bc

Jerat Sang CEO Nakal

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
love-triangle
family
friends to lovers
arranged marriage
playboy
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
serious
city
office/work place
enimies to lovers
like
intro-logo
Blurb

Meifang menerima pernikahan bisnis dengan Chengyu—pewaris muda sebuah perusahaan raksasa di Hongkong—bukan karena cinta, melainkan karena misi. Lingzhi, sahabat yang Meifang anggap sebagai keluarga, pernah dihancurkan perasaannya oleh Chengyu hingga hidupnya terpuruk. Luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Hanya ada satu cara untuk menyembuhkannya yaitu: membalas dengan cara yang sama.Rencana itu sederhana. Meifang harus membuat Chengyu jatuh cinta, lalu menghancurkannya. Dan Lingzhi-lah yang menyusun setiap langkah kejam itu.Namun, semakin lama mereka bersama, Meifang mulai menyadari sesuatu: Chengyu tidak sekejam yang dikisahkan Lingzhi. Tatapan yang tulus, sentuhannya terlalu hangat hingga perlahan, hati Meifang goyah.Bagaimana jika cinta itu bukan sekadar bagian dari sandiwara? Bagaimana jika Chengyu bukan penjahat dalam cerita ini, melainkan korban dari kebohongan yang lebih besar? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, siapa yang akan benar-benar hancur? Chengyu, Lingzhi, atau Meifang sendiri?

chap-preview
Free preview
Kontrak di Atas Meja Kristal
“Silakan tandatangani kontrak ini, jika kau setuju dengan pernikahan yang sudah diatur.” Meifang menatap map berisi kontrak pernikahan bisnis di atas meja. Ia meraih map, lalu menandatanganinya. Nafasnya mendadak sesak. Tak pernah terbayang ia akan mengalami pernikahan kontrak. “Ini semua demi Lingzhi,” batinnya. Dengan mantap, Meifang meletakkan kembali map yang sudah ia tandatangani. “Aku sudah menandatangani kontrak ini. Silakan atur semuanya, aku permisi.” Ia berdiri dan pergi. Namun, saat hampir mencapai pintu, kakinya berhenti melangkah karena pertanyaan Chengyu. “Apa misimu sebenarnya?” Meifang berbalik cepat. Sorot tajam memancar dari matanya. “Apa maksudmu?” “Tidak ada maksud apa-apa,” jawab Chengyu tenang. Ia bersandar di kursi, sorot mata teduh dengan sedikit senyum di bibirnya. “Aku hanya merasa… ada sedikit keanehan dibalik persetujuanmu. Bukankah sebelumnya, kau menolak pernikahan ini? Tapi, hanya dalam hitungan hari, keputusanmu langsung berubah.” Tangan Meifang mengepal di samping tubuhnya. Tali tas diremas kuat, gigi gemeretak akibat menahan amarah yang membuncah. Kisah masa lalu kelam Lingzhi dan Chengyu seolah menarik dirinya untuk segera memusnahkan pewaris perusahaan raksasa itu. Akan tetapi, ia berusaha untuk menjaga sikap. Ia tidak boleh terpancing emosi ketika Chengyu berusaha menggali lebih tentang misi balas dendamnya. Helaan nafas ringan terdengar. Meifang berhasil mengendalikan amarah yang membuncah. Dan di detik berikutnya, ia tersenyum ramah. “Tuan Muda Cheng, kau tidak perlu repot menggali apapun. Aku menerima pernikahan ini demi menjaga bisnis keluargaku, dan aku minta maaf atas penolakan sebelumnya,” jawab Meifang dengan nada tenang. Chengyu tersenyum—seolah mengetahui apa yang sedang disimpan Meifang. Namun, ia tetap menjaga sopan santun dan enggan memperdalam masalah ini. “Baiklah. Aku terima maafmu.” Ia berdiri, berjalan mendekati Meifang. “Besok malam, kita bertemu di Hotel Permata, jam tujuh. Ada pertemuan antar keluarga di sana. Jangan sampai terlambat,” lanjutnya. Meifang mengangguk. “Aku tidak akan terlambat.” “Kalau begitu, asistenku akan mengantarmu pulang. Ini sudah larut malam,” ucap Chengyu, matanya melirik ke arah Huanxi—asisten pribadinya. Huanxi mengangguk paham. “Mari, saya antar.” Meifang bergeming. Ia merasa ada yang aneh di sini. Sikap Chengyu tidak terlihat seperti pria kejam. Dalam cerita Lingzhi, sosok Chengyu itu kejam, tidak memiliki rasa iba, tidak sopan, playboy, arogan, dan tidak pengertian. Tapi Chengyu yang ada di depan mata ini… sangat berbeda jauh dari apa yang diceritakan Lingzhi. Dalam beberapa detik, ia terdiam. Ia terus menatap Chengyu; dari ujung rambut, hingga ujung kaki. Tak ada tanda-tanda arogansi—hanya ada tanda sosok pewaris elegan dan multitalenta. Sangat berkharisma. “Sudah selesai melakukan scanning?” bisik Chengyu di telinga Meifang. Wanita bertubuh mungil itu tersentak dan menyadari kesalahannya. Ia memalingkan wajah, lalu pergi begitu saja; diikuti Huanxi. Sementara Chengyu tersenyum manis setelah kepergian Meifang. Di perjalanan pulang, Meifang masih terus memikirkan sikap Chengyu. Ini aneh, menurutnya. Ia sempat berpikir akan bertemu dengan Chengyu versi negatif, namun kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Justru ia bertemu dengan Chengyu versi positif. “Apa mungkin dia sedang berpura-pura?” monolognya pelan. Huanxi memperhatikan tingkah Meifang melalui spion tengah. Ia tersenyum ketika calon Nyonya Cheng itu berbicara sendiri di kursi belakang. “Nona Meifang, apa anda punya masalah dengan Tuan Muda Cheng?” Meifang mendesis. Ia menatap Huanxi serius—sampai mencondongkan tubuhnya ke arah kursi kemudi. “Apa kau juga merasa ada yang aneh dengannya?” “Hal aneh seperti apa yang anda maksud?” tanya Huanxi, bingung. “Dia… sangat berbeda dari bayanganku.” Meifang kembali duduk dengan benar di kursinya. “Aku merasa, dia punya kepribadian ganda.” Huanxi tersenyum tipis. “Saya tebak, anda pasti mendengar cerita buruk tentang Tuan Muda dari orang lain, kan?” “Hhm,” gumamnya pelan, seolah tak berniat menyangkal. “Tuan Muda Cheng sangat tertutup, dan wajar jika banyak spekulasi buruk tentangnya. Tapi, saya sarankan untuk mengenali kehidupannya langsung, jangan terlalu sering mendengarkan orang lain,” ujar Huanxi bijak. Mobil berhenti, mereka sudah tiba di depan apartemen Meifang. Huanxi turun untuk membukakan pintu. “Kita sudah sampai, Nona.” Meifang mengangguk dan segera turun. Ia sedikit menunduk, lalu berkata, “Terima kasih.” “Dengan senang hati, Nona.” Meifang buru-buru masuk ke area apartemen setelah Huanxi pergi. Ia tidak sabar ingin bertemu Lingzhi untuk menceritakan kejadian hari ini. Langkahnya cepat, dengan nafas memburu. Sesampainya di depan pintu apartemen, ia membuka pintu dengan kartu, dan berteriak memanggil Lingzhi. “Lingzhi, aku pulang!” Dengan menggunakan handuk kimono, Lingzhi mendekati Meifang. Langkahnya tergesa-gesa. “Ada apa? Apa yang sudah terjadi? Bagaimana reaksinya?” Pertanyaan Lingzhi semakin menambah kebingungan di hati Meifang. Ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan sikap Chengyu hari ini. Meifang duduk di sofa, tangannya saling meremas. “Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kejadian hari ini. Reaksinya biasa saja, bahkan tidak seperti seorang playboy atau… pria kejam. Dia sopan, dan… tidak arogan.” “Jangan mudah percaya padanya, Meifang. Itu hanya trik,” ucap Lingzhi, meyakinkan. “Apakah benar begitu?” Lingzhi mengangguk mantap. “Ehm. Dia akan melakukan trik itu saat bertemu dengan wanita baru. Itu cara dia menarik perhatian wanita lain. Dulu… dia juga melakukan hal yang sama padaku, membuatku percaya bahwa dia adalah pria terbaik di dunia. Tapi nyatanya, dia berkhianat.” “Tapi….” “Sudahlah.” Lingzhi menggenggam kedua tangan Meifang. “Tidak perlu dipikirkan. Trik tipuan itu hanya akan menghalangimu membalaskan dendamku. Yang perlu kau ingat adalah melancarkan serangan. Buat dia jatuh cinta padamu dalam waktu tiga bulan. Setelah itu, hancurkan dia sesuai dengan apa yang dia lakukan padaku.” “Apa yang sudah dia lakukan padamu?” Meifang mencoba menggali sekali lagi—bertujuan agar bisa meyakinkan diri untuk membalaskan dendam Lingzhi. Lingzhi menghela napas. Jari-jari tangan saling bertaut—seolah takut. Trauma masa lalu sempat membuatnya depresi selama beberapa bulan, dan harus terus mengkonsumsi obat penenang, hingga sekarang. “Ini sangat berat bagiku. Dia sudah melakukan hal yang buruk dan sangat tidak terpuji. Aku bahkan malu untuk melihat tubuhku sendiri. Semua luka itu membekas sampai sekarang,” desahnya lirih, menahan tangis. Karena tidak tega, Meifang akhirnya luluh. Ia memeluk Lingzhi sambil menangis. “Aku berjanji akan membalaskan dendam itu untukmu.” “Bantu aku menghancurkannya, mulai dari karir sampai kehidupannya,” lirih Lingzhi. Meifang semakin mempererat pelukannya, dan berkata, “Pasti. Aku akan membantumu untuk menghancurkannya. Tak akan kubiarkan dia lolos begitu saja.” Lingzhi menutup mata, membiarkan air mata jatuh di bahu Meifang. Namun, dibalik pelukan itu, bibirnya melengkung—membentuk senyum yang nyaris tak terlihat. Senyum yang sama sekali tidak menyimpan luka.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.6K
bc

Too Late for Regret

read
337.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.5K
bc

The Lost Pack

read
451.6K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook