Tepat pukul 17:30, Keanu dan Selli berpamitan pulang, setelah memesan ojek dan taksi online. Kebetulan rumah Selli jaraknya sedikit jauh dari rumah Snow.
Setelah kedua temannya pulang, Snow segera merapikan ruang tamu dan bergegas menyiapkan makan malam sebelum kakaknya pulang.
Snow memutuskan membuat pasta saja yang simple dan cepat, karena tadi Bryant sudah mengirim pesan kalau akan sampai rumah sekitar pukul 19:00.
Sementara Snow merebus pasta ravioli, tangannya sibuk mencincang bumbu-bumbu, bawang bombay, baeang putih, dan lainnya, tak lupa dia menghaluskan daun basil, almond, bawang putih dan parsley. Setelah selesai merebus dan meniriskan pasta, Snow bergegas mandi dan beristirahat sebentar sambil menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa besok.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada panggilan suara masuk, Snow melihat nama kakaknya tertera di layar, buru-buru Snow mengangkat telepon.
"Halo, kak... Sudah mau pulang?" tanya Snow setelah mengangkat telepon.
"Iya, ini baru keluar dari basement, paking sampai rumah sekitar 30 menitan. Snow masak apa?" jawab Bryant.
"Ravioli pesto sauce kak, nggak apa-apa kan, kak? Snow selesai ngerjain tugas buat besok baru tadi jam limaan," sahut Snow, merasa bersalah karena tak bisa menghidangkan nasi untuk makan malam kakaknya.
"Nggak apa-apa, harusnya tadi bilang aja, jadi nggak usah masak, kita makan di luar, jangan maksain diri, Snow," ucap Bryant sabar.
"Nggak apa-apa kak, Snow kan sudah numpang di sini, kalau nggak bisa nyiapin makanan buat kakak, nanti mama marahi Snow. Lagian Snow nggak memaksakan diri kok," sahut Snow getir. Mamanya memang menyuruhnya tinggal bersama Bryant agar menu makan Bryant dalam sehari terpenuhi, mamanya tak mau mempekerjakan chef, karena Snow kemampuannya setara dengan kemampuan chef restoran berbintang lima.
"Kamu ngomong apa? Kamu itu adikku, bukan pembantu, bukan orang yang numpang tinggal!!! Nggak usah dengar kata mama, selama Snow tinggal sama kakak, Snow jadi tanggung jawab kakak, jadi harus nurut omongan kakak!" perintah Bryant tegas, dia benci sekali dengan perlakuan orang tuanya yang membedakannya dengan Snow, dan itu sering membuat Snow terluka.
"Ya kan Snow masakin kakak nggak gratis, kan seminggu sekali kakak bayar Snow, itu kata mama, jadi Snow nggak boleh malas," gumam Snow lirih tapi masih terdengar di telinga Bryant yang seketika membuat Bryant meradang.
"SNOW, ITU UANG SAKU, BUKAN BAYARAN, KARENA KAMU ADIKKU, BUKAN PEMBANTUKU!!!" bentak Bryant keras, emosinya meledak, Alex dan Willy yang berada di dalam mobil menegang.
"Ma-maaf kak.... Ma-maafkan Snow...." isak Snow yang buru-buru memutus sambungan telepon mereka.
"Snow.... Ade...." panggil Bryant panik, ditekannya lagi nomor Snow, tapi ponselnya tak aktif. Frustasi, Bryant meminta Willy mempercepat laju mobil yang mereka kendarai. Namun secepat apapun laju mobil mereka, karena ini merupakan waktu pulang kerja kantor-kantor di kota ini, jadi arus lalu lintas menjadi macet dan menambah gusar Bryant.
Setelah 35 menit perjalanan, akhirnya mobil mereka masuk ke halaman rumah Bryant.
"Buka, Will!!! Cepat buka!!!" perintah Bryant pada Willy, dan Willy segera membuka kunci pintu mobil.
Bryant melesat secepat kilat masuk ke dalam rumah, melihat sekeliling dia tak mendapati Snow, yang dia lihat hanya tiga piring pasta yang masih mengepul panas. Bryant melongok ke dapur hanya melihat Bu Mimi yang sedang merapikan dapur.
"Eh, den Bryant sudah pulang? Makan malamnya sudah siap, den," sapa Bu Mimi ramah, dia adalah pengurus rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
"Iya, Bu .... Terima kasih. Snow dimana, bu?" tanya Bryant cemas.
"Non Snow di kamar, den. Tidur, capek katanya," jawab Bu Mimj.
"Snow sudah makan?" tanya Bryant.
"Sudah den," jawab Bu Mimi, Bryant langsung bernafas lega.
Tak lama Willy dan Alex masuk ke dalam rumah.
"Mana ade?" tanya Alex sambil mencari-cari keberadaan Snow.
"Tidur," jawab Bryant lesu, "Makan dulu, mumpung masih panas," ajak Bryant.
"Nyamperin ade dulu, ah," tolak Alex, hendak melangkah ke kamar Snow.
"Jangan, biar Snow tidur dulu, kasihan cape dia!" cegah Willy.
"Ah.... Cape apa karena sakit hati dibentak sama Bryant?" celetuk Alex sengit.
"Haaaah..... Iya, aku salah, makan lah dulu, aku akan menemui Snow selesai makan," sahut Bryant lesu.
Dan merekapun segera makan dalam hening.
Bryant, Alex dan Willy adalah tiga orang sahabat karib, mereka berteman sejak masih berusia balita, karena orang tua mereka juga bersahabat baik. Dari ketiganya, hanya Bryant yang merupakan anak sulung dan sebagai pewaris tunggal usaha keluarga, sedangkan Alex dan Willy merupakan anak bungsu dari keluarga mereka masing-masing, sehingga mereka bukan pewaris utama usaha keluarga. Mereka bekerja pada perusahaan keluarga Bryant dan sedang merintis sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan.
"Bro, kamu jangan seperti itu pada Snow, kasihan dia," ucap Willy.
"Aku tau, tapi aku kesal, Snow selalu saja terpaku sama perkataan mama. Mama juga keterlaluan, padahal Snow juga anaknya. Itulah kenapa aku meminta Snow untuk tinggal di sini, agar ada yang mengurus dan memperhatikannya," sahut Bryant sendu.
"Aku nggak habis pikir sama Tante Lizy, apa salah Snow sampai diperlakukan berbeda, tak sama seperti perlakuan mereka padamu. Kalau memang tak menginginkan kehadiran Snow, kenapa nggak digugurkan saja dulu kandungannya? Kalau sudah seperti ini kasihan ade," ucap Alex kesal, "Kalau memang mereka nggak mau urus ade, biar saja orang tuaku yang urus, mereka sayang banget sama Snow," sambung Alex yang disambut pelototan sengit dari Bryant.
"Snow itu adikku!" gertak Bryant.
"Aku tau, tapi Snow nggak hanya butuh kasih sayang kakaknya, dia juga butuh kasih sayang orang tua, dan orang tua kalian nggak bisa kasih itu ke Snow, setidaknya kalau sama orang tuaku, Snow akan lebih diperhatikan," sahut Alex sengit.
"Apa kau bilang?!" bentak Bryant.
"Aish, sudahlah kalian berdua. Daripada ribut, sebaiknya kita jalani aja apa yang ada di depan kita, Snow senang di sini, ada kita yang menyayangi dia, semoga saja om dan tante segera dibukakan hatinya agar bisa menyayangi Snow, lagian kita juga bisa gantian ajak Snow ke rumah," lerai Willy, dia bosan karena setiap mereka membahas Snow, pasti Alex dan Bryant akan adu mulut.
"Huh!" dengus Alex dan Bryant bersamaan.
Lalu mereka melanjutkan makan malam dengan diam, hanya dentingan alat makan yang terdengar.
Selesai makan, Bryant meminta kedua sahabatnya menunggunya di ruang tamu, sementara dia ingin menemui Snow di kamarnya.
Tok tok tok!!!
Bryant mengetuk pintu kamar Snow perlahan, namun hening tak ada jawaban. Bryant memutar knop pintu kamar Snow, tapi kemudian Bryan mengernyitkan keningnya. Dikunci?
Selama ini Snow tak pernah mengunci pintu kamarnya, ini membuat Bryant panik, diketuknya pintu kamar Snow beberapa kali sambil memanggil Snow dengan suara sedikit keras.
"Snow.... Ade.... Buka pintu.... Snow... Snow....." panggil Bryant panik.
Alex dan Willy yang mendengar suara panggilan yang bernada panik itu segera menghampiri Bryant.
"Kenapa?" tanya Willy.
"Snow kunci pintu kamarnya, nggak pernah dia begini," jawab Bryant gusar, lalu dia bergegas ke lemari kaca tempat menyimpan kunci rumah dan kunci mobil, segera dia mengambil kunci cadangan kamar Snow. Namun saat Bryant mencoba memasukkan anak kunci ke dalam lubang kunci, ternyata tak bisa, tandanya kunci masih tertancap di sana.
"Snow.... Ade.... Buka pintu dong sayang, kakak minta maaf, kakak janji nggak akan bentak-benta ade lagi!" seru Bryant gusar, namun tetap tak ada response dari dalam kamar, membuat Bryant semakin panik.
"Sudah, biarkan Snow istirahat dan menenangkan diri, besok juga baik, besok pagi minta maaf baik-baik sama Snow," ucap Willy menenangkan.
"Snow, kalau nggak betah disini, ke rumah Kak Alex aja, mama papa Kak Alex sayang sama Snow, pasti Snow betah dan bahagia tinggal sama kakak!" seru Alex memperkeruh suasana hati Bryant.
"Cari mati kau?" bentak Bryant geram.
"Huh... Aku pulang, niatku kesini tadi pengen ketemu sama Snow, tapi gara-gara tukang bentak, jadi gagal ketemu adik kesayanganku," sahut Alex sambil ngeloyor pergi.
"Snow itu adikku!!" teriak Bryant kesal.
"Ck.... Otak dipakai dikit kenapa, bro?! Dia cuma mau manasin kamu aja, kamu malah kemakan provokasinya," kata Willy sambil menepuk bahu Bryant.
"Aku balik dulu, mobil kubawa sekalian antar Alex balik, besok kujemput jam 08:00," Willy melangkahkan kakinya keluar dari rumah Bryant, tak lama mobil Maybach S-680 warna putih hitam, melaju perlahan meninggalkan rumah Bryant.
Dengan langkah gontai, Bryant masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Snow.
Sementara di dalam kamar Snow, dia menangis lirih, dia tidak tidur, dia hanya sedih mendengar perkataan kakaknya di telepon tadi, ditambah dia juga mendengar pertengkaran antara kakaknya dan Alex. Benar kata Alex, kalau orang tua Alex jauh lebih menyayanginya daripada orang tuanya sendiri, yang cenderung tak peduli dengan keberadaannya, segala bentuk prestasi yang pernah diraihnya di bidang cuisines dan art / craft tak pernah sekalipun mendapat apresiasi dari kedua orang tuanya, bahkan mereka lupa kapan ulang tahun putri mereka. Snow hanya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sang kakak, kedua orang sahabat kakaknya dan juga keluarga dari sahabat kakaknya. Seandainya kakek nenek dan juga opa omanya masih ada, akan sedikit mengikis luka hati Snow. Dia sekarang sangat merasa kalau dia benar-benar anak yang tak diinginkan oleh orang tuanya.
Kata-kata Alex terngiang di telinganya.
' Aku nggak habis pikir sama Tante Lizy, apa salah Snow sampai diperlakukan berbeda, tak sama seperti perlakuan mereka padamu. Kalau memang tak menginginkan kehadiran Snow, kenapa nggak digugurkan saja dulu kandungannya? Kalau sudah seperti ini kasihan ade,'
Benar kata Alex, seharusnya dulu mamanya melenyapkannya saat dia masih berada di kandungan, bukannya menyiksa batinnya seperti ini.
Kembali Snow terisak sedih, ingin rasanya pergi meninggalkan dunia ini, tapi itu akan membuat kakaknya bersedih. Dalam keluarga ini, hanya kakaknyalah yang menyayanginya dengan tulus, kakaknya yang selalu membelanya di hadapan mama dan papanya, dia tak mau membuat kakaknya bersedih.
Snow terus terisak sedih sampai tanpa sadar dia terlelap karena lelah menangis.
Pagi harinya, Snow bangun pukul 04:30, langsung mengompres matanya pakai irisan kentang untuk meredakan bengkak akibat menangis semalaman. Setelah itu Snow mengeluarkan nugget tempe dari dalam freezer, mendefroznya lalu segera menggorengnya beberapa potong dan mengepacknya ke dalam tiga kotak makan mungil. Setelah itu Snow segera membuat sarapan untuknya dan sang kakak, nasi goreng dan telur sunny side up.
Pukul 05:45, Snow sudah menyelesaikan kegiatan memasak sarapan, lalu ditatanya di atas meja, dia mengambil s**u dan menghangatkannya dalam microwave, kemudian segera melahap sarapannya tanpa menunggu Bryant, dia tak ingin bertemu kakaknya pagi ini.
Selesai sarapan, Snow segera mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah mengecek persiapan terakhir untuk MOS, Snow berpamitan pada Bu Mimi.
"Bu, Snow berangkat dulu ya, nanti Snow pulang agak sore tergantung tugas yang dikasih," pamit Snow.
"Nggak nunggu den Bryant dulu non?" tanya Bu Mimi yang khawatir karena keributan semalam sepertinya kakak beradik ini sedang bertengkar dan sang adik sengaja menghindari kakaknya.
"Snow sudah pesan ojek online kok, Bu. Pulang nanti juga naik ojek saja, Snow berangkat dulu ya, Bu," jawab Snow yang buru-buru melangkahkan kakinya keluar rumah. Di luar sudah menunggu ojek yang dia pesan tadi.
"Maaf, nunggu lama ya kak?" Snow meminta maaf pada sang driver karena menunggunya lumayan lama.
"Enggak kok dik, santai saja, ini helmnya," sahut sang driver sambil mengulurkan helm kepada Snow.
"Jalan santai aja ya kak, masih kepagian ini, hehehehe," pinta Snow seraya naik ke atas motor sang driver.
"Siap dik, berangkat sekarang ya?" sahut sang driver.
"Okay kak, let's go!" balas Snow.
Perlahan, ojek itu membawa Snow meninggalkan rumah Bryant.
Tak berapa lama setelah keberangkatan Snow, Bryant keluar dari kamarnya dalam keadaan sudah rapi. Dia bergegas menuju kamar Snow dan mencoba membukanya, dia menghembuskan nafas lega saat pintu kamar berhasil dibukanya. Namun tak selang lama raut lega itu menghilang saat mendapati kamar Snow sudah kosong dan rapi.
Cepat-cepat Bryan melangkah ke ruang makan, di sana dia hanya mendapati sebuat tudung saji elektrik tertelungkup di atas meja, segera dia membukanya, keningnya berkerut saat melihat hanya ada satu porsi nasi goreng lengkap dengan telur sunny side up.
"Bu Mimi, ade sudah sarapan?" tanya Bryant pada Bu Mimi yang datang membawakannya secangkir kopi.
"Sudah, den. Non Snow baru saja berangkat ke sekolah," jawab Bu Mimi.
"Apa? Kenapa nggak bangunin aku?" tanya Bryant kesal dan juga bingung.
"Kurang tau, den. Sepertinya buru-buru, tadi berangkat naik ojek online," jawab Bu Mimi, takut-takut.
"Aaargh!" teriak Bryan kesal, dia mengusap kasar wajahnya, benar-benar gusar, dia takut Snow semakin terluka hatinya karena ucapannya semalam.
"Tadi bilang pulang jam berapa nggak bu?" tanya Bryant.
"Enggak den, cuma bilang agak sore gitu," jawab Bu Mimi.
"Oh gitu ya, nanti Snow jangan boleh masak ya bu, selama MOS jangan boleh masak, kasihan, capek." pesan Bryant, dia menarik piring nasi goreng dan mulai memakannya.
Sementara itu, Snow sudah sampai di sekolah, dia disambut oleh Keanu dan Selli.
"Pagi Cell!" sapa mereka berdua bersamaan.
"Kok ngojek?" tanya Selli
"Pagi Sell, pagi Kean! Kan Bryant belum bangun tadi, jadi terpaksa berangkat sendiri deh" balas Snow sambil tersenyum datar, "Ini nugget punya kalian," sambung Snow sambil menyerahkan kotak makan mungil berisi 15 potong nugget tempe.
"Keren nih kita bawa tiga macam camilan, keren-keren pula jenisnya, aku tadi tanya-tanya kebanyakan cuma bawa mendoan sama kering tempe," ucap Selli girang.
"Iya, tapi nanti ditanyain macem-macem nggak ya sama senior?" tanya Keanu cemas.
"Tinggal bilang aja kita bikin sama-sama, kan beres, kalau nggak percaya ya tinggal sebutin bahan-bahan sama cara bikinnya, kalau nggak percaya itu dari tempe ya suruh icip aja, kan kita bawa lumayan banyak," jawab Snow, mereka bertiga berjalan beriringan menuju kelas mereka. Tiba-tiba ponsel Snow berdering, Snow berhenti melangkah, setelah melirik untuk melihat ID pemanggilnya, Snow buru-buru mematikan ponselnya dan bergegas mengejar Selli dan Keanu.
"Kenapa dimatiin sih de?!" ucap Bryant frustasi, dia jadi tak semangat kerja, berulang kali dai menelepon Wira agar segera menjemputanya, dia ingin ke sekolah Snow dulu sebelum ke kantor, tapi Willy tak mengangkat teleponnya, dan saat menelepon Snow malah direject, plus sekarang ponselnya dimatiin.
Bryant gusar menunggu Willy menjemputnya. Mondar mandir di ruang tamu, sampai membuat Bu Mimi pening.
Sementara itu Snow dan kedua teman barunya sudah sampai di kelas mereka, tampak Renata memamerkan camilan dan papan nama yang dibuatnya.
Selli tersenyum mengejek, lalu bebisik, "Tebak deh itu keripik pasti beli, kelihatan banget bentuknya bulat kaya merk ***la, cuma direpack di toples aja, trus papan namanya heboh amat pakai pita, bunga, daun-daun sama sticker-sticker, cocok banget sama muka menor yang full make up, dan aku yakin tuh tali bukan rafia tapi pita," bisik Selli lirih, membuat Keanu dan Snow tertawa tertahan.
"Biar ajalah, sesukanya dia aja, kita nggak usah ngurusin, keluarin punya kita nanti kalau sudah bel saja," sahut Snow setengah bergumam, yang diangguki Keanu dan Selli.
Lima belas menit kemudian lonceng sekolah berbunyi, murid-murid kelas 10C bergegas masuk kelas dan menduduki bangku masing-masing, menunggu wali kelas mereka datang sebelum nantinya mereka bersama-sama menuju aula untuk upacara pembukaan MOS tahun ini.
Tak lama kemudian, Kenjiro selaku wali kelas mereka masuk ke dalam kelas 10C, dia tampak mempesona mengenakan kemeja biru muda dengan kerah putih dan dasi biru laut bermotif sepasang lumba-lumba, dipadankan dengan celana hitam fitting cut yang menambah kesan modisnya.
Para siswi menatap lapar ke arah Kenjiro, hanya Selli dan Snow yang tak terpengaruh dengan penampilan dan ketampanan wajah Kenjiro. Kalau Selli sudah jelas menyatakan kalau Kenjiro bukan tipe lelaki yang dia sukai, sedangkan bagi Snow, wajah dan penampilan Kenjiro masih kalah dibandingkan dengan Bryant, Willy dan Alex.
Pekikan pujian yang teman-teman ceweknya lontarkan membuat Snow dan Selli jengah, begitu juga dengan Keanu.
Mereka bertiga mengeluarkan papan nama dan segera memakainya. Keanu berdiri dan bertanya pada Kenjiro dengan lantang,"Pak, kapan kita jalan ke aula? Jangan sampai kita telat dan dapat hukuman satu kelas cuma karena bapak mabuk pujian dari cewek-cewek ABG di kelas ini!" seruan Keanu mendapat hujatan dari pata pengagum Kenjiro, sedangkan Kenjiro menanggapi dengan datar.
"Siapkan dan pakai papan nama kalian, senior kalian akan memeriksanya dulu dan menentukan tiga terbaik, untuk dapat rewards tugas harian, yang diakumulasikan dengan tugas harian lainnya, sekarang yang dinilai papan nama, setelah upacara pembukaan, serahkan tugas barcode dan juga camilan kalian, letakkan di atas meja masing-masing!" seru Kenjiro, lalu segera memanggil dua orang senior dari kelas 11 dan dua orang senior dari kelas 12.
"Halo, perkenalkan saya Dyah Anggraheni kelas 12 Sosial 2, kalian bisa panggil saya Heni," ucap seorang senior cewek berambut pendek yang berwajah jutek tapi manis.
"Saya Dion Cahyo, kelas 12 Science 1," ucap cowok dingin berkacamata.
"Saya Deta Sadiva, kelas 11A dan ini teman sekelas saya Dewata Permana," ucap senior cantik memperkenalkan diri dan temannya. Keempat senior itu semua good looking, sayangnya mereka berwajah jutek dan tak ramah.
Keempat senior itu bergantian menyusuri barisan demi barisan meja, saat mereka tiba di bangku Renata dan Sophia, kening para senior itu derkerut takjub dengan kehebohan papan nama Renata dan Sophia. Namun saat mereka mengamati tali pengikat milik Renata, Heni langsung bilang, "Disqualification!" ucapnya datar, lalu melangkah pergi meninggalkan bangku Renata. Dewa meminta Renata melepas papan namanya.
"Lepas!" perintahnya tegas.
"Ke-kenapa kak?" tanya Renata bingung.
"Tali rafia, bukan pita!" jawab Deta datar.
"Yang penting kan bisa buat gantung, kak!" protes Renata.
"Complaining, minus 10 points!" seru Dewa.
"A-apa?" tanya Renata kaget, karena point yang diperoleh saat MOS digunakan untuk menentukan peringkat siswa baru terbaik, tapi dia malah belum apa-apa sudah minus 10.
"Yang jadi peringkat 3 terbaik Kunyit, Pete dan Seledri," ucap Dion
"Tapi kalau boleh tanya kenapa tulisan dan lukisan hampir mirip-mirip?" sambung Dion penasaran.
"Kami ngerjain sama-sama kak, kemarin sepulang perkenalan," jawab Snow sambil tersenyum.
"Kalian dari SMP yang sama?" tanya Dion.
"Lain kak, kami baru saling kenal kemarin, beruntung cocok jadi bisa langsung berteman," jawab Snow sambil tetap tersenyum manis, membuat Dion terpaku. Kenji yang duduk di bangku guru merasa geram melihat Dion yang terpesona oleh senyuman Snow.
"Oh, begitu... Kalian bertiga masing-masih dapat 20 poin," seru Dion yang segera berbalik dan melangkah ke depan kelas, takut kalau kelamaan menatap Snow jadi semakin kepincut.
Kenjiro bernafas lega, akhirnya menyingkir juga tuh bocah dari hadapan Snow.
"Baiklah, sekarang kita segera ke aula, untuk Renata, nanti siap-siap berdiri di tengah aula untuk mendapat hukuman!" seru Kenjiro yang mengejutkan semua siswa. Mereka mengira hanya akan mendapat nilai minus, tapi ternyata dapat hukuman juga, hukuman dihadapan seluruh siswa baru, tentu akan sangat memalukan. Para siswa yang lolos dari hukuman bernafas lega dan memandang iba pada Renata.
"Heh, bener kan aku bilang tadi, talinya itu dari pita, hahahahaha.... banyak gaya sih, kena hukuman deh," ejek Selli sambil bebisik di telinga Snow.
"Hush, nggak usah ngurusin orang lain, yang penting kita jangan bikin kesalahan aja," balas Snow yang juga berbisik.
"Kujamin saat penilaian camilan dia kena hukum lagi, hihihi," Selli terkikik geli.
"Biari aja, asal bukan kita yang kena hukum," balas Snow.
"Heh, rumpi.... Pada bahas apa sih? Kok nggak ngajakin?" tanya Keanu kesal sambil merangkul bahu kedua temannya.
"Dih, kepo!" jawab Snow dan Selli bersamaan.
"Kalian berdua mencurigakan, lagi berebut aku ya?" tanya Keanu sambil cengengesan.
"Huek... Najis Kean!" seru Selli setelah berpura-pura muntah.
"Pede ada batasannya kali Kean, over pede bikin over dosis tau nggak?" timpal Snow pura-pura kesal.
"Dasar teman nggak ada akhlak, aku ini ganteng tau.... Good looking, banyak yang suka aku," protes Keanu.
"Tapi kami berdua kan engga?!" sahut Snow yang otomatis diiyakan Selli dan mereka berdua terkekeh gembira.
"Sialan kaliaaan!!!" Keanu memiting kepala Snow dan Selli sambil berjalan menuju aula. Bukannya minta dilepas, tapi Snow dan Selli semakin terbahak dan membuat Keanu bertambah kesal.
"Awas kalian berdua!" ancam Keanu.
"Awas apa coba? Kalau kamu macam-macam kita tinggal coret namamu dari daftar kelompok ngerjain PR buat MOS!" Selli balik mengancam Keanu sambil menjulurkan lidahnya.
"Eh, nggak bisa gitu dong Sell!" protes Keanu.
"Bisa lah, nggak ada peraturan juga, weeee..." goda Selli.
"Snow?" tanya Keanu memandang ke arah Snow, mengiba.
"Nggak usah dengerin Selli, tapi bisa nggak sih kalian berdua semenit aja nggak ribut?" tanya Snow mulai pening.
"Siap boss!" jawab Selli dan Keanu kompak.
Mereka akhirnya sampai di aula dan segera berbaris rapi
Renata berdiri di tengah aula bersama seorang siswa yang terlihat nakal, namun wajahnya cukup menarik, terlihat keduanya saling melirik menggoda.
Selli yang melihat hal itu merasa jijik.
"Renata emang bakat menggoda ya, dihukum aja masih sempat genit-genitan gitu, hiiiy," bisiknya.
"Biar saja, selama nggak ngganggu kita," sahut Snow.
Tak berapa lama upacara pembukaan dimulai, semua mengikuti dengan tertib, dan saat diumumkan hukuman yang diberikan pada Renata dan siswa di sebelahnya semua bersorak riuh. Mereka berdua harua membersihkan toilet pria dan wanita sepulang sekolah nanti.
Setelah upacara pembukaan selesai, semua siswa diminta kembali ke kelas masing-masing.
Kegiatan kelas kali ini diisi dengan kegiatan kelompok, membuat makalah tentang pemanasan global.
Karena dibebaskan memilih kelompok sendiri, tentu saja Snow, Selli dan Keanu menjadi satu kelompok, ditambah seorang lagi yaitu Benu, siswa yang duduk di depan Keanu. Benu hanya 11-12 dengan Keanu, berisik dan selengekan, walau nggak segood looking Keanu, tapi dia masih masuk dalam kategori good looking.
"Ummm.... Maaf, kalau untuk urisan mikir, otakku pas-pasan, tapi aku akan bantu sebisanya," ucap Snow jujur, walau malu mengakui kalau dia tidak pandai.
"Santai, kita juga pas-pasan kok, tapi kalau dikerjain sama-sama jadi gampang, lagian Google juga satu kelompok sama kita, tenang deh pokoknya, hahahahahaha...." gurau Keanu.
"Hehehehe.... Bisa saja kau Kean," balas Snow sambil terkekeh, lalu mereka berempat memulai diskusi dan menuliskan makalah. Mereka memutuskan Snow yang bertugas menulis karena tulisannya yang paling bagus, sedangkan ketiga temannya berdiskusi, namun ada kalanya Snow ikut berdiskusi juga.
Satu jam berlalu, akhirnya waktu membuat makalah pun usai, masing-masing kelompok segera mengumpulkan makalah mereka di meja Kenjiro.
Saat tiba giliran Snow menyerahkan makalah milik kelompoknya, Kenjiro memujinya.
"Tulisanmu cantik sekali, secantik kamu Gracella," puji Kenjiro sambil tersenyum menggoda pada Snow.
Bibir Snow berkedut, geli dengar rayuan gombal dari seseorang yang disebut guru.
"Makasih, Pak," balas Snow lalu lekas berbalik dan kembali ke bangku tempat kelompoknya berkumpul.
"Habis ini ngumpulin tugas barcode sama camilan ya?" tanya Benu.
"Iya, udah dapat kan?" tanya Selli.
"Aku nggak nemuin tugas barcodenya, camilan juga aku cuma bawa mendoan," jawab Benu lesu.
"Hehehehe.... Kita dong bawa tiga jenis camilan, beda-beda lagi, barcode juga udah dapat, Energen rasa jagung," jawab Selli.
"Lah, beneran? Tiga jenis camilan?" tanya Benu tak percaya.
"He.eh, keren kan kami?!" sahut Selli menyombongkan diri.
"Wah, hebat kalian," seru Benu mengacungkan ibu jarinya.
"Jelas dong, siapa dulu...." sahut Selli mulai pongah, Snow hanya terkekeh pelan.
"Jangan pongah kau Sell kulit mati!"seru Keanu kesal sambil melempar karet penghapus ke kepala Selli.
"Apaan kau bilang?" balas Selli kesal karena dikatai 'Sell kulit mati' oleh Keanu.
"Apa memangnya? Pongah amat, padahal yang banyak kerja Cella, kita cuma bantu belanja sama nyiapin bahan doang, eh bukannya muji Cella malah nyombongin diri sendiri," gerutu Keanu.
"Eh, hehehehehe.... Bercanda kali Kean, kenapa ngamuk sih?" sahut Selli cengengesan.
"Sudah.... Sudah, kalian berdua ribut terus, roman-romannya bakal ada kisah drama romantis di kelas 10C, hahahaha....," gelak Snow.
"Dih, najis!" sahut Keanu dan Selli bersamaan.
"Hahahahaha.... Najis sekarang, bucin besok pagi, hahahahaha...." gelak Snow keras, beruntung sedang waktu break 10 menit, kalau tidak dia pasti kena tegur Kenjiro.
"Aduuuh.... Ben, nih aku ada ekstra Energen satu bungkus, pakai saja, timbang dapat hukuman," Snow mengulurkan satu bungkus Energen jagung pada Benu yang menerimanya ragu-ragu.
"Boleh, Cell? Kan aku nggak gabung kelompok kalian kemarin," sahut Benu merasa tak enak hati.
"Nggak apa-apa, daripada kena hukuman, lagian sekarang kita satu kelompok kan?" balas Snow sambil tersenyum pada Benu.
"Makasih banyak ya, Cell," ucap Benu tulus.
"Sama-sama," balas Snow.
Tak lama kemudian Kenjiro meminta anak didiknya untuk kembali ke bangku masing-masing dan mengeluarkan dua tugas mereka sekaligus dan meletakkannya di meja masing-masing.
Beberapa dari mereka membawa tugas barcode yang salah, dan hampir semua camilan berupa tempe goreng dan tempe mendoan.
Dua orang senior, Dion dan Dewata, berkeliling memeriksa dan mencicipi satu persatu camilan yang dibawa para siswa kelas 10C, begitupun dengan Kenjiro.
Tetapi, karena terlalu banyak siswa yang membawa tempe mendoan, tempe goreng dan juga kering tempe, lama-lama mereka melewatkan acara mencicipi, sampai saat mereka tiba di meja Keanu, Snow dan Selli, mereka berhenti dan memeriksa camilan berbahan dasar tempe yang ada di meja Keanu, Snow dan Selli.
"Kenapa ada tiga kotak camilan di meja kalian masing-masing?" tanya Dion.
"Kami bikin tiga jenis kak, kami bikinnya bertiga di rumah saya kemarin sepulang acara perkenalan," jawab Snow ramah, sambil tersenyum, membuat Dion, Dewata dan Kenjiro menatapnya tak bekedip.
"Halah, paling isinya mendoan, tempe goreng sama kering tempe," ejek Renata yang disambut tawa teman-teman satu gengnya, Sophia dan Mariana.
"Diam kalian bertiga!" bentak Dion yang seketika membuat ketiganya terdiam.
"Coba kalian buka," pinta Kenjiro kepada Snow, Keanu dan Selli.
Ketiganya segera membuka masing-masing kotak yang ada di hadapan mereka, beberapa siswa melongokkan kepala karena penasaran.
"Apa saja ini?" tanya Kenjiro.
"Ini nugget tempe, yang ini tempe coklat dan yang ini cookies tempe, pak. Silakan dicoba," ucap Snow seraya menyodorkan kotak berisi tempe coklat pada Kenjiro, Dion dan Dewata yang masing-masing mengambil satu keping tempe coklat yang disodorkan pada mereka.
Ragu-ragu mereka menggigit tempe coklat itu, takut rasanya aneh, tapi saat mulai mengunyahnya, mereka kaget dan menikmatinya, bahkan Dion ketagihan dan mengambil lagi sebanyak dua keping.
"Enak, gimana kalian buatnya? Rasanya kaya makan coklat mede atau coklat almond," puji Dion yang sebenarnya penggemar coklat.
"Iya, ini enak banget," puji Dewata, wajah lempengnya sumringah, dia ikutan mengambil beberapa keping lagi dan memakannya.
"Cuma tempe diiris setipis mungkin, direndam air garam, terus digoreng, kalau sudah kering dan renyah ditiriskan dan didinginkan, baru dibalur sama lelehan coklat dicampur dengan sedikit whipped cream dan ditaburi coklat bubuk, kak," jelas Snow.
"Gitu doang?" tanya Dion tak percaya.
"Iya, gitu doang kak," jawab Snow.
"Kok bisa seenak ini?" tanya Dewata yang mencomot lagi coklat tempe dari kotak milik Snow.
"Jelas dong kak, kan yang bikin Cella, kak," sahut Selli.
"Lah, katanya buatan bertiga?" tanya Dion sambil mengerutkan keningnya.
"Benar kak, kami bertiga yang buat, tapi bagi tugas, yang punya ide dan resep itu saya, Selli dan Keanu membantu saya menyiapkan bahan dan juga dalam proses pembuatan," tambah Snow.
"Nah ini kak, pak.... Dicoba nugget dan cookiesnya," sambung Snow sambil mengulurkan kotak nugget dan cookies tempe buatannya.
Kenjiro, Dion dan Dewata mengambil nugget dulu, lalu memakannya.
"Wow, Gracella.... Kamu memang calon istri idaman," seru Kenjiro membuat Snow terbelalak dan wajahnya memerah, teman-teman sekelasnya mulai menyorakinya.
"Saya masih di bawah umur, belum pantas menikah," jawab Snow kesal.
"Saya bisa tunggu sampai kamu lulus SMU kok," sahut Kenjiro disambut pekikan histeris para siswi penggemar novel dan drama romantis.
"Cieeeee, Pak Kenji nembak Cella, cieeeee..." goda Selli.
"Ehem.... Hanya bercanda," sahut Kenji saat melihat wajah cantik Snow yang tadinya ceria berubah muram.
"Cookiesnya juga enak nih," seru Dewata mengalihkan pembicaraan, dia kesal ternyata gurunya suka pada siswa baru yang dia taksir.
"Dik, cookiesnya bolah untukku semua?" tanya Dewata.
"Boleh, silakan saja dibawa, kak," jawab Snow sambil tersenyum manis pada Dewata.
"Terima kasih, dik," sahut Dewata.
"Cella, kak. Panggil Cella saja," ucap Snow ramah.
"Ok, terima kasih Cella," sahut Dewata membalas senyuman Snow.
Kenjiro mendengus kesal.
Akhirnya di tugas kali ini lagi-lagi Snow, Keanu dan Selli masing-masing mendapat poin 30 untuk Snow dan 25 untuk Keanu dan Selli, mereka bertiga girang dan tersenyum lebar. Lain halnya dengan Renata yang ketahuan kalau keripiknya itu keripim beli, bukan buat sendiri, akhirnya dia kena hukuman dan minus 15 poin.
Waktu istirahat siang tiba, Snow dan kedua temannya plus Benu berjalan menuju kantin untuk makan siang.
Snow menyalakan ponselnya, dan langsung saja riuh suara dentingan notifikasi w******p sambung menyambung.
Ada 137 pesan masuk dari kakaknya, Alex dan Willy. Dengan malas Snow membuka chat dari sang kakak, ada lebih dari 107 pesan masuk dan 43 panggilan tak terjawab.
Snow menatap sendu pesan sang kakak yang berisi permintaan maaf dan penyesalan karena sudah membentak Snow semalam. Pesan dari Alex dan Wira hampir sama, mereka mengkhawatirkan Snow dan memintanya segera menelepon jika istirahat atau saat sedang senggang.
Snow menghela nafas panjang, sesungguhnya Snow tak marah pada Bryant, dia hanya terkejut dan sedih, karena dibentak sang kakak. Selama ini dia selalu dibentak, dicemooh dan direndahkan oleh kedua orang tuanya, dan semalam tiba-tiba sang kakak pun membentaknya dengan suara bernada tinggi dan kasar. Satu-satunya orang yang menyayanginya di keluarganya pun sudah ikut membentaknya, Snow takut kalau nanti akhirnya dia benar-benar terbuang dari keluarganya.
Tiba-tiba panggilan suara dari Bryant masuk, Snow terkejut, buru-buru menolak panggilan sang kakak dan dia kembali mematikan ponselnya.
Di ruang CEO Diatmaja Corp. Bryant kembali uring-uringan, setelah sesaat lega ketika pesan untuk Snow masuk satu persatu, namun saat mencoba menelepon, malah ditolak dan ponsel Snow langsung mati lagi.
"Aku harus ke sekolah Snow sekarang!" seru Bryant sambil meraih jasnya, dan hendak melangkah keluar, namun dihalangi Alex.
"Sekarang Snow lagi orientasì, biarkan saja dulu, pulang nanti kita jemput," cegah Alex.
"Aku bahkan tak tau jam berapa Snow pulang," sahut Bryant frustasi.
"Telepon sekolahnya dan tanyakan, jangan seperti orang bodoh yang tak tau cara mencari informasi," sindir Alex.
Bryant buru-buru mencari nomor telepon sekolah Snow, dan segera menghubungi pihak sekolah untuk menanyakan jam berapa waktu berakhirnya sekolah untuk hari ini. Setelah mendapat jawaban, Bryant berterima kasih dan segera menutup panggilan teleponnya.
"Snow pulang jam 14:30, jam 14:00 aku pulang buat jemput dia, kalian tolong selesaikan urusan kantor ya," pinta Bryant pada kedua sahabatnya.
"Ok! Usahakan jangan menyinggung tentang Tante Lizzy dan Om Andy, atau akan menambah sakit hati Snow nanti," saran Willy, Bryant hanya mengangguk dan merenung tentang apa yang harus dia lakukan agar kedua orang tuanya juga menyayangi Snow.
Walau tak pernah melakukan kekerasan fisik, kedua orang tuanya selalu melontarkan kata-kata yang menyakitkan untuk Snow, bahkan Bryant pun merasa sakit hati saat orang tuanya memarahi Snow menggunakan kata-kata kasar yang tak layak didengar oleh anak di bawah umur.
Jika dia membela Snow, maka orang tuanya akan semakin memarahi Snow dan melontarkan kata-kata yang menyatakan kalau mereka menyesal memiliki Snow sebagai anak mereka. Maka dari itu, setelah Kakek, Nenek, Oma dan Opanya meninggal, Bryant memutuskan membawa Snow untuk tinggal di rumahnya, namun tanpa sepengetahuannya, kedua orang tua mereka meminta Snow untuk mengurusi kebutuhan makan Bryant, sebagai ganti uang saku yang Bryant berikan setiap minggu untuknya. Dan baru semalam Bryant tau, kenapa adiknya selalu memasak untuknya, untuk sarapan, bekal dan makan malam, ternyata papa dan mamanya meminta Snow melakukannya sebagai imbalan uang saku mingguan yang dia berikan. Karena hal itulah semalam Bryant lepas kendali, bukan karena marah pada Snow, dia marah kepada orang tuanya yang memperlakukan putri kandung mereka bagai seorang pembantu. Namun sayangnya Bryant malah membentak Snow dengan keras dan membuat Snow ketakutan dan juga sedih.