pulang?" Pertanyaan Bryant terdengar menuntut dan diliputi kecemasan. Snow menarik napas dalam-dalam, berusaha berdehem ringan, karena takut Bryant menyadari adanya perubahan di suaranya yang kini mungkin akan terdengar serak karena habis menangis. Snow : "Sbow ada di taman, kak.... Ini sudah mau pulang, lagi nunggu taxi," Ucapan Snow berhasil membuat kening Bryant berkerut. Bryant : "Snow habis nangis?" Nah, kan..... Pertanyaan Bryant berhasil membuat Snow terdiam beberapa saat dan berpikir tentang jawaban apa yang harus Snow berikan kepada sang kakak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD