Jadian

4534 Words
Pagi harinya, Bryant mengantar Snow sampai gerbang sekolah, lagi-lagi Snow jadi pusat perhatian teman-teman dan juga kakak kelas, karena perlakuan Bryant sebelum melepas Snow masuk ke dalam lingkungan sekolah, dia memeluk dan menciumi seluruh wajah Snow, bahkan mengecup ringan bibir Snow. Wajah Snow merah karena malu, kalau di rumah sebetulnya semua itu biasa saja karena hanya dilihat oleh orang terdekat mereka dan tau kalau mereka berdua adalah saudara kandung. Tapi ini di sekolah, belum ada yang tau kalau mereka kakak beradik. Bisa runyam urusannya kan kalau ada gossip aneh-aneh. Dengan berat hati Bryant melepas Snow dan memintanya segera masuk, dan tak lupa dia berpesan untuk segera menghubunginya kalau sekolah sudah usai. Setelah punggung Snow menghilang dari pandangan matanya, dia berbalik dan hendak berjalan menuju mobilnya, tapi langkahnya dihentikan oleh seorang lelaki muda yang tampak 2 tahun lebih tua darinya. "Maaf, bisa bicara sebentar?" tanya pemuda yang tak lain adalah Kenjiro. "Siapa?" Bryant balik bertanya, raut wajahnya yang hangat berubah dingin saat berhadapan dengan orang lain. "Saya Kenji, wali kelas Gracella," ucap Kenjiro memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. "Oh," sahut Bryant pendek, membalas uluran tangan Kenjiro tapi tidak memperkenalkan dirinya. "Kalau boleh tanya, apa hubungan anda dengan Gracella?" tanya Kenjiro. "Apa urusan anda?" Bryant balik bertanya dengan nada datar dan dingin. "Sikap anda pada Gracella sangat tidak pantas," sahut Kenjiro. "Oh ya? Bagian mana yang menurut anda tidak pantas?" tanya Bryant sambil melipat kedua lengannya di d**a. Kenjiro tampak terkejut, walau sebenarnya dia juga mempunyai firasat kalau lelaki di hadapannya adalah kakak Snow, tapi karena perlakuannya terhadap Snow terlihat sangat intim selayaknya seorang pria kepada kakasihnya, Kenjro sedikit merasa ragu. "Memeluk dan mencium gadis di bawah umur di muka publik," jawab Kenjiro sengit. "So, it's inappropriate to hug and kissed my beloved little sister?" sahut Bryant sinis. "Even if she's your little sister, still shown public display affections is inappropriate," balas Kenjiro tak mau kalah. "Hah, apa wewenang anda melarang saya menunjukkan kasih sayang saya pada adik saya sendiri?" tanya Bryant datar, "Anda hanya wali kelasnya, bukan anggota keluarga saya, apa hak anda? Lagipun ini tidak melanggar norma sosial," sambung Bryant dengan nada sarkasme. Kenjiro terdiam, dalam hatinya pun dia bertanya kenapa, tapi dia tak suka melihat muridnya yang dia sukai dipeluk dan dicium lelaki walau itu kakaknya sendiri. "Don't tell me that you like her?!" tebak Bryant tak suka. Kenjiro langsung salah tingkah dan wajahnya memerah. "Is that any problem?" tanya Kenjiro sedikit gugup. "What do you think? You are old enough to be her uncle, and you are not handsome enough to become her boyfriend, just lucky for being a Japanese." jawab Bryant sambil tersenyum mengejek, lalu berbalik meninggalkan Kenjiro yang merasa terhina katena dikatai tua dan pantas jadi paman Snow. "That guy.... Aku masih 25 tahun, dasar kurang ajar," gerutu Kenjiro sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam sekolah. Bryant yang sudah berada di dalam mobil memeriksa ponselnya, ada 12 panggilan tak terjawab dari mamanya. Langsung dia menghubungi balik. "Ya ma? Ada apa?" "Di mana anak sial itu? Semalam tak pulang, nomor papa dan mama pun dia blokir, dasar anak kurang ajar!" "Anak sial yang mama sebut itu punya nama, dia Snow, adikku. Kami tak pulang semalam karena aku tak ingin Snow kalian caci maki, nomor kalian aku yang blokir bukan Snow, aku sudah tak tahan melihat sikap kalian pada adikku. Kalau papa dan mama masih seperti ini, hangan harap aku mau menerima papa dan mama di rumahku lagi, ini kali terakhir kalian datang berkunjung, aku tak peduli kalau kalian berpikir aku durhaka pada kalian berdua." Segera Bryant memutus panggilan teleponnya dan menghela nafas panjang, dia lelah, harus berapa kali orang tuanya diperingatkan. Tiba-tiba sebuah pesan dari mamanya muncul. "Apa yang salah dengan menyebutnya anak sial? Sudah lahir sebagai anak perempuan, dia buat mama tak bisa lagi mengandung, padahal papamu menginginkan anak lelaki lagi!" bunyi pesan mamanya. Bryant tertegun, jadi hanya karena ini mereka berdua membenci Snow? Unbelievable.  Bryant tak membalas pesan mamanya, dia langsung menutup aplikasi chat lalu melajukan mobilnya perlahan menuju perusahaannya. Setidaknya beberapa bulan ke depan Snow akan terbebas dari siksaan verbal kedua orang tua mereka. ======================== Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa hari terakhir MOS telah tiba, setelah upacara penutupan, Snow cepat-cepat melangkahkan kakinya hendak segera pulang ke rumah, karena kakaknya sudah menunggu di gerbang sekolah sejak 20 menit yang lalu. Namun langkahnya terhenti karena Kenjiro menghadangnya. "Mau pulang?" tanya Kenjiro sambil membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Snow. Snow menunduk menghindari tatapan mata Kenjiro, wajahnya memerah. Dia heran, selama MOS, Kenjiro gencar mendekatinya. "Iya, kakak sudah menunggu di depan," jawab Snow sedikit gusar. "Mulai besok, bilang sama kakakmu kalau saya yang akan mengantarmu pulang," ucap Kenjiro seraya tersenyum pada Snow yang menatapnya dengan tatapan bingung. "Kenapa?" tanya Snow pada akhirnya. "Karena mulai hari ini saya akan mulai terang-terangan mendekatimu di depan Bryant," jawab Kenjiro seraya tersenyum lebar. "Mendekati saya? Kenapa?" tanya Snow semakin bingung, membuat Kenjiro gemas karena kepolosannya. "Karena saya menyukaimu, dan menginginkanmu sebagai my wife to be," jawab Kenjiro yang lagi-lagi membuat Snow melongo bingung, karena Snow blas nggak mudheng Bahasa Inggris. "Nggak paham, pak," sahut Snow dengan polosnya. "Artinya calon istri saya, Cella," jawab Kenjiro setengah berbisik karena dia mendekatkan bibirnya ke telinga Snow. "Hah?" Snow terjengkit kaget, wajahnya memerah, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Tanpa menanggapi pernyataan Kenjiro, Snow langsung lari meninggalkan Kenjiro yang terkekeh lirih, gemas melihat tingkah Snow yang polos dan gampang tersipu. "You'll be my bride Gracella Snowy Diatmaja, aku hanya perlu mengalahkan otoritas kakaknya," gumam Kenjiro sambil tersenyum tipis. Snow yang sudah tiba di gerbang sekolah, langsung melihat sang kakak yang sedang menunggunya dengan bersandar di mobil SUV New Peugeot 3008 nya. Pria dewasa dengan garis rahang tegas, alis tebal dengan bentuk tajam, mata yang berwarna coklat muda dengan garis mata khas Asia, kulit kuning khas Asia, bibir tipis yang berwarna pink pucat, sangat menonjol dan tampan, membuat para kaum hawa tidak melewatkan kesempatan melirik atau bahkan terang-terangan menatapnya. Snow mendengus kesal karena banyak siswi yang sengaja mencuri pandang ke arah kakaknya, belum lagi para penjemput yang berjenis kelamin wanita yang kebanyakan ibu-ibu juga tak segan menatap lapar kakaknya. Snow melangkahkan kakinya lebar-lebar, dia tak rela kakaknya dijadikan konsumsi publik. ( wkwkwkwkwkwk ) "Kakak...." panggil Snow setengah berteriak. Bryant mengangkat wajahnya dan melihat ke arah datangnya suara, saat dia melihat Snow yang berlari kecil menghampirinya, bibir tipisnya langsung menyunggingkan senyum yang mampu melelehkan hati kaum hawa yang melihatnya. Seketika terdengar jerit-jerit tertahan di sekeliling mereka dan sukses membuat Snow semakin emosi. Snow mempercepat langkahnya hingga setengah berlari. Bryant yang melihat adik kesayangannya berlari ke arahnya, langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melangkahkan kakinya menghampiri Snow, karena khawatir adik kesayangannya itu tersandung bebatuan yang berserak di tanah. Benar saja, saat jarak mereka hanya tinggal dua langkah, kaki Snow tersandung batu yang lumayan besar, sehingga badannya terhuyun ke depan dan nyaris jatuh tersungkur. Beruntung, Bryant dengan sigap menangkap tubuh mungil sang adik. Tanpa pikir panjang, Bryant langsung mengangkat tubuh Snow dan membopongnya seperti membopong anak balita, dengan menyangga p****t Snow dengan menggunakan lengan kokohnya. Snow refleks memeluk bahu Bryant karena takut terjatuh, namun terlihat bibirnya cemberut dan wajahnya memerah karena malu diperlakukan sang kakak seperti balita. "Kak, turunin, Snow bukan lagi balita, nggak lucu kakak gendong kaya gini, malu juga dilihatin orang," gerutu Snow sambil menutup wajahnya menggunakan satu tangan. Semua mata menatap iri ke arah Snow yang diperlakukan seperti itu. "Buat kakak, kamu itu tetap anak kecil yg harus dijaga, kakak akan berhenti kalau sudah ada yang bisa menggantikan kakak menjaga kamu," sahut Bryant sambil membuka pintu mobilnya, lalu mendudukkan Snow di samping kursi kemudi, tak lupa dia memasangkan seatbelt untuk adiknya. Snow hanya bisa bersungut-sungut menahan kesal dan malu, dia sudah terbiasa dengan sikap sang kakak, tapi dia juga malu jika sang kakak memperlihatkannya di muka umum. Bryant segera masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, kemudian menjalankan New Peugeot 3008 nya dengan perlahan. "Kita makan dulu ya, kakak lapar," ajak Bryant pada Snow yang memandangi ponselnya dengan serius. Snow mendapat pesan dari nomor asing yang isinya segera membuatnya tahu siapa pengirimnya. Seketika tangan Snow bergetar dan wajahnya memucat. Bryant yang melihat gelagat buruk yang diperlihatkan adik kesayangannya, segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Snow... Snowy... Hey.... Ade!!!" panggil Bryant sedikit meninggikan suaranya karena Snow tak meresponnya. "Kak.... Mama...." ucap Snow, suaranya bergetar ketakutan. Bryant segera mengambil ponsel Snow, dan segera membaca pesan yang sudah Snow buka di aplikasi w******p. 'Hey anak tak tahu diri, berani kau memblokir nomor orang tuamu? Tunggu saja kepulangan kami, dasar anak tak tahu balas budi, menyesal aku mengandung dan melahirkanmu dengan susah payah!!' Isi pesan itu sudah cukup menunjukkan siapa pengirimnya. Bryant menggeram marah, dan segera dia melajukan SUVnya dengan kecepatan laju membelah keramaian jalan raya yang lumayan padat. "Kakak...." Snow gemetar ketakutan melihat kakaknya yang emosi dan menahan marah. Walau bukan padanya, tapi itu karenanya. Bryant mengarahkan mobilnya memasuki pelataran pusat handphone dan elektronik terbesar di Yogyakarta, setelah memarkir mobilnya di basement, dia segera turun dan membukakan pintu untuk Snow dan membantu adiknya turun. "Kak, jangan marah, maafkan Snow...." lirih Snow, dia menunduk tak berani menatap Bryant yang sedang menggandeng tangannya dan berjalan menuju lift. Pintu lift langsung terbuka, sesaat setelah Bryant menekan tombol lift, lalu Bryant menarik Snow agar segera masuk ke dalam lift dan segera menekan tombol nomor 2. Pintu lift menutup, dan Bryant memeluk erat adik perempuan kesayangannya. "Maafkan kakakmu ini, Snow...." ucap Bryant lirih. "Kenapa kakak minta maaf?" tanya Snow, dia bingung dengan sikap kakaknya. "Mulai sekarang, kamu ada di bawah perlindungan dan pengasuhanku, tak akan kakak biarkan mama dan papa menyiksa batin dan fisikmu," gumam Bryant sambil mengecup kening dan pipi Snow. "Kakak.... Snow nggak apa-apa kok, mama papa bukannya nggak sayang sama Snow, mereka hanya kecewa karena gara-gara mama melahirkan Snow, bukan anak lelaki seperti yang mama dan papa impikan," sahut Snow lirih penuh kegetiran. Bryant mengeratkan pelukannya, dia merasakan kesedihan yang Snow rasakan. Dia merasa bersalah karena tak dapat melindungi adiknya dari siksaan kedua orang tua mereka. "Mulai sekarang kau tinggal sama kakak, selamanya, tak akan kakak biarkan mama dan papa mengusikmu lagi, kakak berjanji..." bisik Bryant dengan penuh ketulusan dan keyakinan. Snow hanya bisa mengangguk lemah. Pintu lift terbuka, segera Bryant melangkahkan kakinya keluar lift diikuti oleh Snow. Bryant menggandeng tangan Snow dan mengajaknya ke salah satu toko gadget terbesar di sana. Sesampainya di toko itu, Bryant segera memesan ponsel keluaran terbaru berikut sim card baru untuk Snow. Setelah melakukan pembayaran dan backup data dari ponsel lama Snow ke ponsel baru, Bryant mematahkan ponsel lama Snow dan meminta pegawai toko untuk membuangnya. Snow yang melihat ponsel lamanya ( android yang sudah kuno ) retak dan siap buang, hanya bisa pasrah walau ingin protes. Terpaksa dia menerima ponsel yang baru Bryant belikan. "Mulai sekarang, pakai ini, hanya ada nomor kakak, Kak Willy, Kak Alex dan dua orang teman barumu juga nomor si kembar Jojo Jia," ucap Bryant, "papa dan mama nggak akan bisa menghubungimu lagi, kalau mereka perlu denganmu, biar lewat kakak, dan kakak akan menutup akses mereka untuk berkomunikasi ataupun bertemu denganmu," tambah Bryant dengan tegas. Snow hanya bisa menghela nafas panjang. Entahlah.... Dia merasa kalau dirinya adalah anak yang tak diharapkan orang tuanya. Seandainya dia tak dirawat kakek dan neneknya dari keluarga papa dan mamanya, mungkin dia akan jadi anak yang terlantar. Snow hanya bisa bersyukur, karena sampai dia tamat SMP, dia mendapatkan kasih sayang dari kakek dan neneknya dari kedua pihak orang tuanya, walau tak bisa menggantikan kebutuhannya atas kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya. Snow juga sangat beruntung karena sang kakak sangat mencintainya dan overprotective padanya. "Snow?" Bryant memanggil nama Snow beberapa kali karena sang adik terlihat melamun. "Snow sayang sekali sama Kak Bryant," sahut Snow sambil menatap Bryant dengan tatapan sendu. "Kakak juga sayang sekali sama Snow," balas Bryant seraya mengecup kilat bibir Snow. Pelayan toko dan beberapa pengunjung toko yang melihat perlakuan Bryant pada Snow hanya bisa memekik tertahan. Mereka pikir Bryant dan Snow adalah sepasang kekasih yang sedang menunjukkan public display affections. "Kak, bisa nggak sih, kalau di luar gini cium pipi aja?" gerutu Snow kesal. "Kenapa memangnya?" tanya Bryant bingung. "Nggak pantes tau kak, Snow udah besar gini, takut nanti Snow dan Kak Bryant nggak laku, tambah pikiran orang kan kita nggak tau," jawab Snow jujur mengungkapkan isi hatinya. "Heh, sejak kapan kakak peduli sama pikiran orang? Lagian kan ini kebiasaan kita sejak dulu, memangnya masalah? Dan lagi kalau sama -sama nggak laku malah kita bisa saling jaga, iya to?" sanggah Bryant masa bodoh. "Tau ah, kak! Ribet ngomong sama kakak, nggak pernah bisa menang," omel Snow seraya melangkah pergi meninggalkan Bryant yang terkekeh geli melihat kekesalan adiknya yang terlihat imut dan menggemaskan. Bryant segera menyusul sang adik dengan membawa paper bag berisi dos box ponsel dan juga ponsel baru Snow yang tertinggal di atas counter. "Adeeee.... Tungguin kakak, kenapa? Pakai acara ngambek gitu, nggak lucu, tau," seru Bryant dengan melangkahkan kakinya lebar-lebar demi mengejar adik kesayangannya. Snow mempercepat langkahnya, ingin kabur dari kakaknya, namun karena kakinya lebih pendek daripada Bryant, maka dengan mudah Bryant menangkapnya. Dengan satu tangan menjinjing paper bag, satu tangan Bryant gunakan untuk mengangkat tubuh Snow seperti seseorang yang sedang mengangkat tikar pandan. Snow memekik kaget dan memberontak minta dilepaskan, namun Bryant berlagak tuli dan tidak mengindahkan omelan yangbkrluar dari mulut adik kesayangannya, kaki panjangnya dengan santai melangkah menuju lift yang kebetulan akan turun ke basement. Beberapa orang yang berada di dalam lift menatap heran kedua kakak beradik yang tingkahnya unik itu. Perlahan Bryant menurunkan tubuh Snow dan membantu adiknya berpijak tegak di kakinya sendiri, sementara Snow menerapkan mode silent dan manyun. Bryant terkekeh geli melihat ekspresi Snow yang semakin menggemaskan, adik cantiknya ini benar-benar imut dan bikin greget. Bryant mendengar kasak kusuk di belakangnya, dia baru sadar kalau dia tak hanya berdua dengan Snow di dalam lift, namun juga ada 4 orang pria seusianya dan 2 orang wanita dewasa yang tengah memperhatikan dirinya dan Snow melalui pantulan tubuh mereka di dinding dan pintu lift. Para lelaki itu tampak memperhatikan dan mengagumi kecantikan adiknya. Bryant paham betul, walau adiknya adalah sosok gadis yang bertubuh mungil, namun bentuk tubuhnya sempurna, ditambah parasnya yang cantik khas Asia Timur juga terlihat imut karena mempunyai tipe wajah baby face. Geram melihat kelakuan 4 orang lelaki yang secara terang-terangan menatap Snow dari ujung rambut ke ujung kaki, Bryant segera membalikkan badan dan menatap tajam keempat lelaki tersebut. "Jaga pandangan kalian, sebelum aku mencongkel kedua bola mata kalian!!!" gertak Bryant garang, keempat lelaki tadi langsung menciut nyalinya dan segera menundukkan pandangan, sementara kedua wanita yang sedari tadi memandangnya dengan terpesona, kini malah semakin terpana. "Kalian berdua sebaiknya juga jaga pandangan, sebelu bola mata kalian ikut kucongkel keluar!!" ucap Bryant dingin, reflex kedua wanita itu menundukkan pandangannya dengan tubuh bergetar. Snow menghela nafas panjang, kakaknya memang overprotective terhadapnya, maka tak heran jika sampai detik ini, Snow hanya punya 2 sahabat lelaki, yaitu Jojo dan Keanu. Tambah lagi sikap dingin dan tak bersahabat Bryant kepada makhluk yang disebut WANITA aka PEREMPUAN aka CEWEK, membuat pria itu tak memiliki satupun teman wanita apalagi pacar. Pintu lift terbuka, Bryant membalikkan badan lalu merangkul bahu Snow dan mengajaknya segera keluar lift, mereka bergegas menuju New Peugeot 3008 putih yang terparkir cantik beberapa meter dari lift. Bryant membuka pintu shot gun seat dan mengangkat tubuh Snow lalu mendudukkannya di kursi. Setelah memasangkan seatbelt, Bryant menutup pintu lalu dia berjalan memutari mobil, dia segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Sebelum menjalankan mobilnya, Bryant bertanya pada Snow, " Ade mau makan apa?" "Pengen masakan Padang, kak," jawab Snow sembari menelan ludah. "Di tempat biasa?" tanya Bryant, tangannya bergerak memutar kemudi sementara kakinya menginjak pedal gas. "Iya, kak.... Di Duta Minang aja," jawab Snow kembali menelan ludah, karena membayangkan lezatnya gulai tunjang dan juga rendang daging sapi dipadu sambal cabai hijau dan lalapan daun singkong. "Oke, on the way Duta Minang, ajak Alex dan Willy juga ya, mereka kangen sama kamu," sahut Bryant sambil tetap fokus mengemudi. "Iya, kak.... Snow juga kangen sama Kak Alex dan Kak Willy," seru Snow gembira, sudah lama dia tak berjumpa dengan kedua sahabat Bryant yang sudah Snow anggap seperti kakaknya sendiri. Bryant memasang bluetooth headset, lalu dia menghubungi Willy dengan bantuan Snow, dia meminta Willy dan Alex menyusul ke Rumah Makan Padang Duta Minang yang terletak di Jalan Brigjen Katamso. Ajakan Bryant disambut gembira oleh Willy dan Alex, saat mereka tahu kalau Snow rindu kepada mereka. Secepat kilat Willy dan Alex merapikan meja dan melesat meninggalkan kantor setelah menitipkan pesan di bagian kesekretariatan untuk menjadwal ulang beberapa kegiatan intern dan meeting yang masih tersisa di hari ini. Yup, mereka akan langsung menuju ke rumah Bryant setelah makan siang, demi apa? Demi menghabiskan waktu bersama adik kesayangan mereka, Snow. Ya ya ya..... Jangan ditanya gimana bucinnya kedua orang sahabat Bryant itu kepada Snow. Bahkan mereka sering bertengkar hanya karena masalah sepele, siapa yang paling Snow sayang di antara mereka berdua. Pertengkaran yang unfaedah dan sia-sia. Mereka sampai di rumah makan dalam waktu yang hampir bersamaan, dan bisa ditebak kehebohan yang terjadi saat Willy dan Alex saat bertemu dengan Snow. Kehebohan tak berhenti begitu saja, kehebohan berlanjut sampai saat memesan makanan, pesanan datang, bahkan saat makan, kehebohan itu tak berhenti, sehingga mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah makan yang kebetulan saat itu sedang lumayan ramai. Selesai makan, mobil Bryant dan Willy beriringan kembali menuju rumah Bryant untuk sekedar mengobrol dan membahas acara ulang tahun Willy yang akan diadakan malam minggu besok, mengingat hari Selasa adalah weekday, maka Willy mengusulkan pada keluarganya agar acara diadakan pada hari Sabtu agar Snow bisa hadir. ================ Hari Sabtu tiba, Bryant menunggu Snow yang sedang dirias oleh MUA kiriman Rosa, dengan sabar di ruang tamu. Setelah 30 menit menunggu, akhirnya Snow keluar dari kamarnya dan melangkah dengan anggun mendekati Bryant. "Kakak, Snow sudah siap," ucap Snow mengagetkan Bryant yang tengah membaca laporan perusahaan yang belum sempat dia periksa. Bryant mengangkat pandangannya dan berdecak kagum, saat melihat Snow yang tampak cantik dengan sapuan youthful Korean makeup, terlihat imut dan menggemaskan, rambutnya dibiarkan terurai dan dikeriting pada ujungnya, tubuh mungilnya berbalut midi dress baby purple dengan detail prada di d**a dan lengan, kombinasi flare skirt menambah kesan manis dan imut penampilan Snow. Bryant melangkah mendekati sang adik, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat Snow memekik tertahan. "Cantiknya adikkuuuu.... Kakak harus siaga ini, pasti banyak mata lapar yang bakal ngincar kamu," ucap Bryant gemas. "Kakak...." protes Snow saat Bryant tak menurunkannya tapi malah dengan santainya menggendong Snow di lengan kirinya seperti kebiasaannya sehari-hari. Bryant bahkan tidak ambil pusing jikalau pakaiannya yang berwarna sama dengan gaun Snow itu ( metalic baby purple ) akan kusut nantinya. Bryant mendudukkan adik kesayangannya di shotgun seat Maybach S-680nya, kemudian dia bergegas masuk dan duduk di belakang kemudi. Setelah memastikan seatbelt Snow terpasang dan adiknya itu duduk dengan nyaman, Bryant segera menjalankan mobilnya dengan perlahan, membelah malam menuju kediaman keluarga Wirayuda, keluarga besar Willy yang bernama lengkap William Perkasa Wirayuda. Snow memegang kotak pipih kecil berwarna biru muda metalic, di dalamnya ada kado untuk Willy, berupa handmade tie clip dan cufflinks. Bryant melirik sekilas kotak di pangkuan Snow, sebenarnya dia juga ingin memakai tie clip dan cufflinks yang Snow buatkan untuknya, tapi warnanya tidak sesuai dengan suit yang dipakainya saat ini. Bryant hanya bisa mendengus kesal. Setelah 45 menit perjalanan, mereka tiba di kediaman Wirayuda. Di sana sudah nampak berjajar rapi mobil-mobil mewah milik keluarga, kerabat dan juga rekan bisnis keluarga Wirayuda. Bryant memarkirkan mobilnya, lalu dia segera turun, membukakan pintu untuk Snow dan membantunya turun. Snow memeluk lengan Bryant dengan gugup karena ini adalah pertama kalinya dia menghadiri pesta besar. Dulu dia selalu menolak jika diajak menghadiri pesta apapun oleh sang kakak, karena dia merasa malu dan tak pantas. Saat kaki mereka melangkah masuk ke dalam ruangan pesta, mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian para undangan yang hadir. Beberapa pria tampak ternganga dan tak berkedip melihat Snow, sedangkan para wanita berbisik-bisik mengagumi penampilan dan ketampanan Bryant. Snow berjalan rapat di belakang tubuh Bryant sambil memeluk erat lengan sang kakak, Bryant yang menyadari kegelisahan dan kegugupan adiknya, segera meraih pinggang Snow dan memeluknya possessive. Tiba-tiba terdengar derap langkah tergesa seseorang, dalam sekejap tubuh Snow melayang di udara dan berputar seiring gerakan seorang pria yang mengangkatnya tinggi-tinggi. Bryant yang tahu siapa pria itu hanya bisa melotot dan mendengus kesal, sementara Snow memekik tertahan. "Adeeeee..... I miss youuuu," seru Alex setelah puas berputar-putar, dia mencium kening Snow dan memeluknya dengan erat. "Put your hands away from her!" titah Bryant sambil memukul kepala Alex perlahan. "Cih, dasar pelit!" gerutu Alex, mau tak mau dia melepas pelukannya dari tubuh Snow, "cantiknya si adeee," sambung Alex gemas. "Kamu ngerusak dandanan Snow, Al," seru seorang pria bersuara berat sembari menarik kerah baju Alex. "Hi bro, happy birthday," sapa Bryant sembari memeluk birthday-guy, Willy. "Thanks, bro," sahut Willy membalas pelukan Bryant. "Kak Willy, happy birthday," ucap Snow seraya mengulurkan kotak pipih yang dibawanya. Willy menerima kotak itu dengan gembira lalu memeluk Snow sebagai ucapan terima kasih, Snow pun menghadiahkan sebuah kecupan di pipi kanan Willy yang membuat wajah Willy langsung memerah. Bryant dan Alex langsung mendengus kesal. Willy membuka kado dari Snow dan langsung dipakainya karena warna permata di tie clip dan cufflinks buata Snow, senada dengan suits nya. Setelah itu, Willy mengajak Snow dan Bryant menemui keluarganya yang juga sedang berkumpul bersama keluarga Alex. Sementara itu, di salah satu sudut ruangan, nampak seorang pria keturunan Jepang yang memperhatikan segala gerak gerik Snow, matanya berkilat geram, mengapa Snow dikelilingi pria-pria tampan dan berkualitas, semakin berat rintangannya untuk mendapatkan hati Snow. ================ Hari berganti, dan hari Senin pun tiba, Snow sudah mulai ada kegiatan belajar mengajar, dia berangkat pagi dengan diantar Bryant seperti biasa. Saat memasuki gerbang sekolah, Kenjiro sudah nampak berdiri di sana dan menyambut kedatangan Snow dengan senyuman menawan. Jantung Snow berdetak kencang tak beraturan. "Selamat pagi, Cella," sapa Kenjiro ramah. "Se-selamat pagi, Pak Kenji," balas Snow gugup. "Nanti pulang saya antar, ya?" bujuk Kenjiro tanpa basa-basi dan mensejajari langkah Snow. "Ma-maaf, saya dijemput kakak nanti," jawab Snow sambil mempercepat langkahnya. "Kirim saja pesan kalau akan saya antar," bujuk Kenjiro tanpa kenal menyerah. "Saya tidak mau, dan tak akan pernah mau," jawab Snow tegas, "kenapa sikap bapak nggak mencerminkan sikap guru yang baik?" cecar Snow kemudian. "Karena saya suka kamu, Cella...." jawab Kenjiro jujur. "Tapi saya nggak suka sama bapak," balas Snow sengit, dia merasa risih dengan sikap Kenjiro padanya, ditambah lagi, sekarang mereka berjalan beriringan, sehingga tatapan tajam para penggemar Kenjiro bagai bilah pisau yang menikam Snow tanpa ampun. "Hmmm.... Saya akan buat kamu menyukai saya," ucap Kenjiro percaya diri sambil menatap lembut mata Snow yang berwarna coklat terang. "Sikap bapak bikin saya nggak nyaman," dengus Snow yang buru-buru melangkah meninggalkan Kenjiro yang terkekeh geli melihat sikap Snow padanya, antara malu dan kesal. ================= Pendekatan Kenjiro tak hanya sampai di situ, dia gencar mendekati dan melontarkan kata-kata manis pada Snow, entah itu saat berpapasan ataupun saat di kantin. Hari demi hari Snow lalui dengan menerima tatapan sinis dan cemooh para siswa penggemar Kenjiro. Kedua sahabatnya Sella dan Keanu bukannya tak tahu tentang maksud Kenjiro pada Snow, tak jarang mereka dimintai bantuan oleh Kenjiro, seperti meminta informasi apa yang sedang dilakukan Snow, atau sekedar menitipkan sesuatu untuk diberikan kepada Snow. Keanu yang tak terlalu suka dengan Kenjiro, terkadang malas atau bahkan menolak permintaan Kenjiro, karena melihat bagaimana ekspresi Snow yang tak nyaman atau terganggu, membuatnya enggan membantu Kenjiro. Sementara Cella yang getol menjodohkan Kenjiro dan Snow, dengan senang hati memberikan informasi atau menyerahkan barang titipan Kenjiro. Snow sendiri bukannya tidak tertarik dengan Kenjiro, tetapi mengingat banyaknya siswa bahkan guru yang menjadi penggemar Kenjiro, membuat Snow merasa segan dan takut jika dia menjalin hubungan dengan Kenjiro, belum lagi kakaknya, Bryant dan kedua sahabat kakaknya, Alex dan Willy, yang pastinya akan menentang keras jika Snow berhubungan dengan lelaki dengan rentang usia jauh di atasnya. Namun ibarat kata, sekerasnya batu, pasti juga akan berlubang jika selalu ditetesi dengan air, lama kelamaan Snow akhirnya luluh. Dengan sejumlah persyaratan, akhirnya Snow bersedia menjadi kekasih Kenjiro. "Sungguh, Cella?" tanya Kenjiro tak percaya, dia menggenggam kedua telapak tangan Snow dengan erat. Mereka berdua kini tengah berada di dalam ruang kelas 10C yang kosong karena seluruh siswa sudah keluar bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing, sementara Snkw terpaksa harus menunggu kedatangan sang kakak yang agak terlambat datang. "Hmmmm.... Tapi....." sahut Snow menggantung. "Ya, sayang? Tapi apa?" tanya Kenjiro antusias, Snow merona karena dipanggil dengan sebutan sayang oleh Kenjiro. "Saya nggak mau ada seorang pun yang tahu rentang hubungan kita dan jangan menunjukkan sikap mesra atau apapun di lingkungan sekolah," jawab Snow tegas. " Tapi, sayang.... Kalau seperti itu, tak akan ada yang tahu kalau kau adalah milikku," protes Kenjiro, dia khawatir kalau dia tak meproklamirkan kalau Snow adalah kekasihnya, para siswa lelaki dan juga beberapa guru single akan tetap mengincar Snow, karena Snow merupakan school belle di sekolah ini. "Keanu dan Selli tahu, itu sudah cukup, saya nggak mau kakak saya marah dan juga saya malas menghadapi para penggemar bapak yang kebanyakan perempuan barbar dan kasar," jawab Snow jujur, mengingat betapa kejamnya para penggemar Kenjiro terhadap siswa yang mencoba mendekati Kenjiro secara terang-terangan. Kenjiro hanya mampu menghela nafas panjang, pasrah. "Sampai kapan?" tanya Kenjiro lemas. "Sampai saya lulus SMU," jawab Snow sambil tersenyum manis. DEG!!! Senyuman Snow meruntuhkan iman Kenjiro. "Sayang, bolehkah aku menciummu?" tanya Kenjiro dengan suara seraknya. "Hanya pipi dan kening," jawab Snow tegas. "Kenapa?" tanya Kenjiro kecewa. "Bibir saya hanya untuk suami saya nanti," jawab Snow kembali dengan nada tegas dan yakin. "Apakah kamu nggak mau jadi istriku?" tanya Kenjiro denga nada sedih. "Saya masih terlalu muda untuk menikah, dan hubungan kita baru saja dimulai dalam hitungan menit, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, bisa saja bapak memutuskan hubungan kita dan menikah dengan orang lain," jawab Snow diplomatis dan realistis. "Nggak akan mungkin, sayang.... Aku nggak akan memutuskan hubungan kita dan tak akan menikah dengan wanita manapun selain kamu," sahut Kenjiro lembut, dikecupnya pipi dan kening Snow, dalam hati dia mengucap kata sabar, dia akan menunggu sampai Snow lulus SMU, kemudian melamar dan menikahinya, lalu melakukan hal-hal menyenangkan setelah mereka menikah. ================ Hubungan Snow dan Kenjiro tersimpan rapi, hanya Keanu dan Selli yang tahu. Hubungan yang manis dan begitu indah, Kenjiro berhenti memanggil Cella pada Snow, panggilannya berubah menjadi sayang atau Snow. Keanu dan Selli pun sudah mengubah panggilan mereka menjadi Snow, karena Snow meminta. Snow dan Kenjiro tak pernah berkencan ataupun jalan-jalan berdua, kemana mereka berdua pergi, selalu ada Keanu dan Selli menyertai, untuk menghindari kecurigaan Bryant, Alex dan Willy. Namun, hubungan mereka hanya bisa berjalan mulus selama 1 tahun 9 bulan, karena suatu berita menyakitkan keluar dari mulut Kenjiro, saat Snow memergoki adanya sesuati di jari manis Kenjiro yang mengikat pria itu dengan wanita lain dengan dalih 'pertunangan'. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Hello dear readers, mohon maaf karena berbulan-bulan tidak up sama sekali, author sedang berusaha menyelesaikan 1 karya dulu, karya pertama dengan judul ' HIGH SCHOOL LOVE STORY ' genre 21++. Karena merasa kesulitan menulis 2 cerita sekaligus, jadi saya memutuskan untuk menyelesaikan karya perrama saya dulu, takut alur, plot dan nama karakternya tertukar. Namun melihat banyaknya peminat yang meminta up, jadi saya akan usahakan up sebisa mungkin. Terima kasih atas dukungannya selama ini, jangan lupa mampir di karya saya yang lain. Happy Reading warm regard, ZkyanDee
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD