Kegiatan MOS hari pertama berjalan lancar, setelah makan siang di kantin, kegiatan dilanjutkan di aula dan diisi dengan acara debat siswa selama 90 menit, setelah itu siswa diminta kembali ke kelas masing-masing untuk mencatat tugas untuk besok.
Karena tugasnya terbilang mudah, Snow, Keanu dan Selli memutuskan untuk mengerjakan tugas sendiri di rumah masing-masing.
Tepat pukul 14:30, kegiatan MOS hari pertama berakhir, para peserta MOS berhamburan keluar kelas mereka dan bergegas untuk pulang.
Snow berjalan beriringan bersama Keanu, Selli dan juga Benu, teman baru mereka.
"Ojek lagi, Cell?" tanya Keanu sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya.
"Iya, Kean," jawab Snow sambil mengulum lollipop yang dibelinya di lantin sewaktu istirahat siang tadi.
"Aku antar aja mau ngga? Kan kita searah," ajak Keanu.
"Nggak usah, kan nggak bawa helm," tolak Snow, dia takut naik motor kalau tanpa helm.
"Iya juga ya, kamu tadi kenapa nggak WA aku, kan bisa aku jemput berangkatnya?" tanya Keanu.
"Masih bisa naik ojek, Kean," kekeh Snow.
"Kalian tetanggaan?" tanya Benu.
"Enggak, searah doang, beda perumahan," jawab Keanu.
"Ooooo...." sahut Benu manggut-manggut.
Sesampainya di pintu lobby, mereka berpisah, karena Keanu, Selli dan Benu harus menuju tempat parkir motor, mereka bertiga mengendarai sepeda motor untuk berangkat dan pulang sekolah.
Snow berjalan ke arah gerbang sekolah sambil menyalakan ponselnya untuk memesan ojek online.
Begitu ponselnya menyala, dentingan notifikasi berbunyi tiada henti, pesan masuk dari sang kakak, Bryant, dan juga kedua sahabat Bryant, Alex dan Willy.
Namun ada nama yang membuat Snow berdebar saat akan membuka dan membacanya, 'Mama', ternyata mamanya mengirimkan pesan untuknya, berdebar hati Snow, mengharap pesan dari mamanya akan menanyakan bagaimana kelancaran kegiatan sekolah hari ini.
Gemetar, Snow menyentuh notifikasi pesan dari mamanya, saat membacanya, seketika hatinya mencelos kecewa.
'Snow, mama papa nanti ke rumah kakakmu, siapkan makan malam kesukaan papa dan kakakmu, buatkan mama Caesar salad, siapkan juga kamar untuk papa dan mama tidur, kami akan menginap semalam sebelum berangkat ke Belgia, jangan malas kalau hidup hanya menumpang di rumah kakakmu!'
bunyi pesan sang mama.
Mata Snow berkaca-kaca, seandainya saja dia punya uang cukup dan punya pekerjaan, dia akan memilih pergi meninggalkan keluarga yang tak menyayanginya, kalau bukan karena kakaknya yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya, Snow tak akan mau bertahan bersama papa dan mamanya.
Snow menarik nafas panjang, dia tak boleh menangis, harus kuat. Segera dibukanya aplikasi ojek online, tapi saat akan memesan ojek, tiba-tiba sebuah tangan besar merengkuh bahunya. Snow terlojak kaget, lalu menoleh ke arah orang yang merangkulnya, namun saat tahu siapa yang merangkulnya, raut wajah Snow berubah menjadi sedih dan takut.
"Kakak kangen, hampir dua hari nggak ketemu adik kesayangan kakak, kemarin cuma ketemu sampai jam 08:00 pagi, hari ini baru bisa ketemu sekarang, kakak kangen," ucap Bryant tulus, lalu membawa tubuh mungil Snow ke dalam pelukannya. Mereka jadi pusat perhatian siswa siswi yang hendak pulang ke rumah.
Snow hanya diam saja tak merespon pelukan Bryant, tapi tubuhnya gemetar karena takut, dan Bryant bisa merasakan kalau tubuh adiknya gemetaran.
"Maafkan kakak ya, Snow. Jangan takut sama kakak, ya?! Kakak janji nggak akan bentak-bentak Snow lagi," ucap Bryant penuh penyesalan.
"Ka-kalau ka-kakak nggak su-suka ade ting-tinggal sa-sama kakak, a-ade bisa kost, kak," sahut Snow lirih dan terbata-bata.
"Omong kosong apa itu Snow? Kakak yang bawa kamu tinggal sama kakak, nggak ada alasan kakak nggak suka, kakak bawa kamu tinggal sama kakak karena kakak sayang sama adik perempuan kakak satu-satunya ini," balas Bryant, yang tanpa diduga langsung menggendong Snow dan menaruhnya di lengan kirinya yang kokoh.
Snow terpekik kaget namun segera wajahnya memerah karena malu diperlakukan seperti balita padahal usianya sudah 16 tahun.
"Ma-malu, kak, ade kan sudah besar," rengek Snow, satu tangannya berpegangan pada bahu Bryant dan tangan satunya menutupi wajahnya menggunakan tas sekolahnya.
"Buat kakak, kamu tetap adik kecil kesayangan kakak," sahut Bryant tak peduli dan terus melangkah ke arah mobilnya yang terparkir di sebelah selatan gerbang sekolah.
Banyak siswi yang menatap takjub ketampanan Bryant dan postur tubuh yang sempurna, bikin ngiler para pemuja pria tampan.
Dari kejauhan Kenjiro menatap tak suka keakraban Snow dengan pria yang terlihat mirip dengan Snow. terlalu memperlihatkan public display affections.
'Kakaknya tampan sekali, terlihat kuat dan dominan, menyebalkan, pasti akan sulit memikat Gracella,' batin Kenjiro, dia harus punya planning agar bisa mendapatkan hati siswi pujaan hatinya.
Setelah mendudukkan Snow ke di kursi depan, Bryant segera masuk dan duduk di kursi kemudi, dipasangkannya seatbelt untuk Snow, dan setelah mengencangkan seatbelt miliknya, Bryant segera menjalankan mobilnya perlahan menuju rumahnya.
"Kak..." panggil Snow takut-takut.
Bryant menghela nafas panjang.
"Snow, jangan takut sama kakak ya, semalam kakak kesal sama sikap mama ke kamu, tapi kakak salah malah kamu yang kakak bentak, maafkan kakak ya de," bujuk Bryant sambil mengusap lembut kepala adik kesayangannya.
"I-iya kak, Snow takut kakak juga nggak suka sama Snow, jadi semalam Snow berpikir mau cari kos setelah MOS selesai," sahut Snow lirih.
"Buat apa kos? Nggak boleh, ade harus tinggal sama kakak, nggak boleh kos," larang Bryant.
"Iya kak," sahut Snow lirih.
"Jalan-jalan yuk, besok tugasnya apa? Kerjain nanti malam ya, sekarang jalan-jalan dulu, ada kedai es krim baru, ade pasti suka," ajak Bryant.
"Nggak bisa kak, mama tadi WA kalau hari ini mau ke rumah, Snow disuruh masak makanan kesukaan papa sama bikin Cesar salad untuk mama, Snow juga harus beresin kamar untuk papa dan mama tidur malam ini sebelum besok pagi terbang ke Belgia," tolak Snow, dari suaranya tersirat kesedihan karena perlakuan kedua orang tua mereka yang selalu memerintah ini itu seperti memerintah pembantu mereka.
Bryant mencengkeram erat stir mobilnya, rahangnya mengeras dan urat nadi di sekitar pelipisnya terlihat menonjol, dia benar-benar marah.
"Biar saja mereka datang, kakak akan telepon Bu Mimi buat menyiapkan apa yang mereka minta," sahut Bryant menahan amarah, suaranya rendah dan menekan, dia berusaha mati-matian agar tak menunjukkan amarahnya di depan Snow, dia tak mau adiknya ketakutan lagi.
"Tapi kak, mama bilang Snow nggak boleh malas kalau tinggal menumpang di rumah kakak," gumam Snow lirih, dia tak ingin mama dan papanya semakin membencinya kalau dia tak melaksanakan perintah yang mereka berikan.
"Snow," panggil Bryant dengan suara rendahnya, Snow menoleh ke arah kakaknya, dan ketakutan melihat wajah kakaknya yang menyeramkan.
"Ma-maaf kak, Snow salah bicara," ucap Snow dengan suara bergetar menahan tangis.
Bryant menghela nafas panjang, lalu membelokkan mobilnya ke arah sebuah taman dan menepi di sana.
Snow semakin gemetar takut. Bryant melepas seatbeltnya dan memutar tubuhnya menghadap Snow, dibelainya kepala sang adik yang gemetaran.
"Snow, kakak sungguh nggak marah sama kamu, kakak bersumpah, demi Tuhan. Kakak kesal pada papa mama, biarkan saja mereka datang ke rumah, ada Bu Mimi, kakak bayar Bu Mimi buat mengurus rumah, termasuk memasak dan bersih-bersih. Kamu itu adikku, kalau mau masak atau bersih-bersih, boleh sesekali saja, saat kamu ingin atau saat kaak ingin makan masakan kamu, bukan tiap hari, karena kamu adikku, bukan pembantuku, paham kan maksud kakak?" jelas Bryant sabar.
"Snow tau kalau Snow itu adiknya Kak Bryant, tapi mama bilang...." sahut Snow yang dipotong tegas oleh Bryant.
"Karena kamu sekarang ikut kakak, jadi dengar kata kakak, jangan kamu turuti kata-kata mama, ok?" tekan Bryant.
"Snow nggak mau semakin dibenci papa dan mama, Snow juga ingin tau rasanya disayang sama papa dan mama, kalau Snow nggak nurut, papa sama mama pasti semakin membenci Snow, kak," sahut Snow lirih, air matanya mulai mengalir deras.
Melihat adiknya yang menangis pilu, hati Bryant terasa ditikam seribu sembilu, perih dan sakit tak terkira. Sungguh keterlaluan papa dan mama mereka memperlakukan Snow seperti ini, dilepasnya seatbelt Snow, lalu diraihnya tubuh mungil sang adik lalu dinaikkannya di pangkuannya dan dipeluknya erat, Snow semakin terisak.
"Kalau papa dan mama tidak mau Snow ada, kenapa nggak dari dulu Snow dihilangkan, kak?" ucap Snow lirih, hati Bryant semakin sakit, dia mengeratkan pelukannya. Dia tak tahu harys menjawab apa, karena dia pun tak tahu apa penyebab ketidaksukaan mama dan papa mereka pada Snow.
"Menangislah, buang semua kesedihanmu, kalau sudah tenang kita jalan-jalan, main, belanja, tak usah pedulikan papa dan mama, sekeras apapun kau berusaha mereka tak pernah menghargai usahamu, kalau mereka marah, biar kakak yang urus, kakak sudah tidak tahan melihatmu diinjak-injak oleh mereka berdua," hibur Bryant, dalam hati dia bertekad malam ini akan membuat kedua orang tuanya berhenti memperbudak Snow, putri kandung mereka.
"Snow takut kak," gumam Snow masih terisak.
"Ada kakak, jangan khawatir, kakak akan melindungimu," sahut Bryant.
Diusapnya rambut dan punggung Snow agar dia segera tenang.
Lebih dari 20 menit Snow menangis, dan akhirnya berhenti karena lelah dan tertidur.
Bryant mendudukkan Snow kembali ke kursi penumpang, setelah memasang seatbelt, Bryant menurunkan sedikit sandaran kursi Snow agar bisa nyaman tidur.
Lalu dia mengambil ponsel dan menelepon Bu Mimi untuk menyiapkan makan malam untuk kedua orang tuanya dan juga menyiapkan kamar mereka. Tak lupa dia memberi tahu Bu Mimi kalau dia dan Snow tak akan pulang makan malam. Setelah itu, Bryant ikut merendahkan sandaran kursinya dan memejamkan matanya sejenak.
Setengah jam kemudian, Bryant membuka matanya, lalu dia menoleh ke arah Snow yang masih terlelap, matanya terlihat sembab.
Perlahan Bryant membangunkan adiknya.
"Snow, bangun, kita jalan sekarang ya," Bryant menyentuh wajah adiknya yang sedikit lengket karena bekas air mata.
"Nggg.... Mau ke mana sih kak?" tanya Snow yang malas membuka mata, karena matanya terasa ngilu dan pedih.
"Main, berdua sama kakak, sudah lama banget kita nggak jalan-jalan kan?" sahut Bryant sambil mengulurkan handuk kecil yang sudah dia basahi dengan air mineral.
"Baru juga tiga minggu lalu kakak ajak Snow main ke Malang," balas Snow sambil melap wajahnya memakai handuk basah yang diberikan Bryant.
"Kan lain, kemarin liburan, kamu juga main sendiri karena kakak ada kerjaan di sana," Bryant mulai menjalankan mobilnya perlahan.
"Tapi kak, nanti mama sama papa gimana?" tanya Snow takut membayangkan apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya nanti karena dia tak melaksanakan perintah mereka.
"Biar saja, ada Bu Mimi, kita senang-senang saja, nanti kerjakan tugasnya sekalian main, kita cari tempat yang enak buat ngobrol dan kerjakan tugas, ok?! Nggak usah takut, ada kakak yang akan menjaga kamu," bujuk Bryant.
"Iya deh, nurut kakak aja," sahut Snow pasrah.
"Oke, sekarang kita shopping dulu ya," ajak Bryant, "Ade pengen beli apa?" sambungnya.
"Snow ingin punya heavy duty mixer sama oven listrik yang kapasitasnya besar kak," jawab Snow lirih, "tapi besok-besok aja, kalau tabungan Snow sudah cukup baru beli," tambahnya.
"Kakak bisa belikan, ngapain nabung-nabung? Uang ade disimpan saja, buat senang-senang," sahut Bryant.
"Uang kakak buat persiapan kakak menikah saja, Snow mau pakai oven dan mixernya untuk bikin kue dan dijual, biar Snow bisa punya uang sendiri, biar nggak merepotkan papa, mama dan kakak lagi," balas Snow dan membuat Bryant sedih.
"Omong kosong macam apa itu, de? Snow sekolah aja yang bener, kalau mau kerja atau buka usaha, selesaikan SMU mu dulu. Ok?" cegah Bryant.
"Kakak kan tau aku bodoh, sekolah pun nggak bisa bikin aku pintar, selalu dapat peringkat akhir, bikin malu yang nyekolahin," ucap Snow sambil tertunduk sedih.
"Snow iti pintar, cuma mungkin belum nemu metode belajar yang sesuai, Snow buktinya bisa lulus SMP dengan nilai cukup memuaskan setelah belajar sama kak Alex kan?" Bryant mengusap kepala Snow dengan lembut.
"Kita ke butik milik Tante Rosa ya, lama kakak nggak beliin Snow baju sama aksesoris," ajak Bryant semangat.
"Baju yang kakak belikan banyak yang belum Snow pakai," tolak Snow, lemarinya sudah penuh dengan baju sejak mulai tinggal dengan kakaknya.
"Ya besok-besok tinggal dipakai, lagian kakak mau ajak ade ke ulang tahunnya Kak Willy minggu depan, sekalian beli kado buat kak Willy, oke?" bujuk Bryant.
"Oh iya, kak Willy ulang tahun Selasa minggu depan ya, Snow akan tanya kak Willy dulu ingin kado apa," wajah Snow berseri saat akan menelepon Willy, sahabat kakaknya ini sudah seperti kakak keduanya, begitupun dengan Alex, walau sifat mereka berbeda tapi cara mereka menyayangi Snow 11-12 dengan Bryant.
"Nggak usah tanya, nanti nglunjal minta aneh-aneh," cegah Bryant.
"Tapi kan Snow nggak tau kak Willy sedang ingin punya apa," bantah Snow.
"Dia bisa beli sendiri, Snow," sahut Bryant, "Kalau mau kasih dia kasih aja dasi atau cufflinks atau penjepit dasi, Willy cuma punya sedikit itu," sambung Bryant.
"Hmmm.... Kak, nanti mampir ke toko bahan craft ya," pinta Snow.
"Mau bikin apa?" tanya Bryant.
"Entah nanti, lihat di sana adanya apa," jawab Snow.
"Ok, kita ke butik Tante Rosa dulu ya, habis itu baru ke toko bahan craft, lanjut makan es krim sambil ngerjain tugas, nanti kita nonton, animasi Disney yang ade tunggu sudah ada, trun lanjut makan malam," usul Bryant.
"Nggak kemalamam kak pulangnya, Snow juga butuh komputer buat ngerjain tugas," sahut Snow.
"Oh iya, ade belum punya laptop sendiri ya, nanti sekalian beli ya, nontonnya sehabis MOS aja kalau gitu, nggak apa-apa?" tanya Bryant.
"Nggak apa-apa kak, sekarang langsung pulang juga nggak apa-apa kok," jawab Snow.
"Sekarang kakak ingin main sama kamu, jadi ya kita main aja," Bryant memperlambat laju mobilnya karena sudah berada di dekat butik milik Tante Rosa, mama Alex.
Setelah memarkir mobilnya di area parkir di depan butik, Bryant mengajak Snow masuk ke dalam butik.
"Selamat siang, selamat datang di Rosaline Boutique," sapa seorang pegawai Rosaline Boutique.
"Siang, Tante Rosa ada?" tanya Bryant.
"Ada, beliau sedang menerima telepon dari sahabatnya, mohon ditunggu sebentar," jawab pegawai itu.
"Baik, terima kasih," balas Bryant.
Mereka berdua diantarkan ke ruang tunggu bernuansa vintage dengan satu set sofa yang juga bergaya vintage, setelah Bryant dan Snow duduk, pegawai butik itu segera mohon diri untuk memberitahukan pada Tante Rosa kalau ada tamu menunggu. Tak berapa lama pegawai itu datang lagi dengan membawa dua cangkir teh dan dua piring cheese cake.
"Silakan dinikmati, sebentar lagi ibu kemari," ucap pegawai itu dengan ramah.
"Terima kasih," sahut Snow.
Bryant mengambil piring cheese cake lalu menyuapkannya ke mulut Snow sedikit demi sedikit, Snow menurut, kakaknya memang senang sekali menyuapinya walau Snow sering bilang mau makan sendiri, tetapi selalu saja Bryant bersikeras menyuapinya.
"Lho, ternyata kalian yang datang, kenapa nggak langsung masuk ke ruangan tante aja tadi?" seru seorang wanita paruh baya yang masuk ke dalam ruang tunggu tempat Bryant dan Snow duduk.
"Siang Tante Rosa," sapa Snow ramah.
"Aih, Snow tambah cantik saja," Tante Rosa menghampiri Snow dan memeluknya dengan hangat, mencium kedua pipinya tak lupa menarik gemas hidung Snow.
"Tante apa kabar?" Bryant memberi salam.
"Kabar baik, kamu tuh ya, mbok kalau ke rumah Snow diajak, biar Snow main sama tante, atau kamu titipkan Snow di rumah tante, biar tante nggak kesepian," omel Tante Rosa.
"Kalau Snow tinggal di rumah tante, gantian Bryant dong yang kesepian tan?" sahut Bryant pura-pura kesal.
"Kamu kan jarang di rumah, lagian Snow butuh bimbingan dari wanita dewasa, kamu laki-laki mana tau apa yang jadi keinginan dan kebutuhan wanita?" omel Tanter Rosa, dan Bryant tau kalau maksud Tante Rosa itu baik, hanya ingin membantu mengisi kekosongan sosok ibu yang tak pernah mendampingi Snow sejak Snow lahir.
"Iya tante, kapan-kapan Bryant ajak Snow kesana," ucap Bryant yang akhirnya mengalah.
"Nah, giti dong. Kalian kesini mau cari baju buat Snow?" tanya Tante Rosa antusias, dia paling senang kalau memilihkan baju untuk Snow, rasanya seperti memilihkan baju untuk anak perempuannya sendiri, maklum saja karena anak Tante Rosa semuanya lelaki, Alex dan kedya orang kakaknya semua lelaki, bahkan cucu Tante Rosa pun keduanya lelaki. Karena itulah Tante Rosa sangat menyayangi Snow.
"Iya tante, kan minggu depan Willy adakan pesta ulang tahun, dan Snow belum ada baju," jelas Bryant.
"Bohong tante, baju yang tempo hari aja belum sempat Snow pakai," geruti Snow.
"Nggak apa-apa, ayo sini tante pilihkan, kebetulan design tante ada yang baru selesai dibuat," Tante Roda mengajak Snow ke sebuah ruangan khusus yang menampilkan design limited edition karya Tante Rosa.
"Waaah, cantik-cantik tan," gumam Snow, mulutnya berdecak kagum melihat barisan delapan gaun yang terpasang di manekin di dalam ruangan itu.
"Nah kan, ini semua design baru tante," sahut Tante Rosa bangga.
"Ini cantik banget, tante," ucap Snow sambil memandang takjub sebuah gaun berwarna baby purple.
Dress midi berlengan panjang, dengan model flare skirt, dengan ruffles di bagian lengan dan bawah roknya, detail prada di bagian d**a menambah manis dress sederhana itu.
"Snow suka yang itu? Cepat di coba, ini sepatu dan tasnya," pinta Tante Rosa seraya mendorong Snow masuk fitting room.
Bryant tersenyum getir, seandainya mama mereka mau memanjakan Snow seperti apa yang dilakukan Tante Rosa, tentulah Snow akan lebih bahagia.
Selagi menunggu Snow mencoba dressnya, Bryant berkeliling butik dan memilih beberapa pakaian untuk Snow, tanpa memikirkan harga, barang apapun untuk adiknya dia tak pernah berpikir panjang.
Setelah beberapa saat menunggu, Snow keluar dari fitting romm memakai dress midi pilihannya, lengkap dengan handbag dan stiletto.
Tubuh Snow yang mungil tampak begitu pas dengan dress yang dipakainya, karena walau Snow hanya mempunyai tinggi 165cm, bentuk tubuh Snow sangat indah, dengan porsi lemak yang sesuai pada tempatnya.
Bryant mengacungkan kedua ibu jarinya dan tersenyum senang, segera dia menghampiri sang adik dan memeluknya, lalj menghujaninya ciuman di pipi dan kening saking gemas melihat penampilan adiknya.
Gerah melihat kelakuan Bryant, Tante Rosa menarik Snow agar menjauh dari Bryant.
"Kamu jangan sering gitu sama Snow, orang yang nggak tau hubungan kalian bisa salah paham, nanti dikira Snow pacaran sama om-om," omel Tante Rosa yang langsung membuat Bryant cemberut dan Snow tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaha.... Kakak jadi om-om," Snow tergelak keras.
"Tante gitu banget sih, Bryant masih umur 23 tahun, apanya yang om-om sih, tan?" gerutu Bryant kesal.
"Ya om-om lah, kamu tuh dah pantes gendong ponakan tau," omel Tante Rosa.
"Itu kan Alex, tan. Bryant masih muda, lagian Bryant sulung, ponakan siapa coba?" gerutu Bryant semakin kesal.
"Iya, iya.... Jadi ini aja buat Snow?" tanya Tante Rosa setelah mengalah berdebat dengan Bryant.
"Sama itu tan, sudah Bryant bayar, kurang dress yang ade pakai itu aja, karena pegawai tante belum tau harganya," jawab Bryant sambil menunjuk ke arah barisan paper bag di meja kasir.
"Tante udah bilang berkali-kali, kalau buat Snow ambil saja, nggak uash bayar-bayar," omel Tante Rosa.
"Ya kalau nggak boleh bayar nggak jadi aja deh, tan," rajuk Bryant setengah mengancam.
"Haish kamu itu, ngeyel! Ya udah, itu aja yang bayar, dress ini sama aksesorisnya tante hadiahkan buat Snow, hadiah masuk SMU impian," ucap Tante Rosa memaksa dan jelas tak bisa ditawar lagi.
"Terima kasih banyak, tante," ucap Snow tulus sambil memeluk Tante Rosa dengan erat, Tante Rosa membalas pelukan Snow, membuat mata Snow berkaca-kaca membayangkan mamanya sedang memeluknya. Tubuh Snow bergetar menahan sesak karena menginginkan kehangatan pelukan seorang ibu, Tante Rosa merasakannya, lalu mengeratkan pelukannya.
"Ada tante, jangan sedih, anggap tante seperti mama kamu sendiri, tante sayang sekali sama Snow, jangan sedih ya nak," bisik Tante Rosa sambil mengusap lembut kepala Snow.
Snow mengangguk perlahan, berusaha keras menahan genangan air matanya agar tak jatuh ke pipinya.
"Snow juga sayang Tante Rosa" balas Snow lirih, Tante Rosa melonggarkan pelukannya lalu menangkupkan tangannya di kedua pipi Snow.
"Anak cantik tante jangan sedih, harus banyak senyum, harus bahagia, janji?" hibur Tante Rosa.
"Janji, tante," sahut Snow sambil mengangguk tegas.
Tante Rosa mencium kedua pipi Snow dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
Hati Bryant sakit melihat interaksi adikkmya dan mama dari sahabatnya. Kenapa mamanya tak bisa bersikap lembut kepada Snow barang semenit saja? Mamanya selalu melontarkan kata kasar pada Snow, cacian dan cemoohan selalu meluncur dengan bebasnya dari mulut mamanya, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Snow saat mendengarnya.
Setelah selesai mengemas dress yang dipilih tadi, Bryant segera mengajak Snow menuju toko bahan craft yang terletak di sebuah pasar grosir yang terletak di pusat kota.
Di sana Snow membeli 925 Silver wire dan batu permata Aquamarine bersertifikat dengan 3 ukuran 3 buah berukuran 1cm, 1 buah berukuran 6mm dan 2 buah berukuran 4mm.
"Snow mau bikin apa?" tanya Bryant.
"Tie clip sama cufflinks kak," jawab Snow sambil memilih kertas untuk membungkus hadiah yang akan dibuatnya untuk Willy.
"Huh, kok beli permata segala, Aquamarine pula?" tanya Bryant penasaran.
"Kan birthstone Kak Willy itu Aquamarine," jawab Snow yang lalu bergegas menuju ke kasir untuk membayar belanjaannya.
"Berapa mba?" tanya Snow kepada kasir.
"Semuanya 2,7 dik," jawab sang kasir.
"Pakai debit ya mba," sahut Snow sambil mengulurkan kartu debitnya.
"Pakai punya kakak saja, uang Snow buat kepentingan yang lain," Bryant mengulurkan black cardnya kepada kasir.
Snow merengut.
"Kan ini kado ade buat kak Willy, kalau kakak yang bayar jadi kado dari kakak dong," ucap Snow bersungut-sungut.
"Ya tetap kado dari ade, kan nanti ade yang bikin, kakak cuma beliin bahannya. Gantinya kakak juga mau ade buatin satu set clip tie sama cufflinks ya, pakai birthstone kakak," bujuk Bryant.
"Ya udah, kalau gitu ade beli sekalian birthstone kakak," sahut Snow sumringah, jarang-jarang kakaknya minta dibuatkan sesuatu, jadi saat Bryant meminta dibuatkan sesuatu, entah makanan atau barang, dia selalu dengan antusias membuatkannya.
Setelah memilih permata yang merupakan birthstone Bryant, Snow segera ke kasir.
"Pinternya adikku," puji Bryant saat melihat Snow membawa 6 kotak kecil berisi Blue Sapphire, yang merupakan batu kelahirannya.
"Kalau sudah jadi harus di pakai ya kak," pinta Snow, "Tapi ini mahal kak, ade ambil yang Twilight Blue 15,6ct," sambung Snow takut-takut, karena harga Sapphire Twilight Blue adalah yang termahal, karena kepekatan warnanya dan juga kadar karatnya.
"Nggak apa-apa, kakak juga yang pakai kok," sahut Bryant, sambil meletakkan batu pilihan adiknya ke atas meja kasir.
Selesai membayar, mereka berdua berjalan keluar menuju tempat parkir. Waktu masih menunjuk pukul 17:00, Bryant mengajak Snow ke kedai es krim yang baru buka di salah satu mall di kota tempat mereka tinggal. Di sana mereka bersantai memakan es krim dan juga kudapan ringan, sambil Snow mengerjakan tugas MOS menggunakan laptop Bryant.
Tiba-tiba ponsel Snow di atas meja berbunyi dan ID pemanggil adalah 'MAMA', wajah Snow memucat, dengan tangan gemetaran, Snow berniat menjawab telepon dari mamanya, namun Bryant dengan cepat meraih ponsel itu, lalu menjawab panggilan dari mamanya.
'Anak liar tak tau diri, ngelayap kemana kamu? Mama sudah bilang hari ini mama papa mau datang, masak makanan kesukaan papa, apa kamu terlalu bodoh untuk bisa paham bahasa tulisan? Pulang sekarang, anak liar!!!!' bentak mamanya keras.
Kening Bryant berkerut, matanya memancarkan kemarahan.
'Siapa yang mama sebut anak liar? Snow pergi sama Bryant, kami nggak akan pulang sebelum pukul 10 malam, mama sama papa silakan makan malam di rumah, Bu Mimi sudah menyiapkan semuanya.' ucap Bryant dingin mengagetkan Lizzy, mama mereka.
'Ngapain dia belum pulang, suruh pulang cepat, sudah berani melawan perintah mama dia??' bentak Lizzy.
'Yang mama panggil 'dia, itu punya nama, ma. Snow namanya, anak perempuan mama, bukan pembantu yang bisa mama suruh ini itu sesuka hati,' sahut Bryant dengan nada meninggi.
'Apa yang salah menyuruh dia? Mama yang mengandung, mama yang melahirkan, mama juga yang merawat dia, harusnya dia bersyukur, dia berhutang budi sama mama,' balas Lizzy yang semakin emosi karena Bryant berani bicara padanya dengan nada tinggi hanya untuk membela Snow.
'Astaga, itu kewajiban mama sebagai orang tua, kenapa dianggap hutang budi? Dan lagi yang merawat Snow dari sejak dia baru lahir sampai sebesar ini adalah almarhum oma, opa, nenek dan kakek, mama sekalipun tak pernah menyentuh Snow. Papa dan mama hanya mengeluarkan uang untuk biaya hidup dan sekolah Snow, katakan berapa jumlahnya, Bryant akan ganti.' ucap Bryant sambil menggebrak meja, Snow terlompat kaget dan menunduk takut, begitupun dengan pengunjung kedai es krim itu.
Bryant segera meraih kepala Snow dan membawanya ke dalam pelukannya, sambil menepuk-nepuk perlahan punggung Snow yang gemetaran.
'Sekali lagi mama dan papa menyebut Snow anak liar dan menyuruhnya melakukan pekerjaan pembantu, Bryant jamin, papa dan mama nggak akan pernah melihat kami berdua lagi!!!' ancam Bryant yang segera memutus sambungan telepon mamanya.
Diletakkannya ponsel Snow di meja, lalu Bryant mempererat pelukannya pada Snow yang masih gemetaran.
"Kakak, kita pulang, Snow nggak mau mama papa semakin benci sama Snow," isak Snow pilu.
"Biar saja, tanpa mereka kita berdua masih bisa hidup, kakak akan menjaga Snow sampai kapanpun," janji Bryant.
"Snow nggak mau jadi anak durhaka, kak," gumam Snow.
"Kata durhaka nggak melulu untuk anak, oran tua juga bisa durhaka kepada anaknya, mereka duluan yang menyia-nyiakan kamu, jadi mereka tak boleh berharap apapun darimu," ucap Bryant, "Kakak akan bayar semua biaya yang papa mama keluarkan untukmu, setelah itu hiduplah dengan nyaman dan bahagia bersama kakak, tanpa beban hutang budi dan tanpa memikirkan pekerjaan rumah tangga. Kakak sanggup membahagiakan dan menjagamu sampai tiba saatnya kakak melepasmu pada pendampingmu kelak," tambah Bryant dengan tulus, dia bertekad akan membebaskan Snow dari kesemena-menaan orang tuanya.
"Berhentilah menangis, kakak sedih lihat Snow nangis seperti ini. Snow harus bahagia, ada kakak, ada Kak Alex, Kak Willy, Tante Rosa dan Om Adi, Tante Winnie dan Om Bagas, mereka semua sayang Snow, sekarang pun Snow punya sahabat baru kan?" hibur Bryant sambil mengusap air mata adiknya yang mengalir deras di pipi sang adik.
"Snow takut pulang kak, takut mama papa mengamuk," gumam Snow.
"Kalau gitu kita nggak usah pulang ke rumah, kita balik ke apartemen lama kakak aja gimana?" usul Bryant.
"Seragam ade buat besok kak?" sahut Snow, dia bingung, antara tak ingin pulang karena takut tapi dia harus sekolah besok dan seragamnya ada di rumah kakaknya.
"Hitam putih, kan? Kita beli habis ini ya, selesaikan dulu tugasnya, kita juga harus beli laptop untuk ade pakai," sahut Bryant, dia memanggil waitress dan memesan vanilla shake dan potato salad.
"Kakaķ jangan boros," seru Snow.
"Nggak boros kalau buat adik satu-satunya, kakak nggak perlu sayang duit, yang penting sayang adik saja," sahut Bryant.
Snow menghambur memeluk Bryant dengan erat.
"Snow sayang sekali sama kak Bryant," ģumam Snow.
"Harus dong, kan kakak Snow satu-satunya, kakak terganteng di seluruh dunia," gurau Bryant.
"Ganteng tapi jomblo kan percuma saja kak," goda Snow.
"Kakak sengaja jomblo biar bisa jagain kamu, kakak pasti nikah kok, tapi setelah Snow ada pendamping yang bisa gantiin kakak menjaga dan membahagiakan Snow," sahut Bryant serius sambil mengecup kening Snow.
Tanpa mereka sadari, mereka menjadi pusat perhatian pengunjung kedai itu, tak sedikit dari mereka mengambil foto ataupun video kemesraan kakak beradik itu dan menguploadnya di sosial media, sayangnya mereka menggunakan caption yang tak sesuai fakta, yang membawa petaka yang harus dihadapi Snow di sekolah.
Dengan bantuan Bryant, Snow menyelesaikan tugasnya dengan cepat, lalu setelah membayar bill, Bryant mengajak Snow membeli laptop dan juga baju untuk Snow sekolah besok pagi.
Karena waktu masih menunjuk pukul 18:20, Bryant memutuskan untuk mengajak Snow menonton film animasi yang sudah Snow nantikan penayangannya.
Dan selepas menonton film, mereka berdua keluar dari mall untuk makan malam.
Snow mengajak Bryant untuk makan di lesehan langganan mereka, dan memesan menu favorite mereka berdua, ayam kampung penyet dan sambal terong. Entah lapar, entah doyan, mereka berdua sama-sama menambah nasi dan lauk.
Setelah makan, Bryant melajukan mobilnya menuju apartemen lamanya.
Sedari tadi sore, setelah mamanya menelepon Snow, dia mematikan ponsel Snow dan ponselnya. Tak ingin meladeni mama dan papanya yang tak masuk akal. Selama ini dia lebih banyak diam karena setelah Neneknya meninggal, Snow terpaksa tinggal dengan orang tua mereka, saat itu kondisi perusahaan keluarga Diatmaya belum stabil, sehingga Bryant sangat sibuk dan jarang pulang, ditambah dia juga tinggal di apartemen studio. Dan setelah kondisi perusahaan stabil, Bryant segera membeli rumah dan membawa Snow untuk tinggal bersamanya, tujuannya agar Snow tak lagi menerima siksaan verbal dari papa dan mamanya. Namun ternyata papa dan mamanya tak berhenti begitu saja, mereka terus mencecar dan mencemooh Snow melalui ponsel. Ditambah lagi mereka selalu menanamkan keyakinan pada Snow, kalau Snow hanya menumpang di rumah Bryant dan dibayar mingguan untuk mengurus makan Bryant sehari tiga kali.
Ingin rasanya melaporkan kedua orang tua mereka ke lembaga KPAI, namun Bryant masih berusaha menyadarkan mereka kalau Snow juga memerlukan kasih sayang orang tua, sama seperti saat Bryant kecil dulu.
Sesampainya di apartemen Bryant, Snow segera mengambil sapu dan kemoceng, berniat membersihkannya dulu, namun Bryant menghentikannya.
"Ade mau ngapain?" tanya Bryant sambil mengerutkan keningnya.
"Bersih-bersih, kan sudah 3 bulan kakak nggak di sini," jawab Snow.
"Kakak tadi sudah minta pengurus gedung buat panggil tukang bersih-bersuh," sahut Bryant sambit memijat kepalanya.
"Oh.... Snow nggak tau kak," ucap Snow sambil menaruh kembali sapu dan kemoceng ke dalam almari perkakas.
"Ingat ya Snow, selama tinggal sama kakak, kamu nggak usah ngapa-ngapain, termasuk masak buat kakak, nggak usah, ok?" pinta Bryant.
"Masa ade nggak boleh masak?" gerutu Snow sedih.
"Boleh, tapi nggak usah maksain, kalay capek nggak usah masak, kalau nggak mood, ngga usah masak, deal?" bujuk Bryant, dia harus mengubah mindset Snow, bahwa dia bukan orang yang menumpang hidup pada Bryant.
"Iya deh kak, Snow nurut," akhirnya Snow mengiyakan dengan pasrah.
"Nah, sekarang mandi, bau acem nih ade," ledek Bryant.
"Enak aja, Snow wangi tau kak," protes Snow yang segera mengambil handuk dari kabinet di sebelah kamar mandi lalu bergegas mandi.
Setelah mereka berdua mandi, mereka berbaring bersama di ranjang queen size yang berada di kamar Bryant, karena apartemen ini hanya punya 1 kamar.
"Snow tidur ya, kakak ada kerjaan sedikit, nanti kakak nyusul tidur," ucap Bryant sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh Snow.
"Iya kak, Snow besok harus bangun pagi, kan sekolah jauh dari sini," sahut Snow.
"Besok kakak antar, sekarang tidur ya," dikecupnya kening Snow, setelah snow memejamkan mata, Bryant beranjak keluar kamar sambil membawa ponselnya dan ponsel Snow.
Di ruang keluarga, Bryant menyalakan kedua ponsel di tangannya bersamaan.
Sesaat setelah menyala, suara pop up notifikasi terdengar bersahutan dari kedua ponsel yang ada di tangannya.
Wajahnya menggelap, matanya memancarkan amarah yang tak terkira, saat membuka notifikasi pesan di ponsel Snow, 47 panggilan suara tak terjawab dari nomor papa dan mamanya, serta 23 pesan belum terbaca dari mamanya yang berisi kata-kata kasar yang mencemooh dan menghujat Snow.
Dengan geram dan tanpa pikir panjang, Bryant memblokir nomor papa dan mamanya dari ponsel Snow. Dia tak peduli, Bryant hanya ingin adiknya tidak mengalami kekerasan verbal dari orang tua mereka lagi, walaupun Bryant harus melawan dan durhaka pada mereka.