Alex sakit

2162 Words
Part 7 Sena berlari, hari ini tidak biasanya taxi penuh dan transportasi umum begitu ramai. Jarak kerumah Alex masih sangat jauh, jika Sena berlari kurang lebih memakan waktu setengah jam.             “Alex sakit” Baru saja akan berangkat kerja, Devi menelvone dan mengatakan jika Alex sakit. Padahal Sena sudah mempersipkan hari ini untuk bertemu keluarga Alex. Devi menelvone jika Alex demam, bibi Helena yang memberi kabar dan ingin menelvone Sena tapi wanita paruh baya itu tidak punya nomor telephone Sena.             “Pergilah kerumah Alex Sena, aku akan ke kantor mengatur ulang jadwalnya dan memberi kabar client untuk membatalkan pertemuan” Setelah itu Sena langsung pergi, mencoba mencari taxi tapi tidak ada satupun yang kosong. Tin tinnn Sena berhenti berlari, melihat sebuah mobil hitam yang tidak asing.             “Nona Sena, ayo naik”             “Pak Billy” Beruntung supir Alex datang, Sena buru buru masuk mobil.             “Tadi aku merumahmu dan kekasihmu mengatakan jika kau sudah berangkat terburu buru”             “Dia adikku pak”             “Ah aku kira kekasihmu haha…”             “Jadi bagaimana keadaan Alex, dan kau tidak menjemput Devi?”             “Devi sudah diantar oleh Jason, dia sama buru burunya untuk mengatur ulang jadwal tuan Alex, dan keadaannya sekarang masih demam”             “Kenapa dia tiba tiba sakit?”             “Entahlah, bibi Helena yang mengatakan tadi pagi saat membangunkan tuan, aku belum sempat bertanya. Nanti tanyalah pada tuan Alex” Entah kenapa disaat seperti ini jarak rumah Alex terasa begitu jauh.             “Saat tau tuan sakit, entah kenapa aku langsung berfikir untuk menjemputmu Sena bukan Devi”             “Kenapa?”             “Entahlah, pikiranku langsung tertuju padamu” Mobil berhenti tepat didepan rumah Alex, Sena turun dan buru buru masuk kedalam. Didalam bibi Helena sama khawatirnya, berdiri didepan kamar Alex dan menunggu Sena.             “Bibi Helena”             “Ah Sena kau datang”             “Bagaimana keadaannya?”             “Demamnya cukup tinggi, aku sudah membawakan bubur tapi tuan tidak mau makan dan menyuruhku untuk pergi dari kamarnya”             “Biar aku saja”             “Kau masuklah, mungkin dengan ada dirimu tuan mau makan”             “Sebenarnya kenapa Alex tiba tiba sakit?”             “Hm” Bibi Helena terlihat bingung dan gelisah, melihat Sena yang menunggu untuk sebuah jawaban.             “Sebenarnya tuan semalam begadang, dia menyuruh pak Billy untuk mengambilkan dokumen di kantor, tuan bilang ada pekerjaan yang tertinggal”             “Apa?? Jadi sampai pagi dia bekerja” Bibi Helena hanya mengangguk, merasa bersalah tidak bisa melakukan apapun dan mengakibatkan Alex demam.             “Baiklah, aku akan urus bibi lanjutkan saja pekerjaan yang lain, terimakasih”             “Terimakasih Sena, aku harap dia mau makan dan minum obat” Sena masuk kedalam kamar Alex perlahan, kamarnya gelap, jendelanya masih tertutup. Sena membuka tirai jendela agar cahaya dan udara bisa masuk. Alex menggeliat, matanya silau karena cahaya. Sena duduk dipinggir kasur Alex, diceknya suhu tubuh laki laki itu yang panas tapi dirinya merasa menggigil, Alex kedinginan.             “Sena” Alex masih bisa melihat Sena disana, menyentuh dahinya yang kemudian mengambil tangan Sena dan dia genggam, Sena yang melihat itu hanya diam.             “Makanlah” “Sebenarnya tuan semalam begadang, dia menyuruh pak Billy untuk mengambilkan dokumen di kantor, tuan bilang ada pekerjaan yang tertinggal” Sena merasa bersalah, setelah kemarin dia memaksa Alex untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar pulang tepat waktu tapi malah Alex mengerjakannya dengan buru buru hingga ada yang terlupa. Sena egois dengan memetingkan dirinya untuk makan malam dengan Demian tapi tidak tau jika hal itu membuat Alex begadang hingga jatuh sakit.             “Lidahku pahit Sena”             “Aku suapi, makanlah dan minum obat hm” Sena mengatakan begitu lembut, berusaha membujuk Alex. Alex menyingkirkan selimutnya, berusaha untuk duduk tanpa melepas genggaman tangan Sena.             “Lepaskan, bagaimana caranya aku memegang sendok” Alex memilih untuk melepasnya walau tidak mau, Sena mengambil bubur di atas nakas, menyuapi Alex dengan perlahan. Melihat wajah Alex yang merasa jika makanannya tidak enak karena lidahnya yang pahit.             “Aku sudah kenyang”             “Oke minum obatmu” Seperti terhipnotis, Alex melakukan apa yang Sena perintahkan.             “Aku akan ambil air hangat untuk membasuh tubuhmu, tunggu sebentar” Sena sudah akan pergi tapi Alex menarik tangan Sena dengan lemah, Sena menoleh.             “Ada apa?”             “Jangan lama lama” Sena tersenyum, disaat seperti ini Alex masih saja menyebalkan dengan sikap manjanya itu. Sena datang dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk. Membuka baju Alex dengan perlahan dan membersihkan tubuh Alex dengan handuk hangat.             “Kau terlihat mahir dan tidak gerogi, sepertinya sudah berpengalaman membersihkan tubuh laki laki” Sena diam dan masih fokus untuk membasuh tubuh Alex yang berkeringat.             “Aku punya adik laki laki dan tidak sekali dua kali aku melakukan ini untuknya disaat sakit”             “Oh, lalu ada laki laki lain?” Sena menghentikan tangannya, melihat Alex dengan tatapan menusuk.             “Diamlah, kau cerewet”             “Jawab saja”             “Tidak ada, belum ada lebih tepatnya”             “Sudah ada, aku” Sena memasang wajah kesal, dalam keadaan apapun sepertinya Alex terus menyebalkan.             “Kau datang sendiri?”             “Iya, Devi sedang mengatur ulang jadwalmu”             “Aku masih bisa bekerja”             “Diamlah”             “Aku serius, aku sudah baik baik saja”             “Ck, dan kau akan sakit lagi lalu aku akan melakukan ini lagi, begitu”             “Hmm ide yang tidak buruk”             “Pakai bajumu” Sena memilih menyudahi aktivitasnya, pergi untuk meletakkan baskom dan pakaian kotor Alex. Handphoennya berbunyi menampilkan nama Devi disana.             “Halo Dev”             “Bagaimana Alex?”             “Dia baru selesai makan dan minum obat”             “Ada satu client yang memaksa untuk bertemu, aku berniat untuk mewakili Alex”             “Apakah sepenting itu sampai dia memaksa, baiklah aku ikut, tidak mungkin juga memaksa Alex untuk bekerja”             “Baiklah, jam satu untuk lokasinya nanti pak Billy akan mengantarmu”             “Oke Dev”             “Baiklah aku tutup, jaga Alex”             “Tentu” Sena kembali masuk kedalam kamar Alex dan melihat laki laki itu kini berusaha untuk memakai dasi agar tidak miring.             “Kau akan kemana?”             “Bukankah ada client yang memaksa untuk bertemu, tidak mungkin aku tidak hadir” Sena mengunci kamar Alex dan membuat Alex menoleh melihat sena dengan raut wajah penuh amarah.             “Sena aku tidak mung…”             “Pergilah, jendela masih terbuka, lompat saja kau mati juga aku tidak peduli”             “Oh ayolah ini penting”             “Ini penting juga untukku, jika masih kau lanjutkan menggunakan dasi dan tidak melepas setelan jasmu aku akan pergi”             “Sena a…”             “Selamanya dan besok kau akan melihat surat pengunduran diriku dimeja”             “Apa?? Jangan bercanda Sena”             “Apa wajahku terlihat sedang bercanda?” Alex maju berusaha untuk mendekati Sena.             “Kau maju selangkah lagi tapi tidak melepaskan itu, aku akan langsung pergi”             “Sena…”             “Pekerjaanku terlalu banyak, aku tidak mau ditambah mengurus orang sakit” Alex menyerah memilih untuk melepas dasinya dan pakaiannya tanpa memikirkan ada Sena disana. Melihat Alex membuka pakaiannya Sena langsung berbalik, bisa bisanya Alex membuka tanpa aba aba. Alex melihat Sena yang berbalik, tersenyum jahil hingga berfikir untuk membuat Sena lebih malu lagi.             “Kancingku tidak bisa terbuka Sena, bantulah”             “Buka saja sendiri ish”             “Oh ayolah ini sulit” Alex semakin mendekat kearah Sena.             “Jangan mendekat, cepat buka setelan jasmu dan pakai bajumu Tuan sebelum aku benar benar marah”             “Bagaimana aku melepas setelah jasku jika kancingku sulit terbuka, kau bahkan tidak mau membantu”             “ALEX!!”             “Hahaha aku sudah selesai dari tadi” Sena membalikkan badannya tapi ternyata Alex masih belum menggunakan bajunya, buru buru Sena menutup matanya dengan tangannya.             “Alex!!”             “Hahaha untuk apa malu bukankah tadi kau membilas badanku tanpa gerogi tapi sekrang kau malah menutup mata, ish dasar” Alex menyebalkan, disaat seperti ini sempat sempatnya laki laki itu melakukan hal yang menyebalkan. Akhirnya Alex tidur setelah perdebatan mereka, Alex yang tidak mau Sena pergi dan Sena yang ingin ke kantor. Akhirnya Sena mengalah untuk dirumah Alex, masih ada beberapa jam sebelum dia menemani Devi untuk bertemu client. Bibi Helena membangunkan Sena yang tertidur di sofa, hampir saja dia terlambat untuk menemani Devi bertemu client.             “Jagalah Alex sebentar, aku bersama Devi akan bertemu client”             “Kau kembali kesini lagi Sena?”             “Aku tidak tau bibi”             “Kembalilah, Tuan pasti ingin kau masih disini”             “Akan aku usahakan, pastikan dia minum obatnya lagi jika tidak mau ancam dia jika aku tidak akan kesini lagi jika obatnya belum dia minum”             “Baik Sena kau pergilah, hati hati” Bibi Helena tau jika Sena adalah gadis yang sanggup membuat majikannya bertekuk lutut, baru beberapa hari Sena bekerja sudah bisa membuat majikannya yang tidak bisa diatur kini dengan mudah Sena taklukkan.             “Aku permisi bibi” Sena pergi tidak mau Devi menunggunya terlalu lama, memilih untuk naik taxi dan tidak mau merepotkan pak Billy, lagi pula tempat pertemuan tidak jauh dari rumah Alex.             “Devi” Devi sudah disana ternyata, dia sendirian menunggu Sena dan client.             “Belum datang?”             “Belum Sena”             “Maaf aku terlambat” Devi melihat jam dipergelangan tangannya lalu tersenyum.             “Tidak, aku memang sudah disini dari tadi untuk mengurus semuanya. Bagaimana keadaan Alex?”             “Ah dia masih demam tapi sudah makan dan minum obat, kita tunggu saja”             “Baguslah ada dirimu, jika itu aku Alex pasti tidak mau minum obat”             “Benarkah, kenapa?”             “Alex tidak suka minum obat, biasanya dia hanya tidur sampai sakitnya sembuh dengan sendirinya, yahh walaupun cukup lama”             “Ternyata dia sudah manja dari dulu”             “Haha Alex memang seperti itu, syukurlah ada dirimu”             “Jadi apa client ini begitu penting sampai dia tidak mau menunda pertemuan?” Pelayan meletakkan secangkir cappuccino dan roti coklat kesukaan Sena yang sudah dia pesan tadi.             “Dia memang salah satu client yang tidak mau mengundur pertemuan, dia terlalu sibuk jadi cukup sulit untuk membuat janji dengannya. Dan kerjasama dengan perusahaan cukup penting”             “Oh begitu rupanya”             “Memang akan ada hal seperti ini Sena, bersabarlah walau kau nantinya akan dimarah habis habisan”             “Hmm aku akan berusaha Dev”             “Dia datang” Sena menoleh, melihat laki laki paruh baya yang kini berjalan menuju mejanya.             “Selamat siang, dimana tuan Max?” tanya Devi.             “Dia masih ke toilet”             “Ah silahkan duduk Lou” Sena melihat kearah Devi, bertanya siapa seseorang yang dia maksud.             “Dia sekretaris client kita” bisik Devi.             “Aku kira dia client kita”             “Client kita namanya Max, dia lumayan tampan”             “Halo Dev, dimana Alex?” Kedua gadis ini dikejutkan oleh laki laki tampan yang sanggup membuat Sena terpesona. Maximilan atau Max, laki laki yang sama suksesnya seperti Alex, hanya saja Max lebih dewasa dan menurut Sena laki laki dihadapannya ini lebih segalanya dibandingkan Alex, Sena punya firasat seperti itu.             “Maaf tuan Max, Presdir sedang demam jadi saya dan Sena mewakili beliau”             “Sena?”             “Perkenalkan dia Sena, sekretaris yang akan menggantikan saja”             “Perkenalkan saya Sena tuan Max” Sena menyodorkan tangannya dan Max membalas dengan senyuman.             “Semangat bekerja dengan Alex, Sena. Kau tau dia cukup merepotkan”             “Aku tau” Max melihat Sena yang tersenyum manis.             “Baiklah dimana proposalnya?” Mereka membicarakan kerjasama dengan serius, sesekali Sena mencatat apa yang dilakukan Devi yang nantinya akan menjadi pekerjaannya.             “Maaf tuan Max, apakah untuk point keempat sedikit merugikan perusahaan kami, yang anda ketahui jika tempat yang dipilih sangat tidak sesuai dengan konsep perusahaan kami”             “Kau pintar Sena, baiklah nanti akan aku revisi”             “Terimakasih”             “Kau belajar dengan cepat Sena” bisik Devi.             “Berkat dirimu Dev” Pertemuan berjalan lancar, beruntung masih ada beberapa point yang harus dikoreksi ulang oleh Max sehingga Devi tidak perlu mengambil keputusan untuk tanda tangan proyek yang bisa saja membuat dirinya dimarah oleh Alex.             “Baiklah terimakasih untuk pertemuan hari ini walaupun aku sedikit kecewa tidak ada Alex”             “Maaaf tuan Max, lain kali saya akan atur janji yang sesuai dengan anda”             “Sena, kau lupa sebentar lagi Sena yang akan menggantikanmu?”             “Oh iya haha maaf tuan Max, senang bertemu dengan anda”             “Aku juga, senang bertemu kalian, aku permisi”             “Silahkan” Max dan sekretarisnya Lou pergi meninggalkan dua gadis ini yang bernafas lega, beruntung Devi tidak kena omelan Max lagi karena Alex tidak ada.             “Aku beruntung lagi ada dirimu Sena, untuk pertama kalinya Max tidak mengomel”             “Benarkah, wah sepertinya aku selalu membawa keberuntungan”             “Sangat percaya diri sekali kau nona”             “Hahaha”             “Kau akan kembali kerumah Alex?” Sena melihat jam dipergelangan tangannya, sudah jam empat sore.             “Entahlah”             “Pergilah, Alex akan kesal jika bangun tidak ada dirimu yang pergi tanpa pamit”             “Hmm membayangkannya saja aku sudah malas, baiklah mungkin mampir sebentar tidak masalah”             “Haha pergilah, sekalian katakana padanya kita sudah bertemu Max dan dia merevisi proposalnya lagi”             “Oke, hati hati Dev”             “Kau juga” Sena memilih kembali kerumah Alex, benar kata Devi dia tidak mau membuat Alex ngambek karena dirinya pergi tanpa pamit.             “Sena kau kembali”             “Iya bibi, bagaimana Alex?”             “Dia sudah bangun sedari tadi dan menanyakan kau dimana, aku bilang kau pergi dengan Devi lalu dia kesal”             “Apa dia minum obatnya?”             “Aku sempat ragu dengan ancamanmu, tapi itu berhasil. Setelah meminum obatnya dia langsung menyuruhku untuk menelvonemu, untuk mengatakan tuan Alex sudah meminum obatnya”             “Dasar manja”             “Ah Sena, bisa kau tulis nomormu agar aku bisa menghubungimu?”             “Oh tentu bibi, ini”             “Baiklah, nanti jika ada hal penting aku akan menelvonemu”             “Jangan sungkan, aku masuk dulu”                            “Oke pergilah” Sena langsung menuju kamar Alex, melihat laki laki itu duduk diatas kasurnya sambil menatap laptop dengan serius.             “Aku belum mengijinkanmu untuk bekerja, right?” Alex yang mendengar itu langsung melihat Sena berdiri dengan kedua tangan yang dia lipat didepan dadanya.             “Aku juga belum mengijinkan kau pergi begitu saja tanpa pamit”             “Cih” Sena mendekati Alex, menutup laptopnya dan memindahkannya ke nakas.             “Aku ingat Devi mengatakan jika kau selalu bekerja dia ruanganmu, bukan dikamar”             “Nanti kau lebih mengomel lagi”             “Sudah kau minum obatmu?”             “Sudah”             “Baiklah, aku pulang kalau begitu”             “Kau sudah akan pulang?”             “Tentu, apa lagi?” Alex diam, berfikir dan mencari alasan agar Sena masih disana.             “Jangan mencari cari tuan, adikku sedang menunggu dirumah”             “Baiklah kau boleh pulang, apa aku boleh bekerja besok?”             “Tergantung kondisimu, jaga tubuhmu dengan baik dan jangan membawa pekerjaan kerumah”             “Ah kau sudah tau ternyata”             “Tentu saja, bsok pagi aku akan kesini mengecek kondisimu, jika lebih baik bekerjalah. Cobalah untuk menurut demi kebaikanmu”             “Kau cerewet, pergilah biar pak Billy mengantarmu”             “Baiklah, jangan lupa makan malam dan istirahat. Jangan coba coba membuka laptop lagi, aku akan suruh bibi Helena mengawasi”             “Iya iya pergilah” Sena akhirnya pulang, Demian pasti sudah menunggunya dengan masakan terbaiknya.             “Kau sudah pulang kak?”             “Kau menungguku Dem?”             “Hm aku kira kau akan terlambat, bagaiman kondisi Alex?”             “Sudah cukup membaik, ayo masuk aku mau mandi lalu makan”             “Ayo”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD