Pertemuan Keluarga

1007 Words
Meifang menyusuri koridor Hotel Permata bersama keluarga serta seorang pelayan menuju ruang privat restoran. Netral. Terhormat. Gambaran hotel tersebut cocok bagi dua keluarga yang sama-sama tidak ingin terlihat mendominasi. Namun, begitu pintu ruang privat restoran dibuka, ia langsung menyadari satu hal: suasana di dalam… jauh lebih hangat dari yang diduga. Keluarga Chengyu duduk rapi di meja panjang—menanti kehadiran pihak keluarga dari calon pengantin wanita. Ia bisa melihat jelas Chengyu duduk di dekat sang ibu. “Waktu yang ditunggu tiba,” batinnya bergejolak. Begitu melihat Meifang, Ibu Chengyu refleks berdiri—menyambut dengan senyum yang tidak dibuat-buat. Tidak ada jarak formal, tidak ada tatapan menilai. Hanya ketenangan yang membuat langkah Meifang melambat sepersekian detik. “Meifang,” sapa Ibu Chengyu lembut. “Kau datang tepat waktu.” Ia menarik kursi di samping Chengyu. Gerakannya nyaris tanpa ragu, seolah tempat itu memang sudah ditentukan—bahkan sebelum Meifang melangkah masuk. Meifang semakin canggung. “Silakan duduk.” Meifang mengangguk, duduk dengan senyum sopan yang terlatih. Lampu temaram memantul di permukaan meja panjang, suara percakapan dua keluarga besar terdengar rendah dan tertata. Ini bukan tentang jamuan bisnis. Namun juga bukan tentang makan malam biasa. Hidangan disajikan satu per satu. Ibu Chengyu menyendokkan sup ke mangkuk Meifang lebih dulu—sebuah perhatian kecil yang membuat jemari Meifang mengencang di atas pangkuan. Entah ini gugup, atau rasa bersalah yang menjalar. “Kau tampak lebih kurus sejak terakhir kali bertemu,” ujar wanita itu tanpa nada menghakimi. “Pastikan kau makan dengan baik.” Tidak menuntut, tidak pula berpura-pura. Hanya sebuah perhatian tulus bagi seseorang yang datang dengan maksud tidak baik. Meifang seperti manusia kejam yang tak tahu diri dan tahu balas budi. “Terima kasih, Tante,” jawab Meifang pelan, sedikit canggung. “Panggil Mama saja,” sahutnya ringan. “Kita keluarga, tidak perlu terlalu canggung.” Kata itu menghantam tepat di d**a. Meifang merasakan gejolak batin yang tak karuan. Antara dendam dan ketulusan, mana yang akan ia lalui? Ia tidak tahu harus bagaimana melalui semua cobaan ini. “Chengyu jarang sekali mengatur makan malam keluarga seperti ini,” lanjut Ibu Chengyu sambil melirik putranya. “Biasanya dia lebih suka sendiri. Dan jika ada acara keluarga, dia akan menyelesaikannya dengan cepat.” Chengyu menghela napas singkat. “Ma, jangan terlalu membesar-besarkan.” Nada suaranya datar, tapi tidak dingin. Ia melirik Meifang sekilas—bukan untuk memastikan peran, melainkan kenyamanan bagi calon istrinya. Dan perhatian kecil itu… tidak masuk dalam daftar rencana Meifang. “Aku berharap,” kata Ibu Chengyu kemudian, suaranya menurun, lebih tenang, “kalian bisa saling menjaga. Pernikahan bukanlah hal yang ringan. Banyak rintangan yang akan kalian alami. Jadi, cobalah untuk dewasa dalam menanggapi apapun yang terjadi nanti.” Sendok di tangan Meifang berhenti bergerak. “Jika mereka tahu alasan sebenarnya, apakah kata ‘menjaga’ masih akan terdengar setenang ini?” Ia mengangkat wajah dan kembali tersenyum—senyuman rapi, aman, tenang, dan tidak mencurigakan. Namun, dibalik ketenangan itu, sesuatu mulai menekan di d**a. Bukan sekadar rasa bersalah, melainkan ketakutan yang lebih berbahaya. Makan malam tetap berjalan, seolah tidak ada yang berubah. Namun bagi Meifang, waktu seperti melambat. Ia baru saja memegang sumpit ketika getaran kecil terasa dari dalam tas tangan di samping kursi. Meifang bergeming. Tatapan mata tetap terarah ke meja dengan wajah tenang dan postur terjaga. Sumpit kembali diletakkan. Ia baru melirik ketika layar ponsel menyala samar di sela tas yang sedikit terbuka. Lingzhi. Nafas Meifang tertahan sesaat. Ia menggerakkan tangan perlahan, membuka pesan itu sepenuhnya. Lingzhi: Jangan terbawa perasaan. Ujung jari Meifang menegang di bawah meja. Ia melirik Chengyu yang sedang berbicara dengan ayahnya—membahas hal-hal ringan yang tak lagi ia dengarkan. Ponsel Meifang kembali bergetar. Ia menoleh lagi ke arah layar ponsel yang menyala. Lingzhi: Jangan lupakan tujuanmu. Lingzhi: Kau ada di sana bukan untuk bahagia, Lingzhi: tapi untuk balas dendam. Nafas mendadak sesak setelah membaca pesan itu. Ia menelan ludah, lalu menutup layar ponsel—perlahan, seolah gerakan sekecil apapun bisa mengundang kecurigaan. Ponsel disimpan kembali, tepat saat Ibu Chengyu menoleh ke arah Meifang. “Meifang, kau tidak apa-apa?” tanya wanita itu lembut. “Kau terlihat sedikit pucat.” Meifang mengangkat wajah, memasang senyum sempurna—bahkan terlalu sempurna. “Aku baik-baik saja, Ma. Mungkin hanya sedikit lelah,” jawabnya. Chengyu melirik. Tatapan singkat, namun cukup tajam untuk membuat Meifang merasa dicurigai. “Kalau tidak nyaman, aku bisa mengantarmu pulang lebih dulu,” ujar Chengyu pelan. Kalimat itu terdengar seperti sebuah perhatian. Dan entah mengapa, hal itu membuat nafas Meifang semakin sesak. Konflik batin mulai mengacaukan keadaan. “Tidak perlu,” tolaknya cepat. “Aku tidak apa-apa.” Meifang kembali menunduk, menatap hidangan di depan yang kini terasa hambar. Jangan lupakan tujuanmu. Pesan itu kembali terngiang, meski ponsel sudah disimpan. Kau ada di sana bukan untuk bahagia, tapi untuk balas dendam. Ia menarik nafas pelan, lalu menatap sekeliling. Dua keluarga tampak berbincang hangat, tawa ringan terdengar, bahkan rencana-rencana masa depan juga dibicarakan dengan nada ringan. Dan di tengah semua itu, Meifang duduk dengan satu kesadaran yang menyesakkan: ia sedang diingatkan untuk tidak jatuh cinta, tepat saat semua orang berharap sebaliknya. *** Pintu lift menutup dengan bunyi pelan, menyisakan keheningan yang terasa lebih berat dari percakapan sepanjang makan malam. Cahaya lampu memantul di dinding baja, menghadirkan pantulan wajah yang sama-sama tenang—setidaknya di permukaan. Lift bergerak turun. Meifang berdiri tegak, jemari terlipat rapi. Ia menatap lurus ke depan, menjaga ekspresi tenang. Getaran kecil kembali terasa di dalam tas. Ia tak membuka ponsel itu. Namun pantulan di dinding lift tidak bisa bohong. Chengyu menggeser posisi sedikit, cukup untuk menangkap refleksi tangan Meifang yang mengencang sepersekian detik—lalu kembali tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Dengan nada datar dan suara rendah, terlalu tenang untuk disebut pertanyaan, Chengyu berbicara, “Kalau suatu hari aku tahu kau menyembunyikan sesuatu… kau akan memilih jujur, atau tetap diam?” Meifang membeku. Lift terus melaju, angka lantai turun satu per satu. Sementara di antara mereka, satu kalimat itu menggantung—tidak menuntut jawaban, namun jelas bukan tanpa arti. Dan Meifang tahu, kecurigaan itu telah lahir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD