Terlihat...lemah?

2081 Words
Part 5             “Dimana Alex?”             “Ah anda datang Presdir Thomas” Sena yang sedang fokus mendengarkan penjelasan Devi langsung melihat siapa yang datang tanpa permisi, dengan wajah arogan ditambah beberapa orang dibelakangnya yang Sena perkirakan mungkin mereka adalah anak buahnya, mungkin.             “Presdir?” Sena melihat Devi yang awalnya begitu ramah dengan wajah yang baik baik saja, tiba tiba berubah hanya karena melihat siapa yang datang.             “Siapa?” Devi menghentikan aktivitasnya, berdiri dan menunduk hormat pada laki laki paruh baya itu.             “Tuan muda sedang di ruangannya, saya antar silahkan” Devi membuka pintu ruangan Alex dan Sena hanya melihat tanpa melakukan apapun. Sena mengintip dan melihat Alex yang awalnya begitu fokus dengan pekerjaan sama dikejutkan dengan kedatangan seseorang ini. Sena semakin berfikir keras siapa laki laki yang dipanggil Presdir oleh Devi dan apa hubungannya dengan Alex. Sena diam disana cukup lama, menunggu Devi yang sedari tadi mengantar laki laki paruh baya itu tapi sampai sekarang belum juga keluar. Bahkan sekarang sudah jam makan siang tapi tidak ada yang keluar dari ruangan Alex, Sena ingat jika Alex tipe orang disiplin, saat dia bertemu dengan client dan masuk jam makan siang pasti Alex menunda dan langsung turun untuk makan siang, tapi sekrang? Sena masih memainkan handphonenya sedari tadi, menghubungi adiknya mengenai apa yang dia lakukan hari ini. Awalnya dari pagi tidak ada yang mengejutkan, bahkan dari pagi Alex juga terlihat sibuk. Devi juga mengatakan jika pekerjaan Alex cukup banyak jadi maklum jika Alex hanya menyapa pagi hari dan sibuk sampai sekarang.             Papanya? Pesan balasan dari Demian membuat Sena terdiam, tidak terpikir oleh Sena laki laki paruh baya itu adalah keluarga Alex, yang dia pikirkan mungkin saja client penting. Sena memasukkan handphonennya buru buru saat pintu ruangan Alex terbuka, berdiri dan menunduk sopan.             “Dia yang menggantikanmu Dev?” Sena melirik sedikit, laki laki paruh baya ini membicarakannya ternyata.             “Iya Presdir, dia Sena. Sena?”             “Ah selama siang Presdir” Sena memperkenalkan diri dengan sopan dan senyum manis, sedangkan sang lawan bicara hanya diam dengan wajah sombong lalu pergi tanpa mengucapkan apapun. Sena melihat Devi yang menggeleng pelan lalu ikut mengantar laki laki paruh baya itu, diikuti oleh Alex dan beberapa orang seperti anak buahnya. Kembali menunggu Devi untuk kembali. Sena sudah lapar sedari tadi menunggu orang orang itu untuk pergi agar dia bisa makan, bersabar sedikit lagi mungkin Devi akan segera kembali dan mengajaknya untuk makan siang.             “Sena”             “Ah Dev, apa mereka sudah pulang?” Sena tidak melihat Alex kembali.             “Iya, ayo makan aku sudah lapar” Sena memilih untuk turun, perutnya sudah berteriak minta diisi. Dan disinilah mereka, tempat makan kesukaan Devi yang sebentar lagi akan menjadi kesukaan Sena juga. Menu makanan yang beragam, rasa yang lezat, ditambah harga yang pas di kantong. Devi bilang Alex pernah dia ajak kesini, tapi rasanya tidak cocok dengan Alex yang tidak suka dengan makanan berbumbu kuat.             “Dev…”             “Dia Presdir kita, papa Alex”             “Hah?”             “Kau penasaran bukan” Itu bukan pertanyaan. Devi tau jika Sena penasaran siapa seseorang dengan wajah menyeramkan itu.             “Aku sudah bilang Sena, ada banyak rahasia yang harus kau jaga, salah satunya hal yang baru saja kau lihat” Sena menerka nerka apa maksud Devi, apa yang baru saja Sena lihat adalah salah satu rahasia Alex. Tapi apa?             “Aku tidak mengerti”             “Cobalah untuk saat ini dan seterusnya, jangan bertanya apa atau kenapa pada Alex mengenai keluarganya” Devi diam dan melihat Sena dengan serius.             “Mulai saat ini apapun yang kau lihat mengenai Alex adalah rahasia yang harus kau jaga, jangan ikut campur cukup ikuti arusnya, kau tidak punya kuasa untuk bertanya maupun memberi pendapat” tambahnya. Sena masih memikirkan apa yang dia lihat, dia hanya melihat laki laki paruh baya itu dengan orang orang menyeramkan dibelakangnya.             “Apakah papa Alex adalah sebuah rahasia maksudnya?” Terus berfikir apa yang salah dari kedatangan papa Alex selain wajahnya yang arogan dan menyeramkan. Sena mengingat dengan detail saat papa Alex datang saat dirinya tengah fokus bersama Devi lalu membuat situasi tidak nyaman, datang dan masuk keruangan Alex, lalu Alex berhenti beke…tunggu dulu. Sena mengingat sesuatu.             “Saat papa Alex masuk, Alex terlihat…lemah?” Sena melihat Devi yang sedang makan dengan lahap, dilihatnya makanan miliknya yang masih banyak. Rasa laparnya seperti menguap entah kemana, Sena harus menemukan apa yang dimaksud Devi. Melihat Devi hingga gadis didepannya menghentikan suapannya.             “Kau sudah menemukannya Sen?”             “Alex... lemah?”             “Lemah” Ucap mereka bersamaan. Devi tau Sena bukan gadis yang tidak peka, Sena tau kondisinya dan cepat membaca situasi.             “Kau benar Sen, yang baru saja kau lihat adalah bagaimana Presdir perusahaan sebesar ini merasa begitu lemah didepan papanya sendiri, bukan karena menghormati tapi alami karena rasa takut”             “Takut?”             “Aku sudah bilang, kau akan tau sendiri nantinya, dan saat kau tau yang bisa kau lakukan hanya diam dan menjaganya untukmu sendiri. Aku tau kau gadis pintar, tidak sulit pasti untukmu mengerti” Devi melanjutkan makannya sedangkan Sena memilih untuk menyudahi makan siangnya. Saat ini yang dia rasakan seperti menonton drama keluarga yang sebentar lagi akan berhubungan dengan dirinya. Cukup menarik. Tapi sedikit membuat gelisah, ditambah yang bisa dilakukan Sena hanya diam. Tentu saja, Sena hanya sekretaris yang digaji perusahaan untuk bekerja dengan Alex, bukan untuk mencampuri urusan keluarga atasannya.             “Dan satu lagi, saat papa Alex datang dia adalah Presdirnya, jadi panggil dia Presdir Thomas sedangkan panggil Alex tuan muda”             “Kenapa begitu, Alex bukankah memang Presdirnya?”             “Disaat mereka bersama, papa Alex tidak mau posisinya lebih rendah daripada anaknya, jadi dia tetap Presdirnya”             “Ah aku mengerti” Ingin rasanya Sena menanyakan apa yang dilakukan mereka didalam dan apa yang dilakukan Devi, apakah hanya diam mendengarkan atau lainnya. Tapi diurungkannya, Sena berfikir dia akan merasakan hal itu nanti, akan ada saatnya Sena berada di posisi Devi yang bisa menjawab semua pertanyaan dalam otaknya.             “Sen”             “Ya?”             “Saat itu terjadi atau bahkan lebih parah lagi, saat bertemu Alex biasakan dirimu dan jangan sekali sekali melihatnya dengan tatapan kasihan, Alex akan marah besar. Lihat dia seperti tidak terjadi apapun”             “Semudah itu?”             “Iya, aku tau itu sulit tapi cobalah, aku tau kau juga tidak suka dikasihani jadi cobalah untuk melakukan hal itu” Setelah makan siang Sena dan Devi kembali ke kantor, Sena kembali melanjutkan hal yang tertunda tadi, dan dia sudah melihat Alex kembali keruangannya melanjutkan pekerjaannya seperti tidak terjadi apapun.             “Kau mengerti?”             “Ah jadi tinggal aku sesuaikan jamnya, perkiraan yang bisa aku kira kira sendiri kan?”             “Yap, jika pertemuan itu terasa kurang pastikan saat pertemuan kembali kau tambah waktunya, lagi pula jika tidak sampai waktu yang kau tentukan berakhir lebih bagus, kau bisa beristirahat” Sena menganggukkan kepalanya tanda mengerti.             “Kalian sudah selesai?” Alex datang mengejutkan keduanya, terlihat biasa saja dan benar benar seperti tidak terjadi apapun. Sena cukup takjub dengan Alex yang bisa menyembunyikan semuanya dibalik wajah elegannya itu.             “Ah kita baru saja selesai, ada yang bisa saya bantu Presdir?” tanya Devi             “Aku ingin makan steik, ayo kita pergi”             “Ah maaf Presdir, sepertinya anda lupa jika saya ada urusan ke dokter”             “Oh benar, aku lupa kau akan memeriksakan kandunganmu, baiklah aku bersama Sena saja”             “Hah?” Sena yang diam kini terkejut, bagaimana mungkin dia bisa berduaan dengan Alex tanpa Devi disana.             “Baiklah, Sena temani Presdir oke”             “A…apa kau tidak ikut Dev?” Alex yang melihat Sena seperti enggan menemaninya berdua saja hanya tersenyum jahat.             “Kau takut berdua saja denganku Sena?” tanya Alex             “Ti..tidak bukan begitu Presdir hanya saja saya perlu belajar banyak hal…”             “Aku hanya makan bukan bertemu client, ayo” Alex pergi meninggalkan dua gadis itu, Sena melihat Devi yang tersenyum jahil padanya.              “Kau akan terus berdua bersama Alex Sena, pergilah biasakan dirimua”             “Dev ayolah”             “Dah selamat menikmati, aku pergi dulu” Devi pergi meninggalkan Sena sendiri. Mau tidak mau Sena menyusul Alex yang sudah pergi jauh, mungkin Alex sudah menunggunya di bawah.             “Baru kali ini aku menunggu bawahanku, bukankah seharusnya sebaliknya nona?”ucap Alex dengan nada ejekan. Baru saja Sena sampai dibawah sudah membuat Alex mengomel.             “Maaf Presdir, sepertinya anda terlalu cepat berjalan”             “Ayo aku lapar” Sena membuka pintu mobil mempersilahkan Alex untuk masuk, menutupnya kemudian dia menuju kursi depan sebelah supir.             “Kenapa kau duduk disana?”             “Eh? Bukankah memang saya seharusnya duduk disini?”             “Tidak, aku merubah peraturan, mulai saat ini sekretarisku akan duduk bersebelahan denganku, cepat kemari aku lapar” Sena memutar bola matanya kesal, sejak kapan peraturan konyol itu muncul. Memilih untuk pindah agar Alex tidak mengoceh lagi. Mereka langsung menuju restoran kesukaan Alex. Sesampainya di restoran Alex langsung disambut hangat oleh pelayan restoran, terlihat jika Alex sering kesini dan mungkin sudah menjadi pelanggan tetap.             “Kau sering kemari?” Alex yang sedang membolak balikkan buku menu terhenti, melihat Sena yang kini matanya melihat sekeliling restoran dengan detail.             “Kau gadis yang menarik Sena”             “Aku tau”             “Apa? Wah wah sepertinya aku menyesal menerimamu”             “Benarkah? Bukankah sepertinya Presdir yang begitu menginginkanku untuk bekerja disini, kau menyukaiku?”             “Menyukaimu? Really?”             “Entahlah, aku hanya bertanya” Obrolan mereka terhenti saat pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Setelah perdebatan yang ditonton oleh pelayan tadi, akhirnya Sena memesan makanan padahal dia sudah mengatakan untuk hanya menemani Alex karena dirinya baru saja makan dengan Devi, jangan lupakan Alex juga keras kepala. Pelayan datang dan menghidangkan makanan yang lezat, jika tadi Sena mengatakan tidak lapar tapi kini melihat steik dihadapannya sudah hampir membuat air liurnya menetes. Sena melihat Alex yang tidak menyentuh piringnya, diam melihat Sena tanpa mengatakan apapun.             “Kau tidak makan?”             “Devi biasa memotongkannya untukku”             “Oh ayolah, kau punya tangan dan pisau garpu sendiri”             “Aku tau” Sena memutar bola matanya kesal tapi dia tetap melakukan apa yang diminta Alex, memotong steiknya.             “Aku suka potongan kecil”             “Cerewet”             “Sudah, makanlah”             “Oke selamat makan” Mereka makan dalam diam, bersyukur saat makan Alex tidak suka mengobrol atau lebih tepatnya mengomel.             “Kau melihatnya?” tanya Alex saat makanan mereka sudah benar benar habis. Sena melihat piringnya yang bersih tak tersisa, kini dia malu melihat dirinya yang tadinya menolak tapi malah menghabiskan makanannya tanpa sisa.             “Apa?”             “Papaku, Devi sudah memberitahumu kan?” Sena diam, memilih untuk mengatakan jujur atau bilang tidak tau apa apa.             “Tentu”             “Lalu?”             “Lalu?”             “Iya apa komentarmu?”             “Apa aku harus berkomentar?” Ingin sekali Alex merobek mulut Sena dengan pisau steiknya.             “Lupakan”             “Devi bilang untuk tidak bertanya dan cukup diam dan merahasiakannyam, lalu apa yang kau harapkan Presdir, lagi pula aku tidak berminat ikut campur urusan keluarga orang lain” Alex melihat Sena, dia merasa tidak sia sia menerima Sena untuk disisinya. Gadis itu memang menarik, selain menyebalkan setidaknya Sena masih bisa diandalkan.             “Kau sudah selesai?”             “Sudah Presdir”             “Baiklah, ayo pulang” Jam sudah mulai malam,mereka sudah dalam perjalanan kerumah Alex. Sena harus menghubungi Demian untuk tidak masak untuk dirinya, Sena sudah sangat kenyang hari ini.             “Kau tinggal dengan siapa Sena?”             “Dengan adikku”             “Orang tuamu?”             “Sudah meninggal 15 tahun lalu”             “Ah maaf, turut berduka cita”             “Kecelakaan mobil, aku masih mengurus kasusnya” Alex tidak bertanya lebih lanjut sebenarnya, hanya saja entah kenapa Sena langsung mengatakan penyebab kematian kedua orang tuanya.             “Tabrak lari?”             “Bukan, pembunuhan”             “Pembunuhan?” Langit semakin gelap ditambah mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat.             “Iya”             “Kau yakin?”             “Tentu, hanya saja aku masih butuh uang untuk mengurus itu”             “Kau sudah tau siapa pelakunya?”             “Entahlah, aku masih mencoba mengingat hal yang membuatku trauma sampai saat ini” Alex memilih diam, jika Sena memutuskan untuk tidak ikut campur urusan keluarganya lalu untuk apa dirinya ikut campur masalah keluarga Sena. Alex tidak mau membuat Sena tidak nyaman. Dirumah Demian sudah berdiri menunggu Sena dengan wajah penuh tanda tanya, tidak biasanya kakaknya itu menolak makan malam buatannya.             “Kau sudah makan Dem?”             “Belum, aku masih memastikan kau menolak makan malam ku kak”             “Aku baru saja selesai makan dengan Alex, dia memintaku untuk menemaninya”             “Devi?”             “Dia pergi kedokter, memeriksakan kandungannya”             “Ah…okey, temani aku makan”             “Aku mandi dulu, duluan saja nanti aku menyusul” Sena terlalu lelah untuk menemani Demian, tapi dia tau tidak mungkin meninggalkan adiknya sendiri saja apalagi Demian meminta sendiri untuk Sena menemainya. Sena duduk melihat adiknya makan dengan lahap, belakangan ini Sena tidak terlalu pelit memberikan Demian uang belanja dan jajan, gajinya bekerjan diperusahaan Dominic lebih dari cukup. Sena senang bisa melihat Demian makan dengan lahap dan senang.             “Jadi apa saja yang kau lakukan di kantor kak?”                    “Baru dua hari kerja aku sudah tau rahasia Alex”             “Benarkah? Apa itu” Sena melihat Demian yang menghentikan suapannya, menunggunya untuk menceritakan apa yang terjadi.             “Masih aku pastikan, nanti aku ceritakan”             “Aish kau pelit sekali, okelah aku tau kau tidak mungkin menyembunyikannya padaku kak, ceritakan jika kau sudah yakin dengan beritanya”             “Dem”             “Hm” Demian kembali melanjutkan makannya.             “Apa yang kau lakukan jika papa dan mama masih hidup tapi mereka tidak menyayangimu”             “Tidak apa, setidaknya aku masih bisa melihat mereka”             “Benarkah?”             “Hmm…terdengar menyakitkan memang, tapi mungkin saja mereka punya alasan tertentu untuk bersikap ‘seperti’ tidak menyayangiku”             “Mungkin saja” Mungkin saja Alex memang di didik seperti itu sebagai penerus Dominic Corporation, Sena masih menduga duga dan tidak mungkin bagi dirinya untuk berburuk sangka. Demian benar mungkin ada sesuatu di balik hal itu.             “Biarkan saja besok pagi aku bereskan, tidurlah Dem aku juga lelah”             “Oke kak, selamat malam”             “Malam Demian”             “Selamat malam Sena” Waktu yang tepat juga saat Alex juga sama sama tidur karena harinya lumayan melelahkan, ditambah kedatangan papanya yang tidak disangka membuat dirinya bertambah merasa lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD