Part 6
Pagi ini Sena menemani Alex untuk sarapan. Pagi tadi baru saja ingin berangkat bekerja, supir Alex sudah menunggu untuk menjemput Sena.
“Tuan Alex ingin sarapan dulu”
Itu katanya. Dan kini lihatlah laki laki yang duduk didepan Sena makan sarapannya dengan lahap. Sena hanya bisa menghela nafas, saat bertanya kenapa Alex tidak sarapan dirumah yang dijawab dengan bosan katanya. Sena tau itu hanya alasan saja.
“Apa makanannya tidak enak, aku pesankan yang lain”
“Tidak perlu Presdir, saya sudah sarapan dirumah tadi dan saya masih kenyang”
“Besok tidak perlu sarapan dirumah, karena mulai besok kau harus menemaniku untuk sarapan bersama”
Devi tidak menjelaskan mengenai itu karena memang tidak biasanya Alex minta untuk ditemani sarapan, kini mungkin peraturan baru lagi yang Alex katakan.
“Aku sarapan dirumah saja”
Tidak mungkin bagi Sena untuk sarapan diluar sedangkan Demian makan dirumah, dia tidak mau menjauhkan keluarga satu satunya terlebih Demian memang terbiasa menunggu Sena untuk makan bersama, setelah semalam dia absen untuk tidak makan malam dan sekarang Alex menyuruhnya untuk tidak sarapan dirumah.
“Tidak, ini peraturan baru”
“Terserah, aku tetap tidak mau. Aku hanya menemani”
Alex menghentikan makannya, melihat Sena dengan wajah kesal. Sekretarisnya kali ini benar benar tidak takut dengan dirinya, sangat berbeda dengan Devi.
“Cepat selesaikan sarapanmu, aku tidak mau terlambat”
“Terlambat? Aku bosnya”
“Aku tau”
“Lagi pula Devi masih ijin sampai siang nanti”
“Aku tau”
“Sena…”
Alex benar benar dibuat emosi oleh Sena, bagaimana mungkin gadis didepannya bisa begitu berani terhadapnya.
“Apa keberanianmu ini ada hubungannya dengan yang kau lihat kemarin”
“Keberanian? Yang aku lihat? Apa?”
“Jangan pura pura bodoh, kita pergi, mood makanku rusak gara gara kau”
Alex pergi meninggalkan Sena, sedangkan Sena hanya bisa menghembuskan nafas dan berusaha untuk sabar menghadapi Alex yang begitu kekanakan.
Mereka sampai di kantor tanpa sepatah katapun, Alex memilih diam karena kesal pada Sena sedangkan Sena juga ikut diam karena tidak tau apa kesalahannya.
Sampai dirungannya Alex masih diam dan Sena memilih untuk melanjutkan pekerjaannya kemarin. Padahal Alex diam menunggu untuk Sena mengatakan sesuatu atau meminta maaf tapi ternyata gadis itu tidak sebaik itu.
“Sena”
“Dev, kau datang lebih cepat”
“Iya aku buru bur karena perasaanku tidak enak, apa yang terjadi kenapa aku mencium hawa kegelapan”
Sena tersenyum kecil.
“Tidak ada, Alex hanya sedang kesal sepertinya”
“Kesal? Kesal kenapa?”
“Entahlah, saat sarapan tadi dia hanya diam, aku tidak tau apa kesalahanku”
“Sarapan? Kalian sarapan berdua?”
“Iyap, tadi supir menjemputku dia bilang Alex ingin sarapan bersama padahal aku sudah makan dirumah, dia membuat peraturan baru lagi tentang sarapan bersama”
Devi tau mengenai peraturan baru yang dikatakan Sena tentang duduk dibelakang bersebelahan dengan Alex saat didalam mobil yang hanya Devi balasan tawaan, dan kini Alex membuat peraturan baru lagi?
“Kenapa Alex begitu kekanakan, lalu apa yang kau katakana sampai dia kesal”
“Aku menolak”
“Menolak?”
“Tentu, aku sudah sarapan dirumah dan dia melarangku dengan alasan harus sarapan bersamanya, setelah semalam dia memonopoliku dan membuatku tidak bisa makan malam dirumah kini dia juga membuatku tidak bisa sarapan dengan adikku, hal konyol apa itu”
Devi diam, tidak mungkin dia memaksa Sena untuk melakukan apa yang Alex suruh, terlebih itu hal yang tidak masuk akal. Kali ini Alex benar benar kekanakan.
“Oke lanjutkan saja pekerjaanmu, aku yang akan urus Alex”
“Terimakasih Dev maaf menyusahkanmu”
“Its oke, terkadang memang Alex harus diberi pelajaran”
Sena melanjutkan pekerjaannya, dan Devi harus bicara dengan Alex.
“Kau datang Dev”
“Iya, ada yang perlu saya bantu Presdir?”
“Tidak ada, berkas kemarin masih belum aku selesaikan, aku akan selesaikan itu dulu”
“Lalu kenapa tidak anda kerjakan?”
Alex membalikkan badannya, melihat Devi berdiri tidak jauh dari dirinya.
“Aku sedang kesal”
“Karena peraturan barumu lagi?”
“Ah Sena pasti memberitahumu”
“Anda mau saya memecat Sena?”
“A..apa? ti..tidak”
Alex buru buru mendekati Devi, terkejut bagaimana mungkin Devi bisa mengatakan itu.
“Dia sekretaris yang tidak kompeten, bagaimana mungkin menolak peraturan baru anda yang otomatis menjadi peraturan perusahaan, bukankah harusnya dia dipecat. Saya akan cari sekretaris pengganti yang lain yang lebih baik Presdir”
“Dev a..aku tau dia tidak, ah tidak maksudku tak apa karena Sena masih belajar, bukan berarti kau harus memecatnya”
Kecurigaan Devi benar, sepertinya Alex menyukai Sena. Pancingan seperti itu saja sudah membuat Alex panik.
“Sepertinya perjalanan Sena akan menarik, Alex bertekuk lutus pada gadis sederhana yang tangguh dan akan bertemu dengan keluarga Alex yang bagai pisau belati”
“Baiklah, saya akan lebih ketat mengajarkan Sena”
“Tidak perlu Dev, mungkin dia hanya butuh terbiasa, lanjutkan pekerjaanmu lupakan hal tadi”
“Baik Presdir, 20 menit lagi kita akan rapat”
“Oke”
“Baiklah, permisi Presdir”
“Hm”
Devi keluar dari ruangan Alex, melihat Sena yang kini masih sibuk dengan komputernya. Memikirkan bagaimana mungkin gadis polos didepannya ini bisa begitu menarik dimata Alex, tidak, Devi bukan iri hanya saja dia penasaran apa yang dilakukan Sena hingga membuat Alex begitu berubah.
Devi berharap Sena juga bisa membuat perubahan besar pada keluarga Alex, Devi menunggu waktu apa yang akan terjadi kedepannya.
“Gadis menarik”
“Ah Dev, bagaimana apa Alex masih marah”
“Tidak perlu khawatir, nanti juga dia seperti biasa, kita siapkan untuk meeting siang nanti”
“Baiklah”
Ini kali pertama Sena mengikuti rapat, mempersiapkan semuanya dengan matang dan berharap tidak ada kesalahan. Sena cukup grogi walaupun dirinya masih ditemani Devi tetap saja ini hal yang tidak bisa dibiasakan.
“Kau grogi?”
“Tentu saja, aku takut melakukan kesalahan”
“Kau hanya duduk manis Sena, Alex pun hanya mendengarkan dan tidah banyak melakukan sesuatu”
“Huft…ini juga kali pertama aku bertemu dengan para pemegang saham”
“Yah..tidak ada yang menarik hanya sekumpulan orang orang kaya”
Sena duduk bersebelahan dengan Devi, melihat para pemegang saham dan Alex yang duduk dengan santai. Mendengarkan presentasi dan mencatat hal yang penting, setelah rapat biasanya Alex akan minta laporan hasil.
“Baiklah rapat selesai”
“Baik Presdir”
Semuanya berdiri, Alex keluar diikuti oleh Sena dan Devi yang kemudia seluruh orang diruangan itu keluar.
“Kalian berdua ikut saya keruangan”
“Baik Presdir”
Sena dan Devi duduk didepan Alex, menunggu laki laki itu berbicara hal yang sepertinya penting.
“Laporan hasil rapat sore nanti sudah ada dimeja saya, lebih baik makan siang dulu”
“Baik Presdir”
“Apa yang kurang Dev”
“Maaf?”
“Iya apa hal yang belum kau ajarkan dan mungkin belum Sena pahami, kau ingat Lusa kau sudah tidak bekerja”
Waktu berjalan begitu cepat ternyata dan Sena masih belum pasrah ditinggal oleh Devi. Sebenarnya sudah banyak yang Sena pahami dan kebanyakan sudah Sena mengerti dan bisa dikerjakan sendiri, tapi jika sudah berurusan dengan Alex Sena cukup khawatir dirinya belum bisa memahami laki laki itu.
Sena melihat Devi yang tersenyum kepadanya.
“Sena belajar dengan cepat Presdir, dia sudah cukup bagus hanya beberapa hal yang perlu dia pelajari lagi”
“Baguslah, bagaimana denganmu Sena?”
“Ah saya masih perlu belajar lagi Presdir, jika nanti Devi sudah tidak bekerja lagi saya mohon pengertian anda” jawab Sena.
“Aku mengerti, besok aku akan bertemu dengan David dan Presdir, atur jadwalku”
“Baik Presdir, untuk tempatnya apa perlu saya siapkan”
“Ya siapkan semuanya seperti biasa”
Devi mengerti, sepertinya Alex perlahan ingin membuat Sena juga tau apa pekerjaannya yang lain dengan mempertemukannya dengan keluarga Alex.
“Baik Presdir”
“Keluarlah ini sudah jam makan siang, aku akan pergi sendiri”
“Perlu kita temani Presdir?”
“Tidak, aku mau sendiri”
“Baik, jika ada hal yang perlu saya bantu jangan ragu untuk menelvone”
“Oke”
“Permisi Presdir”
Devi dan Sena pergi meninggalkan Alex, sepertinya pekerjaan Alex masih menumpuk.
Kedua gadis ini memilih untuk pergi makan siang ditempat biasa, mengobrol apa yang diinginkan Alex besok.
“Persiapkan dirimu besok Sena”
“Bertemu papa Alex?”
“Kau belajar dengan cepat ternyata, dan David adik Alex”
“Ahh aku baru tau dia punya adik laki laki”
“Adik tiri lebih tepatnya”
“Benarkah?”
Perbincangan mereka akan cukup panjang hanya membahas tentang David.
Sena mendengarkan sambil menyuapkan roti kedalam mulutnya, sandwich di kedai ini memang yang terbaik.
“David adalah adik Alex yang berambisi untuk mendapatkan posisi Alex saat ini, tentu saja Alex akan mendapatkan posisi ini dengan mudah karena Alex memang keturunan keluarga Dominic sekaligus cucu tertua, tapi David masih berusaha untuk melengserkan Alex”
“Jika Alex dilengserkan?”
“Akan berbahaya bagi perusahaan, Presdir Thomas sepertinya tidak peduli jika istri keduanya yang juga mama tiri Alex sangat matrealistis, jika perusahaan turun ke tangan David makan keluarga Dominic bisa saja ditendang dan turun ke tangan mama tirinya”
“Separah itu?”
“Sena dengar, aku sudah pernah bilang keluarga Alex bukan keluarga normal pada umumnya, terlalu banyak rahasia, konflik dan banyak hal lainnya yang perlu kau biasakan itu terjadi, kuncinya satu…”
“Diam dan jangan bertanya”
“Bagus, kau akan tau besok, sepertinya Alex mulai membuka rahasianya perlahan padamu selagi masih ada aku yang bisa kau tanya, maaf aku tidak bisa bercerita banyak hal karena nanti kau akan tau sendiri”
“Tak apa Dev aku mengerti, setidaknya kau masih memberitahuku sedikit”
“Semangat Sena, tugasmu tidak semudah yang terbayangkan”
Sena terdiam cukup lama, masih banyak hal yang tidak dia ketahui ternyata dan besok Sena akan melihat lagi apa hal yang bisa membuat dia terkejut mungkin.
“Apa hubungan papa dan anak tidak baik Dev?”
“Hmm tidak, aku tidak tau penyebabnya yang aku tau hubungan mereka memang kurang bagus, tapi setidaknya Thomas madih menganggap Alex anaknya dengan memberinya posisi Presdir”
“Thomas terlihat menyeramkan dengan wajah itu”
“Haha aku juga dulu seperti dirimu, aku snagat benci melihatnya yang melihatku begitu rendah tapi dia cukup baik, cukup biasakan dirimu Sena”
“Oke kita lihat besok”
Mereka berdua kembali kekantor, mengerjakan laporan hasil rapat sebelum Alex menagihnya.
Sena sudah cukup mahir melakukan ini, tidak banyak yang perlu diketik. Devi bilang Alex tidak suka membaca terlalu banyak tulisan, cukup tulis yang penting saja.
Sena masuk kedalam ruangan Alex, melihat laki laki itu masih sibuk dengan dokumen yang menggunung.
“Permisi Presdir, laporan anda”
“Ah letakkan saja, aku masih sibuk”
“Ada yang perlu saya bantu?”
“Tidak, keluarlah jika pekerjaanmu selesai”
Sena memilih untuk duduk didepan Alex, memilah dokumen yang terlihat berantakan dan tidak sesuai. Alen menghentikan kegiatannya, melihat Sena yang merapikan dokumennya.
“Kau sedang apa?”
“Merapikan pekerjaanmu”
“Biarkan saja aku tidak butuh”
“Aku hanya merapikan sedikit tidak berniat membantumu, jika masih mencari cari akan memakan waktu dan jam pulangku lebih lama”
“Kau mengkhawatirkan jam pulang mu?”
“Tentu saja, melihatmu sibuk seperti sekarang saja aku sudah tau akan pulang terlambar lagi”
Alex menghembuskan nafas, menyandarkan punggungnya yang sangat lelah.
“Jika kau mau membantuku lagi setidaknya berikan aku coklat panas, itu cukup membantuku lebih semangat bekerja agar kau pulang tepat waktu”
“Baiklah tunggu”
Sena pergi menuju dapur dan kembali dengan coklat panas ditangannya, sedangkan Devi hanya melihat Sena yang mondar mandi didepannya.
“Satu coklat panas”
Alex menyesap coklat panas buatan Sena, baguslah Sena tidak menambahkan gula karena Alex juga kurang suka manis.
“Pekerjaanmu sudah selesai Sena?”
“Sudah, aku hanya menunggumu untuk pulang”
“Baiklah, tunggu sebentar lagi aku akan selesaikan ini dengan cepat”
Alex melajutkan pekerjaannya dan Sena masih berdiri disana, melihat Alex yang sibuk membolak balikkan lembar per lembar.
“Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengerjakan sendiri Presdir, kau punya aku dan Devi yang bisa membantumu, meminta tolong pada sekretarismu tidak membuat harga dirimu jatuh”
Alex melihat Sena sambil tersenyum.
Tampan, pikir Sena.
“Kau satu satunya orang yang berani mengatakan itu Sena, padahal Devi saja selalu menuruti perkataanku tanpa bertanya atau hal lainnya”
“Entahlah, aku merasa kau terkadang terlalu memaksakan diri”
Alex kembali tersenyum manis, melanjutkan memeriksa dokumen dokumen.
“Aku permisi, jika ada hal lain panggil saja”
“Oke”
Sena keluar dari ruangn Alex, membereskan barang barangnya karena pekerjaannya sudah selesai. Tinggal menunggu Alex lalu pulang.
“Ada apa?”
“Tidak ada, Alex hanya minta coklat panas”
“Ohh pasti pekerjaannya masih menumpuk”
“Yap, dan dia terlalu gengsi untuk meminta tolong pada kita”
“Dia memang seperti itu”
Karena pekerjaan Alex yang sedikit dibantu oleh Sena ditambah semangat untuk segera pulang, akhirnya mereka bisa pulang tepat waktu tanpa lembur. Sena senang bisa makan malam bersama Demian lagi.
“Aku pualng”
“Kak aku kira kau akan terlambar lagi”
“Ck, kau pasti hanya masak untuk dirimu sendiri”
“Tentu tidak, kau tidak mengatakan itu jadi aku masak untuk kita berdua, mandi lah aku akan siapkan makan malam”
“Baiklah adik kakak yang begitu tampan”
“Ew, pergi kak kau lengket”
“Haha”
Demian sudah siap dengan makanannya menunggu Sena yang kini berjalan perlahan menuju meja makan.
“Kerjaanmu banyak sepertinya”
“Pekerjaanku selalu banyak”
“Lalu ada hal yang ingin kau ceritakan lagi?”
“Hmm” Sena berfikir sambil menyuapkan sup kedalam mulutnya.
“Tadi hanya meeting dan mengurus dokumen, tidak ada yang special, mungkin besok”
“Besok?”
“Iya besok aka nada pertemuan dengan papa Alex dan adik tirinya”
“Aku tidak tau jika Alex punya adik tiri”
“Hm aku juga baru tau, media tidak memberitakan hal itu”
“Pasti aka nada cerita menarik besok”
Sena sudah membayangkan seperti apa pertemuannya besok, jika dilihat dari wajah papa Alex yang sangat tidak bersahabat ditambah adik tirinya yang katanya berambisi untuk merebut posisi Alex, dan ditambah Alex, Sena sudah bisa membayangkan suasana gelap dan menyeramkan. Sena memang harus menyiapkan diri untuk besok, emosinya akan teruji sepertinya.
“Tidurlah Dem besok kau kuliah”
“Oke kakak juga, selamat malam kak”
“Malam Demian”